LAPORAN MATERI PERKULIAHAN
ETNOLOGI
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Individu
Mata
Kuliah : Etnologi
Disusun
Oleh,
Putry
Anjani
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Laporan Materi
Perkuliahan Etnologi.
Tugas
Laporan Materi Perkuliahan ini berisi pembahasan mengenai materi perkuliahan dari awal semester yang di dalamnya
memaparkan berbagai macam pembahasan mengenai apa saja yang terdapat didalam mata kuliah Etnologi.
Kami mengucapkan
terimakasih kepada ...... selaku dosen mata kuliah Etnologi yang telah memberikan tugas untuk membuat laporan materi perkuliahan serta memberikan
bimbingan dalam penyusunan.
Disamping itu kami
menyadari bahwa laporan
materi perkuliahan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat di harapkan untuk perbaikan laporan materi perkuliahan ini kedepannya. Semoga laporan materi perkuliahan ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca.
Karawang, 27 Desember 2021
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER
KEDUDUKAN
ANTROPOLOGI PADA JURUSAN PLS
PENDEKATAN
ANTROPOLOGI SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN YANG MEMBAHAS TENTANG MANUSIA
PERSPEKTIF PERKEMBANGAN MANUSIA
PERSPEKTIF PERKEMBANGAN MASYARAKAT
SISTEM NILAI
BUDAYA DAN ETNOGRAFI
PENDEKATAN
ANTROPOLOGI DALAM MENGKAJI PENDIDIKAN
IMPLIKASI
ANTROPOLOGI DALAM PENDIDIKAN
PERADABAN
MANUSIA DARI ZAMAN KE ZAMAN
BAB I PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Ilmu antropologi merupakan salah satu ilmu
sosial yang mempelajari tentang manusia. Ilmu Antropologi mempelajari manusia
secara holistis, mulai dari asal dan perkembangan manusia, ragam ciri fisik
manusia, hingga persebaran dan perkembangan kebudayaan manusia.
Etnologi merupakan salah satu cabang ilmu
antropologi, yang mempelajari berbagai suku bangsa dan aspek kebudayaan, serta
hubungan antara satu bangsa lainnya. Kata etnologi berasal dari kata etnis,
yang berarti suku bangsa.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana
kedudukan antropologi pada jurusan Pendidikan Luar Sekolah?
2. Apa
saja pendekatan antropologi sebagai ilmu pengethuan yang membahas tentang
manusia?
3. Bagaimana
perspektif perkembangan manusia?
4. Bagaimana
perspektif perkembangan masyarakat?
5. Apa
itu kebudayaan?
6. Bagaimana
dinamika masyarakat dan budaya?
7. Bagaimana
sistem nilai budaya dan etnografi?
C.
TUJUAN
Tujuan
penulis dalam penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk
memenuhi tugas mata kuliah Etnologi.
2. Untuk
mengetahui kedudukan antropologi pada jurusan Pendidikan Luar Sekolah
3. Untuk
mengetahui pendekatan antropologi sebagai ilmu pengetahuan yang membahas
tentang manusia.
4. Untuk
mengetahui perspektif perkembangan manusia.
5. Untuk
mengetahui perspektif perkembangan masyarakat.
6. Untuk
mengetahui tentang kebudayaan.
7. Untuk
mengetahui dinamika masyarakat dan budaya.
8. Untuk
mengetahui sistem nilai budaya dan etnografi.
BAB II PEMBAHASAN
KELOMPOK 1
KEDUDUKAN ANTROPOLOGI PADA JURUSAN PLS
Kharisma Prameswari (2010631040044)
Laila Ainu Rohmah (2010631040045)
Gusfiarli Putra (2010631040040)
A. Pengertian
Antropologi
Antropologi adalah
salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu
etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan
orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang
berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.
Definisi Antropologi menurut para Ahli
1.
William
A. Havilland
2.
David
Hunter
3.
Koentjaraningrat
B. Fase-fase
perkembangan ilmu antropologi dibagi menjadi empat fase (Koentjaraningrat. 2009 : 1- 4)
1.
Fase
pertama (sebelum
tahun 1800-an)
2.
Fase
kedua (pertengahan
abad ke-19)
3.
Fase
ketiga (permulaan
abad ke-20)
4.
Fase
keempat (setelah
tahun 1930-an)
C. Istilah-istilah
yang berhubungan dengan antropologi
1.
Ethnography
2.
Ethonology
3.
Volkerkunde
4.
Kulturkunde
5.
Cultural
Anthropology
6.
Social
Anthropology
D. Kedudukan
antropologi dalam pengetahuan
Sebelum manusia
mengenal ilmu pengetahuan (science), manusia lebih dulu mengenal pengetahuan
(knowledge).
Pengetahuan sendiri
adalah segenap yang diketahui manusia sebagai hasil kerja pancainderanya
contohnya pengetahuan tentang bintang di langit karena melihatnya dimalam hari,
tapi tidak semua pengetahuan dapat diperoleh hanya dengan mengandalkan hasil
kerja pancaindera saja, ada pengetahuan yang cara memperolehnya harus melalui
cara-cara yang bersifat sistematis dengan menggunakan logika dan telah teruji secara
obyektif kebenarannya.
Kata Antropologi juga
berasal dari bahasa latin yaitu antropos yang berarti manusia dan logos yang
berarti ilmu. Secara etimologi berarti ilmu tentang manusia. Secara keilmuan
antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman.
E. Ciri-ciri
antropologi sebagai ilmu pengetahuan
Obyek antropologi
adalah manusia dalam masyarakat, suku bangsa, perilakunya, dan kebudayaannya.
Adapun tujuan antropologi dibagi dua akademis dan praktis.
Pokok bahasan atau
ruang lingkup antropologi ada dua yaitu:
§ Antropologi Fisik
§ Antropologi Budaya
Hakikat antropologi sebagai ilmu pengetahuan adalah
:
§ merupakan ilmu sosial
§ bersifat normatif
§ tergolong ke dalam ilmu murni dan juga ilmu terapan
§ ilmu pengetahuan yang abstrak
§ bertujuan menghasilkan pengertian dan pola umum
manusia dan masyarakatnya
§ merupakan ilmu pengetahuan umum
F. Metode
yang digunakan ilmu antropologi dalam mempelajari gejala-gejala kemasyaraktan
1.
Pengumpulan
fakta
2.
Penentuan
ciri-ciri umum dan system (klasifikasi)
3.
Verifikasi
(pengujian)
G. Implikasi
Landasan Antropologi Dalam Pendidikan Masyarakat (PLS)
1.
Identifikasi
kebutuhan belajar masyarakat
2.
Keterlibatan
partisipasi masyarakat
3.
Pemberian
pendidikan kecakapan hidup
H. Aplikasi
Landasan Antropologi Dalam Pendidikan Saat Ini
1. Model pembelajaran berbasis budaya lokal.
2. Metode pembelajaran karya wisata
3. Pembelajaran dengan modelling
KELOMPOK 2
PENDEKATAN ANTROPOLOGI SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN YANG
MEMBAHAS TENTANG MANUSIA
Putri Zahara (2010631040011)
Endah Aulya
Qurota Ayun (2010631040036)
Fivo Atanta
Fuadi (2010631040039)
Nurusy Syifa (2010631040072)
A.
Pengertian
Antropologi
Secara etimologi (bahasa)
Antropologi berasal dari bahasa
Yunani
Anthropos : manusia.
Logos : ilmu pengetahuan atau wacana.
Antropologi Menurut Ahli :
§ Keesing (1981)
§ Haviland (1985)
§ Prof Harsojo
B.
Ruang Lingkup
Antropologi
1. Antropologi fisik (Physical
Antropology/Antropo-biologi)
2. Antropologi Budaya (Cultural
Antropology)
C.
Cabang Ilmu
Antropologi
1. Somatologi
2. Palaeoantropologi
3. Prehistory
4. Etnolinguistik
5. Etnologi
6. Etnopsikologi
D.
Manfaat Mempelajari Antropologi
1. Antropologi membuat manusia bisa
memahami manusia lannya
2. orang dapat memahami kdudukan
manusia dalam masyarakat dan mendapatkan pengetahuan baru
3. Memahami beragam norma, tradisi,
keyakinan, hingga nilai-nilai pada masyarakat tertentu yang mereka anut.
4. Antropologi dapat menjadikan
seseorang lebh kritis, tanggap, dan rasional saat bertemu dengan gejala sosial
masyarakat yang cukup kompleks.
5. Antrolopogi menyusun
etnografi-etnografi yang memungkinkan terjadinya penciptaan teori
KELOMPOK 3
PERSPEKTIF
PERKEMBANGAN MANUSIA
Hilda Gustiani Rahman
May Adelin
Moch Iqbal Haikal Yasin
Mutiara Carissima
A.
Pengertian
Pekembangan
Perkembangan
adalah pola perubahan yang dimulai sejak masa pembuahan dan terus berlangsung
selama masa hidup manusia. Sebagian besar perkembangan mencakup pertumbuhan,
meskipun juga mencakup kemunduran yang disebabkan oleh proses penuaan dan
kematian.
B.
Perspektif Manusia Berlangsung Sepanjang Hidup
Perkembangan
manusia berlangsung sepanjang hidup. Tidak ada suatu periode usiapun yang
mendominasi perkembangan manusia.
•
Perkembangan manusia bersifat multidimensi. Berapapun usia kita, pada
dasarnya tubuh, pikiran, emosi dan relasi kita selalu berubah dan saling
berinteraksi.
•
Perkembangan manusia bersifat multiarah. Sepanjang kehidupan, sejumlah
dimensi atau komponen dari suatu dimensi tertentu akan berkembang, sementara
yang lain akan menyusul.
•
Perkembangan manusia bersifat plastis. Plastisitas berarti kapasitas
untuk berubah. Sebagai contoh: masih mampukah kita meningkatkan keterampilan
intelektual ketika sudah berusia 70 atau 80 tahun? Atau mungkin pada usia 30
keterampilan intelektual kita stagnan, sehingga tidak ada upaya yang dapat
ditempuh untuk meningkatkannya?
Menurut Baltes (2003)
Seperti
halnya individu, senantiasa mengalami
perubahan. Dengan demikian, individu adalah mahluk hidup yang sedang berubah di
dalam dunia yang juga sedang berubah. Sebagai akibat dari perubahan ini,
konteks memiliki tiga tipe pengaruh, yaitu:
1.
Perkembangan manusia berlangsung sepanjang hidup.
2.
Perkembangan
manusia berdasarkan sejarah
3.
Peristiwa hidup yang bersifat non normatif
C.
Karakteristik
Perkembangan Manusia
- Batas atas dari masa hidup
manusia atau human life
- Faktor yang berubah adalah
harapan hidup (life expectancy)
- Harapan hidup penduduk AS
adalah 78 tahun.
Namun
tak hanya itu Keyakinan bahwa perkembangan itu berlangsung sepanjang hidup
merupakan keyakinan utama bagi perspektif ini juga memiliki karakteristik
lainnya. Seperti, Perspektif masa hidup (life-span perspective) dan menurut
Baltes.
D.
Beberapa Persoalan Kontemporer
1.
Kesehatan dan kesejahteraan.
Para profesional di bidang kesehatan zaman sekarang menyadari besarnya pengaruh
dari gaya hidup dan kondisi psikologis terhadap kesehatan dan kesejahteraan.
2.
Pengasuhan dan pendidikan.
Menganalisis perawatan anak, dampak perceraian, gaya pengasuhan, relasi
antargenerasi, pendidikan pada masa kanak-kanak awal dan berbagai isu lainnya
yang berkaitan dengan pengasuhan dan pendidikan.
3.
Konteks dan keragaman
sosiobudaya. Kesehatan, pengasuhan orang tua dan pendidikan – seperti halnya
perkembangan – semuanya dibentuk oleh konteks sosiobudaya. Untuk dapat
menganalisis konteks ini, terdapat empat konsep yang bermanfaat secara khusus,
yaitu: budaya, etnisitas, status sosioekonomi dan gender.
4.
Kebijakan sosial (social
policy) adalah serangkaian tindakan pemerintah yang dirancang untuk
meningkatkan kesejahteraan warganya.
E.
Sifat-sifat
Perkembangan
Perkembangan (development) sebagai
pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan dan berlangsung terus sepanjang
masa hidup. Pola tersebut bersifat kompleks karena merupakan hasil dari proses
biologis, kognitif dan sosioemosi.
1. Proses biologis
2. Proses kognitif
3. Proses sosioemosi
F.
Pentingnya Usia
- Usia
dan Kebahagiaan. Beberapa studi terhadap orang
dewasa menemukan bahwa kebahagiaan meningkat seiring dengan usia. Menjadi
tua adalah sebuah kepastian dari semua mahluk hidup, karena itu baik bagi
kita untuk mengetahui bahwa kita akan sama bahagianya atau bahkan lebih
bahagia sebagai orang dewasa tua seperti halnya ketika kita masih muda.
- Konsepsi
mengenai usia.
a.
Usia kronologis à jumlah tahun yang telah dilewati seseorang sejak dilahirkan.
b.
Usia biologis à usia seseorang ditinjau dari kesehatan biologisnya.
c.
Usia psikologis à kapasitas adaptif individu dibandingkan dengan kapasitas adaptif
individu yang memiliki usia kronologis yang sama.
d.
Usia sosial à merujuk pada peran-peran dan harapan-harapan sosial yang terkait dengan
usia seseorang.
Dari perspektif masa hidup, keseluruhan profil usia individu melibatkan
tidak hanya usia kronologis, namun juga usia biologis, usia psikologis dan usia
sosial. Sebagai contoh: seorang pria
usia 70 tahun (usia kronologis) dapat memiliki fisik yang sehat (usia
biologis), mengalami masalah memori dan mungkin bermasalah dalam hal tanggung
jawab merawat istrinya yang baru saja keluar dari rumah sakit (usia psikologis)
dan memiliki sejumlah kawan yang dapat diajak bermain golf secara teratur (usia
sosial).
G.
Isu-isu
Perkembangan
Bawaan dan pengasuhan. Isu bawaan dan
pengasuhan (nature-nurture issue) adalah isu-isu yang berkaitan dengan
sejauh mana perkembangan dipengaruhi oleh bawaan dan pengasuhan. Bawaan (nature)
merujuk pada warisan biologis mahluk hidup; sedangkan pengasuhan (nurture)
merujuk pada pengalaman lingkungan.
Stabilitas dan perubahan. Isu
stabilitas-perubahan (stability-change issue) yang melibatkan sejauhmana
sifat-sifat dan karakteristik-karakteristik awal akan terus menetap atau akan
mengalami perubahan.
Kontinuitas dan diskontinuitas. Isu
kontinuitas-diskontinuitas (continuity-discontinuity issue) berfokus
pada sejauh mana perkembangan terjadi secara bertahap dan melibatkan perubahan
yang bersifat kumulatif (kontinu) atau tahap-tahap yang berbeda (diskontinu).
KELOMPOK
4
PERSPEKTIF
PERKEMBANGAN MASYARAKAT
Putry Anjani (2010631040012)
Fitra
Sadilah (2010631040038)
Indah
Nurfauziah (2010631040042)
Mukhyar Hardi (2010631040070)
A.
PENGERTIAN MASYARAKAT
Secara
umum pengertian masyarakat
adalah sekumpulan individu-individu/ orang
yang hidup bersama,
masyarakat disebut dengan
“society” artinya adalah
interaksi sosial, perubahan sosial, dan rasa kebersamaan,
berasal dari kata latin socius yang berarti (kawan).
Menurut para ahli:
·
Karl
Marx
·
Emile
Durkheim
·
Mac
Iver dan Page
·
Ralph
Linton
·
Selo
Soemardjan
B.
CIRI-CIRI MASYARAKAT
1. Berada di Wilayah Tertentu
2. Hidup Secara
Berkelompok
3. Terdapat Suatu
Kebudayaan
4. Terjadi
Perubahan
5. Terdapat Interaksi Sosial
6. Terdapat Pemimpin dan Stratifikasi
Sosial
C.
UNSUR-UNSUR MASYARAKAT
1. Sekumpulan orang banyak
2. Golongan sosial
3. Perkumpulan
4. Kelompok
D.
MACAM-MACAM MASYARAKAT
- Masyarakat Primitif/Sederhana
- Masyarakat Modern
Cara terbentuknya masyarakat
mendatangkan pembagian masyarakat, di antaranya:
a. Masyarakat Paksaan
b. Masyarakat Merdeka
E.
JENIS MASYARAKAT MENURUT LINGKUNGAN
HIDUPNYA
- Masyarakat Primitif
- Masyarakat Kota
- Masyarakat Desa
F.
FUNGSI MASYARAKAT
Menurut Soedjono Soekanto, fungsi
masyarakat adalah:
- Fungsi Adaptasi
- Fungsi Integrasi
- Fungsi Mempertahankan
- Fungsi Pencapaian Tujuan
G.
FUNGSI SOSIAL MASYARAKAT
- Social Standards
- Social Alignment
- Social Controls
- Social Media
H. STRATIFIKASI SOSIAL
Menurut Pitirim A. Sorokin stratifikasi sosial adalah
sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun
secara bertingkat (hierarki). Perwujudannya adalah adanya kelaskelas tinggi dan
kelas-kelas yang lebih rendah. Menurut Sorokin, dasar dan inti dari
lapisan-lapisan dalam masyarakat adalah tidak adanya keseimbangan dalam
pembagian hak-hak dan kewajiban-kewajiban, dan tanggung-jawab nilai-nilai
sosial dan pengaruhnya diantara anggota masyarakat.
I.
KONSEP MASYARAKAT YANG BAIK
Konsep
masyarakat yang baik menurut Talizi (1990), yaitu :
- Setiap
anggota masyarakat beriteraksi satu dengan yang lain berdasarkan hubungan
pribadi.
- Memiliki
otonomi, kewenangan, dan kemampuan mengurus kepentingan sendiri.
- Memiliki
viabilitas, kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri.
- Distribusi
kekayaan yang merata, setiap orang berkesempatan sama dan bebas.
- Kesempatan
setiap anggota untuk berpartisipasi aktif dalam mengurus kepentingan
Bersama.
- Makna
penting untuk setiap anggotanya.
- Di
dalam komunitas dimungkinkan adanya heterogenitas dan beda pendapat.
- Pelayanan
masyarakat bias terjadi konflik, oleh sebab itu diperlukan kemampuan untuk
memanagement conflict.
KELOMPOK 5
KEBUDAYAAN
Siti humairoh (2010631040014)
Febriya
Nurhidayah (2010631040037)
Jihan Fahira Al
habsyi (2010631040043)
M Habib Royyan (2010631040047)
A.
Pengertian
Kebudayaan
Kebudayaan
adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok
orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak
unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat
istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Sebagaimana
juga budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga
banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.
Seseorang
bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan
menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa
budaya bisa dipelajari.
Pengertian Budaya menurut Ahli
·
EB. Tylor
·
R. linton
·
Koentjaraningrat
·
Selo soemardjan
B.
Perwujudan
kebudayaan
1. Perilaku
2. Bahasa
3. Materi
C.
Sifat sifat
kebudayaan
1. Budaya mencakup
peraturan peraturan yg berisi kewajiban kewajiban, tinfakn tindakan yg diterima
atau ditolak, tindakan tindakan yg dilarang, dan tindakan yg diiizinkan.
2. Budaya terwujud
dan tersalurkan dari perilaku manusia.
3. Budaya telah
ada terlebih dahulu dari pada lahirnya suatu generasi ternetu dan tidak akan
mati dengan habisnya generasi yg
bersangkutan.
4. Budaya
diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah laku
D.
Sistem
Kebudayaan
1.Kebudayaan material
2.Kebudayaan non
material
E.
Subtansi
Kebudayaan
1.
Sistem pengetahuan
2.
Kepercayaan
3.
Presepsi
4.
Etos kebudyaan
KELOMPOK 6
DINAMIKA MASYRAKAT DAN BUDAYA
Harum Sumitra
Naila Rizky Amelia
Nisrina Nurhaliza S
A.
Budaya/Kebudayaan
Budaya atau kebudayaan
berasal dari Bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak
dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal berkaitan dengan budi
dan akal manusia.
Dalam bahasa inggris.
Kebudayaan disebut juga culture, yang berasal dari kata latin colere, yaitu
mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan sebagai mengolah tanah atau bertani.
Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam Bahasa Indonesia.
Budaya dalam pengertian yang luas adalah pancaran daripada budi dan daya.
B.
Dinamika Masyarakat
Dinamika masyarakat
merupakan suatu kehidupan masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih individu
dalam suatu wilayah yang memiliki hubungan psikologis secara jelas antara
masyarakat yang satu dengan yang lain dan berlangsung dalam situasi yang dialami.
C.
Fungsi Kebudayaan Bagi Masyarakat
“Kebudayaan“mempunyai
fungsi yang sangat besar bagi manusia dan “Masyarakat” memiliki
kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya.
Kebutuhan-kebutuhan “Masyarakat” tersebut sebagian besar dipenuhi oleh
“Kebutuhan” yang bersumber pada “Masyarakat” itu sendiri.
“Masyarakat” yang sudah
kompleks yang taraf “Kebudayaan” lebih tinggi, kondisinta sudah berlainan
dengan taraf permulaan. Hasil karya manusia yaitu teknologi, memberikan
kemungkinan-kemungkinan yang sangat luas untuk memanfaatkan hasil-hasil alam
dan apabila kemungkinan akan menguasai alam.
D.
Evolusi Masyarakat dan Kebudayaan
Pengertian Evolusi
Evolusi adalah
perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama dan rentetan perubahan kecil
yang saling mengikuti dengan lambat.
Macam-Macam evolusi
1. Unilinear theories evolution
Variasi dari teori ini cyclical theorist uang berpendapat bahwa
masyarakat dan kebudayaan mempunyai
tahap perkembangan
2. Universal theories of evolution
Teori ini dikemukakan oleh herbert spencer yang mengatakan masyarakat
merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen ke kelompok heterogen, baik
sifat maupun susunannya.
3. Mattilined theories of evolution
Penelitian ini dalam perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat.
§ Akulturasi
Akulturasi ini adalah suatu proses saling mempengaruhi antara
kebudayaan yang saling berinteraksi. Kebudayaan yang satu di pengaruhi oleh
kebudayaan yang lain.
§ Asimilasi
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Proses ini
ditandai dengan adanya usaha mengurangi perbedaan.
E.
Faktor Yang Menyebabkan Perubahan Sosial
Sebab dari dalam masyarakat
1. Bertambahnya atau berkurangnya penduduk
2. Adanya penemuan-penemuan baru
3. Pertentangan konflik/masyarakat
4. Terjadinya pemberontakan atau evolusi
Sebab dari luar masyarakat
1. Bencana alam
2. Peperangan
3. Pengaruh budaya lain
F.
Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Nilai
Budaya
1.
Jarak
komunikasi antara kelompok dan etnis
2.
Pelaksanaan
pembangunan
Pelaksanaan pembangunan yang terus menerus
akan dapat merubah system nilai ke arah yang positif dan negative
1.
Pergeseran
sistem nilai yang mengarah ke perbaikan antara lain
2.
Pergeseran
sistem nilai yang mengarah negatif antara lain
3.
Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi
KELOMPOK
7
SISTEM NILAI BUDAYA DAN ETNOGRAFI
Nabila Dwi Puspita W
(2010631040071)
Nur Shifa Fauzia (2010631040050)
Rahma Nurdita (2010631040013)
A. Pengertian
1. Sistem
Sistem merupakan istilah dari bahasa yunani
“system” yang artinya adalah himpunan bagian atau unsur yang saling berhubungan
secara teratur untuk mencapai tujuan bersama.
2. Nilai Budaya
Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai
yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi,
lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan
(believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan
satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi
atau sedang terjadi.
Nilai-nilai budaya akan tampak pada
simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan
pokok moto suatu lingkungan atau organisasi.
3. Sistem Nilai Budaya
Sistem Nilai Budaya, Pandangan Hidup, dan
Ideologi. Sistem budaya merupakan tingkatan tingkat yang paling tinggi dan
abstrak dalam adat istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai – nilai budaya itu
merupakan konsep – konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian
besar dari dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai
, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu
pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat
itu sendiri.
Nilai – nilai budaya ini bersifat umum ,
luas dan tak konkret maka nilai – nilai budaya dalam suatu kebudayaan tidak
dapat diganti dengan nilai-nilai budaya yang lain dalam waktu yang singkat.
Dalam masyarakat ada sejumlah nilai budaya yang satu dan yang lain berkaitan
satu sama lain sehingga merupakan suatu sistem, dan sistem itu sebagai suatu
pedoman dari konsep –konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat
terhadap arah kehidupan masyarakat.
B.
Lima masalah dasar dalam
kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi sistem nilai
budaya
1. Masalah mengenai hakekat
dari hidup manusia.
Ada kebudayaan yang memandang hidup manusia
itu pada hakekatnya suatu hal yang buruk dan menyedihkan.Pada agama Budha
misalnya,pola–pola tindakan manusia akan mementingkan segala usaha untuk menuju
arah tujuan bersama dan memadamkan hidup baru. Adapun kebudayaan – kebudayaan
lain memandang hidup manusia dapat mengusahakan untuk menjadikannya suatu hal
yang indah dan menggembirakan.
2. Masalah mengenai hakekat
dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu.
Kebudayaan memandang penting dalam
kehidupan manusia pada masa lampau, keadaan serupa ini orang akan mengambil
pedoman dalam tindakannya contoh – contoh dan kejadian- kejadaian dalam masa
lampau. Sebaliknya ada kebudayaan dimana orang hanya mempunyai suatu pandangan
waktu yang sempit. Dalam kebudayaan ini perencanaan hidup menjadi suatu hal
yang sangat amat penting.
3. Masalah mengenai hakekat
dari karya manusia.
Kebudayaan memandang bahwa karya manusia
bertujuan untuk memungkinkan hidup,kebudayaan lain menganggap hakekat karya
manusia itu untuk memberikannya kehormatan,ada juga kebudayaan lain yang
menganggap karya manusia sebagai suatu gerak hidup yang harus menghasilkan
lebih banyak karya lagi.
4. Masalah mengenai hakekat
hubungan manusia dengan alam sekitarnya
Kebudayaan yang memandang alam sebagai
suatu hal yang begitu dahsyat sehingga manusia hanya dapat bersifat menyerah
tanpa dapat berusaha banyak.
Sebaliknya ,banyak pula kebudayaan lain
yang memandang alam sebagai lawan manusia dan mewajibkan manusia untuk selalu
berusaha menaklukan alam. Kebudayaan lain masih ada yang menganggap bahwa manusia dapat berusaha mencari keselarasan
dengan alam.
5. Masalah mengenai hakekat
hubungan manusia dengan sesamanya.
Ada kebudayaan yang mementingkan hubungan vertikal antara
manusia dengan sesamanya. Tingkah lakunya akan berpedoman pada tokoh – tokoh
pemimpin. Kebudayaan lain mementingkan hubungan horizontal antara manusia dan
sesamanya. Dan berusaha menjaga hubungan baik dengan tetangga dan sesamanya
merupakan suatu hal yang penting dalam hidup. Kecuali pada kebudayaan lain yang
tidak menganggap manusia tergantung pada manusia lain, sifat ini akan
menimbulkan individualisme
C. Etnografi
Etnografi adalah sejenis
metode penelitian terapan untuk penemuan relevansi sosiokultural dengan
mengeksplorasi model-model kehidupan sehari-hari dan interaksi
kelompok-kelompok sosial-budaya (divisi budaya) tertentu dalam ruang atau
konteks tertentu.
D. Jenis Penelitian Etnografi
Sejarah kehidupan,
autoethnografi, etnografi baru, etnografi feminis, etnografi media elektronik,
fotografi, video, audio, dan sebagainya.
1. Etnografi Realis
2. Etnografi Kritis
E. Fokus Penelitian Etnografi
1. Mengkaji kebudayaan dalam
masyarakat
2. Melihat tingkah laku
sosial masyarakat sebagaimana adanya
F. Cara
Pengumpulan Data Dalam Metode Etnografi
1. Participant Observation
2. Observer Participation
G.
Varian Etnografi
1. Berdasarkan cakupan
realitas yang diriset :
a.
Etnografi Makro
b.
Etnografi Mikro
2. Bedasaarkan tataran analisis
a. Bedasarkan tataran
analisis
b. Etnografi Kritis
3. Berdasarkan fokus
realitas yang diriset
a.
Etnografi Komunikasi
b.
Ettnografi analisis isi
H. Tahapan Penelitian
Etnografi
1. Menetapkan Komunitas
Budaya
2. Menentukan Permasalahan
3. Menetapkan Informan
sebagai Subjek Risetnya
4. Mengobservasi Informan
5. Catat Hasil Observasi
6. Analisis Hasil Observasi
7. Menemukan Tema Budaya
Hasil Eksplorasi
8. Menulis Laporan
I. Kelebihan
1. memberikan wawasan
tentang aspek kehidupan sosial
2. menjelaskan apa yang
diterima begitu saja dan mana yang tidak diucapkan dalam suatu komunitas
3. mengembangkan pemahaman
yang kaya dan berharga tentang makna budaya dari praktik dan interaksi
4. pengamatan terperinci
yang dilakukan dalam penelitian etnografi juga dapat membuktikan bias negatif
atau stereotip tentang populasi yang dipertanyakan
J.
Kekurangan
1. kadang-kadang sulit untuk
mendapatkan akses ke dan membangun kepercayaan dalam situs lapangan yang
diinginkan
2. sulit bagi peneliti untuk
mendedikasikan waktu yang diperlukan untuk melakukan etnografi yang ketat,
dengan batasan dana penelitian dan komitmen profesional mereka yang lain
3. mengembangkan pemahaman
yang kaya dan berharga tentang makna budaya dari praktik dan interaksi
4. ada potensi timbulnya
masalah etika dan interpersonal
.
KULIAH KE-11
Pokok Bahasan
§
Pengertian Dasar Antropologi
§
Antropologi dan Pendidikan
§
Pendekatan Antropologi Dalam Mengkaji Pendidikan
§
Implikasi Antropologi Dalam Pendidikan
§
Ranah Belajar
PENGERTIAN DASAR ANTROPOLOGI
A.
Pengertian Dasar
Antropologi
Kata antropologi berasal dari bahasa Yunani, anthropos
(manusia) dan logos (pikiran atau ilmu). Secara sederhana
antropologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari manusia sebagai makhluk biologis
sekaligus makhluk sosial. Ilmu sosiologi lebih menitikberatkan pada
masyarakat dan kehidupan sosialnya.
§
Koentjaraningrat : antropologi
adalah ilmu yang mempelajari umat manusia
pada
umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat, serta
kebudayaan yang dihasilkan (1996:4)
§
William A. Haviland :
antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari keanekaragaman
manusia dan kebudayaannya. Dengan mempela-jari kedua hal tersebut, antropologi
adalah studi yang berusaha menjelaskan tentang berbagai macam bentuk perbedaan
dan persamaan dalam aneka ragam kebudayaan manusia.
§
Jadi antropologi adalah ilmu
pengetahuan yang mempelajari mahluk sosial, baik manusia yang ditinjau dari
fisik atau biologisnya (bentuk fisik, ciri – ciri tubuh dan perkembangannya), maupun manusia yang
ditinjau dari sosio – budayanya, sistem sosial dan perkembangan kebudayaannya.
B.
Pentingnya mempelajari
antropologi
Pertama, karena kita adalah bangsa yang sangat
kaya dengan aneka ragam suku bangsa dan kebudayaan.
Kedua, karena kita adalah bangsa yang sangat kaya
dengan aneka ragam agama dan keyakinan.
Ketiga, karena kita seringkali tidak mampu
memahami dan menerima dengan terbuka beraneka ragam suku bangsa, kebudayaan,
agama, dan keyakinan itu.
C.
Tujuan antropologi sebagai ilmu
§ Secara
akademis, antropologi berusaha mencapai sebuah pemahaman tentang manusia secara
fisik, manusia dalam masyarakatnya, dan manusia dengan kebudayaannya.
§ Secara
praktis, antropologi berusaha membangun suatu pandangan bahwa perbedaan manusia
dan kebudayaannya merupakan suatu hal yang harus dapat diterima, bukan sebagai
sumber konflk tetapi sebagai sumber pemahaman baru, agar secara terus menerus
manusia dapat merefleksikan dirinya.
§ Secara
praktis, kajian ilmu antropologi dapat digunakan untuk membangun masyarakat dan
kebudayaannya tanpa harus membuat masyarakat dan kebudayaan itu, kehilangan
identitas atau tersingkir dari peradaban. Antropologi menyusun etnografi–
etnografi yang memungkinkan penciptaan teori–teori tentang asal–usul agama dan
kepercayaan, asal mula keluarga dan perkawinan, asal–usul dan perilaku Negara,
dan sebagainya. Dengan bantuan ilmu antropologi, maka terbukalah
cakrawala pengetahuan baru bahwa segalanya berubah dan runtutan awalnya akan
berujung bukan dari kekuatan ilahiah tapi kekuatan manusia.
D. Manfaat
Penggunaan Teori Antropologi
Dapat melihat dengan jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun
anggota kelompok atau masyarakat. Mampu mengkaji tempat kita dalam masyarakat
dan dapat melihat dunia atau budaya lain yang belum kita ketahui sebelumnya. Makin
memahami norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat
lain. Makin
lebih tanggap, kritis dan rasional menghadapi gejala sosial masyarakat yang
makin kompleks.
ANTROPOLOGI DAN PENDIDIKAN
A.
Antroologi
dan Pendidikan
Secara umum, Antropologi adalah studi
tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang
manusia dan perilakunya, serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang
keanekaragaman manusia.
Sedangkan, Antropologi pendidikan adalah
ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan memecahkan masalah-masalah
pendidikan dengan analisis berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan
Antropologi. (Nasution, 2004).
Antropologi pendidikan mencoba
mengungkapkan proses-proses transmisi budaya atau pewarisan pengetahuan melalui
proses enkulturasi dan sosialisasi. Selain itu, proses belajar individu sebagai
kegiatan sosial budaya merupakan pemahaman dari Antropologi Pendidikan,
termasuk di dalamnya peran pendidikan formal dan pendidikan informal.
(Nasution, 2004).
Secara khusus antropologi memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu
pendidikan, khususnya pendidikan luar sekolah, hal ini dapat dilihat dari:
Antropologi memiliki objek formal manusia
(masyarakat dengan segala karakteristik yang dimilikinya), hal mana menjadi
objek yang sama dari ilmu pendidikan.
Antropologi menjelaskan struktur fisik manusia
dan perubahannya, persebaran manusia dapat dilihat dari ciri-ciri fisik dan
budaya, dan perkembangan peradaban manusia, hal mana dalam ilmu pendidikan
merupakan upaya untuk memahami karakteristik masyarakat, sehingga program
pembangunan yang dilakssanakan melalui pendekatan pendidikan sesuai dengan
perkembangan budaya dan kebutuhan manusia itu sendiri.
Antropologi menjelaskan kehidupan manusia (ciri
fisik dan non fisik) terutama menyangkut aspek kebudayaan dalam konteks
konservasi, difusi, dan inovasi, hal mana merupakan upaya pendidikan yang
memiliki peran untuk enkulturasi terhadap budaya yang dianggap positif.
Pendidikan itu harus dipandang sebagai pemberian
pelayanan terhadap perkembangan pribadi individu sepanjang hayatnya. Pendidikan
sebagai kegiatan berjalan terus sebagai suatu proses yang berkesinambungan
(Lengrand, 1995:31; Shane, 1994:3; Croplay, 1995:71) sebab perkembang-an
manusia itu tidak pernah berhenti sepanjang hidup manusia itu sendiri.
Karena itu Carl Rogers memandang bahwa pendidikan
itu bukan “a process of becoming” (Knowles, 1993:42). Pandangan itu
bermakna bahwa seseorang itu tidak dapat begitu saja dibentuk dan diubah oleh
orang lain dengan semau-maunya, baik melalui pengawasan, pengendalian,
pengontrolan, manipulasi, maupun hukuman.
Hanya dirinya sendirilah yang menggerakan
perubahan ke arah mana yang dia inginkan dan harapkan (Sodiq A. Kuntoro dalam
Muhammad Rusli Karim, 1994:205). Hal ini mudah dipahami sebab secara filosofis
manusia itu adalah makhluk yang sadar akan dirinya dan lingkungannya.
Dia hidup dalam hubungan yang dialektik antara
kemerdekaan dirinya dan keterbatasan lingkungannya, sehingga dia sadar akan
aktivitasnya dan sadar akan dunia dimana dia hidup.
Karena manusia itu adalah tubuh sadar (Freire,
1995:114), maka pendidikan itu harus dipandang sebagai suatu proses yang terus
menerus bagi pembebasan manusia (Freire, 1995:115).
Oleh karena pendidikan berlangsung sepanjang
hayat, maka dapatlah dikatakan bahwa pendidikan adalah sama dengan belajar,
entah dimana, bagaimana, dan bilakah berlangsungnya pelajaran itu (Combs dan
Amed, 1994:9).
Manusia sepanjang hidupnya akan belajar agar
kondisi hidupnya dikuasainya dan kehidupannya dipertahankannya. Belajar akan merupakan aktivitas manusia, karena
manusia itu, sebagaimana dikemukakan oleh Gehlen, adalah “learning creature”
(Sodiq A. Kuntoro dalam Muhammad Rusli Karim, 1994:202).
Dengan demikian soal pendidikan itu tidak boleh
lagi dipandang sebagai suatu proses yang hanya terikat pada waktu dan ruang
tertentu saja. Pendidikan harus dipandang sebagai suatu proses yang
berkelanjutan, mulai dari usia anak kecil sampai pada usia dewasa. Konsep ini
akan melahirkan implikasi bahwa pendidikan itu hendaknya diberikan dalam
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
G.D. Spindler berpendirian bahwa kontribusi utama yang bisa diberikan
antropologi terhadap pendidikan adalah menghimpun sejumlah pengetahuan empiris
yang sudah diverifikasi dengan menganalisa aspek-aspek proses pendidikan yang
berbeda-beda dalam lingkungan sosial budayanya. (Hasojo, 1984).
Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan maka antropologi
bermanfaat bagi pendidikan. Hal ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan
berkembang dalam masyarakat bersifat unik dan sukar untuk dibandingkan. Setiap
penyelidikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang
berharga dan mempengaruhi pendidikan.
B.
Manfaat
Antropologi Dalam Pendidikan
1.
Dapat mengetahui pola perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat
secara universal maupun pola perilaku manusia pada tiap-tiap masyarakat (suku
bangsa).
2.
Dapat mengetahui kedudukan serta peran yang harus kita lakukan sesuai
dengan harapan warga masyarakat dari kedudukan yang kita sandang.
3.
Dengan mempelajari antropologi akan memperluas wawasan kita terhadap tata
pergaulan umat manusia diseluruh dunia, khususnya Indonesia yang mempunyai
kekhususan-kekhususan yang sesuai dengan karakteristik daerahnya, sehingga
menimbulkan toleransi yang tinggi.
4.
Dapat mengetahui berbagai macam problema dalam masyarakat serta memiliki
kepekaan terhadap kondisi-kondisi dalam masyarakat, baik yang menyenangkan
serta mampu mengambil inisiatif terhadap pemecahan permasalahan yang muncul
dalam lingkungan masyarakatnya. (Koentjaraningrat, 1990).
PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM MENGKAJI PENDIDIKAN
A.
Pendekatan
Antropologi Dalam Mengkaji Pendidikan
Antropologi Pendidikan sebagai disiplin ilmu, kini banyak dikembangkan
oleh para ahli yang menyadari pentingnya kajian budaya pada suatu masyarakat.
Antropologi di negara-negara maju memandang salah satu persoalan pembangunan di
negara berkembang adalah karena masalah budaya belajar. Kajian budaya belajar
kini menjadi perhatian yang semakin menarik, khususnya bagi para pemikir
pendidikan diperguruan tinggi. Perhatian ini dilakukan dengan melihat kenyataan
lemahnya mutu sumber daya manusia yang berakibat terhadap rentannya ketahanan
sosial budaya masyarakat dalam menghadapi krisis kehidupan. (Hasojo, 1984).
Teori antropologi pendidikan yang diorientasikan pada perubahan sosial
budaya dikategorikan menjadi empat orientasi, yaitu :
1.
Orientasi teoritik yang fokus perhatiannya kepada keseimbangan secara
statis. Teori ini merupakan bagian dari teori-teori evolusi dan sejarah.
2.
Orientasi teori yang memandang adanya keseimbangan budaya secara dinamis.
Teori ini yang menjadi penyempurna teori sebelumnya, yakni orientasi adaptasi
dan tekno-ekonomi yang menjadi andalannya.
3.
Orientasi teori yang melihat adanya pertentangan budaya yang statis,
dimana sumber teori datang dari rumpun teori struktural.
4.
Orientasi teori yang bermuatan pertentangan budaya yang bersifat global
atas gejala interdependensi antar Negara, dimana teori multikultural termasuk
didalamnya. (Hasojo, 1984).
Orientasi pengembangan budaya belajar harus dilakukan secara menyeluruh
yang menghubungkan pola budaya belajar yang ada di dalam lingkungan masyarakat
dan lembaga pendidikan formal.
Van Kemenade (1969) telah mengingatkan, “persoalan pendidikan jangan
hanya dianggap melulu persoalan pedagogis didaktis metodis dan tidak menjadi
masalah kebijakan sosial, sehingga pendidikan tidak lagi menjadi kebutuhan
bersama. Untuk itu perlu analisa empiris tentang tugas pendidikan dalam
konteks kehidupan masyarakat”. (Koentjaraningrat, 1990).
Dengan mempelajari metode pendidikan kebudayaan, maka antropologi
bermanfaat bagi pendidikan. Dimana para pendidik harus melakukan secara
hati-hati. Hal ini disebabkan karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam
masyarakat bersifat unik, sukar untuk dibandingkan sehingga harus ada
perbandingan baru yang bersifat tentatif. Setiap penyelidikan yang dilakukan
oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi
pendidikan.
IMPLIKASI ANTROPOLOGI DALAM PENDIDIKAN
Selain faktor geografis, di masing-masing daerah memiliki berbagai macam
suku bangsa, adat istiadat, sistem nilai, budaya yang berbeda. Misalnya : Suku
Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Minang, Batak dan sebagainya. Sedangkan dari ras
polynesia yang mendiami Indonesia bagian timur, misalnya : Ambon, Timor, Papua.
Keragaman budaya tersebut telah memberikan pengaruh terhadap hubungan sosial
masyarakat, sistem pendidikan, mata pencaharian, dan pola berfikir manusia.
Dengan berbagai macam suku bangsa dan kebudayaan secara alamiah, dari
dulu telah berlangsung upaya pendidikan sebagai proses transmisi dan
transformasi kebudayaan. Untuk itu, pendidikan di masing-masing daerah berbeda
dan disesuaikan dengan budaya daerah tersebut. Proses pendidikan bangsa telah
ada sebelum kedatangan penjajah dan memiliki antropologis yang kuat.
Yang harus diperhatikan
dalam implikasi antropologi dalam pendidikan, adalah:
1.
Identifikasi kebutuhan belajar masyarakat
Identifikasi
kebutuhan masayarakat ini bersumber dari informasi masyarakat sekitar.
Masyarakat tersebut terdiri dari tokoh masyarakat, baik secara formal maupun
informal, tokoh agama, dan perwakilan masyarakat kelas bawah. Hal ini bertujuan
untuk memperoleh informasi dan data yang dijadikan bahan pengembangan kurikulum.
2.
Keterlibatan partisipasi masyarakat
Setelah mengidentifikasi kebutuhan belajar,
maka masyarakat ikut serta dalam merancang kurikulum, menyediakan sarana dan
prasarana, menentukan narasumber sebagai fasilitator, dan ikut menilai hasil
belajar.
3.
Pemberian pendidikan kecakapan hidup
Pendidikan
kecakapan hidup merupakan pendidikan dalam bentuk pemberian keterampilan dan
kemampuan dasar pendukung fungsional, membaca, menulis, berhitung, memecahkan
masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam kelompok, dan menggunakan
teknologi. (Koentjaraningrat, 1990).
Pendidikan
merupakan proses pembudayaan, strategi pembudayaan, dan substansi pembudayaan. Pendidikan sebagai
proses pembudayaan harus mampu
melahirkan interaksi individu-individu yang berbudaya. Pendidikan sebagai strategi pembuda-yaan, harus mampu menciptakan iklim pembelajaran
yang ber-budaya. Dan, pendidikan sebagai
substansi pembudayaan, harus memiliki
arah penciptaan insan-insan yang
berbudaya.
Pendidikan
itu mencerminkan gejala kebudayaan, sehingga Fuad Hasan (1986) menegaskan bahwa
pendidikan tanpa orientasi budaya menjadi gersang dari nilai-nilai luhur
(Prisma, 2:40)
Karena
itu usaha pendidikan akan diarahkan kepada keseluruhan aspek kebudayaan dan
kepribadian, dan harus mengacu pada pembinaan cita-cita hidup yang luhur,
sehingga pendidikan itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Tagore menjadi: “self-education”.
RANAH BELAJAR
1.
RANAH BELAJAR KOGNITIF:
Pengetahuan
Mengacu kepada kemampuan mengenal atau mengingat materi yang sudah
dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori-teori yang sukar. Yang penting
adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar. Pemahaman mengacu kepada kemampuan memahami makna materi.
§ Penerapan
Mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah
dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan atau
prinsip.
§ Analisis
Mengacu kepada kemampuan menguraikan materi ke dalam komponen-komponen atau
faktor penyebabnya, dan mampu memahami hubungan di antara bagian
yang satu dengan yang lainnya, sehingga struktur dan aturannya dapat lebih
dimengerti.
§ Sintesis
Mengacu kepada kemampuan memadukan konsep atau komponen-komponen sehingga
membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru. Aspek ini memerlukan tingkah
laku yang kreatif.
§ Evaluasi
Mengacu kepada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap nilai-nilai
materi untuk tujuan tertentu.
2.
AFEKTIF
Penerimaan
Mengacu kepada kesukarelaan dan kemampuan memperhatikan stimulasi yang
tepat.
Pemberian Respon
Mengacu kepada kesukarelaan memberikan respon terhadap stimulasi yang
tepat, dalam hal ini siswa menjadi tersangkut secara aktif, menjadi peserta dan
tertarik
§ Penilaian
Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita mengaitkan diri pada objek atau
kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak, atau tidak
menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap” dan
“apresiasi”.
§ Pengorganisasian/Pengelolaan
Mengacu kepada penyatuan nilai. Sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih
konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem
nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat
hidup.
§ Penghayatan
Mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang. Nilai-nilai sangat
berkembang dengan teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan
lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini bisa ada hubungannya dengan
ketentuan pribadi, sosial dan emosi siswa.
3.
PSIKOMOTOR
§ Peniruan
Terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa
dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot syaraf.
Peniruan ini berbentuk global.
§ Manggunakan
Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilanm
gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada
tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya
meniru tingkah laku saja.
§ Artikulasi
(Ketepatan dan Merangkaikan)
Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang
tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di antara
gerakan-gerakan yang berbeda.
§ Pengalamiahan/Naturalisasi
Menuntut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan
energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan
merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik.
KULIAH KE-12
Pokok Bahasan
·
Asal-usul Manusia
·
Kebudayaan Manusia
ASAL USUL MANUSIA
A. Asal
Usul Manusia
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Kesempurnaan dapat dilihat dari bentuk fisik dan pola pikir.
Bentuk fisik manusia jauh lebih sempurna, terutama kelenturan
anggota tubuh untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari, baik untuk dirinya
sendiri maupun untuk lingkungannya.
Disamping bentuk fisik, perkembangan pola pikir manusia sangat
dinamis. Apa yang terjadi hari ini, selalu digunakan menjadi objek penelitian
untuk menciptakan hal-hal yang baru.
1. Asal Usul Manusia Menurut
Teori Ilmiah
Asal usul manusia
menurut Teori Ilmiah
a.
Teori Intelligent
Design
Intelligent
design atau perencanaan cerdas, bahwa manusia sebagai makhluk yang
unik/kompleks tidak dapat dijelaskan dalam sebuah teori seperti seleksi alam
(evolusi). Asal usul manusia dapat dijelaskan dalam sebuah teori yang lebih
pintar. Intinya di dalam teori intelligent
design dijelaskan bahwa kita dibuat oleh keberadaan yang sangat luar biasa
jenius. Keelokan bentuk fisik dan pola pikir manusia diperkirakan dibentuk dan
diciptakan oleh sesuatu yang luar biasa.
b.
Teori Cosmic Ancestry
Teori Cosmic
Ancestry ini mengatakan bahwa kehidupan dan alam semesta ini memang dari
awal selalu ada. Manusia dan alam sudah ada sejak sediakala. Manusia dan alam
tidak berawal dan tidak berakhir. Begitu adanya sejak dahulu sampai pada masa
yang akan datang, dalam hitungan waktu yang tidak terhingga.
c.
Teori Progressive Creationism
Dalam teori
progressive creationism dijelaskan tentang kejadian alam beserta isinya selama enam hari dan di hari
ke tujuh Allah menyucikannya. Tetapi, hari yang tidak Anda tahu adalah
masing-masing dari ‘hari’ itu sebenarnya adalah jutaan tahun dan berisikan
banyak evolusi. Inilah yang diusulkan dalam teori progressive creationism (Pencipta
Progresif). Teori ini mengatakan bahwa Tuhan membuat bumi secara perlahan-lahan
dan tanaman serta hewan membutuhkan waktu untuk beradaptasi agar mereka dapat
cocok dengan kehidupan di dunia. Intinya ia mengatakan bahwa tidak ada spesies
yang secara langsung tiba-tiba muncul sebagai bentuk yang baru. Jadi teori ini
sebenarnya juga adalah teori evolusi.
d.
Teori Theistic Evolution
Theistic
Evolution adalah satu dari tiga teori utama yang menjelaskan mengenai asal
mula manusia. Dua hal lainnya adalah teori evoluasi Darwin (teori atheistic)
dan teori penciptaan khusus (agama).
Teori ini sebenarnya serupa dengan teori progressive
creationism. Jika para pemercaya agama mangatakan bahwa evolusi menentang
keberadaan Tuhan, maka Theistic Evolution adalah teori yang
menjembataninya. Ide utamanya tetap Tuhan yang menciptakan alam semesta dan
isinya, hanya saja kali ini “Ia” menciptakannya dengan menggunakan ilmu
pengetahuan. Alam semesta ini merupakan hasil ciptaan Tuhan. Para ilmuwan
menggabungkan berbagai jenis pemahaman untuk memahami-nya. Teori ini membuat
para pemercaya agama tidak lagi menghabiskan waktu mereka untuk berdebat
tentang agama dan pengetahuan, karena teori tersebut menjembataninya.
e.
Teori Evolusi Charles Darwin
Ia
mengatakan bahwa manusia berasal dari monyet yang berevolusi dalam jangka waktu
lama hingga menjadi manusia purba dan manusia purba tersebut berevolusi lagi
menjadi manusia modern seperti manusia saat ini.
Charles
Darwin melakukan penelitian terhadap fosil-fosil yang ditemukan pada kurun
waktu yang berbeda. Ternyata fosil-fosil tersebut menunjukkan, bahwa bentuk
fosil makin lama makin sempurna. Oleh sebab itu, dalam penelitian tersebut
disimpulkan bahwa manusia berasal dari monyet.
Secara
biologis, monyet dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama, monyet kelas
Tarzi yaitu monyet yang berukuran kecil dan tidak mengalami perubahan
(evolusi). Artinya monyet kelas Tarzi ini tetap bertahan pada bentuk aslinya,
dahulu monyet dan sekarang juga masih monyet.
Kedua, monyet
kelas Antropoid yaitu monyet yang mengalami perubahan bentuk. Perubahan
bentuk menjadi lebih sempurna. Berdasarkan fakta ini, dapat dipastikan bahwa
monyet yang berubah bentuk menjadi manusia purba dan manusia purba menjadi
manusia modern.
Perubahan bentuk pada fosil monyet ini mengalami
proses yang panjang. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perubahan ini
diperkirakan karena alasan seperti berikut ini :
A.
Pertukaran
Gen
B.
Beradaptasi
dengan lingkungan
C.
Pengaruh alam
D.
Perubahan
pola pikir.
2.
Menurut Agama
Allah SWT. menciptakan bumi beserta isinya selama enam
hari. Manusia adalah salah satu penghuni bumi ini diciptakan Allah yang
disampaikan dalam firman-Nya. Allah berfirman, “(Ingatlah), ketika Rabbmu
berfirman kepada para Malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia
dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku
telah menyempurnakan (kejadian) nya, dan Aku telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku
ke dalamnya, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud” (QS. Al-Hijr (15)
: 28-29). Hadist Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya manusia berasal dari Adam dan
Adam itu diciptakan dari tanah” (HR.
Bukhari).
a.
Manusia pertama adalah Adam
Manusia pertama
yang diciptakan Allah adalah Nabi Adam A.S. Nabi Adam berumur 930 tahun,
perkiraan periode sejarah, tahun 5872 – 4942 SM., tinggi badannya 60 hasta.
Nabi Adam memiliki peradaban dan ilmu yang tinggi. Nabi Adam sudah pernah
tinggal di Surga. Setelah Allah menurunkan Adam dan istrinya ke bumi, kisah dan
sejarah hidup manusia di muka bumi pun dimulai. Tugas utama Nabi Adam di bumi
adalah menetap untuk taat kepada Allah dan memerintah manusia dengan adil.
Mereka merupakan keturunan Adam dan Hawa, umat manusia pertama yang mendapat
fitrah tauhid. Hasil pernikahan Nabi Adam dan Siti Hawa berjumlah 40 orang atau
20 kembaran. Setiap kembaran berpasangan pria dan wanita. Nabi Adam menikahkan
anak tidak dengan kembarannya, tetapi menikahkan dengan kembaran berikutnya.
b.
Manusia kedua adalah Siti Hawa
Manusia
kedua yang diciptakan Allah adalah Siti Hawa. Siti Hawa adalah ibu semua
manusia. Dalam hadist dijelaskan bahwa Siti Hawa diciptakan Allah dari tulang
rusuk sebelah kiri Nabi Adam. Siti Hawa diciptakan Allah adalah untuk pasangan
Nabi Adam A.S Siti Hawa adalah gambaran seorang istri dan ibu seluruh manusia,
ibu seluruh ibu dan panutan kaum ibu.
c.
Penciptaan manusia ketiga adalah semua keturunan Adam dan Siti Hawa.
Penciptaan
manusia ketiga oleh Allah menunjukkan Kudrat dan Irodat-Nya, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa melahirkan anak
kembar. Setiap kembaran selalu berpasangan antara pria dan wanita. Hasil
pernikahan anak-anak Nabi Adam berkembang sampai sekarang. Dalam pandangan
agama Islam, bahwa manusia ini semuanya berasal dari satu keturuna, yaitu
keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa, kecuali Nabi Isa A.S. Menurut pandangan
Islam, Nabi Isa bukan keturunan Nabi Adam. Nabi Isa dilahirkan Maryam tanpa
ayah, karena Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang disampaikan Malaikat Jibril
kepada Maryam. Firman Allah, dalam Surat Maryam ayat 19, artinya seperti
berikut.“Sesungguhnya aku (Jibril) ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu,
untuk memberimu seorang anak laki-laki lagi suci”.
3.
Asal Manusia Indonesia
Bangsa Indonesia menempati daerah
antara pulau Sabang dan Merauke, antara pulau Rote dan Madagaskar, terletak
antara Samudra Pasifik dan Samudra Indonesia, antara Benua Asia dan Australia.
Bangsa Indonesia terdiri dari 34 provinsi, 514 kotamadya/kabupaten, 6.524
kecamatan, 76.632 desa dan jumlah penduduk 241.452.952 jiwa (sensus penduduk
tahun 2013).
Suku bangsa Indonesia beragam,
memiliki ciri kuantitatif dan kualitatif. Ciri kuantitatif berukuran tinggi dan
pendek serta berbadan besar dan kecil, ciri kualitatif berkulit hitam dan putih
serta rambut lurus dan keriting. Perbedaan tersebut menjadi bukti banhwa bangsa
Indonesia berasal dari bangsa yang berbeda. Beberapa pendapat tentang asal
usul suku bangsa Indonesia, yaitu:
a.
Bangsa Indonesia berasal dari Yunan, China
Nenek moyang
bangsa Indonesia berasal dari Yunan, China bagian selatan (India Belakang).
Bangsa Mongolia yang terdesak karena serangan orang yang lebih kuat bermigrasi
ke China bagian selatan, setelah itu mereka masuk ke wilayah Nusantara. Bukti
lain ditemukan kapak tua mirip dengan kapak yang ditemukan di Yunan, China
selatan.
b.
Bangsa Indonesia berasal dari Nusantara
Nenek moyang
bangsa Indonesia berasal dari bangsa Indonesia sendiri, bukan dari luar. Teori
ini memiliki alasan sendiri. Pertama: orang-orang yang ada di Nusantara
memiliki peradaban yang tinggi. Kedua, kesamaan Bahasa Melayu dengan
Bahasa Kamboja terjadi hanya kebetulan saja.
Bahasa Melayu sudah ada di Nusantara, Bahasa Melayu, bahasa asli
Nusantara. Ketiga, adanya perbedaan
Bahasa Austronesia yang berkembang di Nusantara dengan bahasa yang berkembang
di Asia Tengah. Jadi, kedua bahasa tersebut berkembang secara berdiri sendiri
dan tidak memiliki hubungan sama sekali.
c.
Bangsa Indonesia berasal dari Taiwan
Bangsa yang ada di
Nusantara berasal dari Taiwan bukan dari daratan China. Bahasa yang digunakan
di Nusantara berasal dari rumpun Austronesia yang dikenal juga sebagai rumpun
bahasa di Taiwan. Disamping itu telah dilakukan penelitian terhadap kromosom di
Nusantara tidak cocok dengan orang di daratan China.
d.
Bangsa Indonesia berasal dari Afrika
Teori ini
menjelaskan bahwa nenek moyang manusia berasal dari Afrika, sekitar tahun
200.000 SM. Setelah melewati proses evolusi dan menjadi manusia modern,
kemudian mereka berimigrasi ke seluruh benua di dunia. Pada saat itu turun suhu
bumi, sehingga menurunkan permukaan bumi. Daratan menjadi lebih luas dan
memungkinkan manusia menyebar ke Asia Tengah, Asia Timur, Asia Tenggara, dan
Australia.
KEBUDAYAAN MANUSIA
Sejak masa awal pertumbuhan manusia sampai dengan
zaman yang serba modern saat ini, manusia memiliki tradisi dan tradisi tersebut
berkembang sesuai dengan perkembangan pola pikir manusia.
Oleh
karena itu, perlu dipahami apa sebenarnya kebudayaan, sehingga tidak
menimbulkan persepsi yang berbeda untuk memahaminya.
Jadi, kebudayaan dapat dipahami seperti berikut ini.
A.
Definisi Kebudayaan
Ki Hajar
Dewantara, kebudayaan adalah buah budi manusia dalam bermasyarakat.
Koentjaraningrat,
kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan, dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia
dengan cara belajar. Jadi, kebudayaan dapat didefinisikan segala daya upaya
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan rohani maupun jasmani.
Definisi kebudayaan selalu berbeda-beda:
Pertama, karena setiap orang dapat menafsirkan atau
menghubungkan kebudayaan dengan kondisi daerah tertentu.
Kedua, kebudayaan adalah ilmu sosial, sehingga setiap ahli
dan pembaca dapat menafsirkan secara berbeda-beda. Penafsiran sangat tergantung
kepada pengalaman setiap orang.
Ketiga, kebudayaan bersifat dinamis, sehingga para ahli
dapat menafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman pada saat definisi
kebudayaan itu diciptakan.
Pertumbuhan budaya diawali oleh pertumbuhan manusia,
karena budaya lahir dari manusia. Dalam perjalanan perkembangan manusia dan
budaya mengalami pergeseran pandangan dunia Barat dan Timur.
Pada dunia
bagian Barat, kebudayaan tersebut akan
berakhir bersamaan dengan kehidupan manusia. Bagi barat tidak ada kehidupan
setelah kematian. Kematian dianggap sebagai titik akhir dari kehidupan manusia.
Pandangan ini berkembang dan melekat pada kehidupan manusia di dunia bagian
barat.
Sekitar 14 abad
yang lalu, turun agama, melalui utusan-Nya. Setelah turun agama, pandangan
budaya berubah. Bahwa setelah kematian akan ada kehidupan. Hal ini bermakna
manusia akan hidup melalui beberapa alam. Dimulai dari alam kandungan, alam
dunia, alam kubur, dan alam baka (ada Surga dan Neraka). Akibatnya manusia
berpikir untuk melakukan sesuatu, baik atau buruk, benar atau salah, boleh
dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Paham ini berkembang bagi orang-orang
yang percaya kepada kehendak Tuhan.
B.
Kebudayaan Bersifat Tetap
Kebudayaan tidak
pernah berada pada satu titik konstan. Kebudayaan selalu berubah-ubah.
Perubahan kebudayaan terjadi dalam satuan hitungan waktu terkecil detik. Pada
detik pertama, kedua dan seterusnya peristiwa kebudayaan tidak pernah sama atau
berulang-ulang terjadi. Peristiwa kebudayaan selalu berubah sampai batas waktu
yang tidak dapat ditentukan secara pasti, kecuali mengacu pada janji Tuhan,
akan ada hari kiamat.
Kebudayaan
bersifat tetap hanya terjadi pada tempat yang sama dan waktu yang sama pula.
Misalnya, kebudayaan Indonesia yang persis sama adalah apa yang terjadi pada
tanggal 1 Januari 2016 di Indonesia. Peristiwa pada tanggal 1 Januari 2016
tidak pernah terjadi pada masa lalu maupun pada masa yang akan datang.
C.
Kebudayaan Selalu Berubah
Kebudayaan selalu
berubah-ubah. Perubahan kebudayaan dapat dilihat dari tiga bagian, yaitu:
1.
Pada tempat yang sama dan waktu yang berbeda, kebudayaan berbeda. Misalnya, di Malaysia yang terjadi pada tahun 2005
berbeda dengan yang terjadi pada tahun 2015.
2.
Pada waktu yang sama tempat yang berbeda. Misalnya, pada tahun 2015 apa yang terjadi di Indonesia berbeda
dengan apa yang terjadi di Malaysia, walaupun pada tahun yang sama.
3.
Pada waktu dan tempat yang berbeda, kebudayaan berbeda. Misalnya, apa yang terjadi di Jepang pada tahun 2000
berbeda dengan yang terjadi di Jerman pada tahun 2010.
Perubahan
kebudayaan terjadi karena perubahan pola pikir manusia yang dinamis. Manusia
selalu berpikir dan berpikir terus. Penelitian akan menghasilkan produk baru
dan produk baru tersebut juga akan dijadikan objek penelitian kembali untuk
menghasilkan produk baru lagi. Proses ini akan berjalan sesuai dengan
perjalanan umur dunia dan pelaku budaya akan berganti terus sesuai dengan
generasinya. Jadi, kebudayaan itu memegang posisi penting dalam menata
kehidupan manusia.
Secara umum
definisi kebudayaan adalah segala hasil daya cipta dan rasa manusia untuk
meningkatkan taraf kehidupan. Setiap perubahan akan dapat menghasilkan dampak
yang baik kepada kehidupan manusia. Dengan demikian, kehidupan manusia semakin
sempurna.
D.
Penyebaran Kebudayaan
Budaya
lahir dari manusia dan manusia selalu berganti dengan generasi baru. Budaya
yang terjadi pada manusia satu generasi ke generasi berikutnya harus
diwariskan.
1.
Penyebaran budaya tegak lurus ke bawah
Penyebaran budaya tegak lurus ke bawah adalah
penyebaran budaya dilakukan dari satu suku ke suku itu sendiri. Terjadi pada
daerah pedalaman atau daerah terpencil serta terasing dan penduduknya homogen
atau penduduk yang tidak bercampur dengan suku lain.
Keuntungannya budaya etnis atau suku akan tetap murni
dari pengaruh luar, karena disebarkan secara langsung oleh pelaku budaya
sendiri.
Kerugiannya adalah daerah seperti ini akan lambat
berkembang, karena tidak menerima pengaruh atau tidak dapat membandingkan
dengan budaya suku lain.
2.
Penyebaran budaya horizontal
Penyebaran budaya horizontal adalah penyebaran budaya
yang mendatar, dilakukan dari satu suku ke suku yang lain. Terjadi pada daerah
kota atau desa yang hidup berdampingan dengan suku lain.
Keuntungannya budaya horizontal akan cepat berkembang,
karena terbuka menerima pengaruh dari budaya lain. Masyarakat dapat melihat
suku lain yang berada dekat dengan daerah tempat tinggal mereka.
Kerugiannya adalah budaya asli biasanya cepat punah, karena
selalu mengadopsi budaya positif dari budaya lain.Sementara budaya kurang
produktif tidak dilaksanakan dan akhirnya punah. Akibatnya budaya asli bias
dilupakan atau tidak diketahui lagi.
E.
Kebudayaan Suku
Kebudayaan suku
(etnis) adalah kebudayaan memiliki ciri-ciri khusus dan memiliki batas-batas
geografis. Ciri-ciri suku ini dapat dijelaskan dari segi : bahasa, pakaian
adat, kesenian, mata pencaharian, sistem organisasi, sistem pengetahuan, sistem
teknologi. Perbedaan ciri-ciri
inilah yang menyebabkan timbul istilah suku-suku di Indonesia. Perbedaan
cici-ciri suku terjadi:
Pertama, karena NKRI merupakan negara kepulauan, seperti Pulau
Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan ribuan pulau lainnya. Akibatnya
penduduk pulau jarang bertemu antara satu pulau dan pulau lainnya.
Kedua, alam setiap pulau berbeda, sehingga kebudayaan
setiap pulau berbeda. Alam akan memengaruhi budaya manusia yang berada di
sekitar alam itu sendiri.
F.
Kebudayaan Daerah
Kebudayaan daerah
adalah kebudayaan yang berada pada wilayah atau daerah tertentu. Kebudayaan
daerah terdiri dari gabungan beberapa suku. Suku-suku dalam satu daerah sering
sekali merupakan bagian dari susku-suku yang ada di daerah tersebut. Misalnya
di daerah Sumatera Utara terdiri dari suku Batak Toba, Karo, Mandailing,
Simalungun, Dairi, dan Pakpak. Suku-suku tersebut berada di dalam daerah
tertentu. Oleh karena itu, kebudayaan suku-suku tersebut disebut kebudayaan
daerah Sumatera Utara.
Kebudayaan
yang ada di daerah tertentu lebih dominan persamaan daripada perbedaan
Hal ini
terjadi karena suku yang berada di satu daerah hidup berdampingan dan frekuensi
pertemuan yang dominan juga
membawa pengaruh terhadap persamaan kebudayaan.
G.
Kebudayaan Indonesia
Kebudayaan
Indonesia adalah kebudayaan yang terdapat di seluruh suku yang ada dari Sabang
sampai Merauke. Kebudayaan Indonesia dilaksanakan oleh masing-masing suku yang
ada di Indonesia. Setiap suku memiliki ciri-ciri budaya yang berbeda. Perbedaan
yang paling menonjol adalah bahasa. Artinya setiap suku memiliki bahasa yang
berbeda. Namun, banyak kosa kata yang memiliki persamaan. Hal ini sangat wajar
terjadi karena bahasa-bahasa tersebut berada dalam satu rumpun
H.
Kebudayaan Nasional
Kebudayaan
nasional adalah puncak-puncak kebudayaan suku-suku yang ada di seluruh daerah
di Indonesia. Setiap suku memiliki kebudayaan. Kebudayaan suku ada yang berlaku
pada suku sendiri dan ada yang dapat diberlakukan pada suku-suku yang lain atau
berlaku secara nasional. Kebudayaan berlaku pada suku itu sendiri, misalnya
garis keturunan patrilineal (garis keturunan ayah) berlaku penuh pada
suku Batak dan garis keturunan matrilineal (garis keturunan ibu) hanya
berlaku kepada suku Minang.
Ciri-ciri Kebudayaan
Nasional
Pengangkatan
budaya Indonesia menjadi budaya nasional melalui proses yang panjang dan
mempertimbangkan nilai-nilai yang dapat diterapkan kepada semua lapisan
masyarakat.
1)
Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia
merupakan salah satu ciri-ciri kebudayaan nasional. Karena Bahasa Indonesia
menggambarkan kepribadian bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia berasal dari
bahasa melayu :
1.
Bahasa Melayu
sudah menjadi bahasa lingua franca atau sudah menjadi bahasa pengantar
antar suku di Indonesia sebelum disahkan menjadi Bahasa Indonesia.
2.
Bahasa Melayu
tidak memiliki versi atau tingkatan, Bahasa kaum bangsawan sama dengan bahasa
rakyat biasa.
3.
Bahasa Melayu
bersifat sederhana, memiliki sistem, dan mudah dipelajari.
4.
Bahasa Melayu
mudah beradaptasi, sehingga dapat diikuti dan dipahami oleh semua suku di
Indonesia.
2)
Sistem Musyawarah
Sistem musyawarah juga merupakan
ciri kebudayaan nasional. Oleh karena itu, sistem musyawarah dalam mengambil
keputusan digunakan secara nasional. Sistem musyawarah digunakan pada semua
tingkatan, mulai tingkat lorong sampai tingkat negara.
3)
Sistem Gotong Royong
Gotong royong merupakan ciri yang
terdapat pada semua suku di Nusantara. Oleh karena itu, gotong royong juga
dianggap sebagai ciri kebudayaan Indonesia. Sistem gotong royong juga terjadi
pada tingkat RT, RW, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara.
4)
Sikap toleransi
Negara Indonesia adalah negara yang
majemuk suku dari Sabang sampai Merauke. Setiap suku memiliki kebudayaan yang
berbeda, walau ada persamaan pada bidang tertentu. Menganut banyak agama dan
kebebasan memilih untuk diyakini atau dilaksanakan.
5)
Sistem Tata Krama
Tata krama menjadi pedoman di dalam
pergaulan dengan pihak manapun di dalam kehidupan sehari-hari.
3.
Syarat-syarat Kebudayaan Nasional
Kebudayaan Indonesia yang memenuhi kriteri berikut
dapat ditetapkan sebagai kebudayaan nasional:
a.
Hasil Karya Bangsa Indonesia
Kebudayaan
nasional harus hasil karya bangsa Indonesia sendiri, yang lahir dari kelompok
atau suku bangsa atau perorangan dan tidak bertentangan dengan falsafah dan
pandangan hidup bangsa Indonesia.
b.
Menggambarkan kepribadian Bangsa Indonesia
Budaya lahir dari
masyarakat dan apa yang ada dalam kebudayaan menggambarkan kehidupan
masyarakat. Kebudayaan nasional harus menggambarkan kepribadian bangsa
Indonesia.
c.
Hasil penyaringan budaya asing
Bangsa Indonesia
dapat menerima kebudayaan asing dengan terlebih dahulu disaring agar tidak
bertentangan dengan nilai budaya Indonesia.
4.
Nilai-nilai Kebudayaan Nasional
Untuk memajukan budaya Indonesia ada beberapa nilai
yang harus dikembangkan, yaitu:
a.
Menguasai Alam
Alam diciptakan
Tuhan untuk keperluan kehidupan manusia di atas bumi dan harus disesuaikan,
sehingga bermanfaat untuk kepentingan manusia.
b.
Berorientasi ke masa depan
Untuk mencapai
budaya maju kita harus berpikiran maju dan berorientasi ke masa depan.
c.
Bersifat aktif
Kita selalu
dihadapkan pada berbagai persoalan setiap saat baik primer atau sekunder. Kita
harus aktif, sehingga semua persoalan tersebut dapat diatasi.
d.
Bersikap disiplin
Kemajuan akan
dapat dicapai jika dapat memanfaatkan waktu dengan baik.
e.
Bersikap toleransi
Sikap toleransi
diperlukan karena bangsa Indonesia merupakan kesatuan etnis, budaya dan agama.
f.
Bertanggung jawab
Tanggung jawab
adalah sikap yang diperlukan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
g.
Bertata karma
Bermoral dan etika
dalam pergaulan sehari-hari adalah nilai kebudayaan nasional yang harus
dipelihara.
h.
Menjunjung nilai kebenaran
Nilai kebenaran
harus dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari, karena dapat menyelamatkan bangsa
dan negara.
5.
Fungsi Kebudayaan Nasional
Beberapa fungsi
kebudayaan nasional, sebagai berikut:
a.
Alat pemersatu bangsa
Sebagai negara
kesatuan kita harus menjaga bahasa, musyawarah, gotong royong, toleransi, dan
tata krama dalam pergaulan sehari-hari agar dapat menyatukan seluruh bangsa
Indonesia, baik cita-cita maupun ideologi.
b.
Identitas bangsa
Bagi bangsa
Indonesia ciri-ciri dan kepribadian seperti bahasa, musyawarah, gotong royong,
toleransi, dan tata krama menjadi identitas bangsa Indonesia yang belum tentu
dimiliki bangsa lain.
c.
Kebanggaan bangsa
Kebudayaan
nasional dapat menjadi kebanggaan bagi seluruh warga negara Republik Indonesia.
d.
Barometer masuknya kebudayaan asing
Bahasa,
musyawarah, gotong royong, toleransi, dan tata krama dapat menjadi barometer.
Indonesia dapat menerima pengaruh asing asal tidak bertentangan dengan
nilai-nilai kebudayaan nasional yang ada di Indonesia.
I.
Kebudayaan Dunia
Kebudayaan dunia adalah kebudayaan
yang terdapat di seluruh dunia, mulai dunia bagian barat sampai dunia bagian
timur, kutub utara sampai kutub selatan, budaya yang populer maupun tidak
populer. Kebudayaan dunia
merupakan pengungkapan atau segala sesuatu yang dilakukan atau dilaksankan oleh
manusia di muka bumi. Gabungan dari budaya yang ada di dunia disebut sebagai
budaya dunia.
J.
Kebudayaan Asing
Kebudayaan asing adalah kebudayaan
yang ada di luar kebudayaan nasional. Kebudayaan antar negara memiliki
persamaan dan perbedaan dan saling mempengaruhi. Hal ini terjadi karena setiap
negara tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa menerima pengaruh negara
lain, baik positif maupun negatif.
§ Pengaruh positif kebudayaan
asing
Bangsa
Indonesia tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya pengaruh asing.
Kebudayaan Indonesia, tanpa kebudayaan asing tidak akan seperti hari ini.
Misalnya, bahasa Indonesia dapat berkembang setelah menerima pengaruh dari
bahasa asing yang ada di dunia. Contoh : actual menjadi aktual, dan
sebagainya. Selain bahasa, pengaruh ilmu pengetahuan, teknologi dan industri
juga sangat besar terhadap bangsa Indonesia yang merupakan hasil adopsi dari
negara maju di belahan bumi lain.
§ Pengaruh negatif kebudayaan
asing
Tidak semua
kebudayaan asing dapat masuk ke Indonesia. Setiap kebudayaan asing yang masuk
ke Indonesia harus tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya asli Indonesia.
Jadi,
kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia yang tidak sesuai dengan kepribadian
bangsa Indonesia disebut sebagai pengaruh negatif kebudayaan asing. Misal,
pakaian tipis dan mini, pergaulan bebas tanpa batas yang tidak mengindahkan
nilai moral dan agama.
K.
Kebudayaan Internasional
Kebudayaan
internasional merupakan puncak kebudayaan nasional dari setiap negara yang ada
di dunia. Kebudayaan internasional biasanya bersifat universal (nilainya
menyangkut kepentingan manusia secara umum) seperti nilai kemanusiaan,
pendidikan, psikologi, kesejahteraan, dan kedamaian. Nilai-nilai tersebut
diperlukan oleh semua bangsa di muka bumi ini, karena nilai-nilai tersebut
merupakan tujuan akhir kehidupan semua bangsa. Artinya nilai-nilai tersebut
akan dapat menaikkan martabat manusia di semua belahan bumi, sehingga
negara-negara maju akan berusaha mewujudkan dan menerapkan di dalam kehidupan
bernegara.
Kuliah Ke-13
Pokok Bahasan
- Peradaban
Manusia Dari Zaman Ke Zaman
- Kebutuhan
Manusia
- Sifat
Manusia
- Manusia Dan
Alam
PERADABAN MANUSIA DARI ZAMAN KE ZAMAN
A.
Peradaban
Manusia Dari Zaman Ke Zaman
Pada awalnya kebudayaan
manusia sangat sederhana, karena sesuai dengan perkembangan pola pikir manusia.
Manusia lahir ke dunia tanpa ada budaya. Apa yang dilakukan
pada tahap kehidupan dari awal dan seterusnya menjadi budaya.
Berdasarkan proses terjadinya perubahan pola pikir manusia,
membawa perubahan pada manusia sendiri.
1.
Zaman Paleolithikum (Zaman Batu Tua)
Zaman paleolithikum manusia
hidup berkelompok dan setiap kelompok memiliki ketua. Zaman ini disebut juga
dengan zaman batu tua, karena kehidupan manusia sangat tergantung pada alam dan
selalu berpindah-pindah tempat (nomaden). Makanan didapat dari sumber makanan
yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Periode ini merupakan awal
pertumbuhan budaya. Peralatan dibuat dari batu dengan cara membenturkan
pada batu yang lebih keras sehingga menghasilkan pecahan batu yang tajam dan
runcing. Tradisi pembuatan alat seperti
ini disebut tradisi peralatan Oldowan. Zaman paleolithikum diperkirakan
terjadi kira-kira 600.000 tahun yang lalu. Ciri manusia purba berjalan tegak (Pithecantropus
Erectus), dibuktikan dengan penemuan fosil manusia purba di sungai Bengawan
Solo, Indonesia
2.
Zaman Mezolithikum (Zaman Batu
Tengah)
Pada masa ini manusia purba
diperkirakan telah memiliki kepercayaan. Hal ini dibuktikan dengan
ditemukannya artefak di situs Mousterian yang mengungkapkan ada pemujaan
pada binatang, batu, sungai, dan kayu besar. Pemujaan ini bertujuan untuk
mengharapkan kekuatan gaib, seperti memohon keselamatan, kesehatan, kebaikan,
dan kemenangan di dalam kehidupan.
Kepercayaan yang berkembang adalah animisme dan dinamisme.
Animisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda tertentu (kayu, batu, sungai,
gunung, atau benda lainnya) karena benda tersebut dianggap memiliki kekuatan
gaib yaitu kekuatan yang melebihi kekuatan yang ada di alam nyata.
Dinamisme adalah kekuatan yang
diyakini dapat membantu orang-orang yang menyembahnya. Misalnya untuk
kesembuhan, keselamatan, kekayaan atau membuat orang susah atau sakit sesuai
keinginan pemohon.
Pada periode ini manusia purba
sedikit lebih berkembang dari zaman sebelumnya, mereka mulai menemukan
peralatan berburu seperti panah, tombak, dan pisau batu sebagai alat berburu
mereka.
Zaman Mezolithikum disebut
juga zaman Batu Tengah atau masa berburu. Pada zaman ini manusia hidup di
gua-gua dan masih berpindah-pindah. Makanan didapat dengan cara berburu hewan
dan buah-buahan yang ada di hutan. Pada masa ini juga mereka sudah mulai
menanam tanaman seperti mangga, pisang, durian, dan rambutan untuk bahan
makanan mereka.
3.
Zaman Neolithikum (Zaman Batu Baru)
Zaman Neolithikum disebut
juga zaman Batu Baru atau bercocok tanam. Mereka mulai mengenal bercocok
tanam dengan cara berladang dan memelihara hewan ternak serta tinggal
menetap dekat ladang-ladang yang mereka buat setelah membabat hutan dengan
sistem ladang berpindah. Peralatan yang digunakan masih terbuat dari batu yang
berbentuk lebih baik dan diasah hingga halus agar lebih mudah digunakan.
Pada zaman neolithikum ini
diperkirakn awal pertumbuhan kehidupan sosial. Mereka saling bekerjasama
menjaga keamanan, mencari makanan, membuat rumah, musyawarah untuk memutuskan
sesuatu demi kepentingan bersama, serta saling memberi bila ada hasil binatang
buruan dan hasil panen.
4.
Zaman Megalithikum (Zaman Modern)
Zaman Megalithikum atau zaman
modern terjadi karena adanya perubahan kebudayaan yang luar biasa dari zaman
sebelumnya. Terjadi perubahan pada bidang tertentu seperti:
1) Menhir,
adalah tugu batu yang didirikan sebagai tempat pemujaan dan memperingati arwah
nenek moyang yang mereka lakukan bersama-sama, kehidupan sosial sudah tumbuh.
2) Dolmen,
adalah
meja batu berfungsi untuk tempat sesaji pada saat dilaksanakan peringatan dan
pemujaan kepada roh nenek moyang. Disamping itu, dolmen digunakan untuk kuburan
supaya mudah menandai dan tahan lama.
3) Sarchopagus,
adalah keranda yang terbuat dari kayu dan bentuknya seperti lesung dilengkapi
dengan tutup. Fungsinya untuk mengangkat mayat dari rumah ke tempat pemakaman.
4) Peti
Mati, atau kuburan batu dibuat dari batu besar dan
masing-masing papan batu dapat dilepas supaya lebih mudah di bawa kepemakaman.
5) Punden,
adalah
bangunan bertingkat-tingkat, berfungsi untuk tempat memperingati dan pemujaan
terhadap arwah nenek moyang.
Di samping pembabakan sejarah secara
universal, juga dilakukan sesuai perkembangan peradaban manusia.
Benua Eropa, dibagi menjadi : Zaman
Kuno, Zaman Pertengahan, Zaman Baru, dan Zaman Modern.
China dibuat berdasarkan penguasa,
yaitu: Dinasti Shang, Dinasti Chou, Dinasti Chin, Dinasti Han, Dinasti Tang,
Dinasti Mongol, Dinasti Ming, dan Dinasti Manch.
Perkembangan
peradaban manusia pada zaman Megalithikum terjadi pada semua sektor kehidupan
manusia. Misalnya : seni, ekonomi, dan teknologi. Pembabakan dilakukan sesuai
dengan perkembangannya masing-masing.
Dalam
sejarah Indonesia, periodisasi dibagi dua, yaitu:
1) Zaman
Pra-aksara, yaitu zaman sebelum manusia mengenal tulisan. Sejarah dikenali dari
artefak, fitur, ekofak, dan situs.
2) Zaman
sejarah, yaitu zaman di mana manusia sudah mengenal tulisan. Zaman sejarah
dibagi tiga:
a. Zaman
Kuno, sejak zaman kerajaan tertua sampai abad ke-14. Pada zaman ini, berkembang
kebudayaan Indonesia yang dipengaruhi agama Hindu, dan Budha.
b. Zaman
Indonesia Baru, dimulai pada abad ke-15 yang membicarakan tentang berkembangnya
budaya Islam di Indonesia yang berlangsung sampai abad ke-18.
c. Zaman
Indonesia Modern, terjadi sejak masa pemerintahan Hindia Belanda (1800).
Kehadiran penjajah di Indonesia banyak memberikan perubahan kebudayaan,
walaupun semua perubahan tersebut tidak semuanya dapat diterima oleh rakyat
Nusantara pada masa itu.
5.
Zaman Penemuan Dunia Baru
Sejarah penjelajahan dunia dan
penemuan dunia baru, mengacu kepada petualangan Christoper Columbus
(1485-1547). Christoper Columbus menemukan dunia ini bulat seperti bola, karena
pelayaran yang panjang, Columbus akan kembali ke titik start. Pelayaran yang
panjang ini dia menemukan dunia baru, yaitu Benua Amerika pada tahun 1492.
Di samping itu, penemuan dunia baru
juga terungkap dalam legenda Irlandia Raya oleh Norse dengan istilah, Tanah
Milik Kulit Putih dan legenda Atlantis yang dicetuskan oleh Plato, yang berisi
tentang kisah penemuan Atlantis.
KEBUTUHAN MANUSIA
Manusia
dilahirkan ke atas bumi, baik secara teori ilmiah maupun menurut agama, tanpa dilengkapi
dengan kebutuhan hierarki (paling rendah atau paling tinggi) kata Abraham
Maslow (1980) untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan.
Manusia tanpa dilengkapi dengan
kebutuhan tidak akan berkembang secara fisik dan secara batin. Secara fisik
manusia memerlukan asupan gizi yang memadai untuk pertumbuhan dan secara
batiniah manusia memerlukan rangsangan dari luar dirinya untuk memenuhi
perkembangan batin sesuai dengan usia yang sedang berjalan.
A. Jenis
Kebutuhan Manusia
Manusia dapat bertahan dan melanjutkan
kehidupannya sesuai dengan yang dicita-citakannya. Manusia harus memenuhi
kebutuhan sesuai dengan yang diperlukan, baik fisik maupun mental.
1. Kebutuhan
manusia berdasarkan fungsinya
a. Kebutuhan
mutlak, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh setiap
manusia karena menyangkut keberlangsungan hidup manusia yaitu makan dan minum.
b. Kebutuhan
primer, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia
yang ingin hidup lebih layak, yaitu sandang dan papan.
c. Kebutuhan
sekunder, adalah kebutuhan tambahan. Kebutuhan sekunder ini
berbeda antara seseorang dengan orang lainnya, karena tergantung pada status
sosial seseorang.
d. Kebutuhan
tersier, adalah kebutuhan manusia yang status sosialnya lebih
tinggi, tujuannya hanya untuk memenuhi kepuasan batin.
2. Kebutuhan
manusia menurut waktunya
a. Kebutuhan
sekarang, adalah kebutuhan yang harus dipenuhi pada saat ini
juga dan tidak dapat ditunda, karena menyangkut keberlangsungan hidup dan kesehatan.
Contoh obat bagi orang sakit.
b. Kebutuhan
mendesak, merupakan kebutuhan mendesak dan tba-tiba, contoh
kebakaran rumah atau banjir menyebabkan harus segera mencari rumah.
c. Kebutuhan
manusia pada masa depan, kebutuhan ini harus dirancang dari
sekarang tidak bisa tiba-tiba. Contoh berangkat haji atau umroh.
3. Kebutuhan
manusia menurut sifatnya
a. Kebutuhan
fisik, adalah kebutuhan yang diperlukan manusia secara
fisik, seperti pakaian, makanan, dan rumah. Selain itu olahraga, senam jantung
sehat, senam pernapasan, dan konsumsi makanan sehat.
b. Kebutuhan
rohani, kebutuhan yang bersifat abstrak, rohani manusia
memiliki kebutuhan dan berkembang sesuai dengan perkembangan rohani, yaitu
ibadah menurut agama yang diyakini, bersosialisasi dengan alam sekitar, dan
rekreasi sesuai kemampuan.
4.
Kebutuhan manusia menurut sosial
budaya
a. Kebutuhan
sosial. Sebagai makhluk sosial manusia selalu membutuhkan
manusia lainnya. Saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya.
b. Kebutuhan
budaya, di samping kebutuhan sosial, manusia juga membutuhkan
budaya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya adat istiadat pernikahan, sistem
mata pencaharian, sistem bahasa, dll.
c. Kebutuhan
psikologis, manusia memerlukan kedamaian, kesejahteraan,
keamanan dimanapun ia berada. Manusia selalu mendambakan kebutuhan psikologis
karena akan tercapai kehidupan yang dicita-citakannya.
5.
Kebutuhan manusia menurut subjeknya
a. Kebutuhan
secara individual, sangat tergantung pada status seseorang,
yaitu apa saja yang harus dimiliki. Misalnya, seorang mahasiswa membutuhan meja
dan kursi belajar, komputer, dan buku.
b. Kebutuhan
secara kolektif,
yaitu kebutuhan bersama dan berfungsi agar kegiatan dapat berjalan dan
berhasil di tengah-tengah masyarakat. Misal, rumah sakit, jalan, lembaga
pendidikan, dll.
B.
Faktor yang mempengaruhi kebutuhan
manusia
Kebutuhan manusia sangat beragam dan terjadi karena faktor
manusia itu sendiri.
a. Kondisi
alam, perbedaan kondisi alam membawa pengaruh kepada
kebutuhan manusia. Misal, cuaca dingin, membutuhkan dapur pemanas atau selimut
tebal untuk menghangatkan badan.
b. Perkembangan
peradaban manusia, dapat mengubah kebutuhan manusia. Manusia
yang berada pada strata tertentu akan memiliki kebutuhan sesuai dengan tingkat
peradaban. Misal, seseorang yang
melanjutkan pendidikan dengan yang tidak akan memiliki kebutuhan yang berbeda.
c. Agama
dan kepercayaan, yang dianut dan diyakini akan membawa
kebutuhan yang berbeda. Keduanya menuntut persyaratan tertentu saat menjalankan
ibadahnya. Misal, melaksanakan shalat, harus menguasai gerak dan doa tertentu
yang dibaca mulai takbir sampai salam.
d. Kepercayaan
terhadap benda keramat, harus memiliki pengetahuan yang
berhubungan dengan benda tersebut. Misal, memandikan keris, memiliki urutan
acara dan alat yang dibutuhkan saat memandikan keris.
e. Adat
istiadat, tiap suku atau etnis memiliki budaya yang berbeda.
Perbedaan budaya akan menimbulkan kebutuhan yang berbeda. Misal, suku Batak
membutuhkan ikan mas dalam acara pesta perkawinan. Ikan mas merupakan lambang
dan penghargaan kepada pihak lain.
SIFAT MANUSIA
Manusia
memiliki sifat-sifat yang melekat sekaligus menjadi perilaku manusia di atas
bumi.
Sifat-sifat tersebut dinamis dan fleksibel
terhadap diri dan lingkungannya.
A. Manusia
ingin tahu
Makhluk adalah sesuatu yang mengisi alam dan terbagi menjadi dua macam.
Pertama, makhluk anorganik (makhluk mati) yaitu makhluk
yang tidak mempunyai perilaku dan seluruh perkembangan hidupnya tunduk pada
hukum alam. Misalnya, air bila berada pada suhu dingin akan membeku dan
sebaliknya bila suhu panas akan mencair bahkan bisa mendidih serta menyusut.
Kedua, makhluk organik (makhluk hidup)
mempunyai perilaku yang bervariasi dan bereaksi terhadap alam lingkungan, yaitu
manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri,
nurani, dan nalar. Dengan nalurinya
manusia dapat meramal dan memprediksi apa yang akan terjadi pada dirinya maupun
orang lain, dan dapat merancang masa depan. Dengan nalurinya manusia akan dapat
memanfaatkan semua alam yang ada di sekelilingnya.
Nurani pada manusia akan melahirkan sikap kebenaran yang
hakiki. Tetapi karena desakan kebutuhan dan keinginan yang tidak terkendali,
manusia dapat berbuat dan melanggar norma hukum dan agama yang mereka yakini.
Dengan nalarnya, manusia dapat
melakukan penalaran terhadap lingkungannya dengan pemikiran dan analisis yang
logis. Dengan sifat nalarnya manusia ingin tahu sesuatu dan membuat manusia
terus berkembang. Perkembangan pemikiran yang terjadi terus menerus melahirkan
perubahan kebudayaan menjadi lebih sempurna.
B. Manusia
kagum terhadap ciptaan Tuhan
Alam yang terdiri dari langit dan bumi beserta isi yang
terdapat di dalamnya merupakan sesuatu yang luar biasa. Semua itu tidak akan
terjadi dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakannya. Tuhan tidak hanya
mencipta, tetapi juga mengatur semua isi yang ada di dalamnya. Apapun yang
dilakukan oleh manusia, manusia tetap sebagai pencipta kedua.
1) Tuhan
menciptakan alam
Tuhan sebagai Maha Pencipta tidak bermula dan tidak
berakhir. Adanya alam karena adanya Tuhan. Alam semesta ada permulaan dan ada
akhir. Alam semesta adalah semua wujud material dan rohaniah. Alam dibagi
menjadi empat macam:
a. Alam
kandungan, merupakan proses awal untuk kehidupan
manusia sejak nol detik. Setelah 9 bulan 10 hari, secara normatif manusia lahir
ke dunia.
b. Alam
dunia, adalah alam tempat manusia tumbuh. Pada masa
pertumbuhan ini terjadi perubahan sikap pada manusia sesuai dengan rangsangan
atau keyakinan yang dimiliki, yaitu jadi manusia baik atau jahat.
c. Alam
kubur atau alam barzah adalah alam penantian. Karena alam
kubur merupakan tempat orang yang telah meninggal dunia. Di alam kubur manusia
telah menerima ganjaran sesuai perbuatannya selama hidup di dunia. Alam kubur
akan berlangsung lama, sampai tiba hari kiamat.
d. Alam
baka
atau alam akhirat, adalah alam yang terjadi setelah alam kubur. Alam baka
tempat yang kekal bagi yang beramal baik ke surga dan beramal jelek ke neraka.
2) Tuhan
menciptakan manusia
Tuhan menciptakan manusia yang
dimuliakan derajatnya dan paling istimewa dibandingkan dengan makhluk lainnya,
karena manusia dibekali dengan akal budi, dan pikiran. Kehadiran manusia
berhubungan dengan jagat raya, seluruh alam ini merupakan satu kesatuan dan
tidak boleh dipisahkan antara satu dengan lainnya.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang
paling aktif dalam melihat realita, baik dirinya maupun orang lain, oleh karena
itu manusia selalu mengalami perubahan. Peradaban manusia tidak pernah berhenti
pada satu titik tertentu, selalu berubah dan berkembang sesuai dengan
perkembangan ilmu dan teknologi yang dimiliki.
3) Tuhan
mengatur semua isi alam
Alam diisi oleh benda mati dan benda
hidup, Benda mati memiliki ciri sendiri yang berbeda dengan benda lainnya.
Benda hidup baik kecil tak terlihat mata, maupun makhluk besar yang memiliki organ tubuh yang
lengkap, semuanya diatur Tuhan tanpa kecuali.
4) Tuhan
memberi rezeki makhluk-Nya
Tuhan telah menciptakan makhluk yang
kecil sampai yang terbesar. Diciptakan dengan berbagai karakter, ada yang hidup
di udara, di darat, dan di dalam air. Semua rezeki makhluk tersebut sudah
diatur oleh Tuhan, sesuai dengan kebutuhannya. Makanan disediakan secara
bersiklus dan saling ketergantungan. Manusia makan burung, burung makan padi,
padi ditanam manusia, begitu seterusnya.
5) Tuhan
menentukan makna semua ciptaanNya
Dunia yang terdiri dari langit dan bumi
beserta isinya sudah banyak yang dapat diungkap maknanya dan digunakan untuk
kepentingan manusia. Namun masih banyak yang belum dapat diungkap manusia, baik
di langit maupun di bumi.
Manusia belum mampu membuka semua
misteri yang tersembunyi di alam. Hal ini terjadi karena kemampuan mausia pada
saat ini masih terbatas. Di samping itu, ada hal-hal yang memang tidak mungkin
dikuasai oleh manusia secara sempurna, karena merupakan kuasa Tuhan dan masalah
tersebut berada di luar jangkauan pemikiran manusia.
C. Manusia
menyukai tantangan
Manusia sangat menyukai
hal-hal yang baru karena:
1. Manusia
memiliki sifat cepat bosan sehingga tidak suka kepada hal yang monoton.
2. Manusia
selalu berpikir dan berpikir dan berusaha menemukan sesuatu yang baru.
3. Manusia
suka yang baru dan terus mencari untuk menemukan yang baru.
4. Manusia
cepat bereaksi terhadap lingkungannya, apa saja yang ada di sekitarnya akan
berubah menjadi hal yang baru.
5. Manusia
lebih suka membuat sendiri daripada meniru orang lain. Hasilnya akan tercipta
hal-hal yang baru dan terjadi secara terus menerus.
Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia,
manusia selalu mencari tantangan baru di berbagai sektor untuk memenuhi
kebutuhan manusia.
D. Manusia
menyukai teman
Manusia adalah makhluk
sosial yang tidak akan dapat hidup
sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia tidak akan berkembang dengan baik
apabila tidak berada di tengah-tengah manusia. Oleh sebab itu timbul hasrat
untuk bergaul, seperti berikut ini:
1) Hasrat
sosial, karena kemampuan seseorang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan orang lain, begitu juga sebaliknya.
2) Hasrat
mempertahankan diri, setiap manusia lahir telah membawa
potensi. Potensi tersebut tidak akan berkembang tanpa adanya pergaulan antara
manusia dan manusia lainnya.
3) Hasrat
berjuang, manusia sesungguhnya makhluk yang lemah, pada saat
lahir ke dunia tanpa memiliki kemampuan apa-apa. Jadi untuk menjadikan manusia
profesional harus ada bantuan orang lain dan harus berjuang untuk mencapai
cita-citanya.
4) Hasrat
harga diri, untuk meningkatkan harga dirinya, manusia harus
berada di tengah-tengah manusia lainnya. Karena seseorang bermartabat bila
dibandingkan dengan manusia lainnya.
5) Hasrat
meniru, sudah menjadi kodrat manusia, bahwa manusia itu
selalu meniru dari lingkungannya. Tanpa kita sadari, apa yang kita lakukan
setiap hari meniru dari orang yang berada di sekitar kita. Misal, gaya
berpakaian, cara bergaul, cara berbicara, cara mengerjakan sesuatu dll.
6) Hasrat
bergaul, dapat terjadi disemua lapisan masyarakat. Bergaul dengan orang tertentu karena
persamaan umur yang memiliki ciri karakter sama. Persamaan profesi juga dapat
menjadi pendorong pergaulan. Karena pada profesi tertentu memiliki kekhasan
tersendiri, sehingga orang yang satu profesi akan saling mengerti dan memahami
tentang profesi yang mereka miliki, dll.
MANUSIA DAN ALAM
Kesempurnaan manusia dapat dilihat
dari berbagai aspek dan perannya pada berbagai bidang yang ada di atas alam.
Segala isi alam yang tercipta, semuanya diperuntukan bagi manusia.
A.
Manusia dan ruang
Secara sederhana ruang dapat diartikan sebagai tempat, juga
dapat diartikan dengan rongga. Ruang merupakan tempat terjadinya peristiwa.
Dalam sejarah kehidupan manusia, ruang merupakan unsur penting. Ruang atau tempat
terjadinya peristiwa sejarah berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan manusia.
Sehingga sejarah manusia merupakan proses interaksi dengan kehidupan sosial,
budaya, politik, dan ekonomi pada ruang atau tempat tertentu. Unsur manusia memiliki peran penting dalam
peristiwa sejarah. Manusia adalah pelaku utama yang sangat menentukan suatu
peritiwa sejarah.
B.
Manusia dan waktu
Waktu adalah masa terjadinya satu peristiwa. Waktu dapat
diperinci mulai dari detik sampai dengan abad. Menurut terjadinya, waktu
dikelompokan kepada tiga bagian, yaitu waktu yang lalu, waktu sekarang, dan
waktu yang akan datang.
Waktu tidak pernah berhenti, berjalan terus. Manusia menjadi
subjek atau pelaku aktivitas di atas bumi. Manusia dan makhluk hidup lainnya
hidup dalam waktu tertentu dan tidak dapat dilepaskan dari waktu. Mereka selalu
mempunyai kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Manusia dengan waktu
tidak dapat dipisahkan.
Jadi, waktu adalah unsur penting dalam kehidupan manusia.
Apabila manusia hidup dalam kurun waktu terbatas, sedangkan waktu sudah berjalan
kurang lebih 18,25 miliar tahun, sesuai dengan umur dunia.
C.
Manusia dan lingkungan
Secara semantik, lingkungan berarti segala sesuatu yang berada
di sekeliling atau di sekitar manusia. Manusia berada di lingkungan dan
lingkungan merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar manusia. Manusia dan
lingkunga selalu berpengaruh secara timbal balik.
Manusia harus menjaga lingkungannya, karena manusia menjaga
lingkungannya berarti akan menjaga dirinya sendiri. Lingkungan untuk keperluan
manusia secara keseluruhan. Manusia yang tidak menjaga lingkungannya berarti
tidak menjaga diri sendiri dalam arti yang seluas-luasnya. Lingkungan manusia
dapat dibagi menjadi:
a. Alam
semesta atau kosmos adalah seluruh ruang dan waktu, sejak dulu
sampai sekarang, tidak berawal dan tidak berakhir.
b. Lingkungan
sosial. Manusia lingkungannya adalah manusia. Setiap individu
lingkungannya adalah individu lainnya dan sebaliknya.
c. Lingkungan
budaya. Setiap kelompok manusia, memiliki tradisi yang
berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan.
KULIAH KE-15
POKOK BAHASAN
·
MASYARAKAT
·
SISTEM KEKERABATAN
·
ETNOGRAFI
MASYARAKAT
A. Kehidupan Kolektif
Kelakuan binatang kolektif (animal
behavior) yang berakar dalam naluri, pada manusia menjadi tingkah laku yang
dijadikan milik diri dengan belajar (learned action).
Agar ada suatu perbedaan yang tajam
antara kelakuan binatang dan tingkah laku manusia dalam kehidupan kolektif,
sebaiknya diadakan perbedaan istilah juga.
Kelakuan binatang dan kelakuan
manusia yang prosesnya telah direncanakan dalam gen-nya dan merupakan milik
dirinya tanpa belajar, seperti repleks, kelakuan naluri, dan kelakuan membabi
buta, tetap kita sebut kelakuan (behavior).
Sebaliknya, perilaku manusia yang
prosesnya tidak terencana dalam gen-nya tetapi yang harus dijadikan milik
dirinya dengan belajar, kita sebut tindakan atau tingkah laku (action).
Adanya
bermacam-macam wujud kesatuan kolektif manusia menyebabkan perlunya penggunaan
istilah yang membedakan satu kesatuan dengan kesatuan lainnya.
Kecuali
istilah yang paling lazim, yaitu masyarakat. Ada
istilah-istilah khusus untuk menyebut kesatuan-kesatuan khusus yang merupakan
unsur-unsur dari masyarakat, yaitu
kategori sosial, golongan sosial, komunitas, kelompok, dan perkumpulan.
Keenam
istilah sebutan itu beserta konsepnya, syarat-syarat pengikatnya, serta
ciri-ciri lainnya, akan kita tinjau secara lebih mendalam di bawah ini.
B.
Masyarakat
Masyarakat,
merupakan istilah yang diambil dari akar kata Arab “Syaraka” yang berarti “ikut
serta, berpartisipasi”. Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling
bergaul atau dengan istilah ilmiah, saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia
dapat mempunyai prasarana melalui apa warganya dpt saling berinteraksi.
Tidak
semua perkumpulan manusia dapat disebut masyarakat.
Jadi
ikatan apa yang membuat kesatuan manusia itu menjadi masyarakat? Yaitu pola
tingkah laku yang khas mengenai semua faktor kehidupan dalam batas kesatuan
itu. Lagi pula, pola itu harus bersifat mantap dan kontinyu; dengan perkataan
lain, pola khas itu harus sudah menjadi adat-istiadat yang khas.
Apabila
didefinisikan, masyarakat adalah
kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat tertentu
yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Pengertian
yang hampir sama berlaku untuk komunitas, yaitu kesatuan hidup manusia
yang menempati suatu wilayah yang nyata, dan yang berinteraksi menurut suatu
sistem adat tertentu yang terikat oleh suatu rasa identitas komunitas.
Merupakan
pengelompokkan manusia ke dalam kelompok-kelompok tertentu tanpa mempertim-bangkan
kesatuan adat, sistem nilai, atau norma tertentu.
Kategori sosial adalah kesatuan manusia yang
terwujudkan karena adanya suatu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri objektif
yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu.
Ciri-ciri
objektif itu biasanya dikenakan oleh pihak dari luar kategori sosial itu
sendiri tanpa disadari oleh yang bersangkutan, dengan suatu maksud praktis
tertentu.
Merupakan
suatu kesatuan manusia yang ditandai oleh suatu ciri tertentu, bahkan
seringkali ciri itu juga dikenakan kepada mereka oleh pihak dari luar kalangan
mereka sendiri.
Walaupun
demikian, suatu kesatuan manusia yang kita sebut golongan sosial itu mempunyai
ikatan identitas sosial.
Hal
ini dapat disebabkan karena kesadaran identitas itu tumbuh sebagai respon atau
reaksi terhadap caranya pihak luar memandang golongan sosial tadi, atau mungkin
juga karena golongan itu memang terikat oleh suatu sistem nilai, sistem norma,
dan adat-istiadat.
Merupakan
suatu masyarakat karena memenuhi syarat-syaratnya, dengan adanya sistem
interaksi antara para anggota, dengan adanya adat-istiadat serta sistem
norma yang mengatur interaksi itu, dengan adanya kontinuitas, serta dengan
adanya rasa identitas yang mempersatukan semua anggota tadi.
Namun,
di samping ketiga ciri tadi, suatu kesatuan manusia yang disebut kelompok juga mempunyai ciri tambahan, yaitu organisasi
dan sistem pimpinan, dan selalu tampak sebagai kesatuan dari
individu-individu pada masa-masa yang secara berulang berkumpul dan yang
kemudian bubar lagi.
C.
Pranata Sosial
Berbagai
tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikelompokkan ke dalam
tindakan yang menurut pada pola-pola resmi dan tindakan yang dilakukan menurut
pola-pola yang tidak resmi.
Sistem-sistem
yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat itu untuk berinteraksi
menurut pola-pola resmi, disebut pranata atau dalam bahasa Inggris Institution.
Ada
perbedaan antara pranata dan lembaga. Pranata adalah
sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu aktivitas masyarakat yang
khusus.
Sedangkan
lembaga atau institusi adalah badan atau
organisasi yang melaksanakan aktivitas itu. Menurut para ahli, pranata dapat
diklasifikasikan ke dalam paling sedikit
6
golongan, yaitu:
1.
Pranata yang berfungsi
untuk memenuhi keperluan kehidupan, yaitu sering disebut kinship atau domestic
institution.
Contoh:
perkawinan, tolong-menolong antar kerabat, pengasuhan anak-anak, sopan-santun,
pergaulan antar kerabat, sistem istilah kekerabatan, dan sebagainya.
2.
Pranata yang berfungsi
untuk memenuhi keperluan manusia untuk mata pencaharian hidup,
memproduksi, menimbun, menyimpan, mendistribusi hasil produksi dan harta adalah
economic institution.
Contoh:
pertanian, peternakan, pemburuan, feodalisme, industri, barter, koperasi
penjualan, penggudangan, perbankan, dan sebagainya.
3.
Pranata yang berfungsi
memenuhi keperluan penerangan dan pendidikan, manusia supaya menjadi
anggota masyarakat yang berguna adalah educational institutions.
Contohnya:
pengasuhan anak-anak, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi,
pemberantasan buta huruf, pendidikan keamanan, pers, perpustakaan umum, dan
sebagainya.
4.
Pranata yang berfungsi
memenuhi keperluan ilmiah manusia, menyelami alam semesta sekelilingnya,
adalah scientific institutions.
Contohnya:
metodologi ilmiah, penelitian, pendidikan ilmiah, dan sebagainya.
5.
Pranata-pranata yang
berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk menghayatkan rasa keindahan
dan untuk rekreasi adalah aesthetic and recreational institutions.
Contohnya:
seni rupa, seni suara, seni drama, kesusasteraan, olah raga, dan sebagainya.
6.
Pranata-pranata yang
berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk berhubungan dengan dan berbakti
kepada Tuhan atau dengan alam gaib, adalah religious institutions.
Contoh:
doa, kenduri, upacara, semedi, bertapa, penyiaran agama, pantangan, ilmu gaib,
ilmu dukun, dan sebagainya.
D.
Kedudukan Sosial
Manusia yang melakukan tindakan interaksi itu
biasanya menganggap dirinya berada dalam suatu kedudukan sosial tertentu yang
juga dikonsepsikan untuknya oleh norma-norma yang menata seluruh tindakan tadi.
Dengan
demikian konsep kedudukan (status) itu menjadi unsur penting dalam setiap usaha
kita untuk menganalisis masyarakat.
Dalam
rangka kedudukan-kedudukan dalam suatu pranata itulah para individu warga
masyarakat bertindak menurut norma-norma khusus dari kedudukan khusus dalam
pranata itu.
Tingkah
laku individu yang mementaskan suatu kedudukan tertentu disebut dengan suatu
istilah ilmiah, yaitu peranan sosial (social role atau role
saja).
E.
Peranan Sosial
Peranan
adalah sesuatu yang dilakukan oleh individu dalam kedudukannya pada jabatan
tertentu.
Untuk
tiap individu dalam masyarakat ada dua macam kedudukan yang dapat diperoleh
dengan sendirinya, dan kedudukan yang hanya dapat diperoleh dengan usaha.
Golongan
yang pertama disebut kedudukan tergariskan (ascribed status) dan yang
kedua disebut kedudukan diusahakan (achieved status).
F.
Struktur Sosial
Didalam
menganalisis masyarakat, seorang peneliti merinci kehidupan masyarakat itu ke
dalam unsur-unsurnya, yaitu pranata, kedudukan sosial, dan peranan sosial.
Walaupun
demikian, tujuan sipeneliti adalah untuk mencapai pengertian mengenai
prinsip-prinsip kaitan antara berbagai unsur masyarakat itu.
Analisis
yang menggambarkan kaitan antara unsur satu dengan unsur lain dalam masyarakat
disebut analisis struktur sosial dari suatu masyarakat.
SISTEM
KEKERABATAN
- Rumah Tangga dan Keluarga Inti
Dengan
menikah, sepasang suami-istri membentuk suatu kesatuan sosial yang disebut
rumah tangga, yaitu kesatuan yang mengurus ekonomi rumah tangga.
Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti, tetapi mungkin juga
terdiri dari 2 sampai 3 keluarga inti.
- Keluarga Inti
Keluarga
inti terdiri dari suami, isteri dan anak-anak mereka yang belum menikah. Anak
tiri dan anak yang secara resmi diangkat sebagai anak memiliki hak yang sama
dengan anak kandung, karena itu dapat pula dianggap sebagai anggota keluarga
inti. Bentuk keluarga seperti itu adalah bentuk keluarga yang sederhana, dan
berdasar-kan
monogami.
Keluarga
inti dengan seorang suami tetapi lebih dari seorang istri disebut keluarga inti
poligami.
Sedangkan
keluarga inti dengan seorang istri tetapi lebih dari seorang suami, disebut
keluarga inti poliandri.
- Rumah Tangga
Rumah
tangga adakalanya lebih luas dari pada keluarga inti, karena selain terdiri
dari para anggota keluarga, masih ditambah pula dengan beberapa orang lain yang
menumpang tinggal, misalnya orang tua, kerabat, pembantu, dan lain-lain.
Suatu
rumah tangga mungkin pula terdiri lebih dari satu keluarga inti. Sebaliknya, rumah tangga mungkin lebih kecil
daripada keluarga inti, apabila suami dan istri hidup terpisah (misalnya di dua
kota besar). Keluarga inti poligami pun umumnya terbagi dalam dua rumah tangga
yang terpisah, yaitu bagi setiap istri dengan anak-anak mereka masing-masing.
D. Fungsi
Keluarga Inti
1. Warga
dapat memperoleh dan mengharapkan bantuan serta
perlindungan dari sesama warga keluarga inti; dan
2. Warganya
diasuh dan memperoleh pendidikan awalnya ketika mereka belum mandiri.
3. Meskipun
demikian, tedapat dua fungsi tambahan, yaitu:
4. Keluarga
inti merupakan suau kelompok sosial dengan ekonomi rumah tangga yang mandiri,
walaupun dalam hal ini seringkali banyak kecualinya; dan
5. Melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan produktif (misalnya berladang, dan bertani di sawah), yang
tentu saja banyak terkecualinya.
- Kelompok Kekerabatan
Suatu
gejala yang sekarang muncul di berbagai bagian dunia adalah keluarga inti yang
tidak lengkap, tetapi berfungsi penuh. Keluarga-keluarga ini seperti biasanya terdiri
dari ibu dan anak-anaknya, sementara ayah mereka tidak ada karena berbagai
sebab.
Keluarga
seperti itu tetap berfungsi sebagai kesatuan matrifokal. Dalam bahasa lain,
matrifokal dikenal juga dengan istilah, confugal family, basic family,
primary family, dan elementary family.
Bentuk
keluarga inti seperti terurai di atas adalah kesatuan yang dalam antropologi
dan sosiologi disebut kingroup, atau kelompok kekerabatan. Selain keluarga inti
masih banyak bentuk kelompok kekerabatan lain.
Murdock
membedakan antara 3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi-fungsi
sosialnya, yaitu:
1. Kelompok
kekerabatan berkorporasi (istilah yang digunakan Murdock adalah corporate
kingroups), yang sifatnya eksklusif dan biasanya memiliki ciri-ciri
kelompok sosial pada umumnya;
2. Kelompok
kekerabatan kadang kala (occasional kingroups), yang menunjuk pada
pengertian kelompok orang yang sudah tidak lagi berinteraksi secara terus
menerus dan intensif, tetapi hanya berkumpul kadang-kadang saja;
3. Kelompok
kekerabatan menurut adat (circumscriptive kingroups). Kelompok ini
bentuknya sudah sedemikian besar, sehingga warganya seringkali sudah tidak
saling mengenal. Mereka umumnya hanya mengetahui tentang keberadaan seseorang
(sebagai warga kelompok) berdasarkan tanda-tanda yang ditentukan adat. Rasa
kepribadian kelompok sering kali juga ditentukan oleh tanda-tanda adat
tersebut.
- Keluarga Luas
Kelompok
kekerabatan yang merupakan kesatuan sosial yang sangat erat terdiri dari lebih
dari satu keluarga inti.
Di
daerah pedesaan, warga keluarga luas umumnya masih tinggal berdekatan, dan
seringkali bahkan masih tinggal bersama-sama dalam satu rumah.
Kedua
fungsi utama keluarga inti, yaitu memberikan bantuan kepada sesama anggota
keluarga luas, dan pengasuhan anak oleh semua anggota keluarga luas,
menyebabkan bahwa keluarga inti dalam masyarakat seperti itu sudah hilang dan
terlebur ke dalam keluarga luas.
Kelompok
kekerabatan berupa keluarga luas biasanya dikepalai oleh anggota pria yang
tertua, bahkan juga dalam keluarga uxorilokal.
Ada
3 macam keluarga luas, yang semua didasarkan pada suatu adat menetap sesudah
menikah. Apabila adat itu berubah, maka keluarga luas dalam masyarakat pun akan
retak dan akhirnya hilang. Ketiga macam keluaga luas itu adalah:
1. Keluarga
luas utrolokal (berdasarkan adat utrolokal), yang terdiri dari
satu keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga inti anak-anaknya baik yang
pria maupun wanita;
2. Keluarga
luas virilokal, yang (berdasarkan adat virilokal), yang terdiri
dari keluarga inti senior dengan keluarga inti dari anak laki-lakinya; dan
3. Keluarga
luas uxorilokal (berdasarkan adat uxorilokal), yang terdiri dari
keluarga inti senior dengan keluarga-keluarga inti anak-anak wanita.
- Klen Kecil
Istilah
klen diambil dari istilah asing clan, yang sudah dikenal luas
dalam antropologi, namun seringkali masih diartikan berbeda-beda.
Istilah
lain untuk paham klen kecil adalah minimal lineage, minor lineage, clan
dan juga ramage.
Kelompok
kekerabatan yang terdiri dari beberapa keluarga luas keturunan dari satu
leluhur disebut klen kecil.
Ikatan
kekerabatan berdasarkan hubungan melalui garis keturunan pria saja (patrilineal),
atau yang melalui garis keturunan wanita (matrilineal), sehingga ada
klen kecil patrilineal dan ada klen kecil matrilineal. Fungsi lengkap klen
kecil adalah:
Fungsi Klen Kecil
1. Memelihara
harta pusaka atau memegang hak ulayat atau hak milik komunal atau harta
produktif (tanah dengan segala hal yang ada di atas dan di bawahnya).
2. Bergotong
royong dalam melakukan pelbagai kegiatan mata pencaharian.
3. Bergotong
royong dalam melakukan pelbagai kegiatan sosial maupun pribadi.
4. Mengatur
perkawinan sesuai dengan adat eksogami.
- Klen Besar
Klen
besar, yaitu kelompok kekerabatan yang terdiri dari semua keturunan dari
seorang leluhur, yang diperhitungkan melalui garis keturunan pria atau wanita,
sehingga ada klen besar patrilineal dan klen besar matrilineal.
Biasanya
anggota klen besar sudah tidak saling mengenal, meskipun sudah saling tidak
mengenal warga klen besar merasa dirinya terikat pada klen besar berkat adanya
tanda-tanda lahir yang dimiliki klen besar yang bersangkutan, yaitu nama,
nyanyian serta dongeng-dongeng suci tertentu, dan juga lambang-lambang.
Fungsi Klen Besar
1. Mengatur
perkawinan.
2. Menyelenggarakan
kehidupan keagamaan kelompok.
3. Mengatur
hubungan antar kelas dalam masyarakat, dan
4. Dasar
dari organisasi-organisasi politik.
- Fratri
Kata
ini menunjuk pada kelompok-kelompok kekerabatan patrilineal maupun matrilineal
yang sifatnya lokal dan merupakan gabungan dari kelompok-kelompok klen setempat
(biasanya klen kecil, tetapi bisa juga bagian dari klen besar). Penggabungan
ini tidak selalu merata dan menyangkut seluruh klen besar.
ETNOGRAFI
- Pengertian
Etnografi
Etnografi, baik sebagai laporan penelitian maupun
sebagai metode penelitian, dapat dianggap sebagai dasar dan asal-usul ilmu
antropologi.
Antropologi sebagai
sebuah ilmu pengetahuan secara keseluruhan tergantung pada laporan-laporan
kajian lapangan yang dilakukan oleh individu-individu dalam
masyarakat-masyarakat yang nyata hidup. (Margaret Mead, 1970)
Belajar tentang
etnografi berarti belajar tentang, jantung dari ilmu antropologi, khususnya
antropologi sosial. Ciri khas dari metode penelitian lapangan etnografi ini
adalah sifatnya yang holistik-integratif. Teknik pengumpulan data yang utama
adalah observasi-partisipasi, dan juga wawancara terbuka dan mendalam yang
dilakukan dalam jangka waktu yang relatif, bukan kunjungan singkat dengan
daftar pertanyaan yang terstruktur seperti pada penelitian survai.
- Asal Mula Etnografi
Antropologi
sebagai sebuah disiplin ilmu, baru lahir pada paruh kedua abad ke-20, dengan
tokoh-tokoh atama seperti E.B. Taylor, James Frazer, dan L.H. Morgan. Usaha
besar mereka adalah di dalam menerapkan teori evolusi biologi terhadap
bahan-bahan tulisan tentang berbagai suku di dunia yang dikumpulkan oleh para
musafir, penyebar agama Kristen, pengawal pemerintah kolonial dan penjelajah
alam.
Orientasi
teoritis para peneliti terutama berkaitan dengan perubahan sosial dan
kebudayaan. Tipe penelitian etnografi pada masa awal ini adalah “informan
oriented” karena tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran masa lalu
masyarakat tersebut.
- Etnografi Modern
Metode
etnografi modern seperti yang umum dijalankan orang pada masa kini, baru muncul
pada tahun 1915-1925, dan dipelopori oleh dua orang ahli antropologi sosial
Inggris A.R. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski.
Ciri
penting yang membedakan mereka dari para etnografer awal adalah bahwa keduanya
tidak terlalu memandang penting hal-ihwal yang berhubungan dengan sejarah
kebudayaan suatu kelompok masyarakat. Perhatian utama mereka adalah pada
kehidupan masa kini yang sedang dijalani oleh anggota masyarakat, yaitu tentang
way of life masyarakat tersebut.
Tujuan
utama penelitian etnografi adalah untuk mendeskripsikan dan membangun struktur
sosial dan budaya suatu masyarakat. Pada masa ini budaya dideskripsikan sebagai
the way of life suatu masyarakat.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, sang peneliti melaukan observasi sambil
berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat tersebut.
- Etnografi Baru
Berbeda
dengan etnografi modern yang dipelopori Radcliffe-Brown dan Malinowski yang
memusatkan perhatiannya pada organisasi internal suatu masyarakat dan
membanding-bandingkan sistem sosial dalam rangka untuk mendapatkan
kaidah-kaidah umum tentang msyarakat.
Etnografi
baru memusatkan usahanya untuk menemukan bagaimana berbagai masyarakat
mengorganisasikan budaya mereka dalam pikian mereka dan kemudian menggunakan
budaya tersebut dalam kehidupan.
Dalam
etnografi modern, bentuk sosial dan budaya masyarakat dibangun dan
dideskripsikan melalui analisis dan nalar sang peneliti. Struktur sosial dan
budaya yang dideskripsikan adalah struktur sosial dan budaya masyarakat
tersebut menurut interpretasi sang peneliti.
Sedangkan
dalam etnografi baru, bentuk tersebut dianggap merupakan susunan yang ada dalam
pikiran (mind) anggota masyarakat tersebut, dan tugas sang peneliti
adalah mengoreknya keluar dari pikiran mereka.
Spradley
(1980), mendefinisikan budaya sebagai sistem pengetahuan yang diperoleh manusia
melalui proses belajar, yang mereka gunakan untuk menginterpretasikan dunia
sekeliling mereka, dan sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam
menghadapi dunia sekeliling mereka.
Spradley
tidak lagi menganggap antropologi sebagai satu ilmu tentang “other cultures”,
tentang masyarakat kecil yang terisolasi dan hidup dengan teknologi sederhana.
Antropologi telah menjadi alat yang fundamental untuk memahami masyarakat kita
sendiri dan masyarakat multikultural di seluruh dunia.
BAB III PENUTUP
A.
KESIMPULAN
KELOMPOK 1
Antropologi yaitu sebuah ilmu yang
mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik
dan nonfisik berupa warna kulit, bentuk rambut, bentuk mata, kebudayaan, aspek
politik, dan berbagai pengetahuan tentang corak kehidupan lainnya yang
bermanfaat.
Obyek antropologi adalah manusia dalam
masyarakat, suku bangsa, perilakunya, dan kebudayaannya. Adapun tujuan
antropologi dibagi dua akademis dan praktis. Tujuan akademisnya berusaha
memberi pengertian tentang manusia sebagai masyarakat, suku bangsa, perilaku
dan kebudayaannya. Tujuan praktis adalah mempelajari manusia, perilaku, dan
kebudayaanya guna membangun masyarakat suku bangsa itu sendiri.
Pokok bahasan atau ruang lingkup
antropologi ada dua yaitu antropologi fisik yang membahas manusia yang terkait
dengan ciri-ciri fisiknya dan antropologi budaya yang memusatkan perhatian pada
manusia sebagai makhluk sosial dalam masyarakat dan juga pada kebudayaan yang
dihasilkan manusia tersebut.
Dengan
demikian hakikat antropologi sebagai ilmu pengetahuan adalah :
§ merupakan
ilmu sosial
§ bersifat
normatif
§ tergolong
ke dalam ilmu murni dan juga ilmu terapan
§ ilmu
pengetahuan yang abstrak
§ bertujuan
menghasilkan pengertian dan pola umum manusia dan masyarakatnya
§ merupakan
ilmu pengetahuan umum
KELOMPOK 2
Antropologi adalah salah satu cabang ilmu
pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis
tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang
Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa
yang dikenal di Eropa. Terbentuklah ilmu antropologi dengan melalui beberapa
fase. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat
tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama,
antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik
beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.
KELOMPOK 3
Perkembangan merupakan suatu deretan
perubahan yang tersusun dan berarti yang berlangsung pada individu dalam jangka
waktu tertentu lebih merujuk pada kemajuan mental atau perkembangan aktivitas
belajar Bagi setiap individu tidak dapat selamanya berlangsung secara wajar,
dapat terjadi dengan lancar atau sebaliknya.
KELOMPOK 4
Manusia pada dasarnya adalah makhluk
sosial dan memiliki naluri untuk hidup berdampingan bersama manusia yang
lainnya. Manusia satu yang bersatu dengan manusia lainnya dalam suatu wilayah
tertentu akan membentuk sebuah masyarakat. Dari masyarakat inilah akan lahir
nilai-nilai bermasyarakat yang berkembang menjadi kebudayaan. Masyarakat
merupakan sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan
sosial. Mereka mempunyai kesamaan
budaya, wilayah, dan identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat
oleh kesamaan.
KELOMPOK 5
Manusia hidup karena adanya kebudayaan,
sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau
melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan
kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya
tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap hari
manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan kadang kala disadari atau
tidak manusia merusak kebudayaan.
Indonesia merupakan negara kepulauan
terbesar di dunia, dengan banyaknya pulau tersebut Indonesia memiliki beragam
budaya yang sangat banyak sekali. Perkembangan budaya Indonesia telah dimulai
sejak nenek moyang kita terdahulu. Namun, beberapa tahun kebelakangan ini
kebudayaan di Indonesia berada dalam masa yang mengecewakan di mana banyak
budaya kita yang lepas dari genggaman kita.
KELOMPOK 6
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa
Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau
akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin
Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah
tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya dalam pengertian yang luas
adalah pancaran daripada budi dan daya. Seluruh apa yang difikir, dirasa dan
direnung diamalkan dalam bentuk daya menghasilkan kehidupan. Budaya adalah cara
hidup sesuatu bangsa atau umat.
Kebudayaan" mempunyai fungsi yang
sangat besar bagi manusia dan "masyarakat". "Masyarakat"
memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menjalani kehidupannya.
Kebutuhan-kebutuhan "masyarakat" tersebut sebagian besar dipenuhi
oleh "kebudayaan" yang bersumber pada "masyarakat" itu
sendiri. Karena kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan
"kebudayaan" yang merupakan hasil ciptaannya juga terbatas di dalam
memenuhi segala kebutuhan.
Evolusi adalah perubahan-perubahan yang
memerlukan waktu lama dan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan
lambat. Perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana dan kehendak
tertentu.
KELOMPOK 7
Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai
yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi,
lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan
(believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan
satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi
atau sedang terjadi. Sedangkan, Etnografi adalah sejenis metode penelitian
terapan untuk penemuan relevansi sosiokultural dengan mengeksplorasi
model-model kehidupan sehari-hari dan interaksi kelompok-kelompok sosial-budaya
(divisi budaya) tertentu dalam ruang atau konteks tertentu.
KULIAH 11
Secara
umum, Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun
generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, serta untuk
memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
Sedangkan, Antropologi pendidikan adalah
ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan memecahkan masalah-masalah
pendidikan dengan analisis berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan
Antropologi.
Pendidikan merupakan proses pembudayaan, strategi
pembudayaan, dan substansi pembudayaan.
Pendidikan sebagai proses pembudayaan harus
mampu melahirkan interaksi individu-individu yang berbudaya. Pendidikan
sebagai strategi pembuda-yaan, harus mampu menciptakan iklim pembelajaran
yang ber-budaya. Dan, pendidikan sebagai
substansi pembudayaan, harus memiliki
arah penciptaan insan-insan yang
berbudaya.
Ranah
Belajar
·
Kognitif
·
Afektif
·
Psikomotorik
KULIAH 12
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan
yang paling sempurna. Kesempurnaan dapat dilihat dari bentuk fisik dan pola
pikir.
Asal
usul manusia dapat dilihat pada teori ilmiah dan menurut agama
Kebudayaan dapat didefinisikan segala daya
upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan rohani maupun
jasmani. Definisi kebudayaan selalu berbeda-beda:
Pertama, karena setiap orang dapat
menafsirkan atau menghubungkan kebudayaan dengan kondisi daerah tertentu.
Kedua, kebudayaan adalah ilmu sosial,
sehingga setiap ahli dan pembaca dapat menafsirkan secara berbeda-beda.
Penafsiran sangat tergantung kepada pengalaman setiap orang.
Ketiga, kebudayaan bersifat dinamis,
sehingga para ahli dapat menafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman pada saat
definisi kebudayaan itu diciptakan.
KULIAH 13
Pada awalnya kebudayaan
manusia sangat sederhana, karena sesuai dengan perkembangan pola pikir manusia.
Manusia lahir ke dunia tanpa ada budaya. Apa yang dilakukan
pada tahap kehidupan dari awal dan seterusnya menjadi budaya.
Berdasarkan proses terjadinya perubahan pola pikir manusia,
membawa perubahan pada manusia sendiri.
1)
Zaman
Paleolithikum (Zaman Batu Tua)
2)
Zaman Mezolithikum (Zaman Batu Tengah)
3)
Zaman Neolithikum (Zaman Batu Baru)
4)
Zaman Megalithikum (Zaman Modern)
5)
Zaman Penemuan Dunia Baru
Manusia dilahirkan ke atas bumi, baik
secara teori ilmiah maupun menurut agama, tanpa dilengkapi dengan kebutuhan
hierarki (paling rendah atau paling tinggi) kata Abraham Maslow (1980) untuk
bertahan dan melanjutkan kehidupan.
Manusia memiliki sifat-sifat yang melekat
sekaligus menjadi perilaku manusia di atas bumi. Sifat-sifat tersebut dinamis
dan fleksibel terhadap diri dan lingkungannya.
1) Manusia
ingin tahu
2) Manusia
kagum terhadap ciptaan Tuhan
3) Manusia
menyukai tantangan
4) Manusia
menyukai teman
Kesempurnaan manusia dapat dilihat dari
berbagai aspek dan perannya pada berbagai bidang yang ada di atas alam. Segala
isi alam yang tercipta, semuanya diperuntukan bagi manusia.
1) Manusia
dan ruang
2) Manusia
dan waktu
3) Manusia
dan lingkungan
KULIAH
KE 15
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang
berinteraksi menurut suatu sistem adat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang
terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Pranata
adalah suatu sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola
mantap guna memenuhi suatu kepentingan khusus dari manusia dalam kehidupan
masyarakat. Dengan menikah, sepasang suami-istri membentuk suatu kesatuan
sosial yang disebut rumah tangga, yaitu kesatuan yang mengurus ekonomi rumah
tangga
Etnografi, ditinjau secara harfiah, berarti tulisan atau laporan
tentang suatu suku bangsa yang ditulis oleh seorang antropolog atau hasil
penelitian lapangan (field work) selama sekian bulan atau sekian tahun. Etnografi,
baik sebagai laporan penelitian maupun sebagai metode penelitian, dapat
dianggap sebagai dasar dan asal-usul ilmu antropologi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar