LAPORAN MATERI PERKULIAHAN
PENDIDIKAN KELUARGA DAN PARENTING
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah : Pendidikan Keluarga dan Parenting
Disusun
oleh,
Putry
Anjani
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
2021
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak yang
memberikan dukungan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik anak
dalam kehidupannya.
Dilihat dari segi pendidikan, keluarga merupakan satu
kesatuan hidup (sistem nasional), dan keluarga menyediakan situasi belajar.
Sebagai satu kesatuan hidup bersama (sistem sosial), keluarga terdiri dari
ayah, ibu, dan anak. Ikatan kekeluargaan membantu anak mengembangkan sifat
persahabatan, cinta kasih, hubungan antar pribadi, kerja sama, disiplin,
tingkah laku yang baik, serta pengakuan akan kepribadian.
B.
Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan materi
perkuliahan pendidikan keluarga dan parenting ini adalah sebagai berikut:
1. Memenuhi
tugas perkuliahan pendidikan keluarga dan parenting
2. Mengetahui
pengertian keluarga dari pandangan para ahli
3. Mengetahui
bentuk-bentuk keluarga berdasarkan pandangan para ahli
4. Mengetahui
hubungan keluarga
5. Mengetahui
fungsi dari keluarga
6. Mengetahui
peran dalam keluarga
7. Mengetahui
pengertian pendidikan keluarga
8. Mengetahui
pendidikan di keluarga
9. Mengetahui
pendidikan berkeluarga
10. Mengetahui
pembangunan keluarga yang SAMAWA
11. Mengetahui
kehidupan keluarga
12. Mengetahui
dan menuliskan contoh praktik baik sebuah keluarga
C.
Ruang
Lingkup
Penulisan laporan ini mempunyai ruang lingkup sebagai
berikut:
1. Hubungan
manusia dengan Tuhan nya
2. Hubungan
manusia dengan manusia
3. Hubungan
manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya
BAB II
KONSEP KELUARGA
A.
Pengertian
Keluarga
1. Departeman
Kesehatan RI (1988)
Keluarga
merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan yinggal di suatu tempat dibawah satu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
2. BKKBN
(1999)
Keluarga
adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang
sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa
kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota
keluarga dan masyarakat serta lingkungan.
3. UU
No.10 tahun 1992
Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya
atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.
4. Raisner
(1980)
Keluarga
adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang
masing-masing mempunyai hubungan
kekerabatan yang terdiri dari bapak , ibu , adik dan kakak , nenek.
5. Spradley
dan Allender ( 1996)
Keluarga
adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari individu-individu yang bergabung
dan berinteraksi secara teratur antara
satu dengan yang lain yang di wujudkan dengan adanya saling ketergantungan dan
berhubungan untuk mencapai tujuan bersama.
ULASAN
:
Pengertian keluarga
Keluarga adalah
unit terkecil dari suatu masyarakat yang tinggal dan berkumpul di satu atap,
yang saling berinteraksi dan saling ketergantungan antara satu anggota keluarga
dengan anggota keluarga yang lainnya.
B.
Bentuk-bentuk
Keluarga Berdasarkan Pandangan Para Ahli
1. Keluarga
Inti
Keluarga
inti (nuclear family), yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak
yang diperoleh dari keturunan atau adopsi maupun keduanya.
2. Keluarga
Asal
Keluarga
asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang
dilahirkan.
3. Keluarga
Besar
Keluarga
besar (ekstended family), yaitu keluarga inti ditambah dengan sanak saudaranya,
misalnya kakek, nenek, keponakan, paman, bibi, saudara sepupu, dan lain
sebagainya
4. Keluarga
Berantai
Keluarga
Berantai, yaitu keluarga yang terbentuk karena perceraian dan/atau kematian
pasangan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali
dan merupakan suatu keluarga inti.
5. Keluarga
Duda atau Janda
Keluarga
duda atau janda ( single family ), keluarga yang terjadi karena perceraian
dan/atau kematian pasangan yang dicintai.
6. Keluarga
Komposit
Keluarga
berkomposisi (composite) yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan
hidup secara bersama-sama.
7. Keluarga
Kohabitasi
Keluarga
kohabitasi ( Cohabitation ), dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan,
bisa memiliki anak atau tidak. Di Indonesia bentuk keluarga ini tidak lazim dan
bertentangan budaya timur. Namun, lambat laun, keluarga kohabitasi ini mulai
dapat diterima.
8. Keluarga
Inses
Keluarga
inses (incest family), seiring dengan masuknya nilai-nilai global dan pengaruh
informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim,
misalnya anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ibu menikah dengan anak
kandung laki-laki, paman menikah dengan keponakannya, kakak menikah dengan adik
dari satu ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak perempuan tirinya.
Walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah keluarga inses
semakin hari semakin besar. Hal ini dapat kita cermati melalui pemberitaan dari
berbagai media cetak dan elektronik.
9. Keluarga
Tradisional dan Non Tradisional
Keluarga
tradisional dan nontradisional, dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan.
Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga nontradisional
tidak diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga tradisional adalah ayah-ibu dan
anak hasil dari perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga nontradisional adalah
sekelompok orang tinggal di sebuah asrama
ULASAN
:
Keluarga Duda/Janda
(Single Family)
Keluarga
duda/janda (single family) adalah orang tua yang memelihara dan membesarkan
anak-anaknya tanpa adanya kehadiran dari pasangannya, mereka melakukan 2 tugas
sekaligus yaitu sebagai ayah dan ibu dari anak-anaknya seorang diri, karena
kehilangan/terpisah dengan pasangannya.
Single
family sendiri dapat terjadi disebabkan oleh 2 hal, baik itu yang disengaja
(diinginkan) seperti perceraian maupun yang tidak disengaja (tragedi) seperti
kematian pasangannya.
Didalam
sebuah keluarga terdapat sosok ayah, ibu dan anak sebagai satu kesatuan utuh
yang saling melengkapi satu sama lainnya. Berbeda dengan single family terlihat
jelas adanya ketidaklengkapan dalam jumlah anggota keluarga nya, seperti tidak
adanya ayah sebagai kepala keluarga atau tidak ada sosok ibu yang kehadirannya
selalu dirindukan dirumah. Akibat dari ketidaklengkapan tersebut maka pada
akhirnya akan mengubah tatanan fungsi didalam keluarga tersebut.
Secara
otomatis keluarga dalam single family memiliki 2 peranan ganda sekaligus yaitu
menjadi sosok ayah dan ibu untuk anak-anaknya. Mereka memberi nafkah bagi anak
yang ditanggungnya, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk mengasuh anaknya.
Mereka harus bisa melakukan keduanya dalam keadaan seimbang antara mencari
nafkah dan menjadi pengasuh bagi anak-anaknya. Apabila salah satu dari itu
tidak seimbang maka akan berdampak buruk bagi anaknya. Misalnya seorang
ayah/ibu (janda/duda) yang terlalu sibuk untuk bekerja, tidak ada waktu luang
dan mengabaikan anak-anak nya dapat menyebabkan dampak buruk bagi anak yang di
asuh nya.
Keluarga Inti
Keluarga inti
adalah unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan inti dari sebuah keluarga
yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu, terdiri dari ayah, ibu dan anak.
C.
Hubungan
Keluarga
1. Hubungan
Suami dan Istri
Dalam
kehidupan keluarga, pola hubungan antara suami-istri sangat vital, karena kedua
tokoh itu menduduki posisi kunci kehidupan keluarga tersebut. Hubungan
suami-istri tumbuh dan berkembang sejak perkenalan hingga dikukuhkan melalui
pernikahan yang diserahkan kepada terciptanya suatu kehidupan keluarga yang
tenang tenteram penuh kedamaian, diliputi rahmat dan kasih sayang. Pola, corak
dan kualitas pun berkembang seiring perkembangan kehidupan keluarga itu sendiri
2. Hubungan
Orang Tua Dengan Anak
Komunikasi
antara orangtua dengan anak sewaktu-waktu dapat beralih menjadi komunikasi
edukatif. Dalam peralihan ini orangtua sebagai pendidik yang aktif. Pelaksnaan
komunikasi edukatif yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara dengan mottonya:
hing ngarso sung tulada, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Komunikasi
edukatif itu menyiratkan adanya empati dan identifikasi antara orang tua
sebagai pendidik dengan anak sebagai terdidik, secara timbal balik, di mana
pendidik menginginkan yang terbaik bagi anak didiknya dalam suasana kasih
sayang. Akan tetapi pendidik tidak berpresentasi bahwa ia dapat mengubah dan
membentuk anak didik sekehendak hatinya.
3. Hubungan
Anak Dengan Anak
Komunikasi
antar anak dengan anak berlangsung seirama dengan tahapan perkembangan
pribadinya. Melalui permainan yang merupakan dunia anak, mereka menemukan
adanya aturan dan keteraturan dalam bermain bersama dan kehidupan bersama, yang
mempradugakanya adanya komunikasi dan saling mempercayai di antara mereka
dengan mengakui dan menghormati peran mereka masing-masing dalam permainan
bersama dan kehidupan bersama itu.
4. Hubungan
Anak Dengan Lingkungan
Anak-anak
menangkap dan menemui serta berkomunikasi dengan lingkungan dan dunianya selaras
dengan perikeadaannya sebagai anak yang sedang berkembang, sehingga persepsinya
terhadap lingkungan dan dunianya itu berbeda dengan persepsi orang dewasa.
5. Hubungan
Anak Dengan Tetangga
a) Pola
hubungan yang tertutup.
Suatu
keluarga “menutup diri” terhadap tetangganya, sepertinya tidak mau tahu tentang
tetangganya dan tidak mengadakan hubungan dengan mereka, sehingga mereka nampak
mengisolasi diri terhadap tetangganya dan orang lain yang tidak berurusan
dengannya. Atau mungkin mereka tidak
bermaksud demikian, hanya sekedar ingin membatasi diri dalam hubungannya dengan
tetangganya.
b) Pola
hubungan yang terbuka
Pola yang terbuka ditemukan manakala antar
keluarga terdapat hubungan yang akrab sehingga di antara mereka bukan
sekedar saling mengenal, melainkan bahkan
saling memperhatikan. Kehidupan suatu keluarga sepertinya “transparan” atau
tembus pandang bagi tetangganya dan mereka saling perduli satu sama lain. Pola
terbuka manakala antara para keluarga tidak dirasakan ada suatu banteng pemisah
, entah dalam bentuk perbedaan stratifikasi
atau perbedaan kemampuan ekonomis, disebut Tonnies dengan istilah
Gemeninschaft.
6. Hubungan
Anak Dengan Tuhan
Kesadaran
manusia akan aturan dan keteraturan yang ditemukannya di dunia yang tidak dapat
ditembusnya begitu sja, menyadarinya pula akan kemampuan dan ketidakmampuannya
dan akan kedudukannya di dunia ini. Banyak perstiwa dalam kehidupan keluarga
khususnya, yang di luar perhitungan dan kemauan dan bahkan tidak
terpikirkannya. Hal ini menyadarkan mereka akan adanya suatu kekuatan dan
kekuasaan di luar dirinya yang akhirnya menuntunnya ke arah kehidupan religius.
ULASAN
:
Hubungan anak dengan
lingkungan
Lingkungan
merupakann salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
Lingkungan mempengaruhi perkembangan karakter pada anak. Bila anak tumbuh dan
berkembang di lingkungan yang baik, santun, dan taat beragama maka anak pun
akan tercetak menjadi pribadi yang baik. Tetapi sebaliknya, pengaruh buruk dari
lingkungan juga merupakan kebiasaan yang mudah menular, oleh karena itu orang
tua harus benar-benar memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap anak.
Keluarga
merupakan lingkungan pertama anak pada masa tumbuh kembangnya. Orang tua
menjadi role model pertama yang akan ditiru oleh anak-anaknya, oleh karena itu
penting untuk orang tua menjaga sikapnya didepan anak-anaknya. Sikap yang baik
dari orang tua akan turut serta menanamkan kebiasaan baik pada anak-anaknya.
Kebiasaan baik ini lah yang akan ditanamkan kepada anak-anaknya.
Saat menginjak
usia sekolah, orang tua harus bisa menyadari betapa pentingnya pengarush
lingkungan sekolah terhadap anaknya. Walaupun berada diluar lingkungan
keluarga, orang tua harus selalu memperhatikan anak-anaknya seperti bagaimana
sikap dia di sekolah, dengan siapa dia berteman dan yang lainnya.
D.
Fungsi
Keluarga
1. Fungsi
Keagamaan
Agama
adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Keluarga adalah tempat pertama penanaman
nilai-nilai keagamaan dan pemberi identitas agama pada setiap anak yang lahir. Keluarga
menumbuh kembangkan nilai-nilai agama sehingga anak menjadi manusia yang
berakhlak baik dan bertakwa.
Keluarga
mengajarkan seluruh anggotanya untuk melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan
dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melaksanakan fungsi agama tidak boleh
mengabaikan toleransi beragama karena keluarga Indonesia menganut kepercayaan
dan agama yang beragam
2. Fungsi
Sosial Budaya
Keluarga
adalah wahana utama dalam pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur budaya yang
selama ini menjadi anutan dalam tata kehidupan.
Fungsi
sosial budaya memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya
untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu
kesatuan.
Dengan
demikian, nilai luhur yang selama ini sudah menjadi anutan dalam kehidupan
bangsa tetap dapat dipertahankan dan dipelihara. Keluarga menjadi wahana
pertama anak dalam belajar berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan
sekitarnya, serta belajar adat istiadat yang berlaku di sekitarnya.
3. Fungsi
Cinta Kasih
Cinta
dan kasih sayang merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter anak.
Fungsi cinta kasih memiliki makna keluarga harus menjadi tempat untuk
menciptakan suasana cinta dan kasih sayang dalam kehidupan berkeluarga,
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Fungsi
cinta kasih dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan kasih sayang dan rasa aman
serta memberikan perhatian di antara anggota keluarga.
Fungsi
cinta kasih dalam keluarga menjadi landasan yang kukuh terhadap hubungan anak
dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan anaknya, serta hubungan
kekerabatan antargenerasi sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya
kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.
4. Fungsi
Perlindungan
Keluarga
adalah tempat bernaung atau berlindung bagi seluruh anggota dan tempat untuk
menumbuhkan rasa aman serta kehangatan. Adanya suasana saling melindungi,
keluarga harus menjadi tempat yang aman, nyaman. dan menenteramkan semua
anggotanya.
Jika
keluarga berfungsi dengan baik, keluarga akan mampu memberikan fungsi
perlindungan bagi anggotanya serta dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Keluarga
melindungi setiap anggotanya dari tindakan-tindakan yang kurang baik sehingga
anggota keluarga merasa nyaman dan terlindung dari hal-hal yang tidak
menyenangkan.
5. Fungsi
Reproduksi
Keluarga
menjadi pengatur reproduksi keturunan secara sehat dan berencana sehingga
anak-anak yang dilahirkan menjadi generasi penerus yang berkualitas.
Keluarga
menjadi tempat mengembangkan fungsi reproduksi secara menyeluruh, termasuk
seksualitas yang sehat dan berkualitas, dan pendidikan seksualitas bagi anak.
Keluarga
juga menjadi tempat memberikan informasi kepada anggotanya tentang hal-hal yang
berkitan dengan seksualitas. Melanjutkan keturunan yang direncanakan dapat
menunjang terciptanya kesejahteraan keluarga.
6. Fungsi
Sosialisasi dan Pendidikan
Keluarga
sebagai tempat utama dan pertama memberikan pendidikan kepada semua anak untuk
bekal masa depan. Pendidikan yang diberikan oleh keluarga meliputi pendidikan
untuk mencerdaskan dan membentuk karakter anak.
Fungsi
sosialisasi dan pendidikan memiliki makna bahwa keluarga sebagai tempat untuk
mengembangkan proses interaksi dan tempat untuk belajar bersosialisasi serta
berkomunikasi secara baik dan sehat. Dengan interaksi intensif dalam keluarga,
proses pendidikan berjalan dengan efektif.
Keluarga
menyosialisasikan kepada anak tentang nilai, norma, dan cara untuk
berkomunikasi dengan orang lain, mengajarkan tentang hal-hal yang baik dan
buruk maupun yang salah dan yang benar.
7. Fungsi
Ekonomi
Keluarga
adalah sebagai tempat utama dalam membina dan menanamkan nilai-nilai yang
berhubungan dengan keuangan dan pengaturan penggunaan keuangan untuk memenuhi
kebutuhan hidup dan mewujudkan keluarga sejahtera.
Keluarga
sebagai tempat untuk memperoleh makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan
materi lainnya serta memberikan dukungan finansial kepada anggotanya.
8. Fungsi
Pembinaan Lingkungan
Keluarga
memiliki peran mengelola kehidupan dengan tetap memelihara lingkungan di
sekitarnya, baik lingkungan fisik maupun sosial, dan lingkungan mikro, meso,
dan makro.
Keluarga
berperan untuk membina lingkungan masyarakat dan lingkungan alam sekitar.
Keluarga dan anggotanya harus mengenal tetangga dan masyarakat di sekitar serta
peduli terhadap kelestarian lingkungan alam.
Sikap
peduli keluarga terhadap lingkungan untuk memberikan yang terbaik bagi generasi
yang akan datang.
ULASAN
:
Fungsi Keagamaan
Keluarga
merupakan tempat pertama dimana agama diajarkan. Penanaman nilai-nilai agama
sangat erat kaiannya dengan penanaman akhlak kepada anak, oleh karena itu
keluarga wajib memperkenalkan dan mengajarkan nilai-nilai agama kepada
anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Hal ini bertujuan untuk memberikan bekal
kepada anak untuk kehidupan di masyarakat ataupun di akhirat nanti. Dari semua
agama yang ada, semuanya mengajarkan tentang hal-hal yang baik, menuntun
umatnya untuk senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan-nya serta selalu berbuat
baik dan benar.
Peran orang tua sangat berpengaruh bagi tingkat keimanan
anaknya, melalui bimbingannya untuk lebih mengenal lagi siapa Tuhan-nya,
bagaimana sifat Tuhan-nya, dan bagaimana kewajiban kita terhadap Tuhan.
Penananman nilai-nilai keagamaan kepada anak juga harus
memperhatikan tingkatan usia, fisik maupun psikis anak supaya mereka lebih
mudah mencerna apa yang di ajarkan oleh orang tuanya.
Nilai agama sebagai penyaring suatu kebiasaan/ adat /
kebudayaan. Oleh karena itu, keluarga harus senantiasa mengajarkan dan
mengamalkan isi dari nilai-nilai keagamaan yang di anutnya, karena anak akan
mencontoh apa yang dilakukan oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Maka
dari itu sebagai orang tua harus selalu mengingatkan supaya anak selalu ingat
terhadap Tuhan-nya dan menjadikan Agama sebagai patokan untuk berbuat sesuatu.
E.
Peran
Keluarga
1. Peran
Istri
Ditinjau
dari kehidupan keluarga secara keseluruhan, ibu berperan sebagai “ratu rumah
tangga” yang mengemudikan bahtera rumah tangga. Oleh karena itu memegang
peranan yang sangat vital bagi terciptanya iklim keluarga yang baik, kondisi
dan situasi pendidikan keluarga yang harmonis. Pelaksanaan peranannya sebagai
ratu rumah tangga mencakup: tatalaksana kerumahtanggaan, makanan, dan busana.
Ketiga jenis tatalaksana tersebut saat ini telah menjadi bidang studi yang
cukup luas dan kompleks
Dalam
masyarakat modern, seorang istri juga dituntut untuk menunaikan tugasnya di
luar keluarga, realisasi peranan ratu rumah tangga mengalami perubahan yang
cukup mendalam. Sebab betapapun sang istri itu sudah bekerja di luar rumah,
namun “kehadirannya” di dalam keluarga tetap diperlukan. Saat ini peran istri menjadi berubah “multi
peran”, namun dalam melaksanakan tugasnya tetap dituntut berperan sebagai
wanita. Berperan sebagai wanita di keluarga, maka dalam kehidupan berkeluarga
memegang peranan mengandung dan melahirkan anak. Dalam hubungannya dengan anak,
wanita berperan sebagai seorang ibu yang menjadi pendidik pertama dan utama.
Ibu bagi anak merupakan lambang kasih yang abadi dan tidak tergantikan.
2. Peran
Suami
Dalam
kehidupan sehari-hari ayah berperan sebagai kepala keluarga.Ia memimpin
kehidupan keluarga pada umumnya dan bertanggungjawab terhadap seluruh kehidupan
keluarga. Sedangkan sang istri mengemban tugas mengelola rumah tangga.
Sang
suami ibarat nakhoda dan istri ibarat jurumudi bahtera rumah tangga. Anatar
keduanya ada pembagian kerja secara seimbang dan saling mengisi atau saling
melengkapi. Di bidang ekonomi keluarga suami lebih berperan dalam pengadaan dan
pengayaan dana keluarga atau pencari nafkah, sedang bu berperan sebagai
pengatur dana sehingga dapat dinikmati manfaatnya oleh seluruh keluarga. Suami
bertanggung jawab atas kelancaran
kehidupan keluarga dan kesejahteraan serta keselamatan seluruh keluarga. Peran
suami berperan sebagai pelindung keluarga lahir bathin dan terpenuhinya
kebutuhan dasar. Maslow memperkenalkan lima jenis kebutuhan dasar (basic need)
manusia, yaitu: (1) kebutuhan dasar
biologis, (2) kebutuhan dasar rasa aman; (3) kebutuhan
dasar cinta kasih; (4) kebutuhan dasar pengakuan status; (5) kebutuhan dasar
harga diri atau realisasi diri.
3. Peran
Anak
Anak
merupakan tokoh penting dalam keluarga.
Dalam sudut “segi tiga nan abadi suatu keluarga atau “The Eternal Triangle” anak menduduki peranan
penting. Orangtua rela melakukan atau memiliki sesuatu adalah untuk anak. Anak
tampil peranannya sebagai amanat Tuhan, oleh karena itu orangtua menerima dan
menjunjung tinggi peranan anaknya seperti itu. Namun sebaliknya anak juga
merupakan suatu fitnah atau ujian bagi orangtua dalam melaksanakan peranan
keorangtuaannya. Dalam peralihan selanjutnya anak berperan sebagai anak didik
4. Peran
Anggota Keluarga
Dalam
keluarga sering pula terdapat orang lain dengan peranannya masing-masing, seperti : pembantu, paman, bibi dan sebagainya. Sehingga keluarga tersebut menjai keluarga
besar (extended). Kehadiran serta peranan mereka dalam keluarga itu mewarnai
situasi dan iklim keluarga yang bersangktan serta mempengaruhi pula pengambilan
peranan. Hal ini memperkaya lalu lintas hubungan serta memperkaya jenis corak
peranan yang harus dimainkan oleh anggota keluarga dalam pelaksanaan pendidikan keluarga.
ULASAN
:
Peran anak
Setiap
anggota keluarga memiliki peranannya masing-masing, baik ayah, ibu, atau anak. Seiring
bertambahnya usia juga memungkinkan peranan anak akan mengalami perubahan.
Peran anak dalam keluarga juga mencakup beberapa hal, mulai dari menghormati kedua
orang tua, belajar yang giat, bersikap sopan, bertanggung jawab, dan lain
sebagainya.
BAB III
PENDIDIKAN KELUARGA
A.
Pengertian
Pendidikan Keluarga
Pendidikan Keluarga adalah upaya pendidikan yang
dilaksanakan oleh keluarga dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia
dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Parenting
atau pengasuhan sebagai proses interaksi berkelanjutan antara orang tua dan
anak-anak mereka. Proses parenting adalah sebagai berikut :
1) Interaksi
terus menerus antara anak, orang tua dan masyarakat
2) Anak
yang memiliki kebutuhan di saat yang sama memenuhi kebutuhan penting orang tua
3) Orang
tua bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya serta memenuhi
kebutuhannya.
4) Masyarakat
bertindak sebagai dukungan atau tekanan yang kuat bagi anak dan orang tua
Abdullah (2003:232), pendidikan keluarga adalah segala
usaha yang dilakukan oleh orang tua berupa pembiasaan dan improvisasi untuk
membantu perkembangan pribadi anak.
(Mansur (2005:319) mendefinisikan pendidikan keluarga
sebagai proses pemberian positif bagi tumbuh kembangnya anak sebagai fondasi
pendidikan selanjutnya.
Ki-Hajar Dewantara (1961) salah seorang tokoh
pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa alam keluarga bagi setiap orang (anak)
adalah alam pendidikan permulaan. Di situ untuk pertama kalinya orang tua (ayah
maupun ibu) berkedudukan sebagai penuntun (guru), sebagai pengajar, sebagai
pendidik, pembimbing dan sebagai pendidik yang utama diperoleh anak. Maka tidak
berlebihan kiranya manakala merujuk pada pendapat para ahli di atas konsep
pendidikan keluarga tidak hanya sekedar tindakan (proses), tetapi ia hadir
dalam praktek dan implementasinya, terus dilaksanakan oleh para orang tua
(ayah-ibu) akan nilai-nilai pendidikan dalam keluarga. Meskipun terkadang
secara teoritis harus diakui belum sepenuhnya dipahami, bahkan dalam kebanyakan
orang tua belum banyak tahu bagaimana sebenarnya konsep pendidikan keluarga
itu. Namun, tanpa disadari para orang tua (ayah-ibu) dalam praktek-prakteknya keseharian,
para orang tua telah menjalankan fungsi-fungsi keluarga dalam pendidikan
anak-anak, karena fungsi keluarga pada hakekatnya adalah sebagai pendidikan
budi pekerti, sosial, kewarganegaraan, pembentukan kebiasaan dan pendidikan
intelektual anak
Pendidikan Keluarga mengandung dua makna yang saling
bertautan :
1) Pendidikan
Keluarga mengandung makna pendidikan di dalam keluarga; yaitu pendidikan yang
berlangsung di dalam keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga
atau anak-anak yang menjadi tanggungan keluarga itu.
2) Pendidikan
Keluarga mengandung makna pendidikan tentang berkeluarga; yaitu pendidikan
tentang cara menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan
keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
ULASAN :
Pendidikan keluarga adalah usaha yang
dilakukan orang tua atau orang yang lebih tua didalam keluarga kepada anak yang
memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan kecerdasan intelektual
anak. Karena, keluarga merupakan lingkungan pertama yang menanamkan norma,
mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan anak
kedepannya.
B.
Pendidikan
di Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat.
Dalam Pasal 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
kedudukannya ditegaskan sebagai lembaga pendidikan informal. Pada pasal
tersebut dinyatakan Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan
lingkungan.
Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang dilakukan
orang tua sebagai pendidik utama dalam bentuk bantuan, bimbingan, penyuluhan
dan pengajaran kepada dirinya sendiri, anggota keluarga lain dan kepada
anak-anaknya, sesuai dengan potensi mereka masing-masing, dengan jalan memberikan
pengaruh melalui pergaulan antara mereka.
Sehingga anggota keluarga dan anaknya kelak dapat
hidup mandiri dan bertanggungjawab dalam lingkungan keluarga dan masyarakat
sesuai dengan nilai-nilai budaya yang berlaku dan agama yang dianutnya.
Parenting berasal dari kata “Parent” dan “Penting”.
Parent, berkait dengan bagaimana menjadi orang tua. Penting, meningkatkan
kualitas interaksi anak dengan orang tua. Mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Menghindarkan anak dari potensi perilaku menyimpang.
Jadi “Parenting” adalah cara orang tua bertindak
sebagai orang tua terhadap anak-anaknya, dimana mereka melakukan serangkaian
usaha aktif, karena keluarga merupakan lingkungan kehidupan yang dikenal anak
untuk pertama kalinya dan untuk seterusnya anak belajar di dalam kehidupan
keluarga
Pendidikan Keluarga mengandung dua makna yang saling
bertautan :
Pertama : Pendidikan Keluarga mengandung makna
pendidikan di dalam keluarga; yaitu pendidikan yang berlangsung di dalam
keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga atau anak-anak yang
menjadi tanggungan keluarga itu.
Kedua : Pendidikan Keluarga mengandung makna
pendidikan tentang berkeluarga; yaitu pendidikan tentang cara menyelenggarakan
kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah,
warahmah.
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan
yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan
didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian
besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang
paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Tugas utama dari
keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan
akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar
diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.
Pendidikan informal, yaitu pendidikan keluarga secara
potensial berakar dari pergaulan biasa, khususnya antara orang tua dan anak
didik. Jadi, setiap pergaulan tersebut adalah suatu lapangan pesiapan untuk
berubah menjadi situasi pendidikan kegiatan mendidik dilandasi oleh nilai moral
tertentu. Dalam proses pendidikan setiap orang tua wajib mengembangkan potensi
anak didiknya, dan banyak tergantung dari suasana pendidikan bagaimana tugas
tersebut diwujudkan.
ULASAN :
Pendidikan yang pertama diawali dari keluarga.
Keluarga merupakan tempat pertama bagi pembentukan dan pendidikan anak.
Rumah adalah sekolah pertama yang dikenal oleh anak, dimana peran orang
tua dan keluarga lainnya disini sangatlah penting. Melalui orangtua dan
keluarga yang lainnya anak akan belajar mengenai nilai-nilai dan norma sebelum
anak memasuki jenjang sekolah. Keluarga di rumah harus memiliki bekal
mengenai berbagai macam informasi tentang pendidikan anak.
Keluarga harus memberikan teladan yang baik bagi
anak, karena anak usia dini adalah peniru yang baik. Mereka akan meniru
apa yang dilakukan orang tua atau orang terdekat disekitarnya. Apa yang dilihat
dan didengar anak akan ditiru oleh anak. Jadi sebagai orang tua atau
anggota keluarga yang lainnya harus lebih berhati-hati dalam perilaku maupun
perkataan.
C.
Pendidikan
Berkeluarga
Dalam perspektif pendidikan, posisi keluarga menempati
peran yang cukup urgent dalam membentuk nilai karakter
(akhlak) dalam bermasyarakat, selain sekolah/madrasah dan lingkungan. Membangun
keluarga dengan ciri berpendidikan mungkin bukan perkara mudah, perlu usaha dan
komitmen tinggi dari semua komponen kunci dalam keluarga, suami/istri harus
menunjukkan peranannya secara proporsional dan profesional. Ketika peran-peran
tersebut bisa terejawantah dengan baik, niscaya ketenangan hidup (sakinah)
dapat terwujud.
Pendidikan Berkeluarga yaitu pendidikan tentang cara
menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang
Sakinah, Mawaddah, Warahmah.
Untuk sampai pada target keluarga Samawa dibutuhkan
sebuah kurikulum yang mampu mengarahkan (guide) dalam aktifitas kehidupan.
Secara umum, kurikulum adalah seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan
mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar
mengajar, serta mengetahui hasil pembelajaran melalui evaluasi.
Minimal ada empat komponen yg dibutuhkan dalam
kirikulum, yaitu tujuan/target pencapaian, materi atau bahan ajar, proses atau
kegiatan pembelajaran, serta evaluasi proses dan hasil pembelajaran. Konsep
Samawa tentu butuh komponen kurikulum. Dalam perspektif kurikulum pendidikan
keluarga ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
Pertama, memperjelas tujuan/target kehidupan keluarga,
antara lain, keselamatan dunia akhirat (rabbana aatina fil dunna khasanah wafil
aalhiroti khasanah waqinaa ‘adza bannar), menjadi hamba yang selalu taat kepada
Allah dan Rasul-Nya, dan seterusnya.
Kedua, buat materi/bahan ajar kehidupan keluarga yang
dapat membangun kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup, antara duniawi
dan ukhrowi. Layaknya sebuah lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), keluarga
juga memerlukan materi ajar dalam proses pembelajaran. Bukan hanya sekedar
pencapaian pengetahuan (knowledge) melalui tawaran kumpulan materi ajar, tetapi
penanaman nilai positif, tradisi/habituasi positif yg memang harus dibangun
dalam sebuah keluarga.
Ketiga, menguatkan proses pembelajaran yang mengarah
pada penguatan sikap spiritual (hablum minallah) dan sosial (hablum minannas).
Sebuah target capaian kurikulum nasional yang tidak mungkin hanya mengandalkan
pendidikan formal sekolah/madrasah, tetapi perlu didukung semua pihak.
Penguatan sikap tentu harus dibangun atas kesadaran
bersama antara para pihak, terutama orang tua (keluarga). Komitmen penanaman
nilai-nilai karakter (akhlak, moral, dan seterusnya). Sekali lagi perlu dimulai
dari unit terkecil dari masyarakat, yakni keluarga.
Keempat, melakukan evaluasi dan refleksi terhadap
segala aktifitas yg dilakukan secara berjenjang dan bertahap. Evaluasi diri
(muhasabah) perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kualitas target
capaian hidup terealisasi, adakah proses yg keliru dari kehidupan selama ini.
ULASAN :
Pendidikan berkeluarga adalah pendidikan didalam
keluarga yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang samawa, dimana untuk
mencapai tujuan tersebut harus dilakukan dengan usaha dan komitmen yang tinggi
dari setiap anggota keluarga.
D.
Pembangunan
Keluarga SAMAWA
Menurut kaidah bahasa Indonesia, sakinah mempunyai
arti kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah
mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, juga. Jadi
keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga.
Ciri-Ciri Keluarga Sakinah
1) Rumah
Tangga Didirikan Berlandaskan Al-Quran Dan Sunnah
2) Rumah
Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)
3) Mengetahui
Peraturan Berumahtangga
4) Menghormati
dan Mengasihi Kedua Ibu Bapak
5) Menjaga
Hubungan Kerabat dan Ipar
Mawaddah merupakan jenis cinta membara,
yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, Mawaddah adalah kelapangan dada dan kehendak
jiwa dari kehendak buruk. sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap
berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Rasa damai dan tenteram
hanya dicapai dengan saling mencintai. Maka rumah tangga muslim punya ciri
khusus, yakni bersih lahir baathin, tenteram, damai dan penuh hiasan ibadah.
Firman Allah SWT Surat Ar-Rum : 21 yang
artinya :
“Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan aying. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaum yang berfikir”
Cara membangun keluarga yang SAMAWA :
1)
Memilih pasangan dengan kriteria yang tepat.
Untuk memastikan kita bisa membangun keluarga yang sakinah maka kita
harus bisa menentukan kriteria pasangan yang dicari dengan tepat. Tanpa
pemilihan pasangan yang cermat, akan sulit mencapai kondisi rumah tangga yang
sakinah, mawaddah dan warohmah. Oleh karena itu tentukan dulu pasangan seperti
apa yang dibutuhkan untuk membina keluarga yang sakinah, dan carilah kriteria
tersebut pada calon pasangan yang ada.
2)
Memenuhi syarat utama dalam berumah tangga.
Syarat utama lainnya dalam berumah tangga adalah Mawaddah yaitu artinya
‘Cinta yang menggebu’ dan Rahmah yang
artinya siap berkorban kepada yang dikasihi dan memiliki kasih sayang yang
lembut. Ketika kedua syarat ini terpenuhi maka untuk menuju rumah tangga yang
sakinah tidak akan menjadi begitu sulit, karena keduanya sudah menjadi landasan
terbentuknya satu rumah tangga
3)
Memelihara saling pengertian.
Tumbuhkanlah rasa kasih dan sayang keduanya dan juga anggota keluarga
itu baik. Kedua pihak harus dapat mencari cara menghilangkan sifat egois dan
cara menghilangkan sifat sombong agar dapat saling memahami dan mengerti satu
sama lain.
4)
Landasi rumah tangga dengan ajaran agama.
Tentu saja cara membina rumah tangga sakinah dan cara membina rumah
tangga yang baik adalah dengan melandasinya ajaran agama.
5)
Mengisi rumah tangga dengan kasih sayang.
Cintailah setiap anggota keluarga dengan sepenuh hati, maka rumah
tangga akan selalu penuh dengan kasih sayang. Anak-anak butuh dipeluk orang
tuanya dan pasangan hidup butuh untuk didampingi dan menjadi batu sandaran
dalam sulit.
6)
Senantiasa selalu bersyukur.
Suami dan istri tidak lupa bersyukur untuk beberapa hal kecil lainnya
setiap mereka berdoa kepada Allah. Yakinlah bahwa semua ujian dalam rumah
tangga akan membuat kita lebih kuat dan beriman. Selalu bersyukur terhadap
berbagai hal akan menjadi cara menjaga kesehatan hati dan cara menghindari
perilaku tercela yang bisa muncul dalam diri istri atau suami
7)
Menjalankan kewajiban masing-masing dengan baik.
Suami atau istri harus mengetahui dan memahami tentang tugas kewajiban
masing-masing dengan penuh pengertian.
8)
Saling menghargai.
Adanya rasa saling menghargai maka suami dan istri akan tahu bagaimana
perasaan masing-masing terhadap sesuatu hal tanpa perlu dipaksa untuk
mengungkapkannya.
9)
Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Perlunya kebiasaan saling mengintrospeksi diri dan terus mencari cara
merubah sifat serta cara menjadi pribadi yang baik sangat penting agar
kekurangan suami dan istri dapat diterima oleh satu sama lain dan tidak menjadi
masalah besar dalam sebuah pernikahan.
10)
Memelihara kepercayaan terhadap pasangan.
Suami dan istri tidak bisa rukun bila salah satu selalu curiga terhadap
yang lainnya.
ULASAN :
Sakinah secara sederhana dapat diartikan sebagai
keamanan, kedamaian, ketenangan dan perlindungan timbal balik. Mawaddah artinya
ketika merasa senang dan sedih selalu mencintai keduanya. Akar kata dari
Warrohmah adalah rohmah yang artinya kasih sayang.
Tujuan utama dalam menikah adalah mendapatkan keluarga
yang bahagia yang sakinah mawadah dan warahmah. Agama Islam telah memberikan berbagai
pengarahan untuk bisa mendapatkan keluarga yang sakinah. Jika sebuah rumah
tangga berhasil berjalan dengan sakinah, mawaddah dan warohmah, hal itu akan
memberikan kebaikan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya .Memiliki
keluarga yang utuh adalah dambaan setiap orang yang berada dalam suatu
pernikahan. Untuk mendapatkan keluarga dan rumah tangga yang utuh, diperlukan
adanya cara membina keluarga dengan sakinah, mawadah dan warohmah.
E.
Kehidupan
Keluarga
Kehidupan keluarga memiliki peranan penting di dalam
pembangunan sosial ekonomi, sosial psikologis, sosial budaya dan pembangunan
kehidupan spiritual suatu bangsa.
Perubahan sosial ekonomi suatu bangsa atau negara,
maju atau mundur, dapat diukur atau terposisikan pada kehidupan sosial ekonomi
yang sedang berlangsung dalam kehidupan keluarga.
Kehidupan keluarga dapat berkembang seperti apa yang
diharapkan, apabila kehidupan keluarga diawali oleh pemahaman yang jelas
tentang pengertian keluarga itu sendiri dan keluarga mampu melaksanakan
fungsinya
ULASAN :
Keluarga adalah awal dari sebuah
kehidupan, rumah yang akan menerima dengan kedua tangan. Keluarga bukan
hanya sekadar status sejak lahir. Bukan juga cuma tempat berpulang atau
persoalan siapa dari mereka yang lebih dekat denganmu. Namun, kehadiran
keluarga di tengah kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar dan berharga.
Didalam keluarga kita diajarkan banyak hal baik itu diajarkan
cara interaksi sosial, ekonomi dan yang lainnya.
F.
Contoh
Praktik Baik “Sebuah Keluarga”
Setiap keluarga memiliki visi dan misi untuk mencapai
tujuan yang mereka impikan. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. Dalam
keluarga saya pendidikan pertama diberikan dari orang tua baik dari ayah maupun
ibu, dan pendukung nya seperti kakak, anak diberikan pembiasaan baik seperti
diajarkan untuk selalu senantiasa bertaqwa kepada Tuhan, membangun hubungan
yang baik antar anggota keluarga, tetangga maupun teman, dan selalu membantu
dalam hal pelajaran disekolah. Keluarga juga selalu terbuka jika ada masalah
diantara anggota keluarga dan selalu mencari solusi bersama untuk masalah
tersebut. Menjadi tempat untuk berkumpul dan bercanda bersama tidak ada kecanggungan
antara orangg tua dengan anak karena semuanya saling terbuka, dan kalau pun ada
pertengkaran tidak sampai berlarut-larut, semuanya akan mulai normal kembali
karena kita selalu diajarkan untuk meminta maaf duluan jikalau merasa bersalah
pada orang lain. Orang tua juga selalu mengajarkan dan meminta anak untuk
mengembangkan potensi yang di miliki oleh anak, bukan memaksakan apa yang orang
tua inginkann untuk anak. Selalu memberikan reward sebagai bentuk apresiasi
keberhasilan anak, dan memberikan semangat saat anak merasa terpuruk atau
merasa diposisi bawah. Orang tua juga selalu bertutur kata yang baik didepan
anak-anaknya dan selalu mengingatkan agar kita sebagai anak bertutur kata yang
baik juga baik dilingkungan keluarga maupun diluar rumah, pembiasaan ini juga
melekat sampai saat ini meskipun lingkungan pertemanan anak ada saja beberapa
anak yang sering bertutur kata tidak baik/ toxic
, anak tidak ikut terbawa oleh temannya tersebut karena sudah terbiasa bertutur
kata yang baik seperti yang diajarkan oleh orang tuanya.
DAFTAR PUSTAKA
Samhis
Setiawan. 2021. Pengertian Keluarga.
Diakses pada 4 Oktober 2021, dari https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-keluarga/
Hanif
Sri Yulianto. 2021. Penjelasan 8 Fungsi
Keluarga yang Wajib Diketahui. Diakses pada 4 Oktober 2021, dari https://www.bola.com/ragam/read/4485007/penjelasan-8-fungsi-keluarga-yang-wajib-diketahui
Dr.
Suparyanto, M.Kes. 2011. Pengertian
Keluarga. Diakses pada 6 Oktober 2021, dari
http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/10/pengertian-keluarga.html
M.
Syahran Jailani. Teori Pendidikan
Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan Anak Usia Dini.
Diakses pada 20 Oktober 2021, dari https://media.neliti.com/media/publications/publications/56713-ID-teori-pendidikan-keluarga-dan-tangung-ja.pdf
Hery
Noer Aly. 2008. Watak Pendidikan Islam.
Diakses pada 20 Oktober 2021, dari http://repository.uinbanten.ac.id/2176/5/BAB%20III%20Revisi.pdf
Sofyan
Basir. 2019. Membangun Keluarga Sakinah.
Diakses pada 26 Oktober 2021, dari https://core.ac.uk/download/pdf/327171681.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar