Jumat, 17 Maret 2023

Pedagogi Kritis

 

Nama               : Putry Anjani

NPM               : -

Kelas/ Prodi    : Pendidikan Luar Sekolah

Mata kuliah     : Pedagogik Kritis

BERKEMBANGNYA PEDAGOGIK KRITIS

Paulo Freire pakar politik dari Brazil, pada tahun melahirkan karyanya education of the oppressed (pendidikan untuk kaum tertindas)

            pendidikan yang berkualitas menurutnya adalah pendidikan yang membuka mata hati dan mata akal manusia akan berbagai ketimpangan di dalam masyarakatnya dan oleh sebab itu, bukan hanya berkewajiban untuk menghilangkan ketimpangan- ketimpangan tersebut, melainkan mengembangkan kemampuannya untuk pengembangan diri yang produktif dan kreatif

Isi Teori Paulo Freire

Paulo Freire mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan conscientizacao (dari bahasa Portugis, berarti penyadaran). Conscientizacao bukan teknik untuk transfer informasi atau untuk pelatihan keterampilan tetapi merupakan proses dialogis yang mengantarkan individu-individu memecahkan masalah. Conscientizacao mengemban tugas pembebasan yaitu penciptaan norma, aturan, prosedur, dan kebijakan baru. Pendidikan harus dapat menyadarkan kaum tertindas agar mempunyai kesadaran kritis. Paulo Freire mengungkapkan tiga kesadaran.

1.      Kesadaran magis (semi-intransitif)

Kesadaran  magis adalah individu yang tidak melawan atau mengubah realitas hidupnya, mereka justru menyesuaikan diri dengan realitas yang ada. Mereka menyalahkan penguasa dan menyerahkan nasib di tangan pemimpin. Orang-orang tidak mampu mengubah keadaan serta tidak mampu melihat kebenaran yang mendasar bahwa kehidupan tidak pernah berubah.

2.      Kesadaran naïf

Pada tingkat kesadaran ini, individu sudah mengetahui penyebab keadaan tertindas itu namun mereka belum mau beraksi. Mereka menyederhanakan masalah dengan menimpakan masalah kepada individu lain bukan pada sistem. Sebenarnya mereka sudah mengetahui apa yang ideal terjadi namun belum ada aksi nyata. Mereka memiliki kecenderungan berkelompok dan beradu mulut daripada berdiskusi.

3.      Kesadaran kritis

Pada tingkat kesadaran ketiga ini orang mampu menafsirkan secara mendalam permasalahan yang dihadapinya. Orang sudah mengetahui penyebabnya, tidak menyalahkan individu-individu lagi, dan lebih mengedepankan dialog dari pada beradu mulut saling menimpakan kesalahan. Orang-orang pada tingkat kesadaran kritis tidak mau menyerupai penindas, mereka mempertahankan entitas mereka, menjadi diri sendiri sebagai orang yang jujur dan unik terhadap tradisi dan kebudayaan yang dimiliki.

Selain tiga tingkat kesadaran tersebut, Paulo Freire memperkenalkan pula adanya kesadaran fanatik, yaitu distorsi yang terletak di antara kesadaran magis dan kesadaran kritis.

CONTEXTUAL TEACHING & LEARNING

A.    Pengertian

Menurut Nurhadi dalam Sugiyanto (2007) CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.

Menurut Jonhson dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

B.     Tujuan

1.      Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atu ketrampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan kepermasalahan lainya.

2.      Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman

3.      Model pembelajaran ini menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.

4.      Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa agar dapat berpikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain

5.      Model pembelajaran CTL ini bertujun agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna

6.      Model pembelajaran model CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari

7.      Tujuan pembelajaran model CTL ini bertujuan agar siswa secara individu dapat menemukan dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.

C.     Strategi Pembelajaran CTL

Beberapa strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara kontekstual antara lain:

1.      Pembelajaran berbasis masalah

Dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkan.

2.      Menggunakan konteks yang beragam

Dalam CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.

3.      Mempertimbangkan kebhinekaan siswa

Guru mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan individual dan sosial seyogyanya  dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan ketrampilan interpersonal.

4.      Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri

Pendidikan formal merupakan kawah candradimuka bagi siswa untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri di kemudian hari.

5.       Belajar melalui kolaborasi

Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya.

6.       Menggunakan penelitian autentik

Penilaian autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan konstektual dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

7.      Mengejar standar tinggi

Setiap sekolah seyogyanya menentukan kompetensi kelulusan dari waktu ke waktu terus ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya melakukan Benchmarking dengan melakukan studi banding ke berbagai sekolah di dalam dan luar negeri.

Berdasarkan Center for Occupational Research and Development (CORD) Penerapan strategi pembelajaran konstektual digambarkan sebagai berikut:

1.      Relating

Belajar dikatakan dengan konteks dengan pengalaman nyata, konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru  untuk membantu peserta didik agar yang dipelajarinya bermakna.

2.      Experiencing

Belajar adalah kegiatan “mengalami “peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang dipelajarinya dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji,berusaha menemukan dan menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.alam situasi atau konteks baru.

http://www.pendidikanekonomi.com/2012/03/pengertian-tujuan-dan-strategi.html

D.    Komponen CTL:

Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:

1.      Melakukan hubungan yang bermakna (Making Meaningful Connections)

Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.

2.      Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (Doing Significant Works)

Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.

3.      Belajar yang diatur sendiri (Self-Regulated Learning)

Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.

4.      Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama.

Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

5.      Berpikir kritis dan kreatif (Critical dan Creative Thinking)

Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.

6.      Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (Nuturing The Individual)

Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.

7.      Mencapai standar yang tinggi (Reaching High Standards)

Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.

8.      Menggunakan Penilaian yang otentik (Using Authentic Assessment)

Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.

E.     Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan dari model pembelajaran CTL

1.      Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.

2.      Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif

3.      Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.

4.      Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.

5.      Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.

6.      Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.

7.      Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.

Kelemahan dari model pembelajaran CTL

1.      Dalam pemilihan informasi atau materi  dikelas didasarkan pada kebutuhan  siswa  padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama

2.      Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM

3.      Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya

4.      Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.

5.      Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.

6.      Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.

7.      Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.

8.      Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.

http://bumipendidik.blogspot.com/2014/07/model-pembelajaran-ctl-contextual.html

PEMBELAJARAN KOOPERATIF (Cooperative Learning)

A.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif pada umumnya merupakan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok. Metode kooperatif dapat dikombinasikan dengan metode lainnya untuk berbagai tujuan pembelajaran.

Mengutip dari pengertian di atas, bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok. Pesreta didik akan dibagi ke dalam beberapa kelompok belajar.

Menurut Panitz, pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Namun, teori konstruktivisme Vygotsky menekankan bahwa pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Keterlibatan mereka dengan orang lain membuka kesempatan bagi mereka mengevaluasi dan memperbaiki pemahaman.

Vygotsky menekankan peserta didik mengonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran berbasis sosial dan belajar kelompok. Kelompok bukanlah semata-mata sekumpulan orang. Disebut kelompok apabila ada interaksi, mempunyai tujuan, berstruktur, dan groupness.

Pembelajaran kooperatif atau pembelajaran model kelompok ini, menekankan peserta didik untuk menyusun pengetahuan melalui interaksi sosial, karena pemeblajaran kooperatif berbasisi sosial.

B.     Metode-metode Pembelajaran Kooperatif

1.      Jigsaw

Model pembelajaran kooperatif model jigsaw adalah model yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Seperti yang diungkapkan Lie (1999:73) “pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.

Model kooperatif jigsaw, membagi siswa ke dalam kelompok belajar yang terdiri dari empat hingga enam orang siswa. Mereka saling bekerjasama untuk memecahkan masalah (menyelesaikan tugas) yang diberikan oleh guru.

2.      Student Teams – Achievement Devisions (STAD)

Student Team-Achievement Devision (STAD) strategi pembelajaran kooperatif yang memadukan penggunaan metode ceramah, questioning dan diskusi. Sebelum pembelajaran dimulai, peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok tim dan tempat duduk ditata sedemikian rupa sehingga satu kelompok peserta didik dapat duduk berdekatan. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyajian materi pelajaran oleh guru. Setelah penyajian materi selesai, kelompok/tim mendiskusikan materi yang diajarkan guru untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok/tim sudah dapat menguasai materi pelajaran yang diajarkan guru. Apabila ada anggota kelompok yang belum memahami, maka anggota kelompok yang lain berusaha untuk membantunya sampai semua anggota benar-benar menguasai materi yang diajarkan guru. Setelah semua kelompok menyatakan siap diuji, guru kemudian memberi soal ujian kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab soal, anggota kelompok tidak boleh saling membantu. Nilai ujian dihitung berdasarkan jumlah nilai semua anggota kelompok.

Student Team-Achievement Devision (STAD), menggunakan tiga metode pengajaran, yaitu: ceramah, questioning, dan diskusi. Setiap peserta dalam kelompok belajar harus memahami materi yang sudah disampaikan oleh guru. Setelah itu, guru menguji setiap individu dalam tiap kelompok. Penilaian kelompok diperoleh dari hasil penjumlahan nilai individu pada kelompok tersebut.

3.      Think-Pair-Share

Pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan pertanyaan, guru meminta siswa berpasang-pasangan untuk berdiskusi. Diharapkan dalam diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban dari perrtanyaan yang diajukan guru. Hasil diskusi intersubjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas, tahap ini dikenal dengan sharing.

Pembelajaran model ini, dapat dilakuakan dengan cara memasangkan peserta didik untuk menjawab pertanyaan dari guru. Untuk selanjutnya disampaikan kepada seluruh siswa di kelas.

4.      Numbered Heads Together

Pembelajaran ini diawali dengan pembagian kelompok untuk para siswa, tiap siswa dalam tiap kelompok mendapat nomor. Guru memberi tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. Selanjutnya kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap siswa dalam tiap kelompok mengetahui jawabannya. Kemudian, guru memanggil salah satu nomor siswa untuk melaporkan hasil kerjasama mereka, tanggapan teman lain ditampung, kemudian guru memanggil nomor yang lain dan terakhir membuat simpulan.

Metode NHT dilakukan dengan cara guru memberikan nomor kepada setiap individu dalam tiap kelompok, kemudian memanggil salah satu nomor untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok mereka di depan kelompok-kelompok lain. Terakhir, mereka membuat simpulan dari hasil diskusi dan menyimak tersebut.

5.      Two Stay Two Stray

Prosedur pembelajaran seperti ini dimulai dengan siswa bekerja dalam kelompok yang erjumlah 4 orang. Kemudian, dua siswa dari masing-masing kelompok berpindah ke kelompok lain dan mendengarka penjelasan atau jawaban dari kelompok baru tersebut. Setelah itu, kedua siswa utusan tiap kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan jawaban dari kelompok lain. Terakhir kelompok mencocokan dan membahas hasil kerja mereka.

Dalam satu kelompok belajar terdiri dari empat siswa. Setelah mereka mendiskusikan tugas dari guru, dua orang siswa dari masing-masing kelompok mendatangi kelompok lain dan menyimak hasil diskusi mereka. Setelah itu, dua orang utusan tiap kelompok tadi kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok-kelompok yang tadi mereka datangi.

6.      Group Investigation

Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok dibantu oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat/menghasilkan laporan kelompok yang selanjutnya setiap kelompoknya memaperkan atau mempresentasikan laporanya di depan kelas.

Strategi belajar kooperatif GI membolehkan siswa memilih subtopik yang akan mereka bahas sesuai keinginan kelompok masing-masing. Setelah selesai, tiap kelompok akan mempresentasikan hasil diskusi mereka.

7.      Make - A Match (Mencari Pasangan)

Metode pembelajaran make a match merupakan metode pembelajaran kelompok yang memiliki dua orang anggota. Masing-masing anggota kelompok tidak diketahui sebelumnya tetapi dicari berdasarkan kesamaan pasangan misalnya pasangan soal dan jawaban. Guru membuat dua kotak undian, kotak pertama berisi soal dan kotak kedua berisi jawaban. Peserta didik yang mendapat soal mencari peserta didik yang mendapat jawaban yang cocok, demikian pula sebaliknya. Metode ini dapat digunakan untuk membangkitkan aktivitas peserta didik belajar dan cocok digunakan dalam bentuk permainan.

Metode pembelajaran kooperatif seperti ini, dapat membangkitkan keaktifan peserta didik, dan cocok digunakan dalam bentuk permainan. Peserta didik dibagi ke dalam dua kategori, yaitu kategori pertanyaan dan kategori jawaban. Lalu mereka akan mencari pasangannya dengan menyocokan antara pertanyaan dengan jawabannya.

C.     Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Tahapan pelaksanaan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1.      Penyampaian tujuan dan motivasi kepada peserta

Kegiatan Fasilitator: Menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada materi pelatihan itu, sekaligus memotivasi peserta

2.      Penyajian informasi

Kegiatan Fasilitator: Menyampaikan informasi kepada peserta dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan

3.      Pengorganisasian peserta ke dalam kelompok-kelompok belajar

Kegiatan Fasilitator: Menjelaskan kepada peserta bagaimana membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien

4.      Pembimbingan kepada kelompok dalam bekerja dan belajar

Kegiaan Fasilitator: Membimbing kelompok- kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas yang diberikan

5.      Pengevaluasian kegiatan belajar

Kegiatan Fasilitator: Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya

6.      Pemberian penghargaan

Kegiatan Fasilitator: Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dalam masing-masing kelompok

D.    Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif

Kelebihan Pembelajaran Kooperatif adalah sebagai berikut:

1.      Siswa tidak terlalu tergantung pada guru, tapi dapat menambah kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagi sumber, dan belajar dari siswa yang lain.

2.      Dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.

3.      Dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.

4.      Dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.

5.      Strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap positif terhadap sekolah.

6.      Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.

Kelemahan-kelemahan pembelajaran koopertaif adalah sebagai berikut:

1.      Untuk memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif membutuhkan waktu yang lama.

2.      Dikhawatirkan apa yang harus dipelajari dan dipahami tidak dicapai oleh siswa.

3.      Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif kepada hasil kelompok, namun guru perlu menyadari bahwa hasil atau presentasi yang diharapkan sebenarnya adalah hasil atau presentasi setiap individu siswa.

4.      Dalam  upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup lama.

5.      Banyak aktivitas dalam kehidupan yang  hanya didasarkan kepada kemampuan secara individu.

PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)

A.    Pengertian PAIKEM

PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Sesuai dengan huruf yang menyusun namanya, pembelajaran PAIKEM adalah salah satu contoh pembelajaran inovatif yang memiliki karakteristik aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

PAIKEM merupakan metode pembelajaran yang akti, inovatif dan sebagainya. Metode seperti ini sangat membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Terciptanya kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan sekaligus berkesan bagi peserta didik dan pendidiknya.

1.      Aktif

Pengembang pembelajaran ini beranggapan bahwa belajar merupakan proses aktif merangkai pengalaman untuk memperoleh pemahaman di dalam implementasinya, seorang guru harus merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau strategi-strategi yang memotivasi siswa berperan secara aktif di dalam proses pembelajaran.

Seorang guru dituntut untuk memiliki sikap aktif, karena jika guru tersebut pasif dan tidak berkembang maka suasana dalam pembelajarannya akan terasa hambar, hanya seperti itu itu saja. Guru harus bisa mengaktifkan dirinya dan diri peserta didik agar suasana belajar menjadi hidup tidak mati serta tidak membosankan.

2.      Inovatif

Pembelajaran PAIKEM bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini dipikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya menyesuaikan setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau kemampuan mendengar, dan kemampuan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses terbangunnya rasa percaya diri siswa.

Seorang guru tidak berhak mengatakan salah kepada muridnya jika pendapatnya kurang benar, karena sikap guru yang seperti ini akan membunuh karakter siswanya, dan hal seperti ini akan berakibat fatal serta menjadikan murid enggan untuk berargumen atau bertanya tentang apa saja yang sudah diduskusikan. Jadikan suasana di dalam kelas menjadi suasana keluarga agar lebih terjalin hangat antara siswa dengan gurunya.

3.      Kreatif

Pembelajaran PAIKEM juga dirancang untuk mampu mengembangkan kreativitas. Pembela haruslah memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, inisiatif, dan kreativitas serta kemandirian siswa sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologisnya. Kemandirian dan kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua bentuk pembelajaran. Dengan dua bekal itu setiap orang akan mampu belajar sepanjang hidupnya. Ciri seorang pembelajar yang mandiri adalah: mampu secara cermat mendiagnosis situasi pembelajaran tertentu yang sedang dihadapinya; mampu memilih strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajarnya; memonitor keefektifan strategi tersebut; dan termotivasi untuk terlibat dalam situasi belajar tersebut sampai masalahnya terselesaikan.

Dalam hal kreatif pasti akan memunculkan sesuatu yang baru, seorang guru harus berfikiran kreatif dan memikirkan bagaimana caranya agar peserta didik tidak merasa bosan ketika sedang belajar. Mungkin seorang guru bisa saja memunculkan kreatifitas dalam kelas dengan menggunakan alat peraga (properti) yang sesuai dalam mata pelajaran tersebut. Mengapa harus demikian? Karena dengan dimunculkannya hal seperti ini peserta didik akan lebih cepat dalam menangkap pelajaran tersebut serta minat dalam belajar akan terasa menggebu-gebu.

4.      Efektif

Pembelajaran harus dilakukan sedemikian rupa untuk mencapai semua hasil belajar yang telah dirumuskan. Karena hasil belajar itu beragam, karakteristik efektif dari pembelajaran ini mengacu kepada penggunaan berbagai strategi belajarnya. Banyak orang beranggapan bahwa berbagai strategi pembelajaran inovatif termasuk PAIKEM seringkali tidak efisien (memakan waktu). Hal tersebut tentu amat mudah dipahami, dalam pembelajaran PAIKEM banyak hasil belajar yang dicapai sehingga memerlukan waktu yang lama.

Sering kita temui beberapa guru yang kurang profesional dalam kegiatan belajar-mengajar. Banyak juga guru yang tidak efektif dalam menyampaikan materi. Seorang guru tidak bisa dikatakan efektif jika ia belum bisa mengefektifkan dirinya sendiri, dengan mengatur waktu agar bisa merangkul peserta didik dan menjadikannya paham dengan mata pelajaran yang telah disampaikan.

5.      Menyenangkan

Pembelajaran yang dilaksanakan haruslah dilakukan dengan tetap memperhatikan suasana belajar yang menyenangkan. Belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif membangun pengetahuannya memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak diikuti suasana tegang sangat baik untuk membangkitkan motivasi untuk belajar. Anak-anak pada dasarnya belajar paling efektif pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu yang mengasyikkan.

Menurut penelitian, anak-anak menjadi berminat untuk belajar jika topik yang dibahas sedapat mungkin dihubungkan dengan pengalaman mereka dan disesuaikan dengan alam berpikir mereka. Yang dimaksudkan adalah bahwa pokok bahasannya dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari dan disesuaikan dengan dunia mereka dan bukan dunia guru sebagai orang dewasa. Apalagi jika disesuaikan dengan kebiasaan mereka dalam belajar. Ciri yang terakhir ini merupakan ciri pembelajaran kontekstual. Dengan demikian pembelajaran PAIKEM sebenarnya juga pembelajaran kontekstual.

B.     Metode PAIKEM

Metode Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, diantaranya sebagai berikut:

1.      Tutorial dicirikan dengan terjadinya pertukaran informasi antara peserta didik dengan tutor.

2.      Ceramah/kuliah didominasi komunikasi lisan (oral) dari atau pengajar.

3.      Resitasi dicirikan dengan guru “mendengar” peserta didik berbicara, membaca, atau melakukan tindakan lainnya.

4.      Diskusi dicirikan dengan komunikasi lisan antara guru peserta didik, serta antara peserta didik.

5.      Kegiatan laboratoium dicirikan dengan situasi di mana peserta didik berinteraksi dengan kejadian atau benda nyata.

6.      Pekerjaan rumah yang dapat berupa instruksi, latihan, atau proyek.

C.     Langkah-langkah Penerapan PAIKEM

Secara garis besar, langkah-langkah penerapan PAIKEM, sebagai berikut:

1.      Siswa terlibat dalam berbagai macam kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar.

2.      Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan dan cocok bagi siswa.

3.      Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca.

4.      Guru menerapkan cara mengajar yang kooperatif dan interaktif termasuk cara belajar kelompok.

5.      Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri untuk pemecahan suatu masalah untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolah.

D.    Kelebihan dan kelemahan metode PAIKEM

Kelebihan PAIKEM:

1.      Mengalami : Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional

2.      Komunikasi : Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan peserta didik

3.      Interaksi : Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah

4.      Refleksi : Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memikirkan kembali  apa yang telah dilakukan

Kelemahan PAIKEM:

1.      Membutuhkan dana, dalam pembelajaran yang PAIKEM sering kita memakai media sehingga membutuhkan biaya yang lebih untuk menunjang proses pembelajaran

2.      Pengembangan RPP, dalam pembelajaran PAIKEM guru dituntut untuk kerja exstra dalam pengembangan pembuatan RPP agar dapat menciptakan pembelajaran yang diinginkan  Manajemen kelas, dalam pembelajaran ini guru harus selalu dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.

3.      Kurangnya kreatifitas guru, dalam pembelajaran PAIKEM guru cenderung malas untuk melalkukan pembelajaran yang inovatif.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengelolaan Pemberdayaan Masyarakat

  RESUME PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Disusun oleh, Putry Anjani  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS KEGURU...