Jumat, 17 Maret 2023

MAKALAH SEJARAH PERKEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN

 

MAKALAH

SEJARAH PERKEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN

(Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran PLS)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

2022


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul SEJARAH PERKEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN  ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah Belajar dan Pembelajaran. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang bagaimana sejarah awal mulanya kegiatan pembelajaran yang berlangsung hingga saat ini bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Kami ucapkan terima kasih kepada .... selaku dosen  mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PLS yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.

Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu, kami menantikan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Karawang, 4 Februari 2022

 

Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. i

DAFTAR ISI ii

BAB I 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1         Latar Belakang. 1

1.2         Rumusan Masalah. 1

1.3         Tujuan. 2

BAB II 3

PEMBAHASAN.. 3

2.1         Sejarah Perkembangan Pembelajaran. 3

2.2         Pembelajaran Merupakan Proses. 3

2.3         Perkembangan Pembelajaran Merupakan Proses Pembentukan Jati Diri 5

2.4         Magang Sebagai Kegiatan Pembelajaran Tertua. 6

A.      Perkembangan Cara Penyampaian dan Penerimaan Informasi 6

B.      Magang sebagai cara penyampaian dan penerimaan informasi yang paling tua. 7

C.      Cara belajar kelompok merupakan pengembangan magang. 7

D.      Pelaku kegiatan belajar dalam serikat sekerja. 8

E.      Pelatihan (training) adalah pengembangan pembelajaran dalam serikat sekerja. 9

2.5         Kegiatan Pembelajaran dalam Kelas. 9

A.      Kelas Sebagai Tempat Kegiatan Pelatihan. 9

B.      Alasan Penggunaan Kelas dalm Pelatihan. 10

C.      Keuntungan Pembelajaran di Kelas. 11

D.      Kelemahan Kegiatan Pembelajaran di Kelas. 12

E.      Keterbatasan Kegiatan Pembelajaran di Kelas. 13

F.      Unsur-unsur Kegiatan Pembelajaran di Kelas. 14

G.     Hubungan Antara Susunan Tempat Duduk dengan Situasi Pembelajaran di Kelas. 21

H.      Persyaratan-persyaratan Kegiatan Pembelajaran yang Efektif di Kelas. 23

I.       Pendekatan dalam Pembelajaran di Kelas. 26

BAB III 28

PENUTUP. 28

3.1         Kesimpulan. 28

DAFTAR PUSTAKA.. 29

 

BAB I

PENDAHULUAN

Penyelenggaraan sistem Pendidikan di Indonesia pada umumnya lebih mengarah pada model pembelajaran yang di lakukan secara masal dan klaksikal, dengan berorientasi pada kuantitas agar mampu melayani sebanyak-banyaknya peserta didik, sehingga tidak dapat mengakomodir kebutuhan peserta didik secara individual diluar kelompok, pada hakikatnya Pendidikan hendaknya mampu mengembangkan potensi kecerdasan serta bakat yang di miliki peserta didik secara optimal sehingga peserta didik dapat mengembangkan potensi diri yang di milikinya menjadi suatu prestasi yang punya nilai jual.

Dalam hal ini jelas bahwa sistem pendidikan di Indonesia sudah mulai di pokuskan pada keberhasilan pada peserta didik dengan jaminan kemampuan yang diarahkan pada life skill yang kelak kemudian hari dapat menopang kesejahtraan peserta didik itu sendiri untuk keluarganya serta masa depannya dengan kehidupan yang layak di masyarakat.

 

1.1  Latar Belakang

Yang melatarbelakangi Penulis mengambil tema “Sejarah Perkembangan Pembelajaran” dari mata kuliah Belajar dan PembelajaranPLS adalah merupakan kajian dari pengembangan peda pelaksanaan proses pembelajaran bagi peserta didik yang lebih diarahkan pada penggalian kemampuan yang ada pada diri peserta didik.

 

1.2  Rumusan Masalah

Rumusan Masalah dari penulisan makalah ini adalah :

1.      Bagaimana sejarah perkembangan pembelajaran?

2.      Bagaimana perkembangan pembelajaran?

3.      Kenapa magang disebut kegiatan pembelajaran tertua?

4.      Bagaimana Proses Pembelajaran dalam Kelas?

 

1.3  Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PLS

2.      Mengetahui sejarah perkembangan pembelajaran

3.      Mengetahui perkembangan pembelajaran

4.      Mengetahui magang sebagai kegiatan pembelajaran tertua.

5.      Mengetahui Proses Pembelajaran dalam Kelas.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Sejarah Perkembangan Pembelajaran

Sejarah Perkembangan Pembelajaran adalah merupakan suatu proses yang melibatkan seseorang untuk secara sengaja berperan aktif dalam melakukan suatu perbuatan tertentu yang terarah dalam situasi serta kondisi yang khusus sehingga menghasilkan stimulus respon.

Dalam perkembangan pembelajaran, interaksi antar manusia, dapat terjadi dalam berbagai kehidupan serta di berbagai bidang. Dalam bidang pendidikan perkembangan pembelajaran dapat diwujudkan melalui inter aksi antar peserta didik, inter aksi antara peserta didik dengan guru, inter aksi antara peserta didik dengan lingkungan, inter aksi antara guru dengan sesama rekan, inter aksi antara guru dengan masyarakat di sekitar lingkungannya.

Perkembangan pembelajaran atas seseorang melibatkan proses berpikir, dalam membangun serta mengembangkan suasana dialogis melalui inter aksi tanya jawab yang berlangsung secara terus menerus serta berkesinambungan guna menghasilkan kemampuan berpikir untuk memperoleh sejumlah ilmu pengetahuan yang dapat membantu seseorang menemukan konsep diri serta jati dirinya sehingga memiliki kepiawaian dalam mengkontruksi diri.

Dari uraian di atas jelas bahwa perkembangan pembelajaran yang terjadi pada seseorang, dapat dilakukan di suatu ruang dan waktu tertentu atau di luar termasuk di dalamnya pada lingkungan dimana seseorang berada.

Untuk dapat menciptakan suasana perkembangan pembelajaran secara efektif serta kondusif yang dilakukan di dalam suatu ruang tertentu maka diperlukan seseorang dalam kapasitas sebagai pengajar ( Guru ), yang diharapkan dapat berperan sebagai pencipta suasana belajar sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran peserta didik di kelas tampak efektif serta kondusif.

 

2.2  Pembelajaran Merupakan Proses

Berbicara mengenai perkembangan pembelajaran adalah berbicara mengenai pengetahuan yang harus di miliki serta di kuasai oleh seseorang untuk mencapai kehidupan yang layak, manusia sebagai individu memiliki sifat-sifat yang komplek agar mampu bersosialisasi serta mengaktualisasikan dirinya di lingkungan masyarakat tempat dimana individu itu bertempat tinggal.

Pembelajaran juga merupakan transfer budaya, mengingat pembelajaran dengan sendirinya diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengarah pada pewarisan budaya dari suatu generasi ke genersi berikutnya yang turun temurun serta berkelanjutan, melalui pendidikan kita dapat mentrasfer nilai-nilai budaya seperti kejujuran, tanggung jawab serta kesiapan untuk kehidupan di masyarakat. Pendidikan memiliki tugas untuk menyiapkan individu-individu sebagai obyek yang merupakan sasaran utama untuk kelangsungan bangsa pada masa yang akan datang. Dalam hal ini ketika Pendidikan merupakan suatu gambaran dari transfermasi budaya maka dapat kita katakan bahwa sistem Pendidikan adalah merupakan sub sistem dari sistem pembangunan nasional yang harus sinkron dengan GBHN dengan memberikan tekanan pada upaya untuk melestarikan serta mengembangkan budaya yaitu : (BP.7. Pusat,1990: 109-110).

1)      Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, rasa karsa bangsa Indonesia.

2)      Kebudayaan nasional yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa terus di pelihara, dibina, dan dikembangkan sehingga mampu menjadi penggerak bagi perwujudan cita-cita bangsa di masa depan.

3)      Perlu ditumbuhkan kemampuan masyarakat untuk mengangkat nilai-nilai social budaya daerah yang luhur serta menyerap nilai-nilai luar yang yang positif dan yang diperlukan bagi pembaruan dalam proses pembangunan.

4)      Perlu terus diciptakan suasana yang mendorong tumbuh dan berkembangnya disiplin nasional serta sikap budaya yang mampu menjawab tantangan pembangunan dengan di kembangkan pranata social yang dapat mendukung proses pemantapan budaya bangsa.

5)      Usaha pembaruan bangsa perlu dilanjutkan di segala bidang kehidupan, bidang ekonomi, dan sosial budaya.

 

2.3  Perkembangan Pembelajaran Merupakan Proses Pembentukan Jati Diri

Pembelajaran yang berlangsung dan berkesinambungan dapat pula diartikan sebagai media untuk pembentukan jati diri, dimana secara proses dilakukan secara sistimatis serta sistemik yang diarahkan pada pembentukan karakter serta jati diri sehingga individu yang bersangkutan memiliki kepribadian, yang berlangsung di dalam situasi serta kondisi kehidupan social di lingkungan masyarakat sekitarnya melalui interaksi social sehingga terjalin hubungan saling ketergantungan satu sama lain.

Satu sisi proses pembentukan pribadi serta jati diri seseorang terdiri dari pembentulan masa kelahiran sampai balita, dan pembentukan masa menuju ke arah pendewasaan, hal ini merupakan proses yang berlangsung secara alami serta mutlak di jalani oleh setiap individu.

Pembentukan pribadi seseorang di alami melalui pengembangan diri sehingga memiliki kualitas kepribadian yang di peroleh baik melalui pendidikan atau pada lingkungan dimana individu yang bersangkutan bersosialisasi dengan berbagai kendala serta tantangan dalam mengarungi hidup serta kehidupan yang di alaminya serta dijadikan pembelajaran sebagai upaya dalam proses pengembangan kepribadian yang mandiri yang kesemuanya sejalan dengan prroses perkembangan secara fisik yang alami pula.

Pendidikan diartikan juga sebagai kehidupan dalam arti luas, Pensdidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu (Mudyaharjo,2001:3)

Dalam hal ini jelas bahwa manusia sebagai makhluk social dan sebagai individu di tuntut secara sadar harus belajar dalam artian bagian dari upaya untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan adalah melalui pendidikan yang di tugaskan untuk menyiapkan peserta didik sebagai pewaris budaya, agar menjadi generasi muda yang produktif, handal dan siap untuk dipasarkan, Dalam hai ini melalui pembelajaran maka Pendidikan disiapkan untuk membekali peserta didik dengan pembentukan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan untuk kelangsungan hidup bagi peserta didik yang bersangkutan kelak kemudian hari.

Ada beberapa komponen dalam pembangunan pendidikan diantaranya : pendidikan harus dapat menciptakan iklim budaya yang memuat komitmen Sumber daya manusia, Pndidikan harus mampu membentuk akhlak mulia, berbudi pekerti luhur,demokratis, berkeakhlian , sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang berkeaklian serta berdaya saing maju sehingga sejahtra, mengingat masyarakat yang sejahtra adalah dimana dilingkungan wilayah tersebut masyarakatnya telah benar-benar berpengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi dan berdisiplin.

 

2.4  Magang Sebagai Kegiatan Pembelajaran Tertua

A.    Perkembangan Cara Penyampaian dan Penerimaan Informasi

Sejak manusia menemukan dan menggunakan perkakas, senjata, bahasa dalam kehidupan maka keinginan untuk mengetahui dan menguasai alat-alat yang yang disebutkan tadi muncul bagian dari kehidupan manusia. Kebutuhan untuk mengetahui dan memiliki informasi yang berhubungan dengan kehidupan oleh nenek moyang kita. Sebagian berpendapat bahwa penyampaian dan penerimaan informasi tentang pengetahuan telah di mulai sejak manusia hidup pada zaman batu. Pendapat lain mengemukakan bahwa transformasi pengetahuan dalam kehidupan manusia dimulai terutama setelah terjadinya revolusi industri.

Tahun 1750 telah disepakati para pakar pendidikan sebagai tahun permulaan era batu bagi kehidupan umat manusia. Pada waktu tersebut pengembangan teknologi dan penggunaan masin telah maju dengan cepat, kemajuan ini terus berkembangan hingga tahun 1900. Perlu disadari bahwa di tengah-tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang makin cepat itu, pada sisi lain terdapat masalah baru. Masalah itu ialah kelambanan upaya manusia dalam penyampaian dan penerimaan informasi tentang ilmu pengetahuan dan tekonologi. Kecepatan transformasi IPTEK tidak seimbang dengan kecepatan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri.

Ditinjau dari segi penyebaran informasi, ternyata kegiatan pembelajaran telah di lakukan oleh umat manusia sejak dulu kala. Penyebaran informasi yang berlangsung dari zaman ke zaman mempunyai dua tujuan, yaitu :

·         Untuk melestarikan kebudayaan yang dimiliki dan dikembangkan oleh masyarakat.

·         Untuk mengembangkan berbagai keahlian dan keterampilan yang diperlukan dalam memajukan kehidupan manusia.

 

B.     Magang sebagai cara penyampaian dan penerimaan informasi yang paling tua

Cara yang digunakan untuk menyebarkan dan menerima informasi itu bermacam-macam ragam. Cara yang paling umum adalah dengan cara magang(apprentinceship) dan masih berlangsung sampai sekarang. Dapat dikatakan bahwa magang sebagai cara memberi dan menerima informasi dalam kehidupan manusia, telah berhasil menjembati pemindahan pengalaman dari seseorang yang memiliki pengalaman dan keahlian tertentu kepada orang lain yang belum memiliki pengalaman dan keahlian sehingga orang yang disebut terakhir memiliki pengalaman atau keahlian itu dan mampu melakukannya sendiri.

 

C.     Cara belajar kelompok merupakan pengembangan magang

Pada abad pertengahan muncul usaha untuk mengembangkan magang sebabagai kegiatan pembelajaran untuk perorangan, menjadi kegiatan pembelajaran untuk kelompok. Disamping magang, terdapat pula pembelajaran untuk orang banyak. Usaha yang dilakukan pada waktu itu antara lain dengan mendirikan universitas sebagai lembaga yang menyelenggarakan penyebaran informasi kepada kelompok. Sebagai misal, di Andalusia, Spanyol, tatkala kaum muslimin dari daerah Arab datang dan bermukim disana, mulai diselenggarakan pembelajaran dengan istilah “kulliyah”. Kuliah dimaksudkan untuk menyampaian informasi oleh seseorang atau kelompok tentang suatu cabang ilmu pengetahuan kepada para peserta atau penerima informasi yang jumlahnya banyak. Istilah kulliyah, atau yang kini disebut kuliah, berasal dari bahasa Arab “kuliyun” yang berarti umum atau orang banyak.

Namun pada lembaga-lembaga keagamaan seperti masjid, pesantren dan gereja, cara penyebaran informasi yang disebut magang masih terus dilakukan.

 

D.    Pelaku kegiatan belajar dalam serikat sekerja

Para pelaku kegiatan pembelajaran dalam kelompok produktif yang mempunyai kesamaan kepentingan dan tujuan dan tujuan dapat digolongkan ke dalam tiga macam.

·         Orang-orang atau anggota kelompok yang memiliki keahlian dalam peningkatan kualitas produksi, pengolahan, nahan baku, dan penggunaan alat-alat produksi.

·         Orang-orang atau anggota kelompok yang belum memiliki kemampuan dalam peningkatan kualitas produksi, pengolahan bahan baku, dan penggunaan alat-alat produksi.

Mereka inilah yang belajar dari orang yang disebut pertama. Mereka tidak menerima upah dari pihak pertama, tetapi hanya memperoleh biaya akomodasi selama mengikuti pelatihan melalui magang.

·         Orang-orang yang telah memiliki kemampuan dari kelompok pertama melalui magang tetapi kemampuannya masih dalam tingkat lebih rendah dari kemampuan orang yang disebut pertama tadi.

Orang-orang yang termasuk kelompok ketiga ini bekerja untuk memproses dan meningkatkan produksi, serta mereka diawasi oleh pihak pertama. Kelompok ketiga mememrlukan organisasi untuk menjadi wadah bagi mereka untuk mengembangkan diri secara bersama sehingga mempu meningkatkan kedudukan mereka menjadi orang yang termasuk kedalam kelompok pertama.

Pada masa kegiatan kelompok dalam serikat kerja (gulid) mencapai puncak perkembangannya, yaitu sekitar abad kedua belas sampai dengan kelima belas, maka hak orang-orang yang tergabung atau menjadi anggota kelompok itu dilindungi oleh peraturan-peraturan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Peraturan itu meliputi antara lain ketentuan jam kerja, penggunaan alat, penetapan harga barang, penentuan besarnya upah, dan jaminan kerja.

E.     Pelatihan (training) adalah pengembangan pembelajaran dalam serikat sekerja

Dalam meningkatkan mutu kemampuan para anggota kelompok, perkumpulan dan organisasi serikat kerja serta untuk membinan dan mengembangkan keahlian pra petugas dan pekerja maka sejak abad 19 telah dilakukan kegiatan yang dikenal dengan istilah Training. Pelatihan dilaksanakan dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran individual dan kelompok. Salah satu teknik yang banyak dikenal masyarakat pada saat itu disebut “teknik empat langkah”. Urutan langkah dalam teknik ini terdiri atas:

·         Memperlihatkan (to show)

·         Menjelaskan (to tell)

·         Mengerjakan (to do)

·         Memerikasa (to check)

Dengan menggunakan teknik tersebut, terlihat arah pembelajaran mendorong para peserta didik untuk lebihn banyak belajar mellaui langkah-langkah melihat, mendengar, berbuat dan memerikasa proses dan hasil belajarnya.

Masa lampau merupakan awal bagi masa kini sedangkan masa sekarang merupakan permulaan masa datang. Sehubungan dengan masa yang disebut terkahir itu maka harus diingat bahwa perkembangan kegiatan pembelajaran di masa mendatang akan sangat tergantung pada sikap dan perilaku setiap pengelola kegiatan pembelajaran pada masa sekarang. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa pengembangan metode dan teknik kegiatan pembelajaran harus dan dapat selalu dilakukan baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.

2.5  Kegiatan Pembelajaran dalam Kelas

A.    Kelas Sebagai Tempat Kegiatan Pelatihan

Hasil studi menunjukkan bahwa sekitar 95 persen kegiatan pembelajaran dalam pendidikan nonformal, khususnya pada program pelatihan bagi orang dewasa, dimulai dan dilakukan di ruangan yang disebut kelas. Sebagian besar kegiatan pembelajaran dalam program pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga atau instansi menunjukkan angka bahwa hampir seratus persen dilakukan di ruangan atau di kelas. Hal ini berarti bahwa kegiatan pembelajaran itu dipusatkan di kelas, sehingga kelas merupakan tempat kegiatan utama bagi kegiatan pembelajaran dalam pelatihan.

Kegiatan pembelajaran di ruangan atau di kelas yang dilakukan sampai saat ini berbeda dengan kegiatan pembelajaran yang menggunakan bentuk pembelajaran lainnya. Bentuk pembelajaran yang disebut terakhir ini antara lain ialah pembelajaran melalui komputer, penggunaan televisi jarak dekat (close circuit television), pembelajaran dengan menggunakan mesin pengajaran modul, dan kegiatan pembelajaran yang diprogram oleh peserta didik atau pendidik.

 

B.     Alasan Penggunaan Kelas dalm Pelatihan

Penggunaan ruangan atau kelas sebagai tempat kegiatan pembelajaran dalam pelatihan didasari oleh beberapa alasan.

Pertama, kegiatan dalam pelatihan didasari oleh beberapa alasan pembelajaran di kelas sudah lebih dikenal sejak lama dibandi dengan tempat kegiatan pembelajaran lainnya.

Kedua, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di kelas lebih mudah dilakukan dibanding penyelenggaraan pada fasilitas lainnya. Setiap orang mengetahui bahwa untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran di kelas cukup mencari dan menentukan ruangan yang akan digunakan adanya sejumlah peserta didik, adanya bahan belajar dan tersedianya alat pembelajaran. Apabila ruangan, bahan belajar, peserta didik, pendidik dan alat-alat bantu telah tersedia maka selanjutnya peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran dan pendidik melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk pembelajaran di ruangan kelas, pendidik tidak selalu harus seorang ahli atau yang telah lama berpengalaman, melainkan pendidik yang baru terjun ke dalam pembelajaran pun dapat melakukannya. Kemudahan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran ini agaknya menjadi alasan utama bahwa kelas menjadi populer. Penyediaan ruangan menggunakan berbagai fasilitas yang tersedia seperti ruang pertemuan, ruang konferensi penginapan, atau tempat khusus yang disediakan untuk penyelenggaraan pelatihan

Alasan ketiga, melalui kegiatan pembelajaran dikelas memungkinkan semua peserta didik dapat menerima informasi pada waktu yang sama. Demikian pula setiap peserta didik dapat memulai dan mengakhiri kegiatan pembelajaran secara bersama-sama. Dalam ruangan kelas mereka dapat membahas bahan belajaryang sama, dapat melihat alat peraga dan menggunakan media belajar secara bersama, dan dapat berinteraksi dalam ruang dan waktu yang sama Kegiatan pembelajaran di dalam kelas dapat dilakukan hanya oleh seorang pendidik. Dilihat dari segi penyediaan materi pelajaran, bahan belajar yang telah dibahas pada salah satu kelas dapat dijadikan bahan belajar untuk pertemuan di kelas lain secara paralel. Bahan belajar yang digunakan pada kelaslain mungkin tanpa memerlukan upaya perbaikan atau penyempurnaan terlebih dahulu. Singkatnya, kelaslebih dikenal sebagai tempatutama kegiatan pembelajaran sejak masalalu sampai saat sekarang karena efisiensinya dalam proses interaksi edukasi antara pendidik dan peserta didik.

Perlu dipahami pula bahwa alasan-alasan penggunaan kelas sebagaimana telah dikemukakan di atas didasarkan atas kenyataan umum tentang pembelajaran yang terjadi dalam ruangan kelas. Selanjutnya kita perlu membicarakan proses pembelajaran yang terjadidalam ruangan/kelas dengan maksud untuk mengupayakan efektivitas pembelajaran.

 

C.     Keuntungan Pembelajaran di Kelas

Ruangan kelas itu memberikan beberapa keuntungan bagi kegiatan pembelajaran. Pertama, bahwa dalam kelas memungkinkan pendidik untuk melakukan metode pembelajaran yang bervariasi seperti metode pembelajaran perorangan, metode pembelajaran kelompok terbatas atau kelompok besar. Kedua di ruangan kelas dapat disediakan alat-alat bantu seperti papan tulis, kapur, penghapus serta media belajar seperti film, slide, televisi, dan proyektor (overhead projector). Di samping itu pada bagian depan ruangan kelas dapat disajikan model-model, kegiatan demonstrasi, diorama, dan lain lain. Ketiga, meja dan kursi belajar dapat diatur sedemikian rupa sehingga susunannya dapat diubah menjadi bentuk lingkaran, setengah lingkaran, model-U, berhadap-hadapan, atau berbanjar. Penempatan alat-alat bantu pembelajaran dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga terjadi pemanfaatan ruang yang tersedia sebaik

Keuntungan keempat, berkaitan dengan biaya. Biaya pengadaan fasilitas dan alat-alat bantu pembelajaran dapat dihemat karena sekaligus dapat disediakan sebelum kegiatan pembelajaran dilangsungkan. Biaya yang digunakan dalam kegiatan di kelas akan berbeda dengan biaya kegiatan pembelajaran bentuk lain, karena yang disebut terakhir ini pada umumnya bisa lebih mahal dibandingkan dengan biaya pembelajaran di kelas. Selama kursi belajar ditempati oleh peserta didik dan tidak ada yang kosong, maka biaya tiap individu akan relatif kecil. Demikian pula apabila kelas tidak digunakan untuk kegiatan pembelajaran, ruangan itu dapat dimanfaatkan bagi kegiatan lainnya seperti rapat, pertemuan antara guru dengan masyarakat sekitar, dan pameran. Andaikata untuk kegiatan lain itu dikenakan biaya atau disewakan, maka pendapatan itu dapat digunakan untuk membantu biaya kegiatan pembelajaran sehingga biaya belajar tiap individu akan menjadi lebih murah. Uraian di atas menyatakan bahwa kelas memiliki fleksibilitas dalam pengaturan, efisien dalam penggunaan fasilitas dan alat-alat kegiatan pembelajaran, dan biaya penyelenggaraan pembelajaran bagi tiap peserta didik lebih kecil dibandingkan dengan biaya pembelajaran melalui kegiatan lainnya.

 

D.    Kelemahan Kegiatan Pembelajaran di Kelas

Di samping memiliki kelebihan, kelas memiliki beberapa kelemahan Pertama, walaupun kegiatan pembelajaran di kelas telah banyak diketahui secara umum, namun penyelenggaraannya seolah-olah mengalami lesu darah. Kegiatan pembelajaran dalam kelas hampir tidak mungkin bisa digunakan semua metode dan teknik pembelajaran. Beberapa keuntungan kelas sebagaimana diuraikan di atas tidak dapat mengimbangi kela kelemahan yang dimiliki kelas. Pada umumnya orang lebi untuk mengatakan kegiatan pembelajaran itu berhasil karena dilaksanakan di dalam kelas, padahal kenyataannya mungkin menun hasil yang sebaliknya. Tersedianya ruangan, hadirnya sekelompok didik, dan adanya pendidik hanya menunjukkan kelengkapan unsu, kegiatan pembelajaran di kelas sedangkan kelengkapan itu tidak menjaminan untuk berlangsungnya kegiatan pembelajaran yang berhasil. Keadaan demikian malah menunjukkan kecenderungan tentang mi situasi kegiatan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas contoh, apabila seorang pendidik mengetahui bahan belajar secara sedangkan para peserta didik belum mengetahuinya maka proses ke yang terjadi pada umumnya ialah pendidik memulai kegiatan pembeli dengan bercerita kemudian memompakan bahan yang telah diketahuin itu kepada para peserta didik. Apabila situasi demikian terjadi, dan mema, sering terjadi, maka pendidik mengulangi cara yang kuno dan lesu daral secara terus menerus dalam menghadapi peserta didik. Pada dasarnya tidak akan banyak kemajuan yang diharapkan dari situasi belajar yang demikian

Kedua, terdapat pula kelemahan lain dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Kegiatan pembelajaran akan sukar untuk memperoleh umpan balik yang cepat dari seluruh peserta didik.

 

E.     Keterbatasan Kegiatan Pembelajaran di Kelas

Kegiatan pembelajaran di kelas memiliki beberapa keterbatasan Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu bahwa kegiatan pembelajaran di kelas dapat menggunakan berbagai jenis metode pembelajaran kelas ditandai dengan situasi berkumpulnya para peserta didik yang melakukan kegiatan pembelajaran bersama secara kelompok. Kelas dapat pula menumbuhkan suasana belajar melalui penggunaan rangsanganrangsangan yang tepat. Kegiatan pembelajaran di kelas dapat membawa atau mendorong peserta didik untuk melakukan identifikasi masalah yang mereka rasakan dan melaksanakan kegiatan bersama untuk memecahkan masalah itu. Dalam kegiatan pembelajaran dapat pula dibahas dan dipecahkan berbagai masalah kontemporer yang muncul, serta dapat mengembangkan hubungan saling bantu antara peserta didik

Namun, kegiatan pembelajaran di kelas tidak dapat memberi jaminan tentang kelangsungan hadirnya peserta didik secara berlanjut. Sebagai contoh, tidak mungkin 95% dari jumlah peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran pertama akan mengikuti secara terus menerus sehingga sebanyak 95% itu pula yang mengikuti evaluasi akhit. Berlainan dengan kelangsungan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran berprogram Bentuk pembelajaran berprogram dapat menjamin kontinuitas belajar yang dilakukan peserta didik. Demikian pula kegiatan pembelajaran di kelas tidak menjamin adanya perkembangan belajar berdasarkan perbedaan individual peserta didik; sedangkan pembelajaran yang diprogram oleh peserta didik sendiri (self instruction) dapat menumbuhkan perkembangan atas dasar perbedaan individual peserta didik. Pembelajaran di kelas tidak dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran berdasarkan cara-cara atau pengalaman belajar masing-masing sebagaimana dapat dilakukan melalui pembelajaran dengan computer yang bisa menimbulkan situasi belajar berdasarkan minat dan pengalaman perorangan. Dalam pembelajaran di kelas, peserta didik tidak dapat merundingkan dan menentukan tujuan belajar yang berada di luar kegiatan kelas

Demikianlah beberapa keterbatasan kelas berdasarkan fakta-fakta yang muncul dalam pembelajaran. Namun, telah ditemukan hal-hal yang positif dalam kegiatan pembelajaran di kelas sebagaimana dikemukakan terdahulu. sehinga perlu terus diupayakan peningkatan efektivitasnya dalam kegiatan pembelajaran.

 

F.      Unsur-unsur Kegiatan Pembelajaran di Kelas

Pada bagian ini akan dibicarakan tentang unsur unsur yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Perlu diingat bahwa lebih mudah membicarakan unsur-unsur daripada membahas situasi pembelajaran pada kelas.

1.      Unsur pendidik.

Di sini tidak dimaksudkan untuk membicarakanpendidik sebagai faktor yang paling dominan dan paling menentukan. Namun  kehadiran pendidik itulah yang menyebabkan perbedaan antara kegiatan pembelajaran dikelas dengan kegiatan pembelajaran dalam bentuk lainnya. Selanjutnya perlu pula diketahui lebih jauh tentang pengaruh pendidik terhadap proses pembelajaran. Pendidik memasuki kelas dengan bekal sejumlah pengetahuan dan pengalaman. Pengetahuan dan pengalaman ini lebih banyak dimiliki pendidik dibandingkan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peserta didik. Andaikata pendidik tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman baru, maka mungkin ia tidak mempunyai informasi yang berarti, diorganisasi serta disiapkan sebagai bahan untuk bertukar pengalaman dengan peserta didik. Walaupun peserta didik mungkin tidak memberikan tanggapan terhadap pengetahuan atau pengalaman yang disajikan pendidik, peserta didik telah dan akan dipengaruhi oleh hasil kegiatan pembelajaran. Dalam hubungan ini pendidik dan materi pembelajaran bukan merupakan “pemaksa" untuk terjadinya pengaruh terhadap peserta didik, namun pengaruh itu timbul karena adanya keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Untuk mengusahakan adanya pengaruh ini pendidik hendaknya melibatkan peserta didik untuk bekerjasama dalam kegiatan pembelajaran.

2.      Unsur  kelompok peserta didik yang datang ke kelas atau berada di kelas untuk belajar

Unsur ini pula yang menyebabkan perlu adanya ruangan atau kelas dan pendidik. Tanpa adanya kelompok peserta didik maka tidak perlu adanya kelas dan mungkin tidak perlu pula kehadiran pendidik. Pendidik yang menyadari hal Ini berpendapat bahwa kehadiran pendidik tidak diperlukan apabila tidak ada kelompok peserta didik. Perlu disadari oleh pendidik bahwa di dalam suatu kelompok tidak akan terdapat peserta didik yang sama dalam segala hal. Tiap tiap peserta didik memiliki perbedaan dalam kebutuhan belajar, kemampuan belajar tujuan belajar, latar belakang kehidupan, lingkungan dan tempat penerapan hasil belajar yang mereka peroleh. Tidak akan ada perlakuan yang dapat menyamaratakan semua peserta didik. Cara motivasi yang cocok untuk seorang peserta didik belum tentu cocok bagi peserta didik yang lain. Suatu bahan belajar yang menarik bagi seseorang, mungkin bagi orang lain akan membosankan. Seorang peserta didik tidak mungkin menyenangi kegiatan pembelajaran yang tidak cocok baginya, seperti adanya pendidik yang tidak memahami karakteristik peserta didik, ruangan yang pengap dan tempat duduk yang tidak nyaman. Keadaan yang demikian akan merusak makna kegiatan pembelajaran. Peserta didik lainnya mungkin akan mencemoohkan atau menolak pendidik yang dianggap membosankan. Perlu disadari pula bahwa peserta didik adalah mahluk sosial, perorangan, dan unik. Dengan demikian kelas tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya tempat belajar yang paling cocok untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

3.      Unsur bahan belajar

Bahan belajar yang berisi pengetahuan, keterampilan, dan/atau nilai-nilai akan dikomunikasikan oleh pendidik kepada peserta didik. Bahan belajar itu pula yang akan dipelajari oleh peserta didik dalam mencapai tujuan belajarnya.

Tujuan belajar, berupa keluaran (output) ialah terwujudnya perubahan tingkah laku pada diri peserta didik. Situasi yang mendukung timbulnya perubahan itu ialah upaya pendidik untuk mengenali sikap dan perilaku peserta didik pada saat sebelum melakukan kegiatan pembelajaran dan memahami perubahan tingkah laku yang akan dicapai setelah kegiatan pembelajaran. Perubahan tingkah laku yang ingin dicapai itu dijabarkan pada tujuan belajar yang dirumuskan dalam tingkah laku yang dapat diukur. Dalam hal ini sudah cukup baik apabila peserta didik memahami ke arah mana ia akan menuju sejak ia dibantu oleh pendidik untuk mencapai tingkat perubahan perilakunya. Tanpa kejelasan ke arah mana ia akan berubah, maka kegiatan pembelajaran itu dapat diibaratkan sebagai seseorang yang sedang mengendarai mobil dalam keadaan matanya ditutup sehingga ia hanya menanti seseorang yang memberitahukan kapan berangkat, di mana berhenti, berbelok, dan sebagainya. Biasanya kegiatan pembelajaran dalam kelas di masa lampau sering menumbuhkan kesan demikian, seperti hainya peserta didik hanya menerima tanpa kritik atau dengan penuh keraguan terhadap pesan-pesan yang disampaikan pendidik.

4.      Unsur ingkungan belajar dikelas

Kedalam lingkungan ini termasuk fasilitas (sepertimeja dan kursi), suhu udara, danventilasi ruangan. Lingkungan belajar itupun meliputi suasana belajar. Suasana belajar sulit di ukur tetapi merupakan bagian yang sangat penting dalam pembelajaran. Dalam menumbuhkan suasana belajar yang kondusif untuk belajar dapat dipertimbangkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

a.       Apakah peserta didik merasa bebas untuk menanyakan sesuatu kepada pendidik?

b.      Apakah peserta didik memiliki perasaan bebas untuk mencoba menjawab pertanyaan  yang diajukan kepadanya?

c.       Apakah akan dikenai hukuman apabila peserta didik bertanya tentang sesuatu yang tidak disenangi pendidik?

d.      Adakah pimpinan dalam kelompok belajar yang terus memelihara dan meningkat : partisipasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran? Semua jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, hendaknya dijadikan pertimbangan untuk menentukan sejauh mana kegiatan pembelajaran dikelas dapat berjalan dengan efisien dan efektif.

Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas perlu diperhatikan karena hasil belajar yang rendah dapat terjadi bukan disebabkan oleh pembelajaran yang tidak baik, melainkan lebih dipengaruhi oleh lingkungan belajaryang tidak mendukung. Demikian pula lingkungan fisik yang merupakan bagian dari lingkungan belajar, dapat mempengaruhi kegiatan pembelajan. Walaupun tersedia pendidik yang paling baik, peserta didik akan sulit untuk melakukan konsentrasi dalam kegiatan pembelajaran apabila ruangan kelas dirasakan pengap, dipenuhi asap rokok, udara panas, gaduh, tempat duduk yang terlalu keras atau terlalu empuk, dan lain sebagainya.

a.       Tempat duduk susunan tradisional

TRADISIONAL.jpg

Para peserta didik duduk dalam deretan berbanjar, menghadap ke depan kelas. Kelas yang menggunakan tempat duduk demikian dapat dilengkapi fasilitas lain seperti meja,atau dibiarkan tidak menggunakan meja seperti di gedungbioskop. Pada saat ini banyak kegiatan pembelajaran dilakukan dalam ruangan kelas yang menggunakan tempat duduk dengan susunan tradisional.

Susunan ini mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah bahwa penyusunan tempat duduk sangat efisien dilihat dari segi penggunaan ruangan. Didalam kelas hanya diperlukan lorong untuk lalulintas, yang letaknya ditengah, yaitu di antara banjar tempat duduk sebelah kiri dan sebelah kanan. Semua kursi menghadap kesatu arah, yaitu kedepan kelas. Sedangkan alat-alat bantu pembelajaran yang digunakan oleh pendidik. seperti proyektor, mudah untuk dipindah-pindah baik di depan kelas maupun di lorong yang terletak di antara banjar tempat duduk. Penggunaan lorong untuk penempatan proyektor tidak akan mengganggu penglihatan para peserta didik. Dengan demikian semua tempat yang tersedia di dalam ruangan dapat dimanfaatkan. Semua peserta didik dengan jelas dapat melihat layar, papan tulis dan pendidik di depan kelas. Kecuali, bagi mereka yang duduk tidak pada deretan terdepan maka sudah tentu pemandangan akan terganggu oleh punggung dan kepala peserta didik yang duduk di deretan depan.

Kelemahan susunan tradisional tidak sejelas kelebihannya. Kelemahan itu antara lain bahwa kegiatan pembelajarannya berpusat pada pendidik

b.      Susunan tempat duduk bentuk tekukan (chevron design)

TEKUKAN.jpg

Susunan ini merupakan variasi dari susunan tradisional yang dikemukakan di atas. Tempat duduk menurut susunan tradisional ditarik ke belakang sedikit pada ujung bagian tengah. Dengan demikia peserta didik dapat melihat temannya yang duduk di sampingnya da sekaligus dapat melihat pendidik.

Tempat duduk dengan susunan bentuk tekukan ini lebih baik dibandingkan dengan tempat duduk susunan tradisional. Susunan dalam bentuk tekukan dapat mendorong respons yang lebih banyak dari peserta didik. Kebalikannya, sebagaimana halnya dalam susunan tradisional, ialah para peserta didik dapat melihat alat peraga dan pendidik yang berada di depan kelas. Lorong yang masih ada di bagian tengah digunakan untuk lalu lintas dan tempat sarana belajar seperti proyektor dan model. Pengendalian kegiatan pembelajaran masih di tangan pendidik, walaupun pengendalian Itu tidak seketat dalam tempat duduk susunan tradisional.

c.       Susunan tempat duduk berbentuk lingkaran

 

O.jpg

Pada tempat duduk susunan dengan bentuk lingkaran, hamper separuh jumlah peserta didik tidak dapat memangang ke depan kelas kecuali apabila mereka memutar kursinya untuk menghadap ke depan.

 

d.      Susunan tempat duduk bentuk huruf U

U.jpg

Susunan ini memungkinkan para peserta didik dapat melihat satu sama lain dengan baik sekurang kurangnya bagi peserta didik yang duduk pada bagian tengah dan bagiandepan. Susunan inipun dapat memanfaatkan penggunaan ruang bagian depan karena bagian ini dapat diisi lagi dengan tempat duduk bagi peserta didik. Masalah lain yang timbul dari tempat duduk susunan bentuk U Ini ialah bahwa para peseria didik yang duduk pada deretan yang sama kurang dapat berdiskusi dengan teman yang duduk di deretan tersebut sehingga mereka cenderung untuk berbicara dengan rekan rekannya yang ada pada deretan di seberang tempat duduknya. Para peserta didik yang duduk dideretan belakang cenderung untuk berbicara dengan pendidik dan sedikit sekali kemungkinan untuk berbicara dengan teman-temannya.

e.       Susunan tempat duduk huruf V

V.jpg

Pada tempat duduk dengan susunan berbentuk V , ruang didepan kelas memungkinkan untuk adanya keleluasan bergerak. Sedangkan peserta didik kurang dapat berpandangan antara satu dengan yang lainnya.

Pada tempat duduk dengan susunan ini, ruang di ujung bagian belakang makin mendekat. Tidak ada lorong yang dapat digunakan untuk melewati ujungbagianbelakang. sedangkan ruangbagian muka makin ke depan makin besar.

Setelah membandingkan tempat duduk berdasarkan berbagai susunan sebagai mana dikemukakan diatas maka jelaslah bahwa tempat duduk dengan bentuk lingkaran, bentuk U dan bentuk V kurang efisien ditinjau dari segi penggunaan ruangan karena ruangan di bagian tengah pada umumnya tidak digunakan untuk tempat duduk peserta didik.

 

G.    Hubungan Antara Susunan Tempat Duduk dengan Situasi Pembelajaran di Kelas

Uraian berikutnya adalah tentang tinjauan terhadap kegiatan pembelajaran di ruangan kelas dari segi psikologi belajar. Berdasarkan tinjauan psikologi belajar berbagai susunan tempat duduk dalam kelas, dapat dibagi ke dalam dua kategori. Pertama, susunan tempat duduk yang menumbuhkan situasi kegiatan pembelajaran yang berpusat pada pendidik (faciliirator centered). dan kedua susunan tempat duduk dengan situasi Lalat yang berpusat pada peserta didik (participant centered). Susunan ambat duduk di kelas yang dirancang untuk membatasi partisipasi peserta adik dalam kegiatan pembelajaran termasuk pada kategori pertama pendidik mengendalikan sepenuhnya kegiatan pembelajaran. Pendidiklah yang mengarahkan seluruh alur pembicaraan dan yang menetapkan pola kegiatan pembelajaran. Pendidik menghendaki agar peserta didik menunjukkan ketergantungan kepada pendidik, dan peserta didik hanya menerima informasi dan perintah dari pendidik

Situasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik ditandai dengan adanya situasi yang mendorong partisipasi peserta didik dan interaksi antar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Pengendalian oleh pendidik! hanya terbatas pada langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar yang telah disepakati dan ditetapkan. Alur kegiatan pembelajaran darisatulangkah kelangkah yanglain dilakukan secara wajar sehingga perubahan yang dilalui peserta didikitu pada umumnya tidak merasa dipaksakan namun pendidik tidak kehilangan fungsi pengawasan terhadap kegiatan pembelajaran.

Contoh kategori kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik ialah situasi yang terdapat pada susunan tempat duduk berbentuk huruf U . Dalam susunan seperti ini, pendidik dapat mengawasi proses kegiatan pembelajaran secara mudah dengan mempergunakan ruang yang tersedia di bagian tengah. Apabila pendidik mendekati peserta didik dari tempat tersebut, maka para peserta didik akan segera memperhatikan pendidik. Apabila tidak terdapat keinginan untuk bertanya kepada pendidik atau tidak ada hal yang akan didiskusikan dengan rekan-rekannya, maka peserta didik yang didekati itu akan segera memperhatikan pendidik. Susunan tempat duduk berbentuk V mendorong pendidik untuk mengendalikan dan mengawasipeserta didikdalam melakukan kegiatan pembelajaran secaraakt Pengendalian ini sangat perlu terutama apabila terdapat peserta didik yang menunjukkan ketergantungan sepenuhnya kepada pendidik

Tatkala para peserta didik dalam kelompok-kelompok kecil berkumpul dan menempati tempat duduk mengelilingi mela masing-masing yang telah isediakan situasi itu akan lebih berpusat pada peserta didik dibandingkan dengan situasi belajar dalam bentuk U. Dalam kelompok-kelompok kecil ini apabila sedang terjadi diskusi, pendidik akan relatif sulit agar pembicaraan mengarah pada inti persoalan yang didiskusikan. Kesulitan akan terjadi pula ketika para peserta didik sedang terlibat dalam dan tentang sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan mereka.

Salah satu cara yang dapat digunakan oleh pendidik dalam mengendall kelompok tersebut ialah dengan memberikan tugas kelompok dan kemudi melaporkan hasil dan atau proses kegiatan pembelajaran dalam kelom masing-masing. Apabila kelompok-kelompokitu telah selesai menyampall laporannya maka akan mudah bagi pendidik untuk mengetahui apakah is kegiatan pembelajaran itu sesuai atau tidak sesuai dengan program kegiatan pembelajaran yang direncanakan. Pendidik dapat pula mengendalikan kegiatan pembelajaran dengan melontarkan beberapa pertanyaan yang dapat memancingperhatian para pesertadidik. Pertanyaan itu hendaknya merupakan permasalahan yangdapat dihadapi bersamaoleh kelompok. Masalah-masalah itu dapat diperoleh pendidik dari hasil-hasil laporan kelompok

 

H.    Persyaratan-persyaratan Kegiatan Pembelajaran yang Efektif di Kelas

Setelah membahas situasi kegiatan pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, pada uraian selanjutnya akan dibicarakan tentang syarat-syarat yang diperlukan supaya kelas dapat dijadikan panti atau tempat kegiatan pembelajaran yang efektif. Persyaratan ini perlu dibicarakan lebih lanjut karena sebagaimana telah ditegaskan pada bagian awal bab ini, ruangan kelas masih merupakan tempat kegiatan pembelajaran yang paling sering digunakan dalam pendidikan nonformal sebagaimana halnya kelas menjadi tempat paling utama dalam kegiatan pembelajaran-mengajar pada satuan-satuan pendidikan formal.

Syarat kelas yang efektif adalah

1.      adanya kererlibatan, tanggung jawab, dan umpan balik dari peserta didik Keterlibatan peserta didik merupakan syarat pertama dan utama dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu keterlibatan peserta didik sangat penting dan mendasar. Untuk terjadinya keterlibatan peserta didik maka mereka harus memahami dan memiliki tujuan belajar yang ingin dicapai melalui kegiatan pembelajaran. Keterlibatan peserta didik pun harus mempunyai arti penting bagi dirinya dan perlu diarahkan secara baik oleh pendidik untuk kepentingan peserta didik. Para peserta didik sejauh mungkin hendaknya melihat ke arah mana mereka akan dibawa oleh keterlibatannya, dan mengetahui pula bahwa Sesuatu yang ingin mereka capai dapat diraih dengan usaha keterlibatan mereka dalam kegiatan pembelajaran.

2.      Syarat kedua ialah tanggung jawab dalam kegiatan pembelajaran.

Sejak belajar dilakukan secara perorangan, sebagaimana sejarah mencatatnya dengan istilah magang.. Apabila tujuan belajar telah diketahui dengan jelas oleh para peserta didik,maka mereka meyakini bahwa merekalah yang harus melakukan kegiatan pembelaja guna mencapai tujuan belajar. Tidak sebaliknya, yaitu pendidik yang menyuruh dan memaksakan kehendaknya kepada peserta didik agar mereka berbuat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para peserta didik hendaknya secara sadar berusaha untuk mencapai tujuan belajar. Pendidik tidak memaksa peserta didik untuk mencapai tujuan belajar tetapi merekalah yang secara sadar berusaha meraih tujuan belajar tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam kelompok kecil, seperti pekerjaan rumah atau membaca buku pelajaran di luar ruangan kelas, para peserta didik perlu merasakan bahwa merekalah yang memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan tugas dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh mereka, sedangkan pendidik hanya berperan untuk memberikan dorongan atau bimbingan.

Pendidik hendaknya membuat rencana kegiatan pembelajaran yang dapat mendorong peserta didik untuk bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiaran pembelajaran. Andai kata peserta didik telah memahami tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan pembelajaran, maka ia akan lebih menyiapkan diri untuk memikul tanggung jawab guna melakukan kegiatan pembelajaran. Hal in pua menuntut dorongan dan bantuan dari pendidik sehingga peserta didik benar-benar menampilkan kesungguhan dalam kegiatan pembelajaran.

3.      Syarat ketiga pembelajaran dalam kelas adalah umpan balik dari peserta didik. Umpan balik berguna bagi pendidik untuk mengetahui tingkat perubahan yang dialami oleh peserta didik pada saat sebelum dan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Dengan adanya umpan balik ini pendidik akan memperoleh gambaran tentang perubahan yang telah dan sedang terjadi pada diri peserta didik. Makin banyak umpan balik yang disampaikan Oleh peserta didik, maka akan makin diketahui tentang tingkat keberhasilan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik.

Umpan balik dapat diperoleh dengan bermacam cara seperti dengan bertanya,meminta tanggapan, menyuruh melakukan kegiatan, dan menjelaskan kembali sesuatu yang dipelajari kepada semua peserta didik.Hanya sayangnya untuk mengetahui umpan balik itu pendidik cenderung lebih memperhatikan wajah para peserta didik.

Apabila kita membicarakan teknik pembelajaran maka akan lebih menguraikan karakteristik teknik pembelajaran dibandingkan dengan mengklasifikasikannya.Sebagai ilustrasi, tidaklah mudah untuk membicarakan teknik diskusi tanpa mengetahui lebih dahulu kegiatan-kegiatan apa ya harus dilakukan dalam diskusii tu.Teknik diskusi merupakan salah satu teknik yang sering dan perlu digunakan oleh peserta didik dan pendidik hal mendiskusikan suatu topik atau masalah dalam kegiatan pembelajaran. Bukanlah informasi tentang jenis topik yang paling diperlukan, bukan pula berkumpulnya para peserta didik ketika membicarakan sesuatu topik melainkan informasi tentang penggunaan teknik yang dibutuhkan andai pendidik menginginkan efektivitasbdalam pembahasan suatu topik. Dalam ini. pendidik dapat bertanya:

·         Apakah para peserta didik dapat menyusun kesimpulan dari pembahasan yang mereka lakukan?

·         Apakah pendidik mendapatkan umpan balik yang menunjukkan bahwa para peserta di dapat menarik kesimpulan dari pembicaraan mereka?

·         Apakah umpan balik itu digunakan untuk menilai kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik?

·         Apakah umpan balik itu digunakan pula untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran pada masa berikutnya?

·         Apakah semua peserta didikdi memberikan umpan balik kepada pendidik atau kah hanya satu atau dua orang saja yang menyampaikan umpan balik itu?

Pertanyaan pertanyaan itu juga dapat digunakan untuk mengetahui Efektivitas teknik tanya jawab yang digunakan dalam kegiatan pembelajar di kelas Dalam hubungan Ini dapat ditambahkan beberapa pertanya berikut:

·         Apakah makna pertanyaan dari peserta didik bagi pendidik.

·         Apakah pertanyaan itu menghasilkan umpan balik yang bermanfaat bagi pengembangan kegiatan pembelajaran.

·         Manfaat apakah yang diperoleh peserta didik dari pertanyaan yang diajukan pendidik.

·         Sejauh mana kesungguhan setiap peserta didik dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pendidik.

·         Sejauh mana keterlibatan antara pendidik dengan peserta didik apakah hanya dengan seorang atau beberapa orang peserta didik.

·         Apa setiap peserta didik memberikan jawaban, pertanyaan dan pendapat bersamayang diajukan kembali kepada kelompok.

·         Apakah masukan yang diajukan kepada kelompok itu kemudian ditarik kesimpulan oleh semua anggota kelompok.

Setiap pendidik dapat melakukan penilaian terhadap proses pembelajaran yang tengah berlangsung yaitu dengan menggunakan tiga kriteria yang telah dibicarakan di atas. yaitu keterlibatan tanggung jawab dan umpan balik.

 

I.        Pendekatan dalam Pembelajaran di Kelas

Pembicaraan yang membahas pendekatan dalam pembelajaran. akan dimulai dari situasi pembelajaran di kelas yang dapat ditinjau dari tiga pendekatan yaitu : pendekatan yang berpusat pada pendidik, pendekatan penyesuaian oleh pendidik. dan pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Dengan adanya tiga pendekatan itu, bukan berarti bahwa setiap Situasi yang terjadi di kelas dapat digolongkan hanya kepada salah satu Gari ketiga pendekatan tersebut. Tidak pula dimaksudkan untuk membatasi pendidik supaya terpaku hanya pada salah satu pendekatan dalam semua kegiatan pembelajaran di kelas. Penting untuk diperhatikan lalah apakah yang akan terjadi di ruang kelas apabila kita menggunakan berbagai macam pendekatan. Dengan perkataan lain, kegiatan apa yang dilakukan oleh peserta didik dan kegiatan apa yang dilakukan oleh pendidik pada setiap pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran.

Pendekatan yang berpusat pada pendidik mempunyai makna bahwa semua masukan. seperti bahan belajar dan teknik yang digunakan. datang dari dan disusun oleh pendidik atau oleh pihak lain diluar peserta didik. Pendekatan ini paling lemah untuk menumbuhkan semangat dan tingkat keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Dengan menggunakan pendekatan ini, kecil sekali kemungkinan adanya umpan balik dari peserta didik secara sungguh sungguh. Kalaupun ada kesungguhan pada peserta didik, kesungguhan itu mungkin dipengaruhi oleh faktor di luar kegiatan pembelajaran Misalnya, karena peserta didik adalah orang yang sungguh sungguh dalam melaksanakan setiap kegiatan atau kemungkinan karena pengaruh lingkungan keluarganya yang selalu bersikap dan bertindak sungguh sungguh dalam kehidupannya.


BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami, dapat disimpulkan bahwa perkembangan kegiatan pembelejaran dimasa mendatang akan sangat tergantung pada sikap dan perilaku setiap pengelola kegiatan pembelajaran pada masa sekarang. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa pengembangan metode dan teknik kegiatan pembelajaran harus dan dapat selalu dilakukan baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang sebagai pembelajaran kedepannya.

Sejak manusia menemukan dan menggunakan perkakas, senjata, bahasa dalam kehidupan maka keinginan untuk mengetahui dan menguasai alat-alat yang yang disebutkan tadi muncul bagian dari kehidupan manusia.

Penggunaan ruangan atau kelas sebagai tempat kegiatan pembelajaran dalam pelatihan didasari oleh beberapa alasan.

Pertama, kegiatan dalam pelatihan didasari oleh beberapa alasan pembelajaran di kelas sudah lebih dikenal sejak lama dibandi dengan tempat kegiatan pembelajaran lainnya. Kedua, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran di kelas lebih mudah dilakukan dibandi penyelenggaraan pada fasilitas lainnya.

Ruangan kelas itu memberikan beberapa keuntungan bagi kegiatan pembelajaran. Di samping memiliki kelebihan, kelas memiliki beberapa kelemahan Pertama, walaupun kegiatan pembelajaran di kelas telah banyak diketahui secara umum, namun penyelenggaraannya seolah-olah mengalami lesu darah.

Kegiatan pembelajaran di kelas memiliki beberapa keterbatasan Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu bahwa kegiatan pembelajara di kelas dapat menggunakan berbagai jenis metode pembelajaran Kelas ditandai dengan situasi berkumpulnya para peserta didik yang melakukan kegiatan pembelajaran bersama secara kelompok Kelas dapat pula meumbuhkan suasana belajar melalui penggunaan rangsanganrangsangan yang tepat.

Ada beberapa bentuk tempat duduk yang yang bida pendidik pakai dalam proses pembelajaran yaitu dari mulai bentuk tradisional, lingkarang, tekuk, huruf U, dan V.

 

DAFTAR PUSTAKA

Raditya dan Montero, “Menyenangkan! BELAJAR PERKEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN” yang diunggah oleh PLS 18 B Unsika, 28 Mei 2020, https://youtu.be/gsTMcYqW0DA

Karya Tulis Ilmiah. (2013, 16 Januari) Sejarah Perkembangan Pembelajaran, diakses melalui https://www.facebook.com/page/136518356497108/search/?q=sejarah%20perkembangan%20kegiatan%20pembelajaran, 7 Januari 2022

Buku Strategi Pembelajaran (Prof. H. D. Sudjana S., S.Pd., M.Ed., PhD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengelolaan Pemberdayaan Masyarakat

  RESUME PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Disusun oleh, Putry Anjani  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS KEGURU...