Jumat, 17 Maret 2023

Pendidikan Keluarga dan Parenting

 

LAPORAN MATERI PERKULIAHAN

PENDIDIKAN KELUARGA DAN PARENTING

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu

Mata Kuliah : Pendidikan Keluarga dan Parenting

Disusun oleh,

Putry Anjani 

 

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

2021


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak yang memberikan dukungan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik anak dalam kehidupannya.

Dilihat dari segi pendidikan, keluarga merupakan satu kesatuan hidup (sistem nasional), dan keluarga menyediakan situasi belajar. Sebagai satu kesatuan hidup bersama (sistem sosial), keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ikatan kekeluargaan membantu anak mengembangkan sifat persahabatan, cinta kasih, hubungan antar pribadi, kerja sama, disiplin, tingkah laku yang baik, serta pengakuan akan kepribadian.

 

B.     Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan laporan materi perkuliahan pendidikan keluarga dan parenting ini adalah sebagai berikut:

1.      Memenuhi tugas perkuliahan pendidikan keluarga dan parenting

2.      Mengetahui pengertian keluarga dari pandangan para ahli

3.      Mengetahui bentuk-bentuk keluarga berdasarkan pandangan para ahli

4.      Mengetahui hubungan keluarga

5.      Mengetahui fungsi dari keluarga

6.      Mengetahui peran dalam keluarga

7.      Mengetahui pengertian pendidikan keluarga

8.      Mengetahui pendidikan di keluarga

9.      Mengetahui pendidikan berkeluarga

10.  Mengetahui pembangunan keluarga yang SAMAWA

11.  Mengetahui kehidupan keluarga

12.  Mengetahui dan menuliskan contoh praktik baik sebuah keluarga

 

C.    Ruang Lingkup

Penulisan laporan ini mempunyai ruang lingkup sebagai berikut:

1.      Hubungan manusia dengan Tuhan nya

2.      Hubungan manusia dengan manusia

3.      Hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya

 

BAB II

KONSEP KELUARGA

A.    Pengertian Keluarga

1.      Departeman Kesehatan RI (1988)

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan yinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

2.      BKKBN (1999)

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungan.

3.      UU No.10 tahun 1992

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.

4.      Raisner (1980)

Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing  mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak , ibu , adik dan kakak , nenek.

5.      Spradley dan Allender ( 1996)

Keluarga adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari individu-individu yang bergabung dan berinteraksi secara teratur  antara satu dengan yang lain yang di wujudkan dengan adanya saling ketergantungan dan berhubungan untuk mencapai tujuan bersama.

 

ULASAN :

Pengertian keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang tinggal dan berkumpul di satu atap, yang saling berinteraksi dan saling ketergantungan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lainnya.

 

B.     Bentuk-bentuk Keluarga Berdasarkan Pandangan Para Ahli

1.      Keluarga Inti

Keluarga inti (nuclear family), yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunan atau adopsi maupun keduanya.

2.      Keluarga Asal

Keluarga asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang dilahirkan.

3.      Keluarga Besar

Keluarga besar (ekstended family), yaitu keluarga inti ditambah dengan sanak saudaranya, misalnya kakek, nenek, keponakan, paman, bibi, saudara sepupu, dan lain sebagainya

4.      Keluarga Berantai

Keluarga Berantai, yaitu keluarga yang terbentuk karena perceraian dan/atau kematian pasangan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.

5.      Keluarga Duda atau Janda

Keluarga duda atau janda ( single family ), keluarga yang terjadi karena perceraian dan/atau kematian pasangan yang dicintai.

6.      Keluarga Komposit

Keluarga berkomposisi (composite) yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama-sama.

7.      Keluarga Kohabitasi

Keluarga kohabitasi ( Cohabitation ), dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan, bisa memiliki anak atau tidak. Di Indonesia bentuk keluarga ini tidak lazim dan bertentangan budaya timur. Namun, lambat laun, keluarga kohabitasi ini mulai dapat diterima.

8.      Keluarga Inses

Keluarga inses (incest family), seiring dengan masuknya nilai-nilai global dan pengaruh informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim, misalnya anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ibu menikah dengan anak kandung laki-laki, paman menikah dengan keponakannya, kakak menikah dengan adik dari satu ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak perempuan tirinya. Walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah keluarga inses semakin hari semakin besar. Hal ini dapat kita cermati melalui pemberitaan dari berbagai media cetak dan elektronik.

9.      Keluarga Tradisional dan Non Tradisional

Keluarga tradisional dan nontradisional, dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga nontradisional tidak diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga tradisional adalah ayah-ibu dan anak hasil dari perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga nontradisional adalah sekelompok orang tinggal di sebuah asrama

 

ULASAN :

Keluarga Duda/Janda (Single Family)

Keluarga duda/janda (single family) adalah orang tua yang memelihara dan membesarkan anak-anaknya tanpa adanya kehadiran dari pasangannya, mereka melakukan 2 tugas sekaligus yaitu sebagai ayah dan ibu dari anak-anaknya seorang diri, karena kehilangan/terpisah dengan pasangannya.

Single family sendiri dapat terjadi disebabkan oleh 2 hal, baik itu yang disengaja (diinginkan) seperti perceraian maupun yang tidak disengaja (tragedi) seperti kematian pasangannya.

Didalam sebuah keluarga terdapat sosok ayah, ibu dan anak sebagai satu kesatuan utuh yang saling melengkapi satu sama lainnya. Berbeda dengan single family terlihat jelas adanya ketidaklengkapan dalam jumlah anggota keluarga nya, seperti tidak adanya ayah sebagai kepala keluarga atau tidak ada sosok ibu yang kehadirannya selalu dirindukan dirumah. Akibat dari ketidaklengkapan tersebut maka pada akhirnya akan mengubah tatanan fungsi didalam keluarga tersebut.

Secara otomatis keluarga dalam single family memiliki 2 peranan ganda sekaligus yaitu menjadi sosok ayah dan ibu untuk anak-anaknya. Mereka memberi nafkah bagi anak yang ditanggungnya, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk mengasuh anaknya. Mereka harus bisa melakukan keduanya dalam keadaan seimbang antara mencari nafkah dan menjadi pengasuh bagi anak-anaknya. Apabila salah satu dari itu tidak seimbang maka akan berdampak buruk bagi anaknya. Misalnya seorang ayah/ibu (janda/duda) yang terlalu sibuk untuk bekerja, tidak ada waktu luang dan mengabaikan anak-anak nya dapat menyebabkan dampak buruk bagi anak yang di asuh nya.

Keluarga Inti

Keluarga inti adalah unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan inti dari sebuah keluarga yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu, terdiri dari ayah, ibu dan anak.

 

C.    Hubungan Keluarga

1.      Hubungan Suami dan Istri

Dalam kehidupan keluarga, pola hubungan antara suami-istri sangat vital, karena kedua tokoh itu menduduki posisi kunci kehidupan keluarga tersebut. Hubungan suami-istri tumbuh dan berkembang sejak perkenalan hingga dikukuhkan melalui pernikahan yang diserahkan kepada terciptanya suatu kehidupan keluarga yang tenang tenteram penuh kedamaian, diliputi rahmat dan kasih sayang. Pola, corak dan kualitas pun berkembang seiring perkembangan kehidupan keluarga itu sendiri

2.      Hubungan Orang Tua Dengan Anak

Komunikasi antara orangtua dengan anak sewaktu-waktu dapat beralih menjadi komunikasi edukatif. Dalam peralihan ini orangtua sebagai pendidik yang aktif. Pelaksnaan komunikasi edukatif yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara dengan mottonya: hing ngarso sung tulada, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Komunikasi edukatif itu menyiratkan adanya empati dan identifikasi antara orang tua sebagai pendidik dengan anak sebagai terdidik, secara timbal balik, di mana pendidik menginginkan yang terbaik bagi anak didiknya dalam suasana kasih sayang. Akan tetapi pendidik tidak berpresentasi bahwa ia dapat mengubah dan membentuk anak didik sekehendak hatinya. 

3.      Hubungan Anak Dengan Anak

Komunikasi antar anak dengan anak berlangsung seirama dengan tahapan perkembangan pribadinya. Melalui permainan yang merupakan dunia anak, mereka menemukan adanya aturan dan keteraturan dalam bermain bersama dan kehidupan bersama, yang mempradugakanya adanya komunikasi dan saling mempercayai di antara mereka dengan mengakui dan menghormati peran mereka masing-masing dalam permainan bersama dan kehidupan bersama itu.

4.      Hubungan Anak Dengan Lingkungan

Anak-anak menangkap dan menemui serta berkomunikasi dengan lingkungan dan dunianya selaras dengan perikeadaannya sebagai anak yang sedang berkembang, sehingga persepsinya terhadap lingkungan dan dunianya itu berbeda dengan persepsi orang dewasa.  

5.      Hubungan Anak Dengan Tetangga

a)      Pola hubungan yang tertutup.

Suatu keluarga “menutup diri” terhadap tetangganya, sepertinya tidak mau tahu tentang tetangganya dan tidak mengadakan hubungan dengan mereka, sehingga mereka nampak mengisolasi diri terhadap tetangganya dan orang lain yang tidak berurusan dengannya.   Atau mungkin mereka tidak bermaksud demikian, hanya sekedar ingin membatasi diri dalam hubungannya dengan tetangganya.

b)      Pola hubungan yang terbuka

Pola  yang terbuka ditemukan manakala antar keluarga terdapat hubungan yang akrab sehingga di antara mereka bukan sekedar  saling mengenal, melainkan bahkan saling memperhatikan. Kehidupan suatu keluarga sepertinya “transparan” atau tembus pandang bagi tetangganya dan mereka saling perduli satu sama lain. Pola terbuka manakala antara para keluarga tidak dirasakan ada suatu banteng pemisah , entah dalam bentuk perbedaan stratifikasi  atau perbedaan kemampuan ekonomis, disebut Tonnies dengan istilah Gemeninschaft.  

6.      Hubungan Anak Dengan Tuhan

Kesadaran manusia akan aturan dan keteraturan yang ditemukannya di dunia yang tidak dapat ditembusnya begitu sja, menyadarinya pula akan kemampuan dan ketidakmampuannya dan akan kedudukannya di dunia ini. Banyak perstiwa dalam kehidupan keluarga khususnya, yang di luar perhitungan dan kemauan dan bahkan tidak terpikirkannya. Hal ini menyadarkan mereka akan adanya suatu kekuatan dan kekuasaan di luar dirinya yang akhirnya menuntunnya ke arah kehidupan religius.

 

ULASAN :

Hubungan anak dengan lingkungan

Lingkungan merupakann salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Lingkungan mempengaruhi perkembangan karakter pada anak. Bila anak tumbuh dan berkembang di lingkungan yang baik, santun, dan taat beragama maka anak pun akan tercetak menjadi pribadi yang baik. Tetapi sebaliknya, pengaruh buruk dari lingkungan juga merupakan kebiasaan yang mudah menular, oleh karena itu orang tua harus benar-benar memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap anak.

Keluarga merupakan lingkungan pertama anak pada masa tumbuh kembangnya. Orang tua menjadi role model pertama yang akan ditiru oleh anak-anaknya, oleh karena itu penting untuk orang tua menjaga sikapnya didepan anak-anaknya. Sikap yang baik dari orang tua akan turut serta menanamkan kebiasaan baik pada anak-anaknya. Kebiasaan baik ini lah yang akan ditanamkan kepada anak-anaknya.

Saat menginjak usia sekolah, orang tua harus bisa menyadari betapa pentingnya pengarush lingkungan sekolah terhadap anaknya. Walaupun berada diluar lingkungan keluarga, orang tua harus selalu memperhatikan anak-anaknya seperti bagaimana sikap dia di sekolah, dengan siapa dia berteman dan yang lainnya.

 

D.    Fungsi Keluarga

1.      Fungsi Keagamaan

Agama adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Keluarga adalah tempat pertama penanaman nilai-nilai keagamaan dan pemberi identitas agama pada setiap anak yang lahir. Keluarga menumbuh kembangkan nilai-nilai agama sehingga anak menjadi manusia yang berakhlak baik dan bertakwa.

Keluarga mengajarkan seluruh anggotanya untuk melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melaksanakan fungsi agama tidak boleh mengabaikan toleransi beragama karena keluarga Indonesia menganut kepercayaan dan agama yang beragam

2.      Fungsi Sosial Budaya

Keluarga adalah wahana utama dalam pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur budaya yang selama ini menjadi anutan dalam tata kehidupan.

Fungsi sosial budaya memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan.

Dengan demikian, nilai luhur yang selama ini sudah menjadi anutan dalam kehidupan bangsa tetap dapat dipertahankan dan dipelihara. Keluarga menjadi wahana pertama anak dalam belajar berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, serta belajar adat istiadat yang berlaku di sekitarnya.

3.      Fungsi Cinta Kasih

Cinta dan kasih sayang merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter anak. Fungsi cinta kasih memiliki makna keluarga harus menjadi tempat untuk menciptakan suasana cinta dan kasih sayang dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Fungsi cinta kasih dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan kasih sayang dan rasa aman serta memberikan perhatian di antara anggota keluarga.

Fungsi cinta kasih dalam keluarga menjadi landasan yang kukuh terhadap hubungan anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan anaknya, serta hubungan kekerabatan antargenerasi sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.

4.      Fungsi Perlindungan

Keluarga adalah tempat bernaung atau berlindung bagi seluruh anggota dan tempat untuk menumbuhkan rasa aman serta kehangatan. Adanya suasana saling melindungi, keluarga harus menjadi tempat yang aman, nyaman. dan menenteramkan semua anggotanya.

Jika keluarga berfungsi dengan baik, keluarga akan mampu memberikan fungsi perlindungan bagi anggotanya serta dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Keluarga melindungi setiap anggotanya dari tindakan-tindakan yang kurang baik sehingga anggota keluarga merasa nyaman dan terlindung dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

5.      Fungsi Reproduksi

Keluarga menjadi pengatur reproduksi keturunan secara sehat dan berencana sehingga anak-anak yang dilahirkan menjadi generasi penerus yang berkualitas.

Keluarga menjadi tempat mengembangkan fungsi reproduksi secara menyeluruh, termasuk seksualitas yang sehat dan berkualitas, dan pendidikan seksualitas bagi anak.

Keluarga juga menjadi tempat memberikan informasi kepada anggotanya tentang hal-hal yang berkitan dengan seksualitas. Melanjutkan keturunan yang direncanakan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan keluarga.

6.      Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan

Keluarga sebagai tempat utama dan pertama memberikan pendidikan kepada semua anak untuk bekal masa depan. Pendidikan yang diberikan oleh keluarga meliputi pendidikan untuk mencerdaskan dan membentuk karakter anak.

Fungsi sosialisasi dan pendidikan memiliki makna bahwa keluarga sebagai tempat untuk mengembangkan proses interaksi dan tempat untuk belajar bersosialisasi serta berkomunikasi secara baik dan sehat. Dengan interaksi intensif dalam keluarga, proses pendidikan berjalan dengan efektif.

Keluarga menyosialisasikan kepada anak tentang nilai, norma, dan cara untuk berkomunikasi dengan orang lain, mengajarkan tentang hal-hal yang baik dan buruk maupun yang salah dan yang benar.

7.      Fungsi Ekonomi

Keluarga adalah sebagai tempat utama dalam membina dan menanamkan nilai-nilai yang berhubungan dengan keuangan dan pengaturan penggunaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mewujudkan keluarga sejahtera.

Keluarga sebagai tempat untuk memperoleh makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan materi lainnya serta memberikan dukungan finansial kepada anggotanya.

8.      Fungsi Pembinaan Lingkungan

Keluarga memiliki peran mengelola kehidupan dengan tetap memelihara lingkungan di sekitarnya, baik lingkungan fisik maupun sosial, dan lingkungan mikro, meso, dan makro.

Keluarga berperan untuk membina lingkungan masyarakat dan lingkungan alam sekitar. Keluarga dan anggotanya harus mengenal tetangga dan masyarakat di sekitar serta peduli terhadap kelestarian lingkungan alam.

Sikap peduli keluarga terhadap lingkungan untuk memberikan yang terbaik bagi generasi yang akan datang.

 

ULASAN :

Fungsi Keagamaan

Keluarga merupakan tempat pertama dimana agama diajarkan. Penanaman nilai-nilai agama sangat erat kaiannya dengan penanaman akhlak kepada anak, oleh karena itu keluarga wajib memperkenalkan dan mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Hal ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada anak untuk kehidupan di masyarakat ataupun di akhirat nanti. Dari semua agama yang ada, semuanya mengajarkan tentang hal-hal yang baik, menuntun umatnya untuk senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan-nya serta selalu berbuat baik dan benar.

      Peran orang tua sangat berpengaruh bagi tingkat keimanan anaknya, melalui bimbingannya untuk lebih mengenal lagi siapa Tuhan-nya, bagaimana sifat Tuhan-nya, dan bagaimana kewajiban kita terhadap Tuhan.

      Penananman nilai-nilai keagamaan kepada anak juga harus memperhatikan tingkatan usia, fisik maupun psikis anak supaya mereka lebih mudah mencerna apa yang di ajarkan oleh orang tuanya.

      Nilai agama sebagai penyaring suatu kebiasaan/ adat / kebudayaan. Oleh karena itu, keluarga harus senantiasa mengajarkan dan mengamalkan isi dari nilai-nilai keagamaan yang di anutnya, karena anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Maka dari itu sebagai orang tua harus selalu mengingatkan supaya anak selalu ingat terhadap Tuhan-nya dan menjadikan Agama sebagai patokan untuk berbuat sesuatu.

 

E.     Peran Keluarga

1.      Peran Istri

Ditinjau dari kehidupan keluarga secara keseluruhan, ibu berperan sebagai “ratu rumah tangga” yang mengemudikan bahtera rumah tangga. Oleh karena itu memegang peranan yang sangat vital bagi terciptanya iklim keluarga yang baik, kondisi dan situasi pendidikan keluarga yang harmonis. Pelaksanaan peranannya sebagai ratu rumah tangga mencakup: tatalaksana kerumahtanggaan, makanan, dan busana. Ketiga jenis tatalaksana tersebut saat ini telah menjadi bidang studi yang cukup luas dan kompleks

Dalam masyarakat modern, seorang istri juga dituntut untuk menunaikan tugasnya di luar keluarga, realisasi peranan ratu rumah tangga mengalami perubahan yang cukup mendalam. Sebab betapapun sang istri itu sudah bekerja di luar rumah, namun “kehadirannya” di dalam keluarga tetap diperlukan.  Saat ini peran istri menjadi berubah “multi peran”, namun dalam melaksanakan tugasnya tetap dituntut berperan sebagai wanita. Berperan sebagai wanita di keluarga, maka dalam kehidupan berkeluarga memegang peranan mengandung dan melahirkan anak. Dalam hubungannya dengan anak, wanita berperan sebagai seorang ibu yang menjadi pendidik pertama dan utama. Ibu bagi anak merupakan lambang kasih yang abadi  dan tidak tergantikan.

2.      Peran Suami

Dalam kehidupan sehari-hari ayah berperan sebagai kepala keluarga.Ia memimpin kehidupan keluarga pada umumnya dan bertanggungjawab terhadap seluruh kehidupan keluarga. Sedangkan sang istri mengemban tugas mengelola rumah tangga.

Sang suami ibarat nakhoda dan istri ibarat jurumudi bahtera rumah tangga. Anatar keduanya ada pembagian kerja secara seimbang dan saling mengisi atau saling melengkapi. Di bidang ekonomi keluarga suami lebih berperan dalam pengadaan dan pengayaan dana keluarga atau pencari nafkah, sedang bu berperan sebagai pengatur dana sehingga dapat dinikmati manfaatnya oleh seluruh keluarga. Suami bertanggung jawab  atas kelancaran kehidupan keluarga dan kesejahteraan serta keselamatan seluruh keluarga. Peran suami berperan sebagai pelindung keluarga lahir bathin dan terpenuhinya kebutuhan dasar. Maslow memperkenalkan lima jenis kebutuhan dasar (basic need) manusia, yaitu: (1)  kebutuhan dasar biologis,  (2)  kebutuhan dasar rasa aman; (3) kebutuhan dasar cinta kasih; (4) kebutuhan dasar pengakuan status; (5) kebutuhan dasar harga diri atau realisasi diri.

3.      Peran Anak

Anak merupakan  tokoh penting dalam keluarga. Dalam sudut “segi tiga nan abadi suatu keluarga atau  “The Eternal Triangle” anak menduduki peranan penting. Orangtua rela melakukan atau memiliki sesuatu adalah untuk anak. Anak tampil peranannya sebagai amanat Tuhan, oleh karena itu orangtua menerima dan menjunjung tinggi peranan anaknya seperti itu. Namun sebaliknya anak juga merupakan suatu fitnah atau ujian bagi orangtua dalam melaksanakan peranan keorangtuaannya. Dalam peralihan selanjutnya anak berperan sebagai anak didik

4.      Peran Anggota Keluarga

Dalam keluarga sering pula terdapat orang lain dengan peranannya masing-masing,  seperti : pembantu, paman,  bibi dan sebagainya.  Sehingga keluarga tersebut menjai keluarga besar (extended). Kehadiran serta peranan mereka dalam keluarga itu mewarnai situasi dan iklim keluarga yang bersangktan serta mempengaruhi pula pengambilan peranan. Hal ini memperkaya lalu lintas hubungan serta memperkaya jenis corak peranan yang harus dimainkan oleh anggota keluarga  dalam pelaksanaan pendidikan keluarga.

 

ULASAN :

Peran anak

Setiap anggota keluarga memiliki peranannya masing-masing, baik ayah, ibu, atau anak. Seiring bertambahnya usia juga memungkinkan peranan anak akan mengalami perubahan. Peran anak dalam keluarga juga mencakup beberapa hal, mulai dari menghormati kedua orang tua, belajar yang giat, bersikap sopan, bertanggung jawab, dan lain sebagainya.

 

 

BAB III

PENDIDIKAN KELUARGA

A.    Pengertian Pendidikan Keluarga

Pendidikan Keluarga adalah upaya pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Parenting atau pengasuhan sebagai proses interaksi berkelanjutan antara orang tua dan anak-anak mereka. Proses parenting adalah sebagai berikut :

1)      Interaksi terus menerus antara anak, orang tua dan masyarakat

2)      Anak yang memiliki kebutuhan di saat yang sama memenuhi kebutuhan penting orang tua

3)      Orang tua bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya serta memenuhi kebutuhannya.

4)      Masyarakat bertindak sebagai dukungan atau tekanan yang kuat bagi anak dan orang tua

Abdullah (2003:232), pendidikan keluarga adalah segala usaha yang dilakukan oleh orang tua berupa pembiasaan dan improvisasi untuk membantu perkembangan pribadi anak.

(Mansur (2005:319) mendefinisikan pendidikan keluarga sebagai proses pemberian positif bagi tumbuh kembangnya anak sebagai fondasi pendidikan selanjutnya.

Ki-Hajar Dewantara (1961) salah seorang tokoh pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa alam keluarga bagi setiap orang (anak) adalah alam pendidikan permulaan. Di situ untuk pertama kalinya orang tua (ayah maupun ibu) berkedudukan sebagai penuntun (guru), sebagai pengajar, sebagai pendidik, pembimbing dan sebagai pendidik yang utama diperoleh anak. Maka tidak berlebihan kiranya manakala merujuk pada pendapat para ahli di atas konsep pendidikan keluarga tidak hanya sekedar tindakan (proses), tetapi ia hadir dalam praktek dan implementasinya, terus dilaksanakan oleh para orang tua (ayah-ibu) akan nilai-nilai pendidikan dalam keluarga. Meskipun terkadang secara teoritis harus diakui belum sepenuhnya dipahami, bahkan dalam kebanyakan orang tua belum banyak tahu bagaimana sebenarnya konsep pendidikan keluarga itu. Namun, tanpa disadari para orang tua (ayah-ibu) dalam praktek-prakteknya keseharian, para orang tua telah menjalankan fungsi-fungsi keluarga dalam pendidikan anak-anak, karena fungsi keluarga pada hakekatnya adalah sebagai pendidikan budi pekerti, sosial, kewarganegaraan, pembentukan kebiasaan dan pendidikan intelektual anak

Pendidikan Keluarga mengandung dua makna yang saling bertautan :

1)      Pendidikan Keluarga mengandung makna pendidikan di dalam keluarga; yaitu pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga atau anak-anak yang menjadi tanggungan keluarga itu.

2)      Pendidikan Keluarga mengandung makna pendidikan tentang berkeluarga; yaitu pendidikan tentang cara menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

ULASAN :

Pendidikan keluarga adalah usaha yang dilakukan orang tua atau orang yang lebih tua didalam keluarga kepada anak yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan kecerdasan intelektual anak. Karena, keluarga merupakan lingkungan pertama yang menanamkan norma, mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan anak kedepannya.

 

B.     Pendidikan di Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Dalam Pasal 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kedudukannya ditegaskan sebagai lembaga pendidikan informal. Pada pasal tersebut dinyatakan Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang dilakukan orang tua sebagai pendidik utama dalam bentuk bantuan, bimbingan, penyuluhan dan pengajaran kepada dirinya sendiri, anggota keluarga lain dan kepada anak-anaknya, sesuai dengan potensi mereka masing-masing, dengan jalan memberikan pengaruh melalui pergaulan antara mereka.

Sehingga anggota keluarga dan anaknya kelak dapat hidup mandiri dan bertanggungjawab dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai budaya yang berlaku dan agama yang dianutnya.

Parenting berasal dari kata “Parent” dan “Penting”. Parent, berkait dengan bagaimana menjadi orang tua. Penting, meningkatkan kualitas interaksi anak dengan orang tua. Mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Menghindarkan anak dari potensi perilaku menyimpang.

Jadi “Parenting” adalah cara orang tua bertindak sebagai orang tua terhadap anak-anaknya, dimana mereka melakukan serangkaian usaha aktif, karena keluarga merupakan lingkungan kehidupan yang dikenal anak untuk pertama kalinya dan untuk seterusnya anak belajar di dalam kehidupan keluarga

Pendidikan Keluarga mengandung dua makna yang saling bertautan :

Pertama : Pendidikan Keluarga mengandung makna pendidikan di dalam keluarga; yaitu pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga atau anak-anak yang menjadi tanggungan keluarga itu.

Kedua : Pendidikan Keluarga mengandung makna pendidikan tentang berkeluarga; yaitu pendidikan tentang cara menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.

Pendidikan informal, yaitu pendidikan keluarga secara potensial berakar dari pergaulan biasa, khususnya antara orang tua dan anak didik. Jadi, setiap pergaulan tersebut adalah suatu lapangan pesiapan untuk berubah menjadi situasi pendidikan kegiatan mendidik dilandasi oleh nilai moral tertentu. Dalam proses pendidikan setiap orang tua wajib mengembangkan potensi anak didiknya, dan banyak tergantung dari suasana pendidikan bagaimana tugas tersebut diwujudkan.

 

ULASAN :

Pendidikan yang pertama diawali dari keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama bagi  pembentukan dan pendidikan anak. Rumah adalah sekolah pertama  yang dikenal oleh anak, dimana peran orang tua dan keluarga lainnya disini sangatlah penting.  Melalui orangtua dan keluarga yang lainnya anak akan belajar mengenai nilai-nilai dan norma sebelum  anak memasuki jenjang sekolah. Keluarga di rumah harus memiliki bekal mengenai  berbagai macam informasi tentang pendidikan anak. 

Keluarga harus  memberikan teladan yang baik bagi anak, karena anak usia dini  adalah peniru yang baik. Mereka akan meniru apa yang dilakukan orang tua atau orang terdekat disekitarnya. Apa yang dilihat dan didengar anak akan ditiru oleh anak.  Jadi sebagai orang tua atau anggota keluarga yang lainnya harus lebih berhati-hati dalam perilaku maupun perkataan.

 

C.    Pendidikan Berkeluarga

Dalam perspektif pendidikan, posisi keluarga menempati peran yang cukup urgent dalam membentuk nilai karakter (akhlak) dalam bermasyarakat, selain sekolah/madrasah dan lingkungan. Membangun keluarga dengan ciri berpendidikan mungkin bukan perkara mudah, perlu usaha dan komitmen tinggi dari semua komponen kunci dalam keluarga, suami/istri harus menunjukkan peranannya secara proporsional dan profesional. Ketika peran-peran tersebut bisa terejawantah dengan baik, niscaya ketenangan hidup (sakinah) dapat terwujud.

Pendidikan Berkeluarga yaitu pendidikan tentang cara menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah.

Untuk sampai pada target keluarga Samawa dibutuhkan sebuah kurikulum yang mampu mengarahkan (guide) dalam aktifitas kehidupan. Secara umum, kurikulum adalah seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar, serta mengetahui hasil pembelajaran melalui evaluasi.

Minimal ada empat komponen yg dibutuhkan dalam kirikulum, yaitu tujuan/target pencapaian, materi atau bahan ajar, proses atau kegiatan pembelajaran, serta evaluasi proses dan hasil pembelajaran. Konsep Samawa tentu butuh komponen kurikulum. Dalam perspektif kurikulum pendidikan keluarga ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

Pertama, memperjelas tujuan/target kehidupan keluarga, antara lain, keselamatan dunia akhirat (rabbana aatina fil dunna khasanah wafil aalhiroti khasanah waqinaa ‘adza bannar), menjadi hamba yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan seterusnya.

Kedua, buat materi/bahan ajar kehidupan keluarga yang dapat membangun kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup, antara duniawi dan ukhrowi. Layaknya sebuah lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), keluarga juga memerlukan materi ajar dalam proses pembelajaran. Bukan hanya sekedar pencapaian pengetahuan (knowledge) melalui tawaran kumpulan materi ajar, tetapi penanaman nilai positif, tradisi/habituasi positif yg memang harus dibangun dalam sebuah keluarga.

Ketiga, menguatkan proses pembelajaran yang mengarah pada penguatan sikap spiritual (hablum minallah) dan sosial (hablum minannas). Sebuah target capaian kurikulum nasional yang tidak mungkin hanya mengandalkan pendidikan formal sekolah/madrasah, tetapi perlu didukung semua pihak.

Penguatan sikap tentu harus dibangun atas kesadaran bersama antara para pihak, terutama orang tua (keluarga). Komitmen penanaman nilai-nilai karakter (akhlak, moral, dan seterusnya). Sekali lagi perlu dimulai dari unit terkecil dari masyarakat, yakni keluarga.

Keempat, melakukan evaluasi dan refleksi terhadap segala aktifitas yg dilakukan secara berjenjang dan bertahap. Evaluasi diri (muhasabah) perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kualitas target capaian hidup terealisasi, adakah proses yg keliru dari kehidupan selama ini.

 

ULASAN :

Pendidikan berkeluarga adalah pendidikan didalam keluarga yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang samawa, dimana untuk mencapai tujuan tersebut harus dilakukan dengan usaha dan komitmen yang tinggi dari setiap anggota keluarga.

 

D.    Pembangunan Keluarga SAMAWA

Menurut kaidah bahasa Indonesia, sakinah mempunyai arti kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, juga. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga.

Ciri-Ciri Keluarga Sakinah

1)      Rumah Tangga Didirikan Berlandaskan Al-Quran Dan Sunnah

2)      Rumah Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)

3)      Mengetahui Peraturan Berumahtangga

4)      Menghormati dan Mengasihi Kedua Ibu Bapak

5)      Menjaga Hubungan Kerabat dan Ipar

Mawaddah merupakan jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, Mawaddah adalah kelapangan dada dan kehendak jiwa dari kehendak buruk. sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Rasa damai dan tenteram hanya dicapai dengan saling mencintai. Maka rumah tangga muslim punya ciri khusus, yakni bersih lahir baathin, tenteram, damai dan penuh hiasan ibadah.

Firman Allah SWT Surat Ar-Rum : 21 yang artinya :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan aying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaum yang berfikir”

Cara membangun keluarga yang SAMAWA :

1)      Memilih pasangan dengan kriteria yang tepat. 

Untuk memastikan kita bisa membangun keluarga yang sakinah maka kita harus bisa menentukan kriteria pasangan yang dicari dengan tepat. Tanpa pemilihan pasangan yang cermat, akan sulit mencapai kondisi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Oleh karena itu tentukan dulu pasangan seperti apa yang dibutuhkan untuk membina keluarga yang sakinah, dan carilah kriteria tersebut pada calon pasangan yang ada.

2)      Memenuhi syarat utama dalam berumah tangga.

Syarat utama lainnya dalam berumah tangga adalah Mawaddah yaitu artinya ‘Cinta yang menggebu’  dan Rahmah yang artinya siap berkorban kepada yang dikasihi dan memiliki kasih sayang yang lembut. Ketika kedua syarat ini terpenuhi maka untuk menuju rumah tangga yang sakinah tidak akan menjadi begitu sulit, karena keduanya sudah menjadi landasan terbentuknya satu rumah tangga

3)      Memelihara saling pengertian.

Tumbuhkanlah rasa kasih dan sayang keduanya dan juga anggota keluarga itu baik. Kedua pihak harus dapat mencari cara menghilangkan sifat egois dan cara menghilangkan sifat sombong agar dapat saling memahami dan mengerti satu sama lain.

4)      Landasi rumah tangga dengan ajaran agama.

Tentu saja cara membina rumah tangga sakinah dan cara membina rumah tangga yang baik adalah dengan melandasinya ajaran agama.

5)      Mengisi rumah tangga dengan kasih sayang.

Cintailah setiap anggota keluarga dengan sepenuh hati, maka rumah tangga akan selalu penuh dengan kasih sayang. Anak-anak butuh dipeluk orang tuanya dan pasangan hidup butuh untuk didampingi dan menjadi batu sandaran dalam sulit.

6)      Senantiasa selalu bersyukur.

Suami dan istri tidak lupa bersyukur untuk beberapa hal kecil lainnya setiap mereka berdoa kepada Allah. Yakinlah bahwa semua ujian dalam rumah tangga akan membuat kita lebih kuat dan beriman. Selalu bersyukur terhadap berbagai hal akan menjadi cara menjaga kesehatan hati dan cara menghindari perilaku tercela yang bisa muncul dalam diri istri atau suami

7)      Menjalankan kewajiban masing-masing dengan baik.

Suami atau istri harus mengetahui dan memahami tentang tugas kewajiban masing-masing dengan penuh pengertian.

8)      Saling menghargai.

Adanya rasa saling menghargai maka suami dan istri akan tahu bagaimana perasaan masing-masing terhadap sesuatu hal tanpa perlu dipaksa untuk mengungkapkannya.

9)      Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Perlunya kebiasaan saling mengintrospeksi diri dan terus mencari cara merubah sifat serta cara menjadi pribadi yang baik sangat penting agar kekurangan suami dan istri dapat diterima oleh satu sama lain dan tidak menjadi masalah besar dalam sebuah pernikahan.

10)  Memelihara kepercayaan terhadap pasangan.

Suami dan istri tidak bisa rukun bila salah satu selalu curiga terhadap yang lainnya.

 

ULASAN :

Sakinah secara sederhana dapat diartikan sebagai keamanan, kedamaian, ketenangan dan perlindungan timbal balik. Mawaddah artinya ketika merasa senang dan sedih selalu mencintai keduanya. Akar kata dari Warrohmah adalah rohmah yang artinya kasih sayang.

Tujuan utama dalam menikah adalah mendapatkan keluarga yang bahagia yang sakinah mawadah dan warahmah. Agama Islam telah memberikan berbagai pengarahan untuk bisa mendapatkan keluarga yang sakinah. Jika sebuah rumah tangga berhasil berjalan dengan sakinah, mawaddah dan warohmah, hal itu akan memberikan kebaikan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya .Memiliki keluarga yang utuh adalah dambaan setiap orang yang berada dalam suatu pernikahan. Untuk mendapatkan keluarga dan rumah tangga yang utuh, diperlukan adanya cara membina keluarga dengan sakinah, mawadah dan warohmah. 

 

E.     Kehidupan Keluarga

Kehidupan keluarga memiliki peranan penting di dalam pembangunan sosial ekonomi, sosial psikologis, sosial budaya dan pembangunan kehidupan spiritual suatu bangsa.

Perubahan sosial ekonomi suatu bangsa atau negara, maju atau mundur, dapat diukur atau terposisikan pada kehidupan sosial ekonomi yang sedang berlangsung dalam kehidupan keluarga.

Kehidupan keluarga dapat berkembang seperti apa yang diharapkan, apabila kehidupan keluarga diawali oleh pemahaman yang jelas tentang pengertian keluarga itu sendiri dan keluarga mampu melaksanakan fungsinya

 

ULASAN :

            Keluarga adalah awal dari sebuah kehidupan, rumah yang akan menerima dengan kedua tangan. Keluarga bukan hanya sekadar status sejak lahir. Bukan juga cuma tempat berpulang atau persoalan siapa dari mereka yang lebih dekat denganmu. Namun, kehadiran keluarga di tengah kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar dan berharga.

Didalam keluarga kita diajarkan banyak hal baik itu diajarkan cara interaksi sosial, ekonomi dan yang lainnya.

 

F.     Contoh Praktik Baik “Sebuah Keluarga”

Setiap keluarga memiliki visi dan misi untuk mencapai tujuan yang mereka impikan. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. Dalam keluarga saya pendidikan pertama diberikan dari orang tua baik dari ayah maupun ibu, dan pendukung nya seperti kakak, anak diberikan pembiasaan baik seperti diajarkan untuk selalu senantiasa bertaqwa kepada Tuhan, membangun hubungan yang baik antar anggota keluarga, tetangga maupun teman, dan selalu membantu dalam hal pelajaran disekolah. Keluarga juga selalu terbuka jika ada masalah diantara anggota keluarga dan selalu mencari solusi bersama untuk masalah tersebut. Menjadi tempat untuk berkumpul dan bercanda bersama tidak ada kecanggungan antara orangg tua dengan anak karena semuanya saling terbuka, dan kalau pun ada pertengkaran tidak sampai berlarut-larut, semuanya akan mulai normal kembali karena kita selalu diajarkan untuk meminta maaf duluan jikalau merasa bersalah pada orang lain. Orang tua juga selalu mengajarkan dan meminta anak untuk mengembangkan potensi yang di miliki oleh anak, bukan memaksakan apa yang orang tua inginkann untuk anak. Selalu memberikan reward sebagai bentuk apresiasi keberhasilan anak, dan memberikan semangat saat anak merasa terpuruk atau merasa diposisi bawah. Orang tua juga selalu bertutur kata yang baik didepan anak-anaknya dan selalu mengingatkan agar kita sebagai anak bertutur kata yang baik juga baik dilingkungan keluarga maupun diluar rumah, pembiasaan ini juga melekat sampai saat ini meskipun lingkungan pertemanan anak ada saja beberapa anak yang sering bertutur kata tidak baik/ toxic , anak tidak ikut terbawa oleh temannya tersebut karena sudah terbiasa bertutur kata yang baik seperti yang diajarkan oleh orang tuanya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Samhis Setiawan. 2021. Pengertian Keluarga. Diakses pada 4 Oktober 2021, dari  https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-keluarga/

Hanif Sri Yulianto. 2021. Penjelasan 8 Fungsi Keluarga yang Wajib Diketahui. Diakses pada 4 Oktober 2021, dari  https://www.bola.com/ragam/read/4485007/penjelasan-8-fungsi-keluarga-yang-wajib-diketahui

Dr. Suparyanto, M.Kes. 2011. Pengertian Keluarga. Diakses pada 6 Oktober 2021, dari  http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/10/pengertian-keluarga.html

M. Syahran Jailani. Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Diakses pada 20 Oktober 2021, dari https://media.neliti.com/media/publications/publications/56713-ID-teori-pendidikan-keluarga-dan-tangung-ja.pdf

Hery Noer Aly. 2008. Watak Pendidikan Islam. Diakses pada 20 Oktober 2021, dari http://repository.uinbanten.ac.id/2176/5/BAB%20III%20Revisi.pdf

Sofyan Basir. 2019. Membangun Keluarga Sakinah. Diakses pada 26 Oktober 2021, dari https://core.ac.uk/download/pdf/327171681.pdf

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengelolaan Pemberdayaan Masyarakat

  RESUME PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Disusun oleh, Putry Anjani  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS KEGURU...