Jumat, 17 Maret 2023

ETNOLOGI

 

LAPORAN MATERI PERKULIAHAN

ETNOLOGI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu

Mata Kuliah : Etnologi


Disusun Oleh,

Putry Anjani

 

 

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

2021


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Laporan Materi Perkuliahan Etnologi.

            Tugas Laporan Materi Perkuliahan ini berisi pembahasan mengenai materi perkuliahan dari awal semester yang di dalamnya memaparkan berbagai macam pembahasan mengenai apa saja yang terdapat didalam mata kuliah Etnologi.

Kami mengucapkan terimakasih kepada ...... selaku dosen mata kuliah Etnologi yang telah memberikan tugas untuk membuat laporan materi perkuliahan serta memberikan bimbingan dalam penyusunan.

            Disamping itu kami menyadari bahwa laporan materi perkuliahan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat di harapkan untuk perbaikan laporan materi perkuliahan ini kedepannya. Semoga laporan materi perkuliahan ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca.

Karawang, 27 Desember 2021

 

Penyusun

 



BAB I PENDAHULUAN

 

A.    LATAR BELAKANG

      Ilmu antropologi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari tentang manusia. Ilmu Antropologi mempelajari manusia secara holistis, mulai dari asal dan perkembangan manusia, ragam ciri fisik manusia, hingga persebaran dan perkembangan kebudayaan manusia.

      Etnologi merupakan salah satu cabang ilmu antropologi, yang mempelajari berbagai suku bangsa dan aspek kebudayaan, serta hubungan antara satu bangsa lainnya. Kata etnologi berasal dari kata etnis, yang berarti suku bangsa.

 

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana kedudukan antropologi pada jurusan Pendidikan Luar Sekolah?

2.      Apa saja pendekatan antropologi sebagai ilmu pengethuan yang membahas tentang manusia?

3.      Bagaimana perspektif perkembangan manusia?

4.      Bagaimana perspektif perkembangan masyarakat?

5.      Apa itu kebudayaan?

6.      Bagaimana dinamika masyarakat dan budaya?

7.      Bagaimana sistem nilai budaya dan etnografi?

 

C.    TUJUAN

Tujuan penulis dalam penulisan makalah ini yaitu:

1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Etnologi.

2.      Untuk mengetahui kedudukan antropologi pada jurusan Pendidikan Luar Sekolah

3.      Untuk mengetahui pendekatan antropologi sebagai ilmu pengetahuan yang membahas tentang manusia.

4.      Untuk mengetahui perspektif perkembangan manusia.

5.      Untuk mengetahui perspektif perkembangan masyarakat.

6.      Untuk mengetahui tentang kebudayaan.

7.      Untuk mengetahui dinamika masyarakat dan budaya.

8.      Untuk mengetahui sistem nilai budaya dan etnografi.

 

 


BAB II PEMBAHASAN

 

KELOMPOK 1

KEDUDUKAN ANTROPOLOGI PADA JURUSAN PLS

 

Kharisma Prameswari (2010631040044)

Laila Ainu Rohmah     (2010631040045)

Gusfiarli Putra             (2010631040040)

 

A.    Pengertian Antropologi

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.

Definisi Antropologi menurut para Ahli

1.      William A. Havilland

2.      David Hunter

3.      Koentjaraningrat

B.     Fase-fase perkembangan ilmu antropologi dibagi menjadi empat fase (Koentjaraningrat. 2009 : 1- 4)

1.      Fase pertama (sebelum tahun 1800-an)

2.      Fase kedua (pertengahan abad ke-19)

3.      Fase ketiga (permulaan abad ke-20)

4.      Fase keempat (setelah tahun 1930-an)

C.    Istilah-istilah yang berhubungan dengan antropologi

1.      Ethnography

2.      Ethonology

3.      Volkerkunde

4.      Kulturkunde

5.      Cultural Anthropology

6.      Social Anthropology

D.    Kedudukan antropologi dalam pengetahuan

Sebelum manusia mengenal ilmu pengetahuan (science), manusia lebih dulu mengenal pengetahuan (knowledge).

Pengetahuan sendiri adalah segenap yang diketahui manusia sebagai hasil kerja pancainderanya contohnya pengetahuan tentang bintang di langit karena melihatnya dimalam hari, tapi tidak semua pengetahuan dapat diperoleh hanya dengan mengandalkan hasil kerja pancaindera saja, ada pengetahuan yang cara memperolehnya harus melalui cara-cara yang bersifat sistematis dengan menggunakan logika dan telah teruji secara obyektif kebenarannya.

Kata Antropologi juga berasal dari bahasa latin yaitu antropos yang berarti manusia dan logos yang berarti ilmu. Secara etimologi berarti ilmu tentang manusia. Secara keilmuan antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman.

E.     Ciri-ciri antropologi sebagai ilmu pengetahuan

Obyek antropologi adalah manusia dalam masyarakat, suku bangsa, perilakunya, dan kebudayaannya. Adapun tujuan antropologi dibagi dua akademis dan praktis.

Pokok bahasan atau ruang lingkup antropologi ada dua yaitu:

§  Antropologi Fisik

§  Antropologi Budaya

Hakikat antropologi sebagai ilmu pengetahuan adalah :

§  merupakan ilmu sosial

§  bersifat normatif

§  tergolong ke dalam ilmu murni dan juga ilmu terapan

§  ilmu pengetahuan yang abstrak

§  bertujuan menghasilkan pengertian dan pola umum manusia dan masyarakatnya

§  merupakan ilmu pengetahuan umum

F.     Metode yang digunakan ilmu antropologi dalam mempelajari gejala-gejala kemasyaraktan

1.      Pengumpulan fakta

2.      Penentuan ciri-ciri umum dan system (klasifikasi)

3.      Verifikasi (pengujian)

G.    Implikasi Landasan Antropologi Dalam Pendidikan Masyarakat (PLS)

1.      Identifikasi kebutuhan belajar masyarakat

2.      Keterlibatan partisipasi masyarakat

3.      Pemberian pendidikan kecakapan hidup

H.    Aplikasi Landasan Antropologi Dalam Pendidikan Saat Ini

1.      Model pembelajaran berbasis budaya lokal.

2.      Metode pembelajaran karya wisata

3.      Pembelajaran dengan modelling


KELOMPOK 2

PENDEKATAN ANTROPOLOGI SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN YANG MEMBAHAS TENTANG MANUSIA

 

Putri Zahara                            (2010631040011)

Endah Aulya Qurota Ayun     (2010631040036)

Fivo Atanta Fuadi                   (2010631040039)

Nurusy Syifa                           (2010631040072)

 

A.    Pengertian Antropologi

Secara etimologi (bahasa)

Antropologi berasal dari bahasa Yunani

Anthropos : manusia.

Logos : ilmu pengetahuan atau wacana.

Antropologi Menurut Ahli :

§  Keesing (1981)

§  Haviland (1985)

§  Prof Harsojo

B.     Ruang Lingkup Antropologi

1.      Antropologi fisik (Physical Antropology/Antropo-biologi)

2.      Antropologi Budaya (Cultural Antropology)

C.    Cabang Ilmu Antropologi

1.      Somatologi

2.      Palaeoantropologi

3.      Prehistory

4.      Etnolinguistik

5.      Etnologi

6.      Etnopsikologi

D.    Manfaat Mempelajari Antropologi

1.      Antropologi membuat manusia bisa memahami manusia lannya

2.      orang dapat memahami kdudukan manusia dalam masyarakat dan mendapatkan pengetahuan baru

3.      Memahami beragam norma, tradisi, keyakinan, hingga nilai-nilai pada masyarakat tertentu yang mereka anut.

4.      Antropologi dapat menjadikan seseorang lebh kritis, tanggap, dan rasional saat bertemu dengan gejala sosial masyarakat yang cukup kompleks.

5.      Antrolopogi menyusun etnografi-etnografi yang memungkinkan terjadinya penciptaan teori

 

KELOMPOK 3

PERSPEKTIF PERKEMBANGAN MANUSIA

 

Hilda Gustiani Rahman

May Adelin

Moch Iqbal Haikal Yasin

Mutiara Carissima

 

A.    Pengertian Pekembangan

Perkembangan adalah pola perubahan yang dimulai sejak masa pembuahan dan terus berlangsung selama masa hidup manusia. Sebagian besar perkembangan mencakup pertumbuhan, meskipun juga mencakup kemunduran yang disebabkan oleh proses penuaan dan kematian.

B.     Perspektif Manusia Berlangsung Sepanjang Hidup

Perkembangan manusia berlangsung sepanjang hidup. Tidak ada suatu periode usiapun yang mendominasi perkembangan manusia.

      Perkembangan manusia bersifat multidimensi. Berapapun usia kita, pada dasarnya tubuh, pikiran, emosi dan relasi kita selalu berubah dan saling berinteraksi.

      Perkembangan manusia bersifat multiarah. Sepanjang kehidupan, sejumlah dimensi atau komponen dari suatu dimensi tertentu akan berkembang, sementara yang lain akan menyusul.

      Perkembangan manusia bersifat plastis. Plastisitas berarti kapasitas untuk berubah. Sebagai contoh: masih mampukah kita meningkatkan keterampilan intelektual ketika sudah berusia 70 atau 80 tahun? Atau mungkin pada usia 30 keterampilan intelektual kita stagnan, sehingga tidak ada upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkannya?

Menurut Baltes (2003)

Seperti halnya individu, senantiasa mengalami perubahan. Dengan demikian, individu adalah mahluk hidup yang sedang berubah di dalam dunia yang juga sedang berubah. Sebagai akibat dari perubahan ini, konteks memiliki tiga tipe pengaruh, yaitu:

1.      Perkembangan manusia berlangsung sepanjang hidup.

2.      Perkembangan manusia berdasarkan sejarah

3.      Peristiwa hidup yang bersifat non normatif

C.    Karakteristik Perkembangan Manusia

  1. Batas atas dari masa hidup manusia atau human life
  2. Faktor yang berubah adalah harapan hidup (life expectancy)
  3. Harapan hidup penduduk AS adalah 78 tahun.

Namun tak hanya itu Keyakinan bahwa perkembangan itu berlangsung sepanjang hidup merupakan keyakinan utama bagi perspektif ini juga memiliki karakteristik lainnya. Seperti, Perspektif masa hidup (life-span perspective) dan menurut Baltes.

D.    Beberapa Persoalan Kontemporer

1.      Kesehatan dan kesejahteraan. Para profesional di bidang kesehatan zaman sekarang menyadari besarnya pengaruh dari gaya hidup dan kondisi psikologis terhadap kesehatan dan kesejahteraan.

2.      Pengasuhan dan pendidikan. Menganalisis perawatan anak, dampak perceraian, gaya pengasuhan, relasi antargenerasi, pendidikan pada masa kanak-kanak awal dan berbagai isu lainnya yang berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan.

3.      Konteks dan keragaman sosiobudaya. Kesehatan, pengasuhan orang tua dan pendidikan – seperti halnya perkembangan – semuanya dibentuk oleh konteks sosiobudaya. Untuk dapat menganalisis konteks ini, terdapat empat konsep yang bermanfaat secara khusus, yaitu: budaya, etnisitas, status sosioekonomi dan gender.

4.      Kebijakan sosial (social policy) adalah serangkaian tindakan pemerintah yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan warganya.

E.     Sifat-sifat Perkembangan

Perkembangan (development) sebagai pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan dan berlangsung terus sepanjang masa hidup. Pola tersebut bersifat kompleks karena merupakan hasil dari proses biologis, kognitif dan sosioemosi.

1.      Proses biologis

2.      Proses kognitif

3.      Proses sosioemosi

F.     Pentingnya Usia

  1. Usia dan Kebahagiaan. Beberapa studi terhadap orang dewasa menemukan bahwa kebahagiaan meningkat seiring dengan usia. Menjadi tua adalah sebuah kepastian dari semua mahluk hidup, karena itu baik bagi kita untuk mengetahui bahwa kita akan sama bahagianya atau bahkan lebih bahagia sebagai orang dewasa tua seperti halnya ketika kita masih muda.
  2. Konsepsi mengenai usia.

a.       Usia kronologis à jumlah tahun yang telah dilewati seseorang sejak dilahirkan.

b.      Usia biologis à usia seseorang ditinjau dari kesehatan biologisnya.

c.       Usia psikologis à kapasitas adaptif individu dibandingkan dengan kapasitas adaptif individu yang memiliki usia kronologis yang sama.

d.      Usia sosial à merujuk pada peran-peran dan harapan-harapan sosial yang terkait dengan usia seseorang.

Dari perspektif masa hidup, keseluruhan profil usia individu melibatkan tidak hanya usia kronologis, namun juga usia biologis, usia psikologis dan usia sosial. Sebagai contoh:  seorang pria usia 70 tahun (usia kronologis) dapat memiliki fisik yang sehat (usia biologis), mengalami masalah memori dan mungkin bermasalah dalam hal tanggung jawab merawat istrinya yang baru saja keluar dari rumah sakit (usia psikologis) dan memiliki sejumlah kawan yang dapat diajak bermain golf secara teratur (usia sosial).

G.    Isu-isu Perkembangan

Bawaan dan pengasuhan. Isu bawaan dan pengasuhan (nature-nurture issue) adalah isu-isu yang berkaitan dengan sejauh mana perkembangan dipengaruhi oleh bawaan dan pengasuhan. Bawaan (nature) merujuk pada warisan biologis mahluk hidup; sedangkan pengasuhan (nurture) merujuk pada pengalaman lingkungan.

Stabilitas dan perubahan. Isu stabilitas-perubahan (stability-change issue) yang melibatkan sejauhmana sifat-sifat dan karakteristik-karakteristik awal akan terus menetap atau akan mengalami perubahan.

Kontinuitas dan diskontinuitas. Isu kontinuitas-diskontinuitas (continuity-discontinuity issue) berfokus pada sejauh mana perkembangan terjadi secara bertahap dan melibatkan perubahan yang bersifat kumulatif (kontinu) atau tahap-tahap yang berbeda (diskontinu).

 

 

KELOMPOK 4

PERSPEKTIF PERKEMBANGAN MASYARAKAT

 

Putry Anjani                (2010631040012)

Fitra Sadilah                (2010631040038)

Indah Nurfauziah        (2010631040042)

Mukhyar Hardi           (2010631040070)

 

A.    PENGERTIAN MASYARAKAT

      Secara  umum  pengertian  masyarakat  adalah  sekumpulan  individu-individu/  orang  yang  hidup  bersama,  masyarakat  disebut  dengan  “society”  artinya  adalah  interaksi  sosial,  perubahan sosial, dan rasa kebersamaan, berasal dari kata latin socius yang berarti (kawan).

Menurut para ahli:

·         Karl Marx

·         Emile Durkheim

·         Mac Iver dan Page

·         Ralph Linton

·         Selo Soemardjan

B.     CIRI-CIRI MASYARAKAT

1.      Berada di Wilayah Tertentu

2.      Hidup Secara Berkelompok

3.      Terdapat Suatu Kebudayaan

4.      Terjadi Perubahan

5.      Terdapat Interaksi Sosial

6.      Terdapat Pemimpin dan Stratifikasi Sosial

C.    UNSUR-UNSUR MASYARAKAT

1.      Sekumpulan orang banyak

2.      Golongan sosial

3.      Perkumpulan

4.      Kelompok

D.    MACAM-MACAM MASYARAKAT

  1. Masyarakat Primitif/Sederhana
  2. Masyarakat Modern

Cara terbentuknya masyarakat mendatangkan pembagian masyarakat, di antaranya:

a.       Masyarakat Paksaan

b.      Masyarakat Merdeka

E.     JENIS MASYARAKAT MENURUT LINGKUNGAN HIDUPNYA

  1. Masyarakat Primitif
  2. Masyarakat Kota
  3. Masyarakat Desa

F.     FUNGSI MASYARAKAT

Menurut Soedjono Soekanto, fungsi masyarakat adalah:

  1. Fungsi Adaptasi
  2. Fungsi Integrasi
  3. Fungsi Mempertahankan
  4. Fungsi Pencapaian Tujuan

G.    FUNGSI SOSIAL MASYARAKAT

  1. Social Standards
  2. Social Alignment
  3. Social Controls
  4. Social Media

H.    STRATIFIKASI SOSIAL

Menurut Pitirim A. Sorokin stratifikasi sosial adalah sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarki). Perwujudannya adalah adanya kelaskelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah. Menurut Sorokin, dasar dan inti dari lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, dan tanggung-jawab nilai-nilai sosial dan pengaruhnya diantara anggota masyarakat.

I.       KONSEP MASYARAKAT YANG BAIK

Konsep masyarakat yang baik menurut Talizi (1990), yaitu :

  1. Setiap anggota masyarakat beriteraksi satu dengan yang lain berdasarkan hubungan pribadi.
  2. Memiliki otonomi, kewenangan, dan kemampuan mengurus kepentingan sendiri.
  3. Memiliki viabilitas, kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri.
  4. Distribusi kekayaan yang merata, setiap orang berkesempatan sama dan bebas.
  5. Kesempatan setiap anggota untuk berpartisipasi aktif dalam mengurus kepentingan Bersama.
  6. Makna penting untuk setiap anggotanya.
  7. Di dalam komunitas dimungkinkan adanya heterogenitas dan beda pendapat.
  8. Pelayanan masyarakat bias terjadi konflik, oleh sebab itu diperlukan kemampuan untuk memanagement conflict.

 

KELOMPOK 5

KEBUDAYAAN

 

Siti humairoh                           (2010631040014)

Febriya Nurhidayah                (2010631040037)

Jihan Fahira Al habsyi            (2010631040043)

M Habib Royyan                    (2010631040047)

 

A.    Pengertian Kebudayaan

      Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

      Sebagaimana juga budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.

      Seseorang bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa budaya bisa dipelajari.

Pengertian Budaya menurut Ahli

·         EB. Tylor

·         R. linton

·         Koentjaraningrat

·         Selo soemardjan

B.     Perwujudan kebudayaan

1.      Perilaku

2.      Bahasa

3.      Materi

C.    Sifat sifat kebudayaan

1.      Budaya mencakup peraturan peraturan yg berisi kewajiban kewajiban, tinfakn tindakan yg diterima atau ditolak, tindakan tindakan yg dilarang, dan tindakan yg diiizinkan.

2.      Budaya terwujud dan tersalurkan dari perilaku manusia.

3.      Budaya telah ada terlebih dahulu dari pada lahirnya suatu generasi ternetu dan tidak akan mati dengan habisnya generasi  yg bersangkutan.

4.      Budaya diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah laku

D.    Sistem Kebudayaan

1.Kebudayaan material

2.Kebudayaan non material

E.     Subtansi Kebudayaan

1.      Sistem pengetahuan

2.      Kepercayaan

3.      Presepsi

4.      Etos kebudyaan

 

KELOMPOK 6

DINAMIKA MASYRAKAT DAN BUDAYA

 

Harum Sumitra

Naila Rizky Amelia

Nisrina Nurhaliza S

 

A.    Budaya/Kebudayaan

      Budaya atau kebudayaan berasal dari Bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal berkaitan dengan budi dan akal manusia.

      Dalam bahasa inggris. Kebudayaan disebut juga culture, yang berasal dari kata latin colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam Bahasa Indonesia. Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran daripada budi dan daya.

B.     Dinamika Masyarakat

      Dinamika masyarakat merupakan suatu kehidupan masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih individu dalam suatu wilayah yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara masyarakat yang satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.

C.    Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat

      “Kebudayaan“mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan “Masyarakat” memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya. Kebutuhan-kebutuhan “Masyarakat” tersebut sebagian besar dipenuhi oleh “Kebutuhan” yang bersumber pada “Masyarakat” itu sendiri.

      “Masyarakat” yang sudah kompleks yang taraf “Kebudayaan” lebih tinggi, kondisinta sudah berlainan dengan taraf permulaan. Hasil karya manusia yaitu teknologi, memberikan kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam dan apabila kemungkinan akan menguasai alam.

D.    Evolusi Masyarakat dan Kebudayaan

Pengertian Evolusi

      Evolusi adalah perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama dan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat.

Macam-Macam evolusi

1.      Unilinear theories evolution

Variasi dari teori ini cyclical theorist uang berpendapat bahwa masyarakat dan kebudayaan  mempunyai tahap perkembangan

2.      Universal theories of evolution

Teori ini dikemukakan oleh herbert spencer yang mengatakan masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen ke kelompok heterogen, baik sifat maupun susunannya.

3.      Mattilined theories of evolution

Penelitian ini dalam perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat.

 

§  Akulturasi

Akulturasi ini adalah suatu proses saling mempengaruhi antara kebudayaan yang saling berinteraksi. Kebudayaan yang satu di pengaruhi oleh kebudayaan yang lain.

§  Asimilasi

Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Proses ini ditandai dengan adanya usaha mengurangi perbedaan.

E.     Faktor Yang Menyebabkan Perubahan Sosial

Sebab dari dalam masyarakat

1.      Bertambahnya atau berkurangnya penduduk

2.      Adanya penemuan-penemuan baru

3.      Pertentangan konflik/masyarakat

4.      Terjadinya pemberontakan atau evolusi

Sebab dari luar masyarakat

1.      Bencana alam

2.      Peperangan

3.      Pengaruh budaya lain

F.        Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai Budaya

1.      Jarak komunikasi antara kelompok dan etnis

2.      Pelaksanaan pembangunan

     Pelaksanaan pembangunan yang terus menerus akan dapat merubah system nilai ke arah yang positif dan negative

1.      Pergeseran sistem nilai yang mengarah ke perbaikan antara lain

2.      Pergeseran sistem nilai yang mengarah negatif antara lain

3.      Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

 

KELOMPOK 7

SISTEM NILAI BUDAYA DAN ETNOGRAFI

 

Nabila Dwi Puspita W (2010631040071)

Nur Shifa Fauzia        (2010631040050)

Rahma Nurdita          (2010631040013)

 

A.    Pengertian

1.      Sistem

     Sistem merupakan istilah dari bahasa yunani “system” yang artinya adalah himpunan bagian atau unsur yang saling berhubungan secara teratur untuk mencapai tujuan bersama.

2.      Nilai Budaya

     Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.

     Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan atau organisasi.

3.      Sistem Nilai Budaya

     Sistem Nilai Budaya, Pandangan Hidup, dan Ideologi. Sistem budaya merupakan tingkatan tingkat yang paling tinggi dan abstrak dalam adat istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai – nilai budaya itu merupakan konsep – konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai , berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat itu sendiri.

     Nilai – nilai budaya ini bersifat umum , luas dan tak konkret maka nilai – nilai budaya dalam suatu kebudayaan tidak dapat diganti dengan nilai-nilai budaya yang lain dalam waktu yang singkat. Dalam masyarakat ada sejumlah nilai budaya yang satu dan yang lain berkaitan satu sama lain sehingga merupakan suatu sistem, dan sistem itu sebagai suatu pedoman dari konsep –konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan masyarakat.

B.     Lima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi sistem nilai budaya

1.      Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia.

     Ada kebudayaan yang memandang hidup manusia itu pada hakekatnya suatu hal yang buruk dan menyedihkan.Pada agama Budha misalnya,pola–pola tindakan manusia akan mementingkan segala usaha untuk menuju arah tujuan bersama dan memadamkan hidup baru. Adapun kebudayaan – kebudayaan lain memandang hidup manusia dapat mengusahakan untuk menjadikannya suatu hal yang indah dan menggembirakan.

2.      Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu.

     Kebudayaan memandang penting dalam kehidupan manusia pada masa lampau, keadaan serupa ini orang akan mengambil pedoman dalam tindakannya contoh – contoh dan kejadian- kejadaian dalam masa lampau. Sebaliknya ada kebudayaan dimana orang hanya mempunyai suatu pandangan waktu yang sempit. Dalam kebudayaan ini perencanaan hidup menjadi suatu hal yang sangat amat penting.

3.      Masalah mengenai hakekat dari karya manusia.

     Kebudayaan memandang bahwa karya manusia bertujuan untuk memungkinkan hidup,kebudayaan lain menganggap hakekat karya manusia itu untuk memberikannya kehormatan,ada juga kebudayaan lain yang menganggap karya manusia sebagai suatu gerak hidup yang harus menghasilkan lebih banyak karya lagi.

4.      Masalah mengenai hakekat hubungan manusia dengan alam sekitarnya

     Kebudayaan yang memandang alam sebagai suatu hal yang begitu dahsyat sehingga manusia hanya dapat bersifat menyerah tanpa dapat berusaha banyak.

     Sebaliknya ,banyak pula kebudayaan lain yang memandang alam sebagai lawan manusia dan mewajibkan manusia untuk selalu berusaha menaklukan alam. Kebudayaan lain masih ada yang menganggap bahwa  manusia dapat berusaha mencari keselarasan dengan alam.

5.      Masalah mengenai hakekat hubungan manusia dengan sesamanya.

     Ada kebudayaan  yang mementingkan hubungan vertikal antara manusia dengan sesamanya. Tingkah lakunya akan berpedoman pada tokoh – tokoh pemimpin. Kebudayaan lain mementingkan hubungan horizontal antara manusia dan sesamanya. Dan berusaha menjaga hubungan baik dengan tetangga dan sesamanya merupakan suatu hal yang penting dalam hidup. Kecuali pada kebudayaan lain yang tidak menganggap manusia tergantung pada manusia lain, sifat ini akan menimbulkan individualisme

C.    Etnografi

           Etnografi adalah sejenis metode penelitian terapan untuk penemuan relevansi sosiokultural dengan mengeksplorasi model-model kehidupan sehari-hari dan interaksi kelompok-kelompok sosial-budaya (divisi budaya) tertentu dalam ruang atau konteks tertentu.

D.    Jenis Penelitian Etnografi

Sejarah kehidupan, autoethnografi, etnografi baru, etnografi feminis, etnografi media elektronik, fotografi, video, audio, dan sebagainya.

1.      Etnografi Realis

2.      Etnografi Kritis

E.     Fokus Penelitian Etnografi

1.      Mengkaji kebudayaan dalam masyarakat

2.      Melihat tingkah laku sosial masyarakat sebagaimana adanya

F.     Cara Pengumpulan Data Dalam Metode Etnografi

1.      Participant Observation

2.      Observer Participation

G.    Varian  Etnografi

1.      Berdasarkan cakupan realitas yang diriset :

a.    Etnografi Makro

b.   Etnografi Mikro

2.      Bedasaarkan tataran analisis

a.    Bedasarkan tataran analisis

b.   Etnografi Kritis

3.      Berdasarkan fokus realitas yang diriset

a.    Etnografi Komunikasi

b.   Ettnografi analisis isi

H.    Tahapan Penelitian Etnografi

1.      Menetapkan Komunitas Budaya

2.      Menentukan Permasalahan

3.      Menetapkan Informan sebagai Subjek Risetnya

4.      Mengobservasi Informan

5.      Catat Hasil Observasi

6.      Analisis Hasil Observasi

7.      Menemukan Tema Budaya Hasil Eksplorasi

8.      Menulis Laporan

I.       Kelebihan

1.      memberikan wawasan tentang aspek kehidupan sosial

2.      menjelaskan apa yang diterima begitu saja dan mana yang tidak diucapkan dalam suatu komunitas

3.      mengembangkan pemahaman yang kaya dan berharga tentang makna budaya dari praktik dan interaksi

4.      pengamatan terperinci yang dilakukan dalam penelitian etnografi juga dapat membuktikan bias negatif atau stereotip tentang populasi yang dipertanyakan

J.      Kekurangan

1.      kadang-kadang sulit untuk mendapatkan akses ke dan membangun kepercayaan dalam situs lapangan yang diinginkan

2.      sulit bagi peneliti untuk mendedikasikan waktu yang diperlukan untuk melakukan etnografi yang ketat, dengan batasan dana penelitian dan komitmen profesional mereka yang lain

3.      mengembangkan pemahaman yang kaya dan berharga tentang makna budaya dari praktik dan interaksi

4.      ada potensi timbulnya masalah etika dan interpersonal

.

 

KULIAH KE-11

Pokok Bahasan

§  Pengertian Dasar Antropologi

§  Antropologi dan Pendidikan

§  Pendekatan Antropologi Dalam Mengkaji Pendidikan

§  Implikasi Antropologi Dalam Pendidikan

§  Ranah Belajar

 

PENGERTIAN DASAR ANTROPOLOGI

A.    Pengertian Dasar Antropologi

Kata antropologi berasal dari bahasa Yunani, anthropos (manusia) dan logos (pikiran atau ilmu). Secara sederhana antropologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Ilmu sosiologi lebih menitikberatkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.

§  Koentjaraningrat : antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat, serta kebudayaan yang dihasilkan (1996:4)

§  William A. Haviland : antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari keanekaragaman manusia dan kebudayaannya. Dengan mempela-jari kedua hal tersebut, antropologi adalah studi yang berusaha menjelaskan tentang berbagai macam bentuk perbedaan dan persamaan dalam aneka ragam kebudayaan manusia.

§  Jadi antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari mahluk sosial, baik manusia yang ditinjau dari fisik atau biologisnya (bentuk fisik, ciri – ciri tubuh dan perkembangannya), maupun manusia yang ditinjau dari sosio – budayanya, sistem sosial dan perkembangan kebudayaannya.

B.     Pentingnya mempelajari antropologi

Pertama, karena kita adalah bangsa yang sangat kaya dengan aneka ragam suku bangsa dan kebudayaan.

Kedua, karena kita adalah bangsa yang sangat kaya dengan aneka ragam agama dan keyakinan.

Ketiga, karena kita seringkali tidak mampu memahami dan menerima dengan terbuka beraneka ragam suku bangsa, kebudayaan, agama, dan keyakinan itu.

C.    Tujuan antropologi sebagai ilmu

§  Secara akademis, antropologi berusaha mencapai sebuah pemahaman tentang manusia secara fisik, manusia dalam masyarakatnya, dan manusia dengan kebudayaannya.

§  Secara praktis, antropologi berusaha membangun suatu pandangan bahwa perbedaan manusia dan kebudayaannya merupakan suatu hal yang harus dapat diterima, bukan sebagai sumber konflk tetapi sebagai sumber pemahaman baru, agar secara terus menerus manusia dapat merefleksikan dirinya.

§  Secara praktis, kajian ilmu antropologi dapat digunakan untuk membangun masyarakat dan kebudayaannya tanpa harus membuat masyarakat dan kebudayaan itu, kehilangan identitas atau tersingkir dari peradaban. Antropologi menyusun etnografi– etnografi yang memungkinkan penciptaan teori–teori tentang asal–usul agama dan kepercayaan, asal mula keluarga dan perkawinan, asal–usul dan perilaku Negara, dan sebagainya. Dengan bantuan ilmu antropologi, maka terbukalah cakrawala pengetahuan baru bahwa segalanya berubah dan runtutan awalnya akan berujung bukan dari kekuatan ilahiah tapi kekuatan manusia.

D.    Manfaat Penggunaan Teori Antropologi

Dapat melihat dengan jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun anggota kelompok atau masyarakat. Mampu mengkaji tempat kita dalam masyarakat dan dapat melihat dunia atau budaya lain yang belum kita ketahui sebelumnya. Makin memahami norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain. Makin lebih tanggap, kritis dan rasional menghadapi gejala sosial masyarakat yang makin kompleks.

 

ANTROPOLOGI DAN PENDIDIKAN

A.    Antroologi dan Pendidikan

      Secara umum, Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.

      Sedangkan, Antropologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan Antropologi. (Nasution, 2004).

      Antropologi pendidikan mencoba mengungkapkan proses-proses transmisi budaya atau pewarisan pengetahuan melalui proses enkulturasi dan sosialisasi. Selain itu, proses belajar individu sebagai kegiatan sosial budaya merupakan pemahaman dari Antropologi Pendidikan, termasuk di dalamnya peran pendidikan formal dan pendidikan informal. (Nasution, 2004).

      Secara khusus antropologi memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu pendidikan, khususnya pendidikan luar sekolah, hal ini dapat dilihat dari:

Antropologi memiliki objek formal manusia (masyarakat dengan segala karakteristik yang dimilikinya), hal mana menjadi objek yang sama dari ilmu pendidikan.

Antropologi menjelaskan struktur fisik manusia dan perubahannya, persebaran manusia dapat dilihat dari ciri-ciri fisik dan budaya, dan perkembangan peradaban manusia, hal mana dalam ilmu pendidikan merupakan upaya untuk memahami karakteristik masyarakat, sehingga program pembangunan yang dilakssanakan melalui pendekatan pendidikan sesuai dengan perkembangan budaya dan kebutuhan manusia itu sendiri.

Antropologi menjelaskan kehidupan manusia (ciri fisik dan non fisik) terutama menyangkut aspek kebudayaan dalam konteks konservasi, difusi, dan inovasi, hal mana merupakan upaya pendidikan yang memiliki peran untuk enkulturasi terhadap budaya yang dianggap positif.

Pendidikan itu harus dipandang sebagai pemberian pelayanan terhadap perkembangan pribadi individu sepanjang hayatnya. Pendidikan sebagai kegiatan berjalan terus sebagai suatu proses yang berkesinambungan (Lengrand, 1995:31; Shane, 1994:3; Croplay, 1995:71) sebab perkembang-an manusia itu tidak pernah berhenti sepanjang hidup manusia itu sendiri.

Karena itu Carl Rogers memandang bahwa pendidikan itu bukan “a process of becoming” (Knowles, 1993:42). Pandangan itu bermakna bahwa seseorang itu tidak dapat begitu saja dibentuk dan diubah oleh orang lain dengan semau-maunya, baik melalui pengawasan, pengendalian, pengontrolan, manipulasi, maupun hukuman.

Hanya dirinya sendirilah yang menggerakan perubahan ke arah mana yang dia inginkan dan harapkan (Sodiq A. Kuntoro dalam Muhammad Rusli Karim, 1994:205). Hal ini mudah dipahami sebab secara filosofis manusia itu adalah makhluk yang sadar akan dirinya dan lingkungannya.

Dia hidup dalam hubungan yang dialektik antara kemerdekaan dirinya dan keterbatasan lingkungannya, sehingga dia sadar akan aktivitasnya dan sadar akan dunia dimana dia hidup.

Karena manusia itu adalah tubuh sadar (Freire, 1995:114), maka pendidikan itu harus dipandang sebagai suatu proses yang terus menerus bagi pembebasan manusia (Freire, 1995:115). 

Oleh karena pendidikan berlangsung sepanjang hayat, maka dapatlah dikatakan bahwa pendidikan adalah sama dengan belajar, entah dimana, bagaimana, dan bilakah berlangsungnya pelajaran itu (Combs dan Amed, 1994:9).

Manusia sepanjang hidupnya akan belajar agar kondisi hidupnya dikuasainya dan kehidupannya dipertahankannya. Belajar  akan merupakan aktivitas manusia, karena manusia itu, sebagaimana dikemukakan oleh Gehlen, adalah “learning creature” (Sodiq A. Kuntoro dalam Muhammad Rusli Karim, 1994:202).

Dengan demikian soal pendidikan itu tidak boleh lagi dipandang sebagai suatu proses yang hanya terikat pada waktu dan ruang tertentu saja. Pendidikan harus dipandang sebagai suatu proses yang berkelanjutan, mulai dari usia anak kecil sampai pada usia dewasa. Konsep ini akan melahirkan implikasi bahwa pendidikan itu hendaknya diberikan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan antropologi terhadap pendidikan adalah menghimpun sejumlah pengetahuan empiris yang sudah diverifikasi dengan menganalisa aspek-aspek proses pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan sosial budayanya. (Hasojo, 1984).

Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan maka antropologi bermanfaat bagi pendidikan. Hal ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat bersifat unik dan sukar untuk dibandingkan. Setiap penyelidikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi pendidikan.

B.     Manfaat Antropologi Dalam Pendidikan

1.      Dapat mengetahui pola perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara universal maupun pola perilaku manusia pada tiap-tiap masyarakat (suku bangsa).

2.      Dapat mengetahui kedudukan serta peran yang harus kita lakukan sesuai dengan harapan warga masyarakat dari kedudukan yang kita sandang.

3.      Dengan mempelajari antropologi akan memperluas wawasan kita terhadap tata pergaulan umat manusia diseluruh dunia, khususnya Indonesia yang mempunyai kekhususan-kekhususan yang sesuai dengan karakteristik daerahnya, sehingga menimbulkan toleransi yang tinggi.

4.      Dapat mengetahui berbagai macam problema dalam masyarakat serta memiliki kepekaan terhadap kondisi-kondisi dalam masyarakat, baik yang menyenangkan serta mampu mengambil inisiatif terhadap pemecahan permasalahan yang muncul dalam lingkungan masyarakatnya. (Koentjaraningrat, 1990).

 

PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM MENGKAJI PENDIDIKAN

 

A.    Pendekatan Antropologi Dalam Mengkaji Pendidikan

Antropologi Pendidikan sebagai disiplin ilmu, kini banyak dikembangkan oleh para ahli yang menyadari pentingnya kajian budaya pada suatu masyarakat. Antropologi di negara-negara maju memandang salah satu persoalan pembangunan di negara berkembang adalah karena masalah budaya belajar. Kajian budaya belajar kini menjadi perhatian yang semakin menarik, khususnya bagi para pemikir pendidikan diperguruan tinggi. Perhatian ini dilakukan dengan melihat kenyataan lemahnya mutu sumber daya manusia yang berakibat terhadap rentannya ketahanan sosial budaya masyarakat dalam menghadapi krisis kehidupan. (Hasojo, 1984).

Teori antropologi pendidikan yang diorientasikan pada perubahan sosial budaya dikategorikan menjadi empat orientasi, yaitu :

1.      Orientasi teoritik yang fokus perhatiannya kepada keseimbangan secara statis. Teori ini merupakan bagian dari teori-teori evolusi dan sejarah.

2.      Orientasi teori yang memandang adanya keseimbangan budaya secara dinamis. Teori ini yang menjadi penyempurna teori sebelumnya, yakni orientasi adaptasi dan tekno-ekonomi yang menjadi andalannya.

3.      Orientasi teori yang melihat adanya pertentangan budaya yang statis, dimana sumber teori datang dari rumpun teori struktural.

4.      Orientasi teori yang bermuatan pertentangan budaya yang bersifat global atas gejala interdependensi antar Negara, dimana teori multikultural termasuk didalamnya. (Hasojo, 1984).

Orientasi pengembangan budaya belajar harus dilakukan secara menyeluruh yang menghubungkan pola budaya belajar yang ada di dalam lingkungan masyarakat dan lembaga pendidikan formal.

Van Kemenade (1969) telah mengingatkan, “persoalan pendidikan jangan hanya dianggap melulu persoalan pedagogis didaktis metodis dan tidak menjadi masalah kebijakan sosial, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi kebutuhan bersama. Untuk itu perlu analisa empiris tentang tugas pendidikan  dalam konteks kehidupan masyarakat”. (Koentjaraningrat, 1990).

Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan, maka antropologi bermanfaat bagi pendidikan. Dimana para pendidik harus melakukan secara hati-hati. Hal ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat bersifat unik, sukar untuk dibandingkan sehingga harus ada perbandingan baru yang bersifat tentatif. Setiap penyelidikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi pendidikan.

 

IMPLIKASI ANTROPOLOGI DALAM PENDIDIKAN

 

Selain faktor geografis, di masing-masing daerah memiliki berbagai macam suku bangsa, adat istiadat, sistem nilai, budaya yang berbeda. Misalnya : Suku Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Minang, Batak dan sebagainya. Sedangkan dari ras polynesia yang mendiami Indonesia bagian timur, misalnya : Ambon, Timor, Papua. Keragaman budaya tersebut telah memberikan pengaruh terhadap hubungan sosial masyarakat, sistem pendidikan, mata pencaharian, dan pola berfikir manusia.

Dengan berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan secara alamiah, dari dulu telah berlangsung upaya pendidikan sebagai proses transmisi dan transformasi kebudayaan. Untuk itu, pendidikan di masing-masing daerah berbeda dan disesuaikan dengan budaya daerah tersebut. Proses pendidikan bangsa telah ada sebelum kedatangan penjajah dan memiliki antropologis yang kuat.

Yang harus diperhatikan dalam implikasi antropologi dalam pendidikan, adalah:

1.      Identifikasi kebutuhan belajar masyarakat

                        Identifikasi kebutuhan masayarakat ini bersumber dari informasi masyarakat sekitar. Masyarakat tersebut terdiri dari tokoh masyarakat, baik secara formal maupun informal, tokoh agama, dan perwakilan masyarakat kelas bawah. Hal ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan data yang dijadikan bahan pengembangan kurikulum.

2.      Keterlibatan partisipasi masyarakat

Setelah mengidentifikasi kebutuhan belajar, maka masyarakat ikut serta dalam merancang kurikulum, menyediakan sarana dan prasarana, menentukan narasumber sebagai fasilitator, dan ikut menilai hasil belajar.

3.      Pemberian pendidikan kecakapan hidup

                        Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan dalam bentuk pemberian keterampilan dan kemampuan dasar pendukung fungsional, membaca, menulis, berhitung, memecahkan masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi. (Koentjaraningrat, 1990).

 

      Pendidikan merupakan proses pembudayaan, strategi pembudayaan, dan  substansi pembudayaan. Pendidikan sebagai proses pembudayaan harus  mampu melahirkan interaksi individu-individu yang berbudaya. Pendidikan sebagai  strategi pembuda-yaan,  harus mampu menciptakan iklim pembelajaran yang ber-budaya. Dan, pendidikan  sebagai substansi pembudayaan,  harus memiliki arah penciptaan  insan-insan yang berbudaya.

Pendidikan itu mencerminkan gejala kebudayaan, sehingga Fuad Hasan (1986) menegaskan bahwa pendidikan tanpa orientasi budaya menjadi gersang dari nilai-nilai luhur (Prisma, 2:40)

Karena itu usaha pendidikan akan diarahkan kepada keseluruhan aspek kebudayaan dan kepribadian, dan harus mengacu pada pembinaan cita-cita hidup yang luhur, sehingga pendidikan itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Tagore menjadi:  “self-education”.

 

RANAH BELAJAR

1.      RANAH BELAJAR KOGNITIF:

Pengetahuan

Mengacu kepada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar. Pemahaman mengacu kepada kemampuan memahami makna materi.

§  Penerapan

Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan atau prinsip.

§  Analisis

Mengacu kepada kemampuan menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau faktor   penyebabnya, dan mampu memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya, sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti.

§  Sintesis

Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah laku yang kreatif.

§  Evaluasi

Mengacu kepada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu.

 

2.      AFEKTIF

Penerimaan

Mengacu kepada kesukarelaan dan kemampuan memperhatikan stimulasi yang tepat.

Pemberian Respon

Mengacu kepada kesukarelaan memberikan respon terhadap stimulasi yang tepat, dalam hal ini siswa menjadi tersangkut secara aktif, menjadi peserta dan tertarik

§  Penilaian

Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita mengaitkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak, atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap” dan “apresiasi”.

§  Pengorganisasian/Pengelolaan

Mengacu kepada penyatuan nilai. Sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.

§  Penghayatan

Mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat berkembang dengan teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini bisa ada hubungannya dengan ketentuan pribadi, sosial dan emosi siswa.

 

3.      PSIKOMOTOR

§  Peniruan

Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot syaraf. Peniruan ini berbentuk global.

§  Manggunakan

Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilanm gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.

§  Artikulasi (Ketepatan dan Merangkaikan)

Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di antara gerakan-gerakan yang berbeda.

§  Pengalamiahan/Naturalisasi

Menuntut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.

 

 

KULIAH KE-12

 

Pokok Bahasan

·         Asal-usul Manusia

·         Kebudayaan Manusia

 

ASAL USUL MANUSIA

 

A.    Asal Usul Manusia

      Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan dapat dilihat dari bentuk fisik dan pola pikir.

      Bentuk fisik manusia jauh lebih sempurna, terutama kelenturan anggota tubuh untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk lingkungannya.

      Disamping bentuk fisik, perkembangan pola pikir manusia sangat dinamis. Apa yang terjadi hari ini, selalu digunakan menjadi objek penelitian untuk menciptakan hal-hal yang baru.

1.      Asal Usul Manusia Menurut Teori Ilmiah

Asal usul manusia menurut Teori Ilmiah

a.       Teori Intelligent Design

      Intelligent design atau perencanaan cerdas, bahwa manusia sebagai makhluk yang unik/kompleks tidak dapat dijelaskan dalam sebuah teori seperti seleksi alam (evolusi). Asal usul manusia dapat dijelaskan dalam sebuah teori yang lebih pintar.  Intinya di dalam teori intelligent design dijelaskan bahwa kita dibuat oleh keberadaan yang sangat luar biasa jenius. Keelokan bentuk fisik dan pola pikir manusia diperkirakan dibentuk dan diciptakan oleh sesuatu yang luar biasa.

b.      Teori Cosmic Ancestry

      Teori Cosmic Ancestry ini mengatakan bahwa kehidupan dan alam semesta ini memang dari awal selalu ada. Manusia dan alam sudah ada sejak sediakala. Manusia dan alam tidak berawal dan tidak berakhir. Begitu adanya sejak dahulu sampai pada masa yang akan datang, dalam hitungan waktu yang tidak terhingga.

c.       Teori Progressive Creationism

      Dalam teori progressive creationism dijelaskan tentang kejadian alam  beserta isinya selama enam hari dan di hari ke tujuh Allah menyucikannya. Tetapi, hari yang tidak Anda tahu adalah masing-masing dari ‘hari’ itu sebenarnya adalah jutaan tahun dan berisikan banyak evolusi. Inilah yang diusulkan dalam teori progressive creationism (Pencipta Progresif). Teori ini mengatakan bahwa Tuhan membuat bumi secara perlahan-lahan dan tanaman serta hewan membutuhkan waktu untuk beradaptasi agar mereka dapat cocok dengan kehidupan di dunia. Intinya ia mengatakan bahwa tidak ada spesies yang secara langsung tiba-tiba muncul sebagai bentuk yang baru. Jadi teori ini sebenarnya juga adalah teori evolusi.

d.      Teori Theistic Evolution

      Theistic Evolution adalah satu dari tiga teori utama yang menjelaskan mengenai asal mula manusia. Dua hal lainnya adalah teori evoluasi Darwin (teori atheistic) dan teori penciptaan khusus (agama).

      Teori ini sebenarnya serupa dengan teori progressive creationism. Jika para pemercaya agama mangatakan bahwa evolusi menentang keberadaan Tuhan, maka Theistic Evolution adalah teori yang menjembataninya. Ide utamanya tetap Tuhan yang menciptakan alam semesta dan isinya, hanya saja kali ini “Ia” menciptakannya dengan menggunakan ilmu pengetahuan. Alam semesta ini merupakan hasil ciptaan Tuhan. Para ilmuwan menggabungkan berbagai jenis pemahaman untuk memahami-nya. Teori ini membuat para pemercaya agama tidak lagi menghabiskan waktu mereka untuk berdebat tentang agama dan pengetahuan, karena teori tersebut menjembataninya.

e.       Teori Evolusi Charles Darwin

      Ia mengatakan bahwa manusia berasal dari monyet yang berevolusi dalam jangka waktu lama hingga menjadi manusia purba dan manusia purba tersebut berevolusi lagi menjadi manusia modern seperti manusia saat ini.

      Charles Darwin melakukan penelitian terhadap fosil-fosil yang ditemukan pada kurun waktu yang berbeda. Ternyata fosil-fosil tersebut menunjukkan, bahwa bentuk fosil makin lama makin sempurna. Oleh sebab itu, dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa manusia berasal dari monyet.

      Secara biologis, monyet dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, monyet kelas Tarzi yaitu monyet yang berukuran kecil dan tidak mengalami perubahan (evolusi). Artinya monyet kelas Tarzi ini tetap bertahan pada bentuk aslinya, dahulu monyet dan sekarang juga masih monyet.

      Kedua, monyet kelas Antropoid yaitu monyet yang mengalami perubahan bentuk. Perubahan bentuk menjadi lebih sempurna. Berdasarkan fakta ini, dapat dipastikan bahwa monyet yang berubah bentuk menjadi manusia purba dan manusia purba menjadi manusia modern.

      Perubahan bentuk pada fosil monyet ini mengalami proses yang panjang. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perubahan ini diperkirakan karena alasan seperti berikut ini :

A.     Pertukaran Gen

B.     Beradaptasi dengan lingkungan

C.     Pengaruh alam

D.    Perubahan pola pikir.

2.      Menurut Agama

            Allah SWT. menciptakan bumi beserta isinya selama enam hari. Manusia adalah salah satu penghuni bumi ini diciptakan Allah yang disampaikan dalam firman-Nya. Allah berfirman, “(Ingatlah), ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian) nya, dan Aku telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud” (QS. Al-Hijr (15) : 28-29). Hadist Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya manusia berasal dari Adam dan Adam itu diciptakan dari tanah”  (HR. Bukhari).

a.       Manusia pertama adalah Adam

      Manusia pertama yang diciptakan Allah adalah Nabi Adam A.S. Nabi Adam berumur 930 tahun, perkiraan periode sejarah, tahun 5872 – 4942 SM., tinggi badannya 60 hasta. Nabi Adam memiliki peradaban dan ilmu yang tinggi. Nabi Adam sudah pernah tinggal di Surga. Setelah Allah menurunkan Adam dan istrinya ke bumi, kisah dan sejarah hidup manusia di muka bumi pun dimulai. Tugas utama Nabi Adam di bumi adalah menetap untuk taat kepada Allah dan memerintah manusia dengan adil. Mereka merupakan keturunan Adam dan Hawa, umat manusia pertama yang mendapat fitrah tauhid. Hasil pernikahan Nabi Adam dan Siti Hawa berjumlah 40 orang atau 20 kembaran. Setiap kembaran berpasangan pria dan wanita. Nabi Adam menikahkan anak tidak dengan kembarannya, tetapi menikahkan dengan kembaran berikutnya.

b.      Manusia kedua adalah Siti Hawa

      Manusia kedua yang diciptakan Allah adalah Siti Hawa. Siti Hawa adalah ibu semua manusia. Dalam hadist dijelaskan bahwa Siti Hawa diciptakan Allah dari tulang rusuk sebelah kiri Nabi Adam. Siti Hawa diciptakan Allah adalah untuk pasangan Nabi Adam A.S Siti Hawa adalah gambaran seorang istri dan ibu seluruh manusia, ibu seluruh ibu dan panutan kaum ibu.

c.       Penciptaan manusia ketiga adalah semua keturunan Adam dan Siti Hawa.

      Penciptaan manusia ketiga oleh Allah menunjukkan Kudrat dan Irodat-Nya, yaitu  Nabi Adam dan Siti Hawa melahirkan anak kembar. Setiap kembaran selalu berpasangan antara pria dan wanita. Hasil pernikahan anak-anak Nabi Adam berkembang sampai sekarang. Dalam pandangan agama Islam, bahwa manusia ini semuanya berasal dari satu keturuna, yaitu keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa, kecuali Nabi Isa A.S. Menurut pandangan Islam, Nabi Isa bukan keturunan Nabi Adam. Nabi Isa dilahirkan Maryam tanpa ayah, karena Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Maryam. Firman Allah, dalam Surat Maryam ayat 19, artinya seperti berikut.“Sesungguhnya aku (Jibril) ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki lagi suci”.

3.      Asal Manusia Indonesia

            Bangsa Indonesia menempati daerah antara pulau Sabang dan Merauke, antara pulau Rote dan Madagaskar, terletak antara Samudra Pasifik dan Samudra Indonesia, antara Benua Asia dan Australia. Bangsa Indonesia terdiri dari 34 provinsi, 514 kotamadya/kabupaten, 6.524 kecamatan, 76.632 desa dan jumlah penduduk 241.452.952 jiwa (sensus penduduk tahun 2013).

            Suku bangsa Indonesia beragam, memiliki ciri kuantitatif dan kualitatif. Ciri kuantitatif berukuran tinggi dan pendek serta berbadan besar dan kecil, ciri kualitatif berkulit hitam dan putih serta rambut lurus dan keriting. Perbedaan tersebut menjadi bukti banhwa bangsa Indonesia berasal dari bangsa yang berbeda. Beberapa pendapat tentang asal usul  suku bangsa Indonesia, yaitu:

a.       Bangsa Indonesia berasal dari Yunan, China

      Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, China bagian selatan (India Belakang). Bangsa Mongolia yang terdesak karena serangan orang yang lebih kuat bermigrasi ke China bagian selatan, setelah itu mereka masuk ke wilayah Nusantara. Bukti lain ditemukan kapak tua mirip dengan kapak yang ditemukan di Yunan, China selatan.

b.      Bangsa Indonesia berasal dari Nusantara

      Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari bangsa Indonesia sendiri, bukan dari luar. Teori ini memiliki alasan sendiri. Pertama: orang-orang yang ada di Nusantara memiliki peradaban yang tinggi. Kedua, kesamaan Bahasa Melayu dengan Bahasa Kamboja terjadi hanya kebetulan saja.  Bahasa Melayu sudah ada di Nusantara, Bahasa Melayu, bahasa asli Nusantara. Ketiga,  adanya perbedaan Bahasa Austronesia yang berkembang di Nusantara dengan bahasa yang berkembang di Asia Tengah. Jadi, kedua bahasa tersebut berkembang secara berdiri sendiri dan tidak memiliki hubungan sama sekali.

c.       Bangsa Indonesia berasal dari Taiwan

      Bangsa yang ada di Nusantara berasal dari Taiwan bukan dari daratan China. Bahasa yang digunakan di Nusantara berasal dari rumpun Austronesia yang dikenal juga sebagai rumpun bahasa di Taiwan. Disamping itu telah dilakukan penelitian terhadap kromosom di Nusantara tidak cocok dengan orang di daratan China.

d.      Bangsa Indonesia berasal dari Afrika

      Teori ini menjelaskan bahwa nenek moyang manusia berasal dari Afrika, sekitar tahun 200.000 SM. Setelah melewati proses evolusi dan menjadi manusia modern, kemudian mereka berimigrasi ke seluruh benua di dunia. Pada saat itu turun suhu bumi, sehingga menurunkan permukaan bumi. Daratan menjadi lebih luas dan memungkinkan manusia menyebar ke Asia Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, dan Australia.

 

KEBUDAYAAN MANUSIA

 

            Sejak masa awal pertumbuhan manusia sampai dengan zaman yang serba modern saat ini, manusia memiliki tradisi dan tradisi tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan pola pikir manusia.

            Oleh karena itu, perlu dipahami apa sebenarnya kebudayaan, sehingga tidak menimbulkan persepsi yang berbeda untuk memahaminya.

Jadi, kebudayaan dapat dipahami seperti berikut ini.

A.    Definisi Kebudayaan

      Ki Hajar Dewantara, kebudayaan adalah buah budi manusia dalam bermasyarakat.

      Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Jadi, kebudayaan dapat didefinisikan segala daya upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan rohani maupun jasmani. Definisi kebudayaan selalu berbeda-beda:

      Pertama, karena setiap orang dapat menafsirkan atau menghubungkan kebudayaan dengan kondisi daerah tertentu.

      Kedua, kebudayaan adalah ilmu sosial, sehingga setiap ahli dan pembaca dapat menafsirkan secara berbeda-beda. Penafsiran sangat tergantung kepada pengalaman setiap orang.

      Ketiga, kebudayaan bersifat dinamis, sehingga para ahli dapat menafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman pada saat definisi kebudayaan itu diciptakan.

      Pertumbuhan budaya diawali oleh pertumbuhan manusia, karena budaya lahir dari manusia. Dalam perjalanan perkembangan manusia dan budaya mengalami pergeseran pandangan dunia Barat dan Timur.

      Pada dunia bagian  Barat, kebudayaan tersebut akan berakhir bersamaan dengan kehidupan manusia. Bagi barat tidak ada kehidupan setelah kematian. Kematian dianggap sebagai titik akhir dari kehidupan manusia. Pandangan ini berkembang dan melekat pada kehidupan manusia di dunia bagian barat.

      Sekitar 14 abad yang lalu, turun agama, melalui utusan-Nya. Setelah turun agama, pandangan budaya berubah. Bahwa setelah kematian akan ada kehidupan. Hal ini bermakna manusia akan hidup melalui beberapa alam. Dimulai dari alam kandungan, alam dunia, alam kubur, dan alam baka (ada Surga dan Neraka). Akibatnya manusia berpikir untuk melakukan sesuatu, baik atau buruk, benar atau salah, boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Paham ini berkembang bagi orang-orang yang percaya kepada kehendak Tuhan.

B.     Kebudayaan Bersifat Tetap

      Kebudayaan tidak pernah berada pada satu titik konstan. Kebudayaan selalu berubah-ubah. Perubahan kebudayaan terjadi dalam satuan hitungan waktu terkecil detik. Pada detik pertama, kedua dan seterusnya peristiwa kebudayaan tidak pernah sama atau berulang-ulang terjadi. Peristiwa kebudayaan selalu berubah sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan secara pasti, kecuali mengacu pada janji Tuhan, akan ada hari kiamat.

      Kebudayaan bersifat tetap hanya terjadi pada tempat yang sama dan waktu yang sama pula. Misalnya, kebudayaan Indonesia yang persis sama adalah apa yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2016 di Indonesia. Peristiwa pada tanggal 1 Januari 2016 tidak pernah terjadi pada masa lalu maupun pada masa yang akan datang.

C.     Kebudayaan Selalu Berubah

      Kebudayaan selalu berubah-ubah. Perubahan kebudayaan dapat dilihat dari tiga bagian, yaitu:

1.      Pada tempat yang sama dan waktu yang berbeda, kebudayaan berbeda. Misalnya, di Malaysia yang terjadi pada tahun 2005 berbeda dengan yang terjadi pada tahun 2015.

2.      Pada waktu yang sama tempat yang berbeda. Misalnya, pada tahun 2015 apa yang terjadi di Indonesia berbeda dengan apa yang terjadi di Malaysia, walaupun pada tahun yang sama.

3.      Pada waktu dan tempat yang berbeda, kebudayaan berbeda. Misalnya, apa yang terjadi di Jepang pada tahun 2000 berbeda dengan yang terjadi di Jerman pada tahun 2010.

      Perubahan kebudayaan terjadi karena perubahan pola pikir manusia yang dinamis. Manusia selalu berpikir dan berpikir terus. Penelitian akan menghasilkan produk baru dan produk baru tersebut juga akan dijadikan objek penelitian kembali untuk menghasilkan produk baru lagi. Proses ini akan berjalan sesuai dengan perjalanan umur dunia dan pelaku budaya akan berganti terus sesuai dengan generasinya. Jadi, kebudayaan itu memegang posisi penting dalam menata kehidupan manusia.

      Secara umum definisi kebudayaan adalah segala hasil daya cipta dan rasa manusia untuk meningkatkan taraf kehidupan. Setiap perubahan akan dapat menghasilkan dampak yang baik kepada kehidupan manusia. Dengan demikian, kehidupan manusia semakin sempurna.

D.    Penyebaran Kebudayaan

      Budaya lahir dari manusia dan manusia selalu berganti dengan generasi baru. Budaya yang terjadi pada manusia satu generasi ke generasi berikutnya harus diwariskan.

1.      Penyebaran budaya tegak lurus ke bawah

            Penyebaran budaya tegak lurus ke bawah adalah penyebaran budaya dilakukan dari satu suku ke suku itu sendiri. Terjadi pada daerah pedalaman atau daerah terpencil serta terasing dan penduduknya homogen atau penduduk yang tidak bercampur dengan suku lain.

            Keuntungannya budaya etnis atau suku akan tetap murni dari pengaruh luar, karena disebarkan secara langsung oleh pelaku budaya sendiri.

            Kerugiannya adalah daerah seperti ini akan lambat berkembang, karena tidak menerima pengaruh atau tidak dapat membandingkan dengan budaya suku lain.

2.      Penyebaran budaya horizontal

            Penyebaran budaya horizontal adalah penyebaran budaya yang mendatar, dilakukan dari satu suku ke suku yang lain. Terjadi pada daerah kota atau desa yang hidup berdampingan dengan suku lain.

            Keuntungannya budaya horizontal akan cepat berkembang, karena terbuka menerima pengaruh dari budaya lain. Masyarakat dapat melihat suku lain yang berada dekat dengan daerah tempat tinggal mereka.

            Kerugiannya adalah budaya asli biasanya cepat punah, karena selalu mengadopsi budaya positif dari budaya lain.Sementara budaya kurang produktif tidak dilaksanakan dan akhirnya punah. Akibatnya budaya asli bias dilupakan atau tidak diketahui lagi.

E.     Kebudayaan Suku

      Kebudayaan suku (etnis) adalah kebudayaan memiliki ciri-ciri khusus dan memiliki batas-batas geografis. Ciri-ciri suku ini dapat dijelaskan dari segi : bahasa, pakaian adat, kesenian, mata pencaharian, sistem organisasi, sistem pengetahuan, sistem teknologi.  Perbedaan ciri-ciri inilah yang menyebabkan timbul istilah suku-suku di Indonesia. Perbedaan cici-ciri suku terjadi:

      Pertama, karena NKRI merupakan negara kepulauan, seperti Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan ribuan pulau lainnya. Akibatnya penduduk pulau jarang bertemu antara satu pulau dan pulau lainnya.

      Kedua, alam setiap pulau berbeda, sehingga kebudayaan setiap pulau berbeda. Alam akan memengaruhi budaya manusia yang berada di sekitar alam itu sendiri.

F.      Kebudayaan Daerah

      Kebudayaan daerah adalah kebudayaan yang berada pada wilayah atau daerah tertentu. Kebudayaan daerah terdiri dari gabungan beberapa suku. Suku-suku dalam satu daerah sering sekali merupakan bagian dari susku-suku yang ada di daerah tersebut. Misalnya di daerah Sumatera Utara terdiri dari suku Batak Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Dairi, dan Pakpak. Suku-suku tersebut berada di dalam daerah tertentu. Oleh karena itu, kebudayaan suku-suku tersebut disebut kebudayaan daerah Sumatera Utara.

      Kebudayaan yang ada di daerah tertentu lebih dominan persamaan daripada perbedaan

      Hal ini terjadi karena suku yang berada di satu daerah hidup berdampingan dan frekuensi

pertemuan yang dominan juga membawa pengaruh terhadap persamaan kebudayaan.

G.    Kebudayaan Indonesia

      Kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan yang terdapat di seluruh suku yang ada dari Sabang sampai Merauke. Kebudayaan Indonesia dilaksanakan oleh masing-masing suku yang ada di Indonesia. Setiap suku memiliki ciri-ciri budaya yang berbeda. Perbedaan yang paling menonjol adalah bahasa. Artinya setiap suku memiliki bahasa yang berbeda. Namun, banyak kosa kata yang memiliki persamaan. Hal ini sangat wajar terjadi karena bahasa-bahasa tersebut berada dalam satu rumpun

H.    Kebudayaan Nasional

      Kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan suku-suku yang ada di seluruh daerah di Indonesia. Setiap suku memiliki kebudayaan. Kebudayaan suku ada yang berlaku pada suku sendiri dan ada yang dapat diberlakukan pada suku-suku yang lain atau berlaku secara nasional. Kebudayaan berlaku pada suku itu sendiri, misalnya garis keturunan patrilineal (garis keturunan ayah) berlaku penuh pada suku Batak dan garis keturunan matrilineal (garis keturunan ibu) hanya berlaku kepada suku Minang.

Ciri-ciri Kebudayaan Nasional

      Pengangkatan budaya Indonesia menjadi budaya nasional melalui proses yang panjang dan mempertimbangkan nilai-nilai yang dapat diterapkan kepada semua lapisan masyarakat.

1)      Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan salah satu ciri-ciri kebudayaan nasional. Karena Bahasa Indonesia menggambarkan kepribadian bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu :

1.      Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa lingua franca atau sudah menjadi bahasa pengantar antar suku di Indonesia sebelum disahkan menjadi Bahasa Indonesia.

2.      Bahasa Melayu tidak memiliki versi atau tingkatan, Bahasa kaum bangsawan sama dengan bahasa rakyat biasa.

3.      Bahasa Melayu bersifat sederhana, memiliki sistem, dan mudah dipelajari.

4.      Bahasa Melayu mudah beradaptasi, sehingga dapat diikuti dan dipahami oleh semua suku di Indonesia.

2)      Sistem Musyawarah

            Sistem musyawarah juga merupakan ciri kebudayaan nasional. Oleh karena itu, sistem musyawarah dalam mengambil keputusan digunakan secara nasional. Sistem musyawarah digunakan pada semua tingkatan, mulai tingkat lorong sampai tingkat negara.

3)      Sistem Gotong Royong

            Gotong royong merupakan ciri yang terdapat pada semua suku di Nusantara. Oleh karena itu, gotong royong juga dianggap sebagai ciri kebudayaan Indonesia. Sistem gotong royong juga terjadi pada tingkat RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara.

4)      Sikap toleransi

            Negara Indonesia adalah negara yang majemuk suku dari Sabang sampai Merauke. Setiap suku memiliki kebudayaan yang berbeda, walau ada persamaan pada bidang tertentu. Menganut banyak agama dan kebebasan memilih untuk diyakini atau dilaksanakan.

5)      Sistem Tata Krama

            Tata krama menjadi pedoman di dalam pergaulan dengan pihak manapun di dalam kehidupan sehari-hari.

 

3.      Syarat-syarat Kebudayaan Nasional

            Kebudayaan Indonesia yang memenuhi kriteri berikut dapat ditetapkan sebagai kebudayaan nasional:

a.       Hasil Karya Bangsa Indonesia

      Kebudayaan nasional harus hasil karya bangsa Indonesia sendiri, yang lahir dari kelompok atau suku bangsa atau perorangan dan tidak bertentangan dengan falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia.

b.      Menggambarkan kepribadian Bangsa Indonesia

      Budaya lahir dari masyarakat dan apa yang ada dalam kebudayaan menggambarkan kehidupan masyarakat. Kebudayaan nasional harus menggambarkan kepribadian bangsa Indonesia.

c.       Hasil penyaringan budaya asing

      Bangsa Indonesia dapat menerima kebudayaan asing dengan terlebih dahulu disaring agar tidak bertentangan dengan nilai budaya Indonesia.

4.      Nilai-nilai Kebudayaan Nasional

Untuk memajukan budaya Indonesia ada beberapa nilai yang harus dikembangkan, yaitu:

a.       Menguasai Alam

      Alam diciptakan Tuhan untuk keperluan kehidupan manusia di atas bumi dan harus disesuaikan, sehingga bermanfaat untuk kepentingan manusia.

b.      Berorientasi ke masa depan

      Untuk mencapai budaya maju kita harus berpikiran maju dan berorientasi ke masa depan.

c.       Bersifat aktif

      Kita selalu dihadapkan pada berbagai persoalan setiap saat baik primer atau sekunder. Kita harus aktif, sehingga semua persoalan tersebut dapat diatasi.

d.      Bersikap disiplin

      Kemajuan akan dapat dicapai jika dapat memanfaatkan waktu dengan baik.

e.       Bersikap toleransi

      Sikap toleransi diperlukan karena bangsa Indonesia merupakan kesatuan etnis, budaya dan agama.

f.        Bertanggung jawab

      Tanggung jawab adalah sikap yang diperlukan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

g.      Bertata karma

      Bermoral dan etika dalam pergaulan sehari-hari adalah nilai kebudayaan nasional yang harus dipelihara.

h.      Menjunjung nilai kebenaran

      Nilai kebenaran harus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari, karena dapat menyelamatkan bangsa dan negara.

 

5.      Fungsi Kebudayaan Nasional

Beberapa fungsi kebudayaan nasional, sebagai berikut:

a.       Alat pemersatu bangsa

      Sebagai negara kesatuan kita harus menjaga bahasa, musyawarah, gotong royong, toleransi, dan tata krama dalam pergaulan sehari-hari agar dapat menyatukan seluruh bangsa Indonesia, baik cita-cita maupun ideologi.

b.      Identitas bangsa

      Bagi bangsa Indonesia ciri-ciri dan kepribadian seperti bahasa, musyawarah, gotong royong, toleransi, dan tata krama menjadi identitas bangsa Indonesia yang belum tentu dimiliki bangsa lain.

c.       Kebanggaan bangsa

      Kebudayaan nasional dapat menjadi kebanggaan bagi seluruh warga negara Republik Indonesia.

d.      Barometer masuknya kebudayaan asing

      Bahasa, musyawarah, gotong royong, toleransi, dan tata krama dapat menjadi barometer. Indonesia dapat menerima pengaruh asing asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebudayaan nasional yang ada di Indonesia.

 

I.        Kebudayaan Dunia

            Kebudayaan dunia adalah kebudayaan yang terdapat di seluruh dunia, mulai dunia bagian barat sampai dunia bagian timur, kutub utara sampai kutub selatan, budaya yang populer maupun tidak populer. Kebudayaan dunia merupakan pengungkapan atau segala sesuatu yang dilakukan atau dilaksankan oleh manusia di muka bumi. Gabungan dari budaya yang ada di dunia disebut sebagai budaya dunia.

J.       Kebudayaan Asing

            Kebudayaan asing adalah kebudayaan yang ada di luar kebudayaan nasional. Kebudayaan antar negara memiliki persamaan dan perbedaan dan saling mempengaruhi. Hal ini terjadi karena setiap negara tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa menerima pengaruh negara lain, baik positif maupun negatif.

§  Pengaruh positif kebudayaan asing

      Bangsa Indonesia tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya pengaruh asing. Kebudayaan Indonesia, tanpa kebudayaan asing tidak akan seperti hari ini. Misalnya, bahasa Indonesia dapat berkembang setelah menerima pengaruh dari bahasa asing yang ada di dunia. Contoh : actual menjadi aktual, dan sebagainya. Selain bahasa, pengaruh ilmu pengetahuan, teknologi dan industri juga sangat besar terhadap bangsa Indonesia yang merupakan hasil adopsi dari negara maju di belahan bumi lain.

§  Pengaruh negatif kebudayaan asing

      Tidak semua kebudayaan asing dapat masuk ke Indonesia. Setiap kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia harus tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya asli Indonesia.

      Jadi, kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia disebut sebagai pengaruh negatif kebudayaan asing. Misal, pakaian tipis dan mini, pergaulan bebas tanpa batas yang tidak mengindahkan nilai moral dan agama.

K.    Kebudayaan Internasional

     Kebudayaan internasional merupakan puncak kebudayaan nasional dari setiap negara yang ada di dunia. Kebudayaan internasional biasanya bersifat universal (nilainya menyangkut kepentingan manusia secara umum) seperti nilai kemanusiaan, pendidikan, psikologi, kesejahteraan, dan kedamaian. Nilai-nilai tersebut diperlukan oleh semua bangsa di muka bumi ini, karena nilai-nilai tersebut merupakan tujuan akhir kehidupan semua bangsa. Artinya nilai-nilai tersebut akan dapat menaikkan martabat manusia di semua belahan bumi, sehingga negara-negara maju akan berusaha mewujudkan dan menerapkan di dalam kehidupan bernegara.

 

Kuliah Ke-13

Pokok Bahasan

  1. Peradaban Manusia Dari Zaman Ke Zaman
  2. Kebutuhan Manusia
  3. Sifat Manusia
  4. Manusia Dan Alam

 

PERADABAN MANUSIA DARI ZAMAN KE ZAMAN

A.    Peradaban Manusia Dari Zaman Ke Zaman

      Pada awalnya kebudayaan manusia sangat sederhana, karena sesuai dengan perkembangan pola pikir manusia.

      Manusia lahir ke dunia tanpa ada budaya. Apa yang dilakukan pada tahap kehidupan dari awal dan seterusnya menjadi budaya.

      Berdasarkan proses terjadinya perubahan pola pikir manusia, membawa perubahan pada manusia sendiri.

1.      Zaman Paleolithikum (Zaman Batu Tua)

            Zaman paleolithikum manusia hidup berkelompok dan setiap kelompok memiliki ketua. Zaman ini disebut juga dengan zaman batu tua, karena kehidupan manusia sangat tergantung pada alam dan selalu berpindah-pindah tempat (nomaden). Makanan didapat dari sumber makanan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Periode ini merupakan awal pertumbuhan budaya. Peralatan dibuat dari batu dengan cara membenturkan pada batu yang lebih keras sehingga menghasilkan pecahan batu yang tajam dan runcing.    Tradisi pembuatan alat seperti ini disebut tradisi peralatan Oldowan. Zaman paleolithikum diperkirakan terjadi kira-kira 600.000 tahun yang lalu. Ciri manusia purba berjalan tegak (Pithecantropus Erectus), dibuktikan dengan penemuan fosil manusia purba di sungai Bengawan Solo, Indonesia

2.      Zaman Mezolithikum (Zaman Batu Tengah)

            Pada masa ini manusia purba diperkirakan telah memiliki kepercayaan. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya artefak di situs Mousterian yang mengungkapkan ada pemujaan pada binatang, batu, sungai, dan kayu besar. Pemujaan ini bertujuan untuk mengharapkan kekuatan gaib, seperti memohon keselamatan, kesehatan, kebaikan, dan kemenangan di dalam kehidupan.  Kepercayaan yang berkembang adalah animisme dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda tertentu (kayu, batu, sungai, gunung, atau benda lainnya) karena benda tersebut dianggap memiliki kekuatan gaib yaitu kekuatan yang melebihi kekuatan yang ada di alam nyata.

            Dinamisme adalah kekuatan yang diyakini dapat membantu orang-orang yang menyembahnya. Misalnya untuk kesembuhan, keselamatan, kekayaan atau membuat orang susah atau sakit sesuai keinginan pemohon.

            Pada periode ini manusia purba sedikit lebih berkembang dari zaman sebelumnya, mereka mulai menemukan peralatan berburu seperti panah, tombak, dan pisau batu sebagai alat berburu mereka.

            Zaman Mezolithikum disebut juga zaman Batu Tengah atau masa berburu. Pada zaman ini manusia hidup di gua-gua dan masih berpindah-pindah. Makanan didapat dengan cara berburu hewan dan buah-buahan yang ada di hutan. Pada masa ini juga mereka sudah mulai menanam tanaman seperti mangga, pisang, durian, dan rambutan untuk bahan makanan mereka.

3.      Zaman Neolithikum (Zaman Batu Baru)              

            Zaman Neolithikum disebut juga zaman Batu Baru atau bercocok tanam. Mereka mulai mengenal bercocok tanam dengan cara berladang dan memelihara hewan ternak serta tinggal menetap dekat ladang-ladang yang mereka buat setelah membabat hutan dengan sistem ladang berpindah. Peralatan yang digunakan masih terbuat dari batu yang berbentuk lebih baik dan diasah hingga halus agar lebih mudah digunakan.

            Pada zaman neolithikum ini diperkirakn awal pertumbuhan kehidupan sosial. Mereka saling bekerjasama menjaga keamanan, mencari makanan, membuat rumah, musyawarah untuk memutuskan sesuatu demi kepentingan bersama, serta saling memberi bila ada hasil binatang buruan dan hasil panen.

4.      Zaman Megalithikum (Zaman Modern)               

            Zaman Megalithikum atau zaman modern terjadi karena adanya perubahan kebudayaan yang luar biasa dari zaman sebelumnya. Terjadi perubahan pada bidang tertentu seperti:

1)      Menhir, adalah tugu batu yang didirikan sebagai tempat pemujaan dan memperingati arwah nenek moyang yang mereka lakukan bersama-sama, kehidupan sosial sudah tumbuh.

2)      Dolmen, adalah meja batu berfungsi untuk tempat sesaji pada saat dilaksanakan peringatan dan pemujaan kepada roh nenek moyang. Disamping itu, dolmen digunakan untuk kuburan supaya mudah menandai dan tahan lama.

3)      Sarchopagus, adalah keranda yang terbuat dari kayu dan bentuknya seperti lesung dilengkapi dengan tutup. Fungsinya untuk mengangkat mayat dari rumah ke tempat pemakaman.

4)      Peti Mati, atau kuburan batu dibuat dari batu besar dan masing-masing papan batu dapat dilepas supaya lebih mudah di bawa kepemakaman.

5)      Punden, adalah bangunan bertingkat-tingkat, berfungsi untuk tempat memperingati dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang.

            Di samping pembabakan sejarah secara universal, juga dilakukan sesuai perkembangan peradaban manusia.

            Benua Eropa, dibagi menjadi : Zaman Kuno, Zaman Pertengahan, Zaman Baru, dan Zaman Modern.

            China dibuat berdasarkan penguasa, yaitu: Dinasti Shang, Dinasti Chou, Dinasti Chin, Dinasti Han, Dinasti Tang, Dinasti Mongol, Dinasti Ming, dan Dinasti Manch.

            Perkembangan peradaban manusia pada zaman Megalithikum terjadi pada semua sektor kehidupan manusia. Misalnya : seni, ekonomi, dan teknologi. Pembabakan dilakukan sesuai dengan perkembangannya masing-masing.

 

Dalam sejarah Indonesia, periodisasi dibagi dua, yaitu:

1)      Zaman Pra-aksara, yaitu zaman sebelum manusia mengenal tulisan. Sejarah dikenali dari artefak, fitur, ekofak, dan situs.

2)      Zaman sejarah, yaitu zaman di mana manusia sudah mengenal tulisan. Zaman sejarah dibagi tiga:

a.       Zaman Kuno, sejak zaman kerajaan tertua sampai abad ke-14. Pada zaman ini, berkembang kebudayaan Indonesia yang dipengaruhi agama Hindu, dan Budha.

b.      Zaman Indonesia Baru, dimulai pada abad ke-15 yang membicarakan tentang berkembangnya budaya Islam di Indonesia yang berlangsung sampai abad ke-18.

c.       Zaman Indonesia Modern, terjadi sejak masa pemerintahan Hindia Belanda (1800). Kehadiran penjajah di Indonesia banyak memberikan perubahan kebudayaan, walaupun semua perubahan tersebut tidak semuanya dapat diterima oleh rakyat Nusantara pada masa itu.        

5.      Zaman Penemuan Dunia Baru

            Sejarah penjelajahan dunia dan penemuan dunia baru, mengacu kepada petualangan Christoper Columbus (1485-1547). Christoper Columbus menemukan dunia ini bulat seperti bola, karena pelayaran yang panjang, Columbus akan kembali ke titik start. Pelayaran yang panjang ini dia menemukan dunia baru, yaitu Benua Amerika pada tahun 1492.

            Di samping itu, penemuan dunia baru juga terungkap dalam legenda Irlandia Raya oleh Norse dengan istilah, Tanah Milik Kulit Putih dan legenda Atlantis yang dicetuskan oleh Plato, yang berisi tentang kisah penemuan Atlantis.

 

KEBUTUHAN MANUSIA

 

            Manusia dilahirkan ke atas bumi, baik secara teori ilmiah maupun menurut agama, tanpa dilengkapi dengan kebutuhan hierarki (paling rendah atau paling tinggi) kata Abraham Maslow (1980) untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan.

            Manusia tanpa dilengkapi dengan kebutuhan tidak akan berkembang secara fisik dan secara batin. Secara fisik manusia memerlukan asupan gizi yang memadai untuk pertumbuhan dan secara batiniah manusia memerlukan rangsangan dari luar dirinya untuk memenuhi perkembangan batin sesuai dengan usia yang sedang berjalan.

A.    Jenis Kebutuhan Manusia

        Manusia dapat bertahan dan melanjutkan kehidupannya sesuai dengan yang dicita-citakannya. Manusia harus memenuhi kebutuhan sesuai dengan yang diperlukan, baik fisik maupun mental.

1.      Kebutuhan manusia berdasarkan fungsinya

a.       Kebutuhan mutlak, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap manusia karena menyangkut keberlangsungan hidup manusia yaitu makan dan minum.

b.      Kebutuhan primer, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia yang ingin hidup lebih layak, yaitu sandang dan papan.

c.       Kebutuhan sekunder, adalah kebutuhan tambahan. Kebutuhan sekunder ini berbeda antara seseorang dengan orang lainnya, karena tergantung pada status sosial seseorang.

d.      Kebutuhan tersier, adalah kebutuhan manusia yang status sosialnya lebih tinggi, tujuannya hanya untuk memenuhi kepuasan batin.

2.      Kebutuhan manusia menurut waktunya

a.       Kebutuhan sekarang, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi pada saat ini juga dan tidak dapat ditunda, karena menyangkut keberlangsungan hidup dan kesehatan. Contoh obat bagi orang sakit.

b.      Kebutuhan mendesak, merupakan kebutuhan mendesak dan tba-tiba, contoh kebakaran rumah atau banjir menyebabkan harus segera mencari rumah.

c.       Kebutuhan manusia pada masa depan, kebutuhan ini harus dirancang dari sekarang tidak bisa tiba-tiba. Contoh berangkat haji atau umroh.

3.      Kebutuhan manusia menurut sifatnya

a.       Kebutuhan fisik, adalah kebutuhan yang diperlukan manusia secara fisik, seperti pakaian, makanan, dan rumah. Selain itu olahraga, senam jantung sehat, senam pernapasan, dan konsumsi makanan sehat.

b.      Kebutuhan rohani, kebutuhan yang bersifat abstrak, rohani manusia memiliki kebutuhan dan berkembang sesuai dengan perkembangan rohani, yaitu ibadah menurut agama yang diyakini, bersosialisasi dengan alam sekitar, dan rekreasi sesuai kemampuan.

4.      Kebutuhan manusia menurut sosial budaya

a.       Kebutuhan sosial. Sebagai makhluk sosial manusia selalu membutuhkan manusia lainnya. Saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.

b.      Kebutuhan budaya, di samping kebutuhan sosial, manusia juga membutuhkan budaya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya adat istiadat pernikahan, sistem mata pencaharian, sistem bahasa, dll.

c.       Kebutuhan psikologis, manusia memerlukan kedamaian, kesejahteraan, keamanan dimanapun ia berada. Manusia selalu mendambakan kebutuhan psikologis karena akan tercapai kehidupan yang dicita-citakannya.

5.   Kebutuhan manusia menurut subjeknya

a.       Kebutuhan secara individual, sangat tergantung pada status seseorang, yaitu apa saja yang harus dimiliki. Misalnya, seorang mahasiswa membutuhan meja dan kursi belajar, komputer, dan buku.

b.      Kebutuhan secara kolektif,  yaitu kebutuhan bersama dan berfungsi agar kegiatan dapat berjalan dan berhasil di tengah-tengah masyarakat. Misal, rumah sakit, jalan, lembaga pendidikan, dll.      

B.        Faktor yang mempengaruhi kebutuhan manusia

        Kebutuhan manusia sangat beragam dan terjadi karena faktor manusia itu sendiri.

a.       Kondisi alam, perbedaan kondisi alam membawa pengaruh kepada kebutuhan manusia. Misal, cuaca dingin, membutuhkan dapur pemanas atau selimut tebal untuk menghangatkan badan.

b.      Perkembangan peradaban manusia, dapat mengubah kebutuhan manusia. Manusia yang berada pada strata tertentu akan memiliki kebutuhan sesuai dengan tingkat peradaban.  Misal, seseorang yang melanjutkan pendidikan dengan yang tidak akan memiliki kebutuhan yang berbeda.

c.       Agama dan kepercayaan, yang dianut dan diyakini akan membawa kebutuhan yang berbeda. Keduanya menuntut persyaratan tertentu saat menjalankan ibadahnya. Misal, melaksanakan shalat, harus menguasai gerak dan doa tertentu yang dibaca mulai takbir sampai salam.

d.      Kepercayaan terhadap benda keramat, harus memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan benda tersebut. Misal, memandikan keris, memiliki urutan acara dan alat yang dibutuhkan saat memandikan keris.

e.       Adat istiadat, tiap suku atau etnis memiliki budaya yang berbeda. Perbedaan budaya akan menimbulkan kebutuhan yang berbeda. Misal, suku Batak membutuhkan ikan mas dalam acara pesta perkawinan. Ikan mas merupakan lambang dan penghargaan kepada pihak lain.

 

SIFAT MANUSIA

 

Manusia memiliki sifat-sifat yang melekat sekaligus menjadi perilaku manusia di atas bumi.

      Sifat-sifat tersebut dinamis dan fleksibel terhadap diri dan lingkungannya.

A.    Manusia ingin tahu

      Makhluk adalah sesuatu yang mengisi alam dan  terbagi menjadi dua macam.

      Pertama, makhluk anorganik (makhluk mati) yaitu makhluk yang tidak mempunyai perilaku dan seluruh perkembangan hidupnya tunduk pada hukum alam. Misalnya, air bila berada pada suhu dingin akan membeku dan sebaliknya bila suhu panas akan mencair bahkan bisa mendidih serta menyusut.

      Kedua, makhluk organik (makhluk hidup) mempunyai perilaku yang bervariasi dan bereaksi terhadap alam lingkungan, yaitu manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.

      Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri, nurani, dan nalar.  Dengan nalurinya manusia dapat meramal dan memprediksi apa yang akan terjadi pada dirinya maupun orang lain, dan dapat merancang masa depan. Dengan nalurinya manusia akan dapat memanfaatkan semua alam yang ada di sekelilingnya.

      Nurani pada manusia akan melahirkan sikap kebenaran yang hakiki. Tetapi karena desakan kebutuhan dan keinginan yang tidak terkendali, manusia dapat berbuat dan melanggar norma hukum dan agama yang mereka yakini.

      Dengan nalarnya, manusia dapat melakukan penalaran terhadap lingkungannya dengan pemikiran dan analisis yang logis. Dengan sifat nalarnya manusia ingin tahu sesuatu dan membuat manusia terus berkembang. Perkembangan pemikiran yang terjadi terus menerus melahirkan perubahan kebudayaan menjadi lebih sempurna.

B.     Manusia kagum terhadap ciptaan Tuhan

      Alam yang terdiri dari langit dan bumi beserta isi yang terdapat di dalamnya merupakan sesuatu yang luar biasa. Semua itu tidak akan terjadi dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya. Tuhan tidak hanya mencipta, tetapi juga mengatur semua isi yang ada di dalamnya. Apapun yang dilakukan oleh manusia, manusia tetap sebagai pencipta kedua.

1)      Tuhan menciptakan alam

            Tuhan sebagai  Maha Pencipta tidak bermula dan tidak berakhir. Adanya alam karena adanya Tuhan. Alam semesta ada permulaan dan ada akhir. Alam semesta adalah semua wujud material dan rohaniah. Alam dibagi menjadi empat macam:

a.       Alam kandungan, merupakan proses awal untuk kehidupan manusia sejak nol detik. Setelah 9 bulan 10 hari, secara normatif manusia lahir ke dunia.

b.      Alam dunia, adalah alam tempat manusia tumbuh. Pada masa pertumbuhan ini terjadi perubahan sikap pada manusia sesuai dengan rangsangan atau keyakinan yang dimiliki, yaitu jadi manusia baik atau jahat.

c.       Alam kubur atau alam barzah adalah alam penantian. Karena alam kubur merupakan tempat orang yang telah meninggal dunia. Di alam kubur manusia telah menerima ganjaran sesuai perbuatannya selama hidup di dunia. Alam kubur akan berlangsung lama, sampai tiba hari kiamat.

d.      Alam baka atau alam akhirat, adalah alam yang terjadi setelah alam kubur. Alam baka tempat yang kekal bagi yang beramal baik ke surga dan beramal jelek ke neraka.

2)      Tuhan menciptakan manusia

            Tuhan menciptakan manusia yang dimuliakan derajatnya dan paling istimewa dibandingkan dengan makhluk lainnya, karena manusia dibekali dengan akal budi, dan pikiran. Kehadiran manusia berhubungan dengan jagat raya, seluruh alam ini merupakan satu kesatuan dan tidak boleh dipisahkan antara satu dengan lainnya.

            Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling aktif dalam melihat realita, baik dirinya maupun orang lain, oleh karena itu manusia selalu mengalami perubahan. Peradaban manusia tidak pernah berhenti pada satu titik tertentu, selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang dimiliki.

3)      Tuhan mengatur semua isi alam

            Alam diisi oleh benda mati dan benda hidup, Benda mati memiliki ciri sendiri yang berbeda dengan benda lainnya. Benda hidup baik kecil tak terlihat mata, maupun  makhluk besar yang memiliki organ tubuh yang lengkap, semuanya diatur Tuhan tanpa kecuali.

4)      Tuhan memberi rezeki makhluk-Nya

            Tuhan telah menciptakan makhluk yang kecil sampai yang terbesar. Diciptakan dengan berbagai karakter, ada yang hidup di udara, di darat, dan di dalam air. Semua rezeki makhluk tersebut sudah diatur oleh Tuhan, sesuai dengan kebutuhannya. Makanan disediakan secara bersiklus dan saling ketergantungan. Manusia makan burung, burung makan padi, padi ditanam manusia, begitu seterusnya.

5)      Tuhan menentukan makna semua ciptaanNya

            Dunia yang terdiri dari langit dan bumi beserta isinya sudah banyak yang dapat diungkap maknanya dan digunakan untuk kepentingan manusia. Namun masih banyak yang belum dapat diungkap manusia, baik di langit maupun di bumi.

            Manusia belum mampu membuka semua misteri yang tersembunyi di alam. Hal ini terjadi karena kemampuan mausia pada saat ini masih terbatas. Di samping itu, ada hal-hal yang memang tidak mungkin dikuasai oleh manusia secara sempurna, karena merupakan kuasa Tuhan dan masalah tersebut berada di luar jangkauan pemikiran manusia.

 

C.     Manusia menyukai tantangan

Manusia sangat menyukai hal-hal yang baru karena:

1.      Manusia memiliki sifat cepat bosan sehingga tidak suka kepada hal yang monoton.

2.      Manusia selalu berpikir dan berpikir dan berusaha menemukan sesuatu yang baru.

3.      Manusia suka yang baru dan terus mencari untuk menemukan yang baru.

4.      Manusia cepat bereaksi terhadap lingkungannya, apa saja yang ada di sekitarnya akan berubah menjadi hal yang baru.

5.      Manusia lebih suka membuat sendiri daripada meniru orang lain. Hasilnya akan tercipta hal-hal yang baru dan terjadi secara terus menerus.

 Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia, manusia selalu mencari tantangan baru di berbagai sektor untuk memenuhi kebutuhan manusia.

D.    Manusia menyukai teman

Manusia adalah makhluk sosial yang  tidak akan dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia tidak akan berkembang dengan baik apabila tidak berada di tengah-tengah manusia. Oleh sebab itu timbul hasrat untuk bergaul, seperti berikut ini:

1)      Hasrat sosial, karena kemampuan seseorang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan orang lain, begitu juga sebaliknya.

2)      Hasrat mempertahankan diri, setiap manusia lahir telah membawa potensi. Potensi tersebut tidak akan berkembang tanpa adanya pergaulan antara manusia dan manusia lainnya.

3)      Hasrat berjuang, manusia sesungguhnya makhluk yang lemah, pada saat lahir ke dunia tanpa memiliki kemampuan apa-apa. Jadi untuk menjadikan manusia profesional harus ada bantuan orang lain dan harus berjuang untuk mencapai cita-citanya.

4)      Hasrat harga diri, untuk meningkatkan harga dirinya, manusia harus berada di tengah-tengah manusia lainnya. Karena seseorang bermartabat bila dibandingkan dengan manusia lainnya.

5)      Hasrat meniru, sudah menjadi kodrat manusia, bahwa manusia itu selalu meniru dari lingkungannya. Tanpa kita sadari, apa yang kita lakukan setiap hari meniru dari orang yang berada di sekitar kita. Misal, gaya berpakaian, cara bergaul, cara berbicara, cara mengerjakan sesuatu dll.

6)      Hasrat bergaul, dapat terjadi disemua lapisan masyarakat.  Bergaul dengan orang tertentu karena persamaan umur yang memiliki ciri karakter sama. Persamaan profesi juga dapat menjadi pendorong pergaulan. Karena pada profesi tertentu memiliki kekhasan tersendiri, sehingga orang yang satu profesi akan saling mengerti dan memahami tentang profesi yang mereka miliki, dll.

 

MANUSIA DAN ALAM

 

              Kesempurnaan manusia dapat dilihat dari berbagai aspek dan perannya pada berbagai bidang yang ada di atas alam. Segala isi alam yang tercipta, semuanya diperuntukan bagi manusia.

A.    Manusia dan ruang

      Secara sederhana ruang dapat diartikan sebagai tempat, juga dapat diartikan dengan rongga. Ruang merupakan tempat terjadinya peristiwa.

      Dalam sejarah kehidupan manusia, ruang  merupakan unsur penting. Ruang atau tempat terjadinya peristiwa sejarah berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan manusia. Sehingga sejarah manusia merupakan proses interaksi dengan kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi pada ruang atau tempat tertentu.       Unsur manusia memiliki peran penting dalam peristiwa sejarah. Manusia adalah pelaku utama yang sangat menentukan suatu peritiwa sejarah.

B.     Manusia dan waktu

      Waktu adalah masa terjadinya satu peristiwa. Waktu dapat diperinci mulai dari detik sampai dengan abad. Menurut terjadinya, waktu dikelompokan kepada tiga bagian, yaitu waktu yang lalu, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang.

      Waktu tidak pernah berhenti, berjalan terus. Manusia menjadi subjek atau pelaku aktivitas di atas bumi. Manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dalam waktu tertentu dan tidak dapat dilepaskan dari waktu. Mereka selalu mempunyai kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Manusia dengan waktu tidak dapat dipisahkan.

      Jadi, waktu adalah unsur penting dalam kehidupan manusia. Apabila manusia hidup dalam kurun waktu terbatas, sedangkan waktu sudah berjalan kurang lebih 18,25 miliar tahun, sesuai dengan umur dunia.

C.    Manusia dan lingkungan

      Secara semantik, lingkungan berarti segala sesuatu yang berada di sekeliling atau di sekitar manusia. Manusia berada di lingkungan dan lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar manusia. Manusia dan lingkunga selalu berpengaruh secara timbal balik.

      Manusia harus menjaga lingkungannya, karena manusia menjaga lingkungannya berarti akan menjaga dirinya sendiri. Lingkungan untuk keperluan manusia secara keseluruhan. Manusia yang tidak menjaga lingkungannya berarti tidak menjaga diri sendiri dalam arti yang seluas-luasnya. Lingkungan manusia dapat dibagi menjadi:

a.       Alam semesta atau kosmos adalah seluruh ruang dan waktu, sejak dulu sampai sekarang, tidak berawal dan tidak berakhir.

b.      Lingkungan sosial. Manusia lingkungannya adalah manusia. Setiap individu lingkungannya adalah individu lainnya dan sebaliknya.

c.       Lingkungan budaya. Setiap kelompok manusia, memiliki tradisi yang berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan.

 

 

 

KULIAH KE-15

           

POKOK BAHASAN

·         MASYARAKAT

·         SISTEM KEKERABATAN

·         ETNOGRAFI

 

MASYARAKAT

 

A.    Kehidupan Kolektif

           Kelakuan binatang kolektif (animal behavior) yang berakar dalam naluri, pada manusia menjadi tingkah laku yang dijadikan milik diri dengan belajar (learned action).

           Agar ada suatu perbedaan yang tajam antara kelakuan binatang dan tingkah laku manusia dalam kehidupan kolektif, sebaiknya diadakan perbedaan istilah juga.

           Kelakuan binatang dan kelakuan manusia yang prosesnya telah direncanakan dalam gen-nya dan merupakan milik dirinya tanpa belajar, seperti repleks, kelakuan naluri, dan kelakuan membabi buta, tetap kita sebut kelakuan (behavior).

           Sebaliknya, perilaku manusia yang prosesnya tidak terencana dalam gen-nya tetapi yang harus dijadikan milik dirinya dengan belajar, kita sebut tindakan atau tingkah laku (action).

           Adanya bermacam-macam wujud kesatuan kolektif manusia menyebabkan perlunya penggunaan istilah yang membedakan satu kesatuan dengan kesatuan lainnya.

           Kecuali istilah yang paling lazim, yaitu masyarakat. Ada istilah-istilah khusus untuk menyebut kesatuan-kesatuan khusus yang merupakan unsur-unsur dari masyarakat, yaitu  kategori sosial, golongan sosial, komunitas, kelompok, dan perkumpulan.

           Keenam istilah sebutan itu beserta konsepnya, syarat-syarat pengikatnya, serta ciri-ciri lainnya, akan kita tinjau secara lebih mendalam di bawah ini.

B.     Masyarakat

           Masyarakat, merupakan istilah yang diambil dari akar kata Arab “Syaraka” yang berarti “ikut serta, berpartisipasi”. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul atau dengan istilah ilmiah, saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui apa warganya dpt saling berinteraksi.

           Tidak semua perkumpulan manusia dapat disebut masyarakat.

           Jadi ikatan apa yang membuat kesatuan manusia itu menjadi masyarakat? Yaitu pola tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kehidupan dalam batas kesatuan itu. Lagi pula, pola itu harus bersifat mantap dan kontinyu; dengan perkataan lain, pola khas itu harus sudah menjadi adat-istiadat yang khas.

           Apabila didefinisikan, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

           Pengertian yang hampir sama berlaku untuk komunitas, yaitu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah yang nyata, dan yang berinteraksi menurut suatu sistem adat tertentu yang terikat oleh suatu rasa identitas komunitas.

           Merupakan pengelompokkan manusia ke dalam kelompok-kelompok tertentu tanpa mempertim-bangkan kesatuan adat, sistem nilai, atau norma tertentu.

           Kategori sosial adalah kesatuan manusia yang terwujudkan karena adanya suatu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri objektif yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu.

           Ciri-ciri objektif itu biasanya dikenakan oleh pihak dari luar kategori sosial itu sendiri tanpa disadari oleh yang bersangkutan, dengan suatu maksud praktis tertentu.

           Merupakan suatu kesatuan manusia yang ditandai oleh suatu ciri tertentu, bahkan seringkali ciri itu juga dikenakan kepada mereka oleh pihak dari luar kalangan mereka sendiri.

           Walaupun demikian, suatu kesatuan manusia yang kita sebut golongan sosial itu mempunyai ikatan identitas sosial.

           Hal ini dapat disebabkan karena kesadaran identitas itu tumbuh sebagai respon atau reaksi terhadap caranya pihak luar memandang golongan sosial tadi, atau mungkin juga karena golongan itu memang terikat oleh suatu sistem nilai, sistem norma, dan adat-istiadat.

           Merupakan suatu masyarakat karena memenuhi syarat-syaratnya, dengan adanya sistem interaksi antara para anggota, dengan adanya adat-istiadat serta sistem norma yang mengatur interaksi itu, dengan adanya kontinuitas, serta dengan adanya rasa identitas yang mempersatukan semua anggota tadi.

           Namun, di samping ketiga ciri tadi, suatu kesatuan manusia yang disebut kelompok  juga mempunyai ciri tambahan, yaitu organisasi dan sistem pimpinan, dan selalu tampak sebagai kesatuan dari individu-individu pada masa-masa yang secara berulang berkumpul dan yang kemudian bubar lagi.

C.    Pranata Sosial

           Berbagai tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikelompokkan ke dalam tindakan yang menurut pada pola-pola resmi dan tindakan yang dilakukan menurut pola-pola yang tidak resmi.

           Sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat itu untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi, disebut pranata atau dalam bahasa Inggris Institution.

           Pranata adalah suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu kepentingan khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat.

           Ada perbedaan antara pranata dan lembaga. Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang khusus.

           Sedangkan lembaga atau institusi adalah badan atau organisasi yang melaksanakan aktivitas itu. Menurut para ahli, pranata dapat diklasifikasikan ke dalam paling sedikit  6 golongan, yaitu:

1.      Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan kehidupan, yaitu sering disebut kinship atau domestic institution.

Contoh: perkawinan, tolong-menolong antar kerabat, pengasuhan anak-anak, sopan-santun, pergaulan antar kerabat, sistem istilah kekerabatan, dan sebagainya.

2.      Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, menyimpan, mendistribusi hasil produksi dan harta adalah economic institution.

Contoh: pertanian, peternakan, pemburuan, feodalisme, industri, barter, koperasi penjualan, penggudangan, perbankan, dan sebagainya.

3.      Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan penerangan dan pendidikan, manusia supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna adalah educational institutions.

Contohnya: pengasuhan anak-anak, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, pemberantasan buta huruf, pendidikan keamanan, pers, perpustakaan umum, dan sebagainya.

4.      Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan ilmiah manusia, menyelami alam semesta sekelilingnya, adalah scientific institutions.

Contohnya: metodologi ilmiah, penelitian, pendidikan ilmiah, dan sebagainya.

5.      Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk menghayatkan rasa keindahan dan untuk rekreasi adalah aesthetic and recreational institutions.

Contohnya: seni rupa, seni suara, seni drama, kesusasteraan, olah raga, dan sebagainya.

6.      Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk berhubungan dengan dan berbakti kepada Tuhan atau dengan alam gaib, adalah religious institutions.

Contoh: doa, kenduri, upacara, semedi, bertapa, penyiaran agama, pantangan, ilmu gaib, ilmu dukun, dan sebagainya.

D.    Kedudukan Sosial

            Manusia  yang melakukan tindakan interaksi itu biasanya menganggap dirinya berada dalam suatu kedudukan sosial tertentu yang juga dikonsepsikan untuknya oleh norma-norma yang menata seluruh tindakan tadi.

            Dengan demikian konsep kedudukan (status) itu menjadi unsur penting dalam setiap usaha kita untuk menganalisis masyarakat.

            Dalam rangka kedudukan-kedudukan dalam suatu pranata itulah para individu warga masyarakat bertindak menurut norma-norma khusus dari kedudukan khusus dalam pranata itu.

            Tingkah laku individu yang mementaskan suatu kedudukan tertentu disebut dengan suatu istilah ilmiah, yaitu peranan sosial (social role atau role saja).

E.     Peranan Sosial

            Peranan adalah sesuatu yang dilakukan oleh individu dalam kedudukannya pada jabatan tertentu.

            Untuk tiap individu dalam masyarakat ada dua macam kedudukan yang dapat diperoleh dengan sendirinya, dan kedudukan yang hanya dapat diperoleh dengan usaha.

            Golongan yang pertama disebut kedudukan tergariskan (ascribed status) dan yang kedua disebut kedudukan diusahakan (achieved status).

F.     Struktur Sosial

            Didalam menganalisis masyarakat, seorang peneliti merinci kehidupan masyarakat itu ke dalam unsur-unsurnya, yaitu pranata, kedudukan sosial, dan peranan sosial.

            Walaupun demikian, tujuan sipeneliti adalah untuk mencapai pengertian mengenai prinsip-prinsip kaitan antara berbagai unsur masyarakat itu.

            Analisis yang menggambarkan kaitan antara unsur satu dengan unsur lain dalam masyarakat disebut analisis struktur sosial dari suatu masyarakat.

 

SISTEM KEKERABATAN

 

  1. Rumah Tangga dan Keluarga Inti

            Dengan menikah, sepasang suami-istri membentuk suatu kesatuan sosial yang disebut rumah tangga, yaitu kesatuan yang mengurus ekonomi rumah tangga. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti, tetapi mungkin juga terdiri dari 2 sampai 3 keluarga inti.

  1. Keluarga Inti

            Keluarga inti terdiri dari suami, isteri dan anak-anak mereka yang belum menikah. Anak tiri dan anak yang secara resmi diangkat sebagai anak memiliki hak yang sama dengan anak kandung, karena itu dapat pula dianggap sebagai anggota keluarga inti. Bentuk keluarga seperti itu adalah bentuk keluarga yang sederhana, dan berdasar-kan monogami.

            Keluarga inti dengan seorang suami tetapi lebih dari seorang istri disebut keluarga inti poligami.

            Sedangkan keluarga inti dengan seorang istri tetapi lebih dari seorang suami, disebut keluarga inti poliandri.

  1. Rumah Tangga

            Rumah tangga adakalanya lebih luas dari pada keluarga inti, karena selain terdiri dari para anggota keluarga, masih ditambah pula dengan beberapa orang lain yang menumpang tinggal, misalnya orang tua, kerabat, pembantu, dan lain-lain.

            Suatu rumah tangga mungkin pula terdiri lebih dari satu keluarga inti.  Sebaliknya, rumah tangga mungkin lebih kecil daripada keluarga inti, apabila suami dan istri hidup terpisah (misalnya di dua kota besar). Keluarga inti poligami pun umumnya terbagi dalam dua rumah tangga yang terpisah, yaitu bagi setiap istri dengan anak-anak mereka masing-masing.

D.  Fungsi Keluarga Inti

1.      Warga dapat memperoleh dan mengharapkan bantuan serta  perlindungan dari sesama warga keluarga inti; dan

2.      Warganya diasuh dan memperoleh pendidikan awalnya ketika mereka belum mandiri.

3.      Meskipun demikian, tedapat dua fungsi tambahan, yaitu:

4.      Keluarga inti merupakan suau kelompok sosial dengan ekonomi rumah tangga yang mandiri, walaupun dalam hal ini seringkali banyak kecualinya; dan

5.      Melaksanakan pekerjaan-pekerjaan produktif (misalnya berladang, dan bertani di sawah), yang tentu saja banyak terkecualinya.

  1. Kelompok Kekerabatan

            Suatu gejala yang sekarang muncul di berbagai bagian dunia adalah keluarga inti yang tidak lengkap, tetapi berfungsi penuh. Keluarga-keluarga ini seperti biasanya terdiri dari ibu dan anak-anaknya, sementara ayah mereka tidak ada karena berbagai sebab.

            Keluarga seperti itu tetap berfungsi sebagai kesatuan matrifokal. Dalam bahasa lain, matrifokal dikenal juga dengan istilah, confugal family, basic family, primary family, dan elementary family.

            Bentuk keluarga inti seperti terurai di atas adalah kesatuan yang dalam antropologi dan sosiologi disebut kingroup, atau kelompok kekerabatan. Selain keluarga inti masih banyak bentuk kelompok kekerabatan lain.

            Murdock membedakan antara 3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi sosialnya, yaitu:

1.      Kelompok kekerabatan berkorporasi (istilah yang digunakan Murdock adalah corporate kingroups), yang sifatnya eksklusif dan biasanya memiliki ciri-ciri kelompok sosial pada umumnya;

2.      Kelompok kekerabatan kadang kala (occasional kingroups), yang menunjuk pada pengertian kelompok orang yang sudah tidak lagi berinteraksi secara terus menerus dan intensif, tetapi hanya berkumpul kadang-kadang saja;

3.      Kelompok kekerabatan menurut adat (circumscriptive kingroups). Kelompok ini bentuknya sudah sedemikian besar, sehingga warganya seringkali sudah tidak saling mengenal. Mereka umumnya hanya mengetahui tentang keberadaan seseorang (sebagai warga kelompok) berdasarkan tanda-tanda yang ditentukan adat. Rasa kepribadian kelompok sering kali juga ditentukan oleh tanda-tanda adat tersebut.

  1. Keluarga Luas

            Kelompok kekerabatan yang merupakan kesatuan sosial yang sangat erat terdiri dari lebih dari satu keluarga inti.

            Di daerah pedesaan, warga keluarga luas umumnya masih tinggal berdekatan, dan seringkali bahkan masih tinggal bersama-sama dalam satu rumah.

            Kedua fungsi utama keluarga inti, yaitu memberikan bantuan kepada sesama anggota keluarga luas, dan pengasuhan anak oleh semua anggota keluarga luas, menyebabkan bahwa keluarga inti dalam masyarakat seperti itu sudah hilang dan terlebur ke dalam keluarga luas.

            Kelompok kekerabatan berupa keluarga luas biasanya dikepalai oleh anggota pria yang tertua, bahkan juga dalam keluarga uxorilokal.

            Ada 3 macam keluarga luas, yang semua didasarkan pada suatu adat menetap sesudah menikah. Apabila adat itu berubah, maka keluarga luas dalam masyarakat pun akan retak dan akhirnya hilang. Ketiga macam keluaga luas itu adalah:

1.      Keluarga luas utrolokal (berdasarkan adat utrolokal), yang terdiri dari satu keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga inti anak-anaknya baik yang pria maupun wanita;

2.      Keluarga luas virilokal, yang (berdasarkan adat virilokal), yang terdiri dari keluarga inti senior dengan keluarga inti dari anak laki-lakinya; dan

3.      Keluarga luas uxorilokal (berdasarkan adat uxorilokal), yang terdiri dari keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga inti anak-anak wanita.

  1. Klen Kecil

            Istilah klen diambil dari istilah asing clan, yang sudah dikenal luas dalam antropologi, namun seringkali masih diartikan berbeda-beda.

            Istilah lain untuk paham klen kecil adalah minimal lineage, minor lineage, clan dan juga ramage.

            Kelompok kekerabatan yang terdiri dari beberapa keluarga luas keturunan dari satu leluhur disebut klen kecil.

            Ikatan kekerabatan berdasarkan hubungan melalui garis keturunan pria saja (patrilineal), atau yang melalui garis keturunan wanita (matrilineal), sehingga ada klen kecil patrilineal dan ada klen kecil matrilineal. Fungsi lengkap klen kecil adalah:

Fungsi Klen Kecil

1.      Memelihara harta pusaka atau memegang hak ulayat atau hak milik komunal atau harta produktif (tanah dengan segala hal yang ada di atas dan di bawahnya).

2.      Bergotong royong dalam melakukan pelbagai kegiatan mata pencaharian.

3.      Bergotong royong dalam melakukan pelbagai kegiatan sosial maupun pribadi.

4.      Mengatur perkawinan sesuai dengan adat eksogami.

  1. Klen Besar

            Klen besar, yaitu kelompok kekerabatan yang terdiri dari semua keturunan dari seorang leluhur, yang diperhitungkan melalui garis keturunan pria atau wanita, sehingga ada klen besar patrilineal dan klen besar matrilineal.

            Biasanya anggota klen besar sudah tidak saling mengenal, meskipun sudah saling tidak mengenal warga klen besar merasa dirinya terikat pada klen besar berkat adanya tanda-tanda lahir yang dimiliki klen besar yang bersangkutan, yaitu nama, nyanyian serta dongeng-dongeng suci tertentu, dan juga lambang-lambang.

Fungsi Klen Besar

1.      Mengatur perkawinan.

2.      Menyelenggarakan kehidupan keagamaan kelompok.

3.      Mengatur hubungan antar kelas dalam masyarakat, dan

4.      Dasar dari organisasi-organisasi politik.

  1. Fratri

            Kata ini menunjuk pada kelompok-kelompok kekerabatan patrilineal maupun matrilineal yang sifatnya lokal dan merupakan gabungan dari kelompok-kelompok klen setempat (biasanya klen kecil, tetapi bisa juga bagian dari klen besar). Penggabungan ini tidak selalu merata dan menyangkut seluruh klen besar.

 

ETNOGRAFI

 

  1. Pengertian Etnografi

            Etnografi, ditinjau secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atau hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun.

            Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian, dapat dianggap sebagai dasar dan asal-usul ilmu antropologi.

            Antropologi sebagai sebuah ilmu pengetahuan secara keseluruhan tergantung pada laporan-laporan kajian lapangan yang dilakukan oleh individu-individu dalam masyarakat-masyarakat yang nyata hidup. (Margaret Mead, 1970)

            Belajar tentang etnografi berarti belajar tentang, jantung dari ilmu antropologi, khususnya antropologi sosial. Ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi ini adalah sifatnya yang holistik-integratif. Teknik pengumpulan data yang utama adalah observasi-partisipasi, dan juga wawancara terbuka dan mendalam yang dilakukan dalam jangka waktu yang relatif, bukan kunjungan singkat dengan daftar pertanyaan yang terstruktur seperti pada penelitian survai.

  1. Asal Mula Etnografi

            Antropologi sebagai sebuah disiplin ilmu, baru lahir pada paruh kedua abad ke-20, dengan tokoh-tokoh atama seperti E.B. Taylor, James Frazer, dan L.H. Morgan. Usaha besar mereka adalah di dalam menerapkan teori evolusi biologi terhadap bahan-bahan tulisan tentang berbagai suku di dunia yang dikumpulkan oleh para musafir, penyebar agama Kristen, pengawal pemerintah kolonial dan penjelajah alam.

            Orientasi teoritis para peneliti terutama berkaitan dengan perubahan sosial dan kebudayaan. Tipe penelitian etnografi pada masa awal ini adalah “informan oriented” karena tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran masa lalu masyarakat tersebut. 

  1. Etnografi Modern

            Metode etnografi modern seperti yang umum dijalankan orang pada masa kini, baru muncul pada tahun 1915-1925, dan dipelopori oleh dua orang ahli antropologi sosial Inggris A.R. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski.

            Ciri penting yang membedakan mereka dari para etnografer awal adalah bahwa keduanya tidak terlalu memandang penting hal-ihwal yang berhubungan dengan sejarah kebudayaan suatu kelompok masyarakat. Perhatian utama mereka adalah pada kehidupan masa kini yang sedang dijalani oleh anggota masyarakat, yaitu tentang way of life masyarakat tersebut.

            Tujuan utama penelitian etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya suatu masyarakat. Pada masa ini budaya dideskripsikan sebagai the way of life  suatu masyarakat.

            Untuk mencapai tujuan tersebut, sang peneliti melaukan observasi sambil berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tersebut.

  1. Etnografi Baru

            Berbeda dengan etnografi modern yang dipelopori Radcliffe-Brown dan Malinowski yang memusatkan perhatiannya pada organisasi internal suatu masyarakat dan membanding-bandingkan sistem sosial dalam rangka untuk mendapatkan kaidah-kaidah umum tentang msyarakat.

            Etnografi baru memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana berbagai masyarakat mengorganisasikan budaya mereka dalam pikian mereka dan kemudian menggunakan budaya tersebut dalam kehidupan.

            Dalam etnografi modern, bentuk sosial dan budaya masyarakat dibangun dan dideskripsikan melalui analisis dan nalar sang peneliti. Struktur sosial dan budaya yang dideskripsikan adalah struktur sosial dan budaya masyarakat tersebut menurut interpretasi sang peneliti.

            Sedangkan dalam etnografi baru, bentuk tersebut dianggap merupakan susunan yang ada dalam pikiran (mind) anggota masyarakat tersebut, dan tugas sang peneliti adalah mengoreknya keluar dari pikiran mereka.

            Spradley (1980), mendefinisikan budaya sebagai sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses belajar, yang mereka gunakan untuk menginterpretasikan dunia sekeliling mereka, dan sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekeliling mereka.

            Spradley tidak lagi menganggap antropologi sebagai satu ilmu tentang “other cultures”, tentang masyarakat kecil yang terisolasi dan hidup dengan teknologi sederhana. Antropologi telah menjadi alat yang fundamental untuk memahami masyarakat kita sendiri dan masyarakat multikultural di seluruh dunia.

 

 

 

 

 


BAB III PENUTUP

 

A.    KESIMPULAN

 

KELOMPOK 1

      Antropologi yaitu sebuah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, aspek politik, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan lainnya yang bermanfaat.

      Obyek antropologi adalah manusia dalam masyarakat, suku bangsa, perilakunya, dan kebudayaannya. Adapun tujuan antropologi dibagi dua akademis dan praktis. Tujuan akademisnya berusaha memberi pengertian tentang manusia sebagai masyarakat, suku bangsa, perilaku dan kebudayaannya. Tujuan praktis adalah mempelajari manusia, perilaku, dan kebudayaanya guna membangun masyarakat suku bangsa itu sendiri.

      Pokok bahasan atau ruang lingkup antropologi ada dua yaitu antropologi fisik yang membahas manusia yang terkait dengan ciri-ciri fisiknya dan antropologi budaya yang memusatkan perhatian pada manusia sebagai makhluk sosial dalam masyarakat dan juga pada kebudayaan yang dihasilkan manusia tersebut.

Dengan demikian hakikat antropologi sebagai ilmu pengetahuan adalah :

§  merupakan ilmu sosial

§  bersifat normatif

§  tergolong ke dalam ilmu murni dan juga ilmu terapan

§  ilmu pengetahuan yang abstrak

§  bertujuan menghasilkan pengertian dan pola umum manusia dan masyarakatnya

§  merupakan ilmu pengetahuan umum

KELOMPOK 2

      Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.

KELOMPOK 3

      Perkembangan merupakan suatu deretan perubahan yang tersusun dan berarti yang berlangsung pada individu dalam jangka waktu tertentu lebih merujuk pada kemajuan mental atau perkembangan aktivitas belajar Bagi setiap individu tidak dapat selamanya berlangsung secara wajar, dapat terjadi dengan lancar atau sebaliknya.

KELOMPOK 4

      Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial dan memiliki naluri untuk hidup berdampingan bersama manusia yang lainnya. Manusia satu yang bersatu dengan manusia lainnya dalam suatu wilayah tertentu akan membentuk sebuah masyarakat. Dari masyarakat inilah akan lahir nilai-nilai bermasyarakat yang berkembang menjadi kebudayaan. Masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan sosial.  Mereka mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi,  sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan.

KELOMPOK 5

      Manusia hidup karena adanya kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan kadang kala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.

      Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan banyaknya pulau tersebut Indonesia memiliki beragam budaya yang sangat banyak sekali. Perkembangan budaya Indonesia telah dimulai sejak nenek moyang kita terdahulu. Namun, beberapa tahun kebelakangan ini kebudayaan di Indonesia berada dalam masa yang mengecewakan di mana banyak budaya kita yang lepas dari genggaman kita.

KELOMPOK 6

      Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran daripada budi dan daya. Seluruh apa yang difikir, dirasa dan direnung diamalkan dalam bentuk daya menghasilkan kehidupan. Budaya adalah cara hidup sesuatu bangsa atau umat.

      Kebudayaan" mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan "masyarakat". "Masyarakat" memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya. Kebutuhan-kebutuhan "masyarakat" tersebut sebagian besar dipenuhi oleh "kebudayaan" yang bersumber pada "masyarakat" itu sendiri. Karena kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan "kebudayaan" yang merupakan hasil ciptaannya juga terbatas di dalam memenuhi segala kebutuhan.

      Evolusi adalah perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama dan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana dan kehendak tertentu.

KELOMPOK 7

      Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Sedangkan, Etnografi adalah sejenis metode penelitian terapan untuk penemuan relevansi sosiokultural dengan mengeksplorasi model-model kehidupan sehari-hari dan interaksi kelompok-kelompok sosial-budaya (divisi budaya) tertentu dalam ruang atau konteks tertentu.

KULIAH 11

Secara umum, Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.

      Sedangkan, Antropologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan Antropologi.

      Pendidikan merupakan proses pembudayaan, strategi pembudayaan, dan  substansi pembudayaan. Pendidikan sebagai proses pembudayaan harus  mampu melahirkan interaksi individu-individu yang berbudaya. Pendidikan sebagai  strategi pembuda-yaan,  harus mampu menciptakan iklim pembelajaran yang ber-budaya. Dan, pendidikan  sebagai substansi pembudayaan,  harus memiliki arah penciptaan  insan-insan yang berbudaya.

Ranah Belajar

·         Kognitif

·         Afektif

·         Psikomotorik

KULIAH 12

      Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan dapat dilihat dari bentuk fisik dan pola pikir.

Asal usul manusia dapat dilihat pada teori ilmiah dan menurut agama

      Kebudayaan dapat didefinisikan segala daya upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan rohani maupun jasmani. Definisi kebudayaan selalu berbeda-beda:

      Pertama, karena setiap orang dapat menafsirkan atau menghubungkan kebudayaan dengan kondisi daerah tertentu.

      Kedua, kebudayaan adalah ilmu sosial, sehingga setiap ahli dan pembaca dapat menafsirkan secara berbeda-beda. Penafsiran sangat tergantung kepada pengalaman setiap orang.

      Ketiga, kebudayaan bersifat dinamis, sehingga para ahli dapat menafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman pada saat definisi kebudayaan itu diciptakan.

KULIAH 13

      Pada awalnya kebudayaan manusia sangat sederhana, karena sesuai dengan perkembangan pola pikir manusia.

      Manusia lahir ke dunia tanpa ada budaya. Apa yang dilakukan pada tahap kehidupan dari awal dan seterusnya menjadi budaya.

      Berdasarkan proses terjadinya perubahan pola pikir manusia, membawa perubahan pada manusia sendiri.

1)      Zaman Paleolithikum (Zaman Batu Tua)

2)      Zaman Mezolithikum (Zaman Batu Tengah)

3)      Zaman Neolithikum (Zaman Batu Baru)

4)      Zaman Megalithikum (Zaman Modern)  

5)      Zaman Penemuan Dunia Baru

      Manusia dilahirkan ke atas bumi, baik secara teori ilmiah maupun menurut agama, tanpa dilengkapi dengan kebutuhan hierarki (paling rendah atau paling tinggi) kata Abraham Maslow (1980) untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan.

      Manusia memiliki sifat-sifat yang melekat sekaligus menjadi perilaku manusia di atas bumi. Sifat-sifat tersebut dinamis dan fleksibel terhadap diri dan lingkungannya.

1)      Manusia ingin tahu

2)      Manusia kagum terhadap ciptaan Tuhan

3)      Manusia menyukai tantangan

4)      Manusia menyukai teman

      Kesempurnaan manusia dapat dilihat dari berbagai aspek dan perannya pada berbagai bidang yang ada di atas alam. Segala isi alam yang tercipta, semuanya diperuntukan bagi manusia.

1)      Manusia dan ruang

2)      Manusia dan waktu

3)      Manusia dan lingkungan

KULIAH KE 15

Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Pranata adalah suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu kepentingan khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat. Dengan menikah, sepasang suami-istri membentuk suatu kesatuan sosial yang disebut rumah tangga, yaitu kesatuan yang mengurus ekonomi rumah tangga

Etnografi, ditinjau secara harfiah, berarti tulisan atau laporan tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atau hasil penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian, dapat dianggap sebagai dasar dan asal-usul ilmu antropologi.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengelolaan Pemberdayaan Masyarakat

  RESUME PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Disusun oleh, Putry Anjani  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS KEGURU...