Resume Materi
BIMBINGAN DAN KONSELING
PEMBAHASAN
A.
Karakteristik Kompetensi
Konselor
Konselor adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam melakukan
konseling, Konselor bergerak terutama dalam konseling di bidang pendidikan tapi
juga merambah pada bidang industry dan organisasi. Penanganan korban bencana
dan konseling secara umum di masyarakat.
Karakteristik Konselor
Menurut Carl Rogers:
1)
Congruence:
Memahami dirinya sendiri
terlebih dahulu, serasi antara fikiran dan perasaan, sungguh-sungguh menjadi
dirinya, tanpa menutupi kekurangan pada dirinya.
2)
Unconditional
Positif Regard:
Menerima atau respect kepada
klien walaupun dengan keadaan yang tidak diterima oleh lingkungan. Setiap
individu menjalani kehidupannya dengan membawa segala nilai-nilai dan kebutuhan
yang dimilikinya. Setiap manusia memiliki tendesi mengaktualisasikan dirinya ke
arah yang lebih baik. Konselor memberi kepercayaan kepada klien untuk
mengembangkan dirinya.
3)
Empathy:
Memahami orang lain dari sudut
kerangka berpikirnya, kemampuan yang dapat merasakan dunia pribadi klien tanpa
kehilangan kesadaran diri. Komponen dalam empati: penghargaan, positif, rasa
hormat, kehangatan, kekonkretan, kesiapan/kesegaran, konfrontasi, dan keaslian.
Pengertian Kompetensi. Kompetensi merujuk kepada penguasaan konsep,
penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yang bersifat membantu,
dan unjuk kerja profesional yang akuntabel. Dalam Landasan Bimbingan dan
Konseling karya Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, konselor haruslah
kompeten (2009:38)
Macam Kompetensi
1)
Kompetensi Pedagogis
Menguasai
teori dan praksis pendidikan, mengaplikasi perkembangan fisiologi dan
psikologi, menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling.
2)
Kompetensi Kepribadian
Beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menghargai dan menunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas dan
kebebasan memilih. Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat.
Menampilkan kinerja berkualitas tinggi.
3)
Kompetensi Sosial
Mengimplementasi
kolaborasi intern di tempat kerja, berperan dalam organisasi dan kegiatan
profesi, mengkolaborasi antar profesi.
4)
Kompetensi
Profesional
•
Memahami konsep dan
praksis penelitian untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli.
•
Menguasai kerangka
teoritis dan praksis bimbingan dan konseling
•
Merancang program
bimbingan dan konseling
•
Mengimpelementasikan
program bimbingan dan konseling yang komprehensif.
•
Menilai proses dan hasil
bimbingan dan konseling
•
Memiliki kesadaran dan
komitmen terhadap etika profesional
•
Menguasai konsep dan
praksis penelitian dalam bimbingan dan konseling.
B. Karakteristik Klien/Konseli
Klien/Konseli adalah setiap individu yang diberikan
bantuan profesional oleh konselor permintaan dirinya sendiri atau orang lain
Menurut Rogers:
Klien sebagai individu yang datang ke konselor dalam
keadaan cemas dan kongruen
Karakteristik Klien
Sherzter and Stone (1987), mengemukakan keberhasilan
konseling ditentukan beberapa fakto berikut:
1)
Kepribadian
Klien
Keberhasilan konseling sangat ditentukan
oleh kepribadian klien. Aspek kepribadian klien meiputi: sikap, emosi,
intelektual, dan motivasi.
2)
Harapan
Klien
Harapan klien adalah untuk memperoleh
informasi, menurunkan kecemasan, memperoleh jalan keluar dari persoalan yang
dialami dan mencari upaya bagaimana dirinya supaya lebih baik
3)
Pengalaman
dan Pendidikan Klien
Pendidikan dan pengalaman biasanya akan
lebih mudah untuk mengungkapkan perasaannya, seperti pengalaman: diskusi,
ceramah, pidato, mengajar, demokratis, dan sebagainya.
Macam-Macam Klien
1)
Klien
Sukarela
Hadir secara sukarela, dapat menyesuaikan
diri dengan konselor, bersedia mengungkapkan rahasia, bersikap bersahabat,
mengikuti proses konseling.
2)
Klien
Terpaksa
Tertutup,enggan bicara, curiga ke
konselor, kurang bersahabat, menolak secar halus bantuan konselor.
3)
Klien
Enggan
Klien jenis ini dating ke konselor bukan
karena ada masalah melainkan karena senang berbincang-bincang, dan konselor
diam saja.
4)
Klien
bermusuhan/menentang
Tertutup,
bermusuhan, menentang, menolak secara terbuka.
5)
Klien
Kritis
Klien kritis disebabkan oleh ragam masalah
karena musibah seperti: kematian, kebakaran, pemerkosaan, dan sebagainya. Klien
ini biasanya; Tertutup, emosional, kurang mampu berfikir rasional, membutuhkan
orang lain yang sangat dipercaya.
Sasaran Pembimbingan Peserta Didik
1)
Anak Usia Dini (Pedagogi)
Karakteristik Tahap Perkembangan Kognitif Anak Menurut Jean Piaget
2)
Remaja
Remaja : 12-21
Tahun
a. Perubahan
fisik
b. Sosialisasi
c. Pengembangan
Kognitif
d. Pribadi
dan emosional
e. Independen,
emosional, dan pemberontak
f.
Moodines ekstrim,
identitas diri,hubungan sebaya
g. Kemandirian,
dan batas pengujian
h. Sifat
egois.
3)
Masa Usia Dewasa (Andragogi)
a.
Masa Dewasa Muda
1) Memilih pasangan hidup.
2) Belajar hidup bersama pasangan hidup.
3) Memulai hidup berkeluarga.
4) Memelihara dan mendidik anak.
5) Mengelola rumah tangga.
6) Memulai kegiatan pekerjaan.
7) Bertanggung jawab sebagai warga masyarakat dan warga
Negara
8) Menemukan persahabatan dalam kelompok sosial.
b. Masa Usia
Dewasa
1) Memiliki tanggung jawab sosial dan kenegaraan sebagai
orang dewasa.
2) Mengembangkan dan memelihara standar kehidupan
ekonomi. \
3) Membimbing anak dan remaja agar menjadi orang dewasa
yang bertanggung jawab dan berbahagia
4) Mengembangkan kegiatan-kegiatan waktu tenggang sebagai
orang dewasa, hubungan dengan pasangan- pasangan keluarga lain sebagai pribadi
5) Menerima dan menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan fisik sebagai orang setengah baya
6) Menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai orang tua
yang bertambah tua
c. Masa Usia
Lanjut (Gerontologi)
1) Menyesuaikan diri dengan kondisi fisik dan kesehatan
yang semakin menurun
2) Menyesuaikan diri dengan situasi pensiun dan penghasilan
yang semakin berkurang
3) Menyesuaikan diri dengan kematian dari pasangan hidup
4) Membina hubungan dengan sesama usia lanjut
5) Memenuhi kewajiban-kewajiban sosial dan kenegaraan
6) Memelihara kondisi dan kesehatan
7) Kesiapan menghadapi kematian.
C. Ragam Masalah
Masalah adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Menurut Rahdzi. Pemberian bantuan yang diberikan secara sistematis kepada orang
lain (klien) untuk memecahkan segala permasalahan yang dihadapi.
Menurut Sugiyono (2009:52) masalah diartikan sebagai
penyimpangan antara yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi,antara
teori dengan praktek,antara aturan dengan pelaksanaan,antara rencana dengan
pelaksanaan
Keadaan taraf
hidup kejiwaan klien
Klien
menderita gangguan perasaan atau ketegangan batin
Ciri-ciri
pokoknya berubah keguncangan mental, keguncangan kepercayaan terhadap tuhan,
serta terhadap diri sendiri, timbul perasaan konflik batin yang hebat antara
realitas dirinya dengan lingkungan masyarakat, dan lain-lain
Klien
telah menderita gangguan dan ketenangan jiwa
Menampakkan
ciri-ciri kelainan kejiwaan yang dianggap tidak normal, yang merupakan penyakit
jiwa seperti psikokis atau psikoneurosis, baik yang masih dalam taraf ringan
maupun yang sudah berat,
Kelainan Kejiwaan
1)
Neurasthenia
Gejalanya antara
lain,tidak dapat tidur,mudah marah atau bertengkar,malas,tidak punya
inisiatif,rasa cemas yang berlangsung lama dan sebagainya.
2)
Psychasthenia
Gejalanya yaitu,takut tidak
beralasan,mengerjakan pekerjaan terus menerus tanpa beralasan,selalu di kuasai
pikiran terhadap satu soal terus menerus (obsesi) atau tidak mampu mengadakan
pilihan terhadap sesuatu.
3)
Hysterianeuroris
Gejalanya yang tampak misalnya
lumpuh,hilang ingatan,hilang perasaan panca indera,hilang nafsu makan,gemetaran
dan sebagainya.
Jenis- Jenis Ragam Masalah
1)
Masalah
Pribadi dan Sosial
Masalah yang berkaitan
kehidupan social di lingkungan sekolah, seperti: kesulitan mencari teman, asing
dengan pekerjaan kelompok, dosen, adaptasi dengan lingkungan, dan sebagainya.
Bimbingan social pribadi,
berkaitan dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif, sikap positif, dan
keterampilan pribadi yang tepat
2)
Masalah
Karir
Masalah yang berhubungan
dengan pekerjaan, pemahaman terhadap jabatan, tugas-tugas kerja, pemahaman
kondisi dan pemahaman diri, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan-pemecahan
masalah yang dihadapi.
3)
Masalah
Akademik
Bimbingan diarahkan untuk
membantu para individu dalam menghadapi masalah akademik. Seperti: pengenalan
kurikulum, pemilihan jurusan, cara belajar, penyelesaian tugas-tugas latihan,
perencanaan pendidikan lanjutan.
Bimbingan yang diberikan
kepada individu yang menghadapi masalah belajar, misalnya: mengatur waktu
belajar, lingkungan sekolah, penyesuaian dengan pelajaran baru, tata tertib
sekolah.
Menurut Roos L. Mooney,
mengidentifikasi masalah ke dalam 330 masalah, yang digolongkan kedalam 11
kelompok, yaitu: 1) perkembangan jasmani dan kesehatan, 2) Keuangan, keadaan
lingkungan dan pekerjaan, 3) kegiatan social, 4) kegiatan pribadi dan kejiwaan,
5) Moral dan agama, 6) Kedaan keluarga, 7) masa depan pendidikan dan pekerjaan,
8) penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah, 9) Hubungan antar pemuda dan
pemudi dan perkawinan, 10) Hubungan social kejiwaan, 11) Kurikulum sekolah dan
pengajaran.
4)
Masalah
Keluarga
Menurut
Moursund “masalah keluarga” berfokus pada dua hal yaitu:
a.
Keluarga dan anak yang
mengalami gangguan berat, seperti gangguan perkembangan dan skizofrenia.
b.
Keluarga orangtua yang
tidak mampu, menelantarkan anggota keluarganya, salah dalam mengasuh keluarga,
dan keluarga yang memiliki berbagai masalah. Dalam perkembangan saat ini
masalah keluarga tidak hanya berfokus pada dua hal di atas, tetapi beberapa
masalah seperti: anak yang tidak patuh, konflik antar anggota
keluarga,perpisahan dengan anggota keluarga karena bekerja di luar daerah, dan
anak yang mengalami kesulitan belajar.
5)
Masalah
keagamaan
Masalah agama berkaitan dengan keraguan
akan nilai-nilai agama, kebimbangan dalam mengikuti aliran agama, konflik
keagamaan.
Konselor tidak boleh mempengaruhi agama
lain untuk mengikuti agama yang dianut konselor, tetapi membantu klien yang
mempunyai masalah.
Tambahan Materi
Menurut WS Winkel (1997) dalam Bimbingan dan Konseling
di lingkungan pendidikan.
1.
Anak Usia Dini
2.
Usia SD
3.
Usia SMP
4.
Usia SMA
5.
Usia Mahasiswa
a. Semester
1-IV
b. Semenster
V-VIII
Anak Usia Dini
Kebutuhan pada
anak usia dini pada dasarnya berkisar pada kebutuhan jasmani primer dan
kebutuhan psikologis, seperti penerimaan kasih sayang, perasaan aman serta
terlindung. Tugas perkembangan yang dihadapi oleh anak balita antara lain:
menggerakkan anggota-anggota tubuh dengan luwes, berkomunikasi secara lisan,
menjalin hubungan emosional yang positif dengan anggota keluarga, guru sekolah
dan teman sebaya, memperoleh sejumlah konsep yang sederhana. Program bimbingan
yang diberikan dapat berupa bimbingan yang sifatnya preventif.
SD
Kebutuhan
mendapatkan kasih sayang dan perhatian, menerima pengakuan terhadap dorongan
untuk memajukan perkembangan kognitifnya, serta memperoleh pengakuan dari teman
sebaya. Tugas-tugas perkembangan yang
dihadapi oleh peserta didik seusia ini adalah antara lain: mengatur beraneka
kegiatan belajarnya dengan bersikap tanggungjawab, bertingkah laku dengan cara
yang dapat diterima oleh keluarga dan teman-teman sebayanya, cepat
mengembangkan bekal kemampuan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung;
mengembangkan kesadaran moral berdasarkan nilai-nilai kehidupan (values),
dengan membentuk kata hati.
SMP
Kebutuhan pada masa usia lebih
cenderung yang bersifat psikologis, seperti mendapatkan kasih sayang, menerima
pengakuan terhadap dorongan untuk semakin mandiri, memperoleh prestasi di
berbagai bidang yang dihargai oleh orang dewasa dan teman sebaya, mempunyai
hubungan persahabatan dengan teman sebaya, merasa aman dengan perubahan dalam
kejasmaniannya sendiri.
Tugas-tugas perkembangan yang
dihadapi peserta didik seusia ini adalah: menerima peranannya sebagai pria atau
wanita yang sedang berkembang, memperjuangkan taraf kebebasan yang wajar dari
orangtua dan kenalan dewasa yang lain, menambah bekal pengetahuan dan pemahaman
sebagai dasar untuk pendidikan lebih lanjut, mengembangkan kata hati
berdasarkan penghayatan pribadi terhadap nilai-nilai kehidupan (values).
SMA
Kebutuhan anak seusia ini terutama
adalah yang bersifat psikologis, seperti mendapat perhatian dan dukungan tanpa
pamrih apapun sekalipn negative, mendapat pengakuan terhadap keunikan alam
fikiran dan perasaannya, menerima kebebasan yang wajar dalam mengatur
kehidupannya sendiri tanpa dilepaskan sama sekali dari perlindungan keluarga,
memperoleh prestasi-prestasi yang patut dibanggakan di bidang akademik dan non
akademik, membina persahabatan dengan teman sejenis dan lain jenis, memiliki
cita-cita hidup yang pantas untuk dikejar.
Mahasiswa PT
Pada
umumnya tampak ciri-ciri sebagai berikut: sudah memantapkan diri dalam bidang
keahlian yang telah dipilih dan dalam membina hubungan percintaan,
memutar-balikan pikiran untuk mengatasi aneka ragam masalah, seperti: kesulitan
ekonomi, kesulitan mendapat kepastian tentang bidang pekerjaan kelak, kesulitan
membagi perhatian secara seimbang antara tuntutan akademik dan tuntutan
kehidupan perkawinan, ketegangan atau stress karena belum berhasil memecahkan
berbagai persoalan mendesak secara memuaskan.
Kebutuhan-kebutuhan yang dihayati
terutama bersifat psikologis, seperti: mendapat penghargaan dari teman, dosen
atau sesame anggota keluarga, mempunyai pandangan spiritual tentang makna
kehidupan manusia, menikmati rasa puas karena mencapai sukses dalam studi akademik,
memiliki rasa harga diri dengan mendapat tanggapan positif dari jenis yang
lain.
Mahasiswa Semester I- IV
Aneka tugas perkembangan yang
dihadapi pada kelompok pertama adalah menyesuaikan diri dengan pola kehidupan
di kampus dan di luar kampus, baik yang menyangkut hal-hal akademik maupun non
akademik.
Mahasiswa Semester V-VIII
Sedangkan mahasiswa di semester
tinggi, harus memantapkan diri dalam mengejar cita-cita di bidang studi
akademik, dibidang pekerjaan, dan dibidang kehidupan berkeluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar