Nama
: Putry Anjani
NPM
: -
Kelas/
Prodi : Pendidikan Luar Sekolah
Mata
kuliah : Pedagogik Kritis
BERKEMBANGNYA PEDAGOGIK KRITIS
Paulo
Freire pakar politik dari Brazil, pada tahun melahirkan karyanya education of
the oppressed (pendidikan untuk kaum tertindas)
pendidikan yang berkualitas
menurutnya adalah pendidikan yang membuka mata hati dan mata akal manusia akan
berbagai ketimpangan di dalam masyarakatnya dan oleh sebab itu, bukan hanya
berkewajiban untuk menghilangkan ketimpangan- ketimpangan tersebut, melainkan
mengembangkan kemampuannya untuk
pengembangan diri yang produktif dan kreatif
Isi
Teori Paulo Freire
Paulo
Freire mengungkapkan bahwa tujuan pendidikan conscientizacao (dari bahasa
Portugis, berarti penyadaran). Conscientizacao bukan teknik untuk transfer
informasi atau untuk pelatihan keterampilan tetapi merupakan proses dialogis
yang mengantarkan individu-individu memecahkan masalah. Conscientizacao
mengemban tugas pembebasan yaitu penciptaan norma, aturan, prosedur, dan
kebijakan baru. Pendidikan harus dapat menyadarkan kaum tertindas agar
mempunyai kesadaran kritis. Paulo Freire mengungkapkan tiga kesadaran.
1. Kesadaran
magis (semi-intransitif)
Kesadaran magis adalah individu yang tidak melawan atau
mengubah realitas hidupnya, mereka justru menyesuaikan diri dengan realitas
yang ada. Mereka menyalahkan penguasa dan menyerahkan nasib di tangan pemimpin.
Orang-orang tidak mampu mengubah keadaan serta tidak mampu melihat kebenaran
yang mendasar bahwa kehidupan tidak pernah berubah.
2. Kesadaran
naïf
Pada tingkat kesadaran
ini, individu sudah mengetahui penyebab keadaan tertindas itu namun mereka
belum mau beraksi. Mereka menyederhanakan masalah dengan menimpakan masalah
kepada individu lain bukan pada sistem. Sebenarnya mereka sudah mengetahui apa
yang ideal terjadi namun belum ada aksi nyata. Mereka memiliki kecenderungan
berkelompok dan beradu mulut daripada berdiskusi.
3. Kesadaran
kritis
Pada tingkat kesadaran
ketiga ini orang mampu menafsirkan secara mendalam permasalahan yang
dihadapinya. Orang sudah mengetahui penyebabnya, tidak menyalahkan
individu-individu lagi, dan lebih mengedepankan dialog dari pada beradu mulut
saling menimpakan kesalahan. Orang-orang pada tingkat kesadaran kritis tidak
mau menyerupai penindas, mereka mempertahankan entitas mereka, menjadi diri
sendiri sebagai orang yang jujur dan unik terhadap tradisi dan kebudayaan yang
dimiliki.
Selain tiga tingkat kesadaran
tersebut, Paulo Freire memperkenalkan pula adanya kesadaran fanatik, yaitu
distorsi yang terletak di antara kesadaran magis dan kesadaran kritis.
CONTEXTUAL TEACHING & LEARNING
A. Pengertian
Menurut
Nurhadi dalam Sugiyanto (2007) CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah
konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang
diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.
Menurut
Jonhson dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang
bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi
akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik
dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.
Berdasarkan
pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa CTL adalah konsep
belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Tujuan
1. Model
pembelajaran CTL ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk memahami makna
materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan
konteks kehidupan mereka sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atu
ketrampilan yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan
kepermasalahan lainya.
2. Model
pembelajaran ini bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya sekedar menghafal
tetapi perlu dengan adanya pemahaman
3. Model
pembelajaran ini menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.
4. Model
pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa agar dapat berpikir kritis
dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menemukan dan menciptakan
sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain
5. Model
pembelajaran CTL ini bertujun agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna
6. Model
pembelajaran model CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada suatu aktivitas
yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari
7. Tujuan
pembelajaran model CTL ini bertujuan agar siswa secara individu dapat menemukan
dan mentrasfer informasi-informasi komplek dan siswa dapat menjadikan informasi
itu miliknya sendiri.
C. Strategi
Pembelajaran CTL
Beberapa strategi
pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru secara kontekstual antara lain:
1. Pembelajaran
berbasis masalah
Dengan
memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa ditantang untuk berfikir kritis
untuk memecahkan.
2. Menggunakan
konteks yang beragam
Dalam
CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga makna yang diperoleh siswa
menjadi berkualitas.
3. Mempertimbangkan
kebhinekaan siswa
Guru
mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan individual dan sosial
seyogyanya dibermaknakan menjadi mesin
penggerak untuk belajar saling menghormati dan toleransi untuk mewujudkan
ketrampilan interpersonal.
4. Memberdayakan
siswa untuk belajar sendiri
Pendidikan
formal merupakan kawah candradimuka bagi siswa untuk menguasai cara belajar
untuk belajar mandiri di kemudian hari.
5. Belajar melalui kolaborasi
Dalam
setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya
dan sisiwa ini dapat dijadikan sebagai fasilitator dalam kelompoknya.
6. Menggunakan penelitian autentik
Penilaian
autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan
konstektual dan memberi kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai
dengan potensi yang dimilikinya.
7. Mengejar
standar tinggi
Setiap
sekolah seyogyanya menentukan kompetensi kelulusan dari waktu ke waktu terus
ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya melakukan Benchmarking dengan
melakukan studi banding ke berbagai sekolah di dalam dan luar negeri.
Berdasarkan Center for Occupational
Research and Development (CORD) Penerapan strategi pembelajaran konstektual
digambarkan sebagai berikut:
1. Relating
Belajar dikatakan dengan konteks dengan pengalaman
nyata, konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu peserta didik agar yang
dipelajarinya bermakna.
2. Experiencing
Belajar
adalah kegiatan “mengalami “peserta didik diproses secara aktif dengan hal yang
dipelajarinya dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji,berusaha
menemukan dan menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.alam
situasi atau konteks baru.
http://www.pendidikanekonomi.com/2012/03/pengertian-tujuan-dan-strategi.html
D. Komponen
CTL:
Beberapa komponen utama
dalam pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), yang dapat di
uraikan sebagai berikut:
1. Melakukan
hubungan yang bermakna (Making Meaningful Connections)
Keterkaitan
yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran dan pengajaran
kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik,
ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka
menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan
pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup
dan keterkaitan inilah inti dari CTL.
2. Melakukan
kegiatan-kegiatan yang berarti (Doing Significant Works)
Model
pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di
dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan
materi pelajaran dengan kehidupan siswa.
3. Belajar
yang diatur sendiri (Self-Regulated Learning)
Pembelajaran
yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan
kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan
cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri,
memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama
(collaborating) Siswa dapat bekerja sama.
Guru
membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu siswa bekerja
secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling
mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
5. Berpikir
kritis dan kreatif (Critical dan Creative Thinking)
Pembelajaran
kontekstual membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir tahap tinggi,
nerpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan
nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah
menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian,
ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh
atau memelihara pribadi siswa (Nuturing The Individual)
Dalam
pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan
intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas
pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru
dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor.
Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat,
kebutuhan dan kemampuannya.
7. Mencapai
standar yang tinggi (Reaching High Standards)
Pembelajaran
kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan
(excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan, asalkan sia dibantu oleh
gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
8. Menggunakan
Penilaian yang otentik (Using Authentic Assessment)
Penilaian
autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan
akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik
merupakan antitesis dari ujian stanar, penilaian autentik memberi kesempatan
kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan
apa yang sudah mereka pelajari.
E. Kelebihan
dan Kekurangan
Kelebihan dari model
pembelajaran CTL
1. Memberikan
kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang
dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.
2. Siswa
dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu
dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
3. Menyadarkan
siswa tentang apa yang mereka pelajari.
4. Pemilihan
informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
5. Pembelajaran
lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
6. Membantu
siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
7. Terbentuk
sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.
Kelemahan
dari model pembelajaran CTL
1. Dalam
pemilihan informasi atau materi dikelas
didasarkan pada kebutuhan siswa padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan
siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi
pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama
2. Tidak
efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
3. Dalam
proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang
memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang
kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang
kemampuannya
4. Bagi
siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus
tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model
pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri
jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini
tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
5. Tidak
setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan
yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
6. Kemampuan
setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi
namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami
kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft
skill daripada kemampuan intelektualnya.
7. Pengetahuan
yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
8. Peran
guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya
sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan
berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan
baru di lapangan.
http://bumipendidik.blogspot.com/2014/07/model-pembelajaran-ctl-contextual.html
PEMBELAJARAN KOOPERATIF (Cooperative Learning)
A. Pengertian
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif pada umumnya merupakan pembelajaran yang dilakukan secara
berkelompok. Metode kooperatif dapat dikombinasikan dengan metode lainnya untuk
berbagai tujuan pembelajaran.
Mengutip
dari pengertian di atas, bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran
yang dilakukan secara berkelompok. Pesreta didik akan dibagi ke dalam beberapa
kelompok belajar.
Menurut
Panitz, pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua
jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau
diarahkan oleh guru. Namun, teori konstruktivisme Vygotsky menekankan bahwa
pengetahuan dibangun dan dikonstruksi secara mutual. Keterlibatan mereka dengan
orang lain membuka kesempatan bagi mereka mengevaluasi dan memperbaiki
pemahaman.
Vygotsky
menekankan peserta didik mengonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial
dengan orang lain. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran berbasis sosial
dan belajar kelompok. Kelompok bukanlah semata-mata sekumpulan orang. Disebut
kelompok apabila ada interaksi, mempunyai tujuan, berstruktur, dan groupness.
Pembelajaran
kooperatif atau pembelajaran model kelompok ini, menekankan peserta didik untuk
menyusun pengetahuan melalui interaksi sosial, karena pemeblajaran kooperatif
berbasisi sosial.
B. Metode-metode
Pembelajaran Kooperatif
1. Jigsaw
Model pembelajaran kooperatif model jigsaw adalah
model yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok
kecil. Seperti yang diungkapkan Lie (1999:73) “pembelajaran kooperatif model
jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam
kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan
siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara
mandiri.
Model kooperatif jigsaw, membagi siswa ke dalam
kelompok belajar yang terdiri dari empat hingga enam orang siswa. Mereka saling
bekerjasama untuk memecahkan masalah (menyelesaikan tugas) yang diberikan oleh
guru.
2. Student
Teams – Achievement Devisions (STAD)
Student Team-Achievement Devision (STAD) strategi
pembelajaran kooperatif yang memadukan penggunaan metode ceramah, questioning
dan diskusi. Sebelum pembelajaran dimulai, peserta didik dibagi menjadi
beberapa kelompok tim dan tempat duduk ditata sedemikian rupa sehingga satu
kelompok peserta didik dapat duduk berdekatan. Kegiatan pembelajaran dimulai
dengan penyajian materi pelajaran oleh guru. Setelah penyajian materi selesai,
kelompok/tim mendiskusikan materi yang diajarkan guru untuk memastikan bahwa
semua anggota kelompok/tim sudah dapat menguasai materi pelajaran yang
diajarkan guru. Apabila ada anggota kelompok yang belum memahami, maka anggota
kelompok yang lain berusaha untuk membantunya sampai semua anggota benar-benar
menguasai materi yang diajarkan guru. Setelah semua kelompok menyatakan siap
diuji, guru kemudian memberi soal ujian kepada seluruh peserta didik. Pada saat
menjawab soal, anggota kelompok tidak boleh saling membantu. Nilai ujian
dihitung berdasarkan jumlah nilai semua anggota kelompok.
Student Team-Achievement Devision (STAD), menggunakan
tiga metode pengajaran, yaitu: ceramah, questioning, dan diskusi. Setiap peserta
dalam kelompok belajar harus memahami materi yang sudah disampaikan oleh guru.
Setelah itu, guru menguji setiap individu dalam tiap kelompok. Penilaian
kelompok diperoleh dari hasil penjumlahan nilai individu pada kelompok
tersebut.
3. Think-Pair-Share
Pembelajaran ini diawali dengan guru mengajukan
pertanyaan, guru meminta siswa berpasang-pasangan untuk berdiskusi. Diharapkan
dalam diskusi ini dapat memperdalam makna dari jawaban dari perrtanyaan yang
diajukan guru. Hasil diskusi intersubjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya
dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas, tahap ini dikenal dengan sharing.
Pembelajaran model ini, dapat dilakuakan dengan cara
memasangkan peserta didik untuk menjawab pertanyaan dari guru. Untuk
selanjutnya disampaikan kepada seluruh siswa di kelas.
4. Numbered
Heads Together
Pembelajaran ini diawali dengan pembagian kelompok
untuk para siswa, tiap siswa dalam tiap kelompok mendapat nomor. Guru memberi
tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. Selanjutnya kelompok
mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap siswa dalam tiap kelompok
mengetahui jawabannya. Kemudian, guru memanggil salah satu nomor siswa untuk
melaporkan hasil kerjasama mereka, tanggapan teman lain ditampung, kemudian
guru memanggil nomor yang lain dan terakhir membuat simpulan.
Metode NHT dilakukan dengan cara guru memberikan nomor
kepada setiap individu dalam tiap kelompok, kemudian memanggil salah satu nomor
untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok mereka di depan kelompok-kelompok
lain. Terakhir, mereka membuat simpulan dari hasil diskusi dan menyimak
tersebut.
5. Two
Stay Two Stray
Prosedur pembelajaran seperti ini dimulai dengan siswa
bekerja dalam kelompok yang erjumlah 4 orang. Kemudian, dua siswa dari
masing-masing kelompok berpindah ke kelompok lain dan mendengarka penjelasan
atau jawaban dari kelompok baru tersebut. Setelah itu, kedua siswa utusan tiap
kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan jawaban dari
kelompok lain. Terakhir kelompok mencocokan dan membahas hasil kerja mereka.
Dalam satu kelompok belajar terdiri dari empat siswa.
Setelah mereka mendiskusikan tugas dari guru, dua orang siswa dari
masing-masing kelompok mendatangi kelompok lain dan menyimak hasil diskusi
mereka. Setelah itu, dua orang utusan tiap kelompok tadi kembali ke kelompoknya
masing-masing untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok-kelompok yang tadi
mereka datangi.
6. Group
Investigation
Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan
menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok dibantu oleh siswa itu sendiri
dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopik dari
keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian
membuat/menghasilkan laporan kelompok yang selanjutnya setiap kelompoknya
memaperkan atau mempresentasikan laporanya di depan kelas.
Strategi belajar kooperatif GI membolehkan siswa
memilih subtopik yang akan mereka bahas sesuai keinginan kelompok
masing-masing. Setelah selesai, tiap kelompok akan mempresentasikan hasil
diskusi mereka.
7. Make
- A Match (Mencari Pasangan)
Metode pembelajaran make a match merupakan metode
pembelajaran kelompok yang memiliki dua orang anggota. Masing-masing anggota
kelompok tidak diketahui sebelumnya tetapi dicari berdasarkan kesamaan pasangan
misalnya pasangan soal dan jawaban. Guru membuat dua kotak undian, kotak
pertama berisi soal dan kotak kedua berisi jawaban. Peserta didik yang mendapat
soal mencari peserta didik yang mendapat jawaban yang cocok, demikian pula
sebaliknya. Metode ini dapat digunakan untuk membangkitkan aktivitas peserta
didik belajar dan cocok digunakan dalam bentuk permainan.
Metode pembelajaran kooperatif seperti ini, dapat
membangkitkan keaktifan peserta didik, dan cocok digunakan dalam bentuk
permainan. Peserta didik dibagi ke dalam dua kategori, yaitu kategori
pertanyaan dan kategori jawaban. Lalu mereka akan mencari pasangannya dengan
menyocokan antara pertanyaan dengan jawabannya.
C. Langkah-langkah
Pembelajaran Kooperatif
Tahapan pelaksanaan yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Penyampaian
tujuan dan motivasi kepada peserta
Kegiatan
Fasilitator: Menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada
materi pelatihan itu, sekaligus memotivasi peserta
2. Penyajian
informasi
Kegiatan
Fasilitator: Menyampaikan informasi kepada peserta dengan jalan demonstrasi
atau lewat bahan bacaan
3. Pengorganisasian
peserta ke dalam kelompok-kelompok belajar
Kegiatan
Fasilitator: Menjelaskan kepada peserta bagaimana membentuk kelompok belajar
dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4. Pembimbingan
kepada kelompok dalam bekerja dan belajar
Kegiaan
Fasilitator: Membimbing kelompok- kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan
tugas yang diberikan
5. Pengevaluasian
kegiatan belajar
Kegiatan
Fasilitator: Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6. Pemberian
penghargaan
Kegiatan
Fasilitator: Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar
individu dalam masing-masing kelompok
D. Kelebihan
dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
Kelebihan Pembelajaran
Kooperatif adalah sebagai berikut:
1. Siswa
tidak terlalu tergantung pada guru, tapi dapat menambah kemampuan berfikir
sendiri, menemukan informasi dari berbagi sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2. Dapat
mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara
verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3. Dapat
membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala
keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4. Dapat
membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam
belajar.
5. Strategi
yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan
sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang
positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan me-manage waktu, dan sikap
positif terhadap sekolah.
6. Dapat
mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri,
menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut
membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab
kelompoknya.
Kelemahan-kelemahan
pembelajaran koopertaif adalah sebagai berikut:
1. Untuk
memahami dan mengerti filosofis pembelajaran kooperatif membutuhkan waktu yang
lama.
2. Dikhawatirkan
apa yang harus dipelajari dan dipahami tidak dicapai oleh siswa.
3. Penilaian
yang diberikan dalam pembelajaran kooperatif kepada hasil kelompok, namun guru
perlu menyadari bahwa hasil atau presentasi yang diharapkan sebenarnya adalah
hasil atau presentasi setiap individu siswa.
4. Dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok
memerlukan periode waktu yang cukup lama.
5. Banyak
aktivitas dalam kehidupan yang hanya
didasarkan kepada kemampuan secara individu.
PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif,
Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan)
A. Pengertian
PAIKEM
PAIKEM
adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan. Sesuai dengan huruf yang menyusun namanya, pembelajaran PAIKEM
adalah salah satu contoh pembelajaran inovatif yang memiliki karakteristik
aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
PAIKEM
merupakan metode pembelajaran yang akti, inovatif dan sebagainya. Metode
seperti ini sangat membantu tercapainya tujuan pembelajaran. Terciptanya
kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan sekaligus berkesan bagi peserta
didik dan pendidiknya.
1. Aktif
Pengembang
pembelajaran ini beranggapan bahwa belajar merupakan proses aktif merangkai
pengalaman untuk memperoleh pemahaman di dalam implementasinya, seorang guru
harus merancang dan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau strategi-strategi yang
memotivasi siswa berperan secara aktif di dalam proses pembelajaran.
Seorang
guru dituntut untuk memiliki sikap aktif, karena jika guru tersebut pasif dan
tidak berkembang maka suasana dalam pembelajarannya akan terasa hambar, hanya
seperti itu itu saja. Guru harus bisa mengaktifkan dirinya dan diri peserta
didik agar suasana belajar menjadi hidup tidak mati serta tidak membosankan.
2. Inovatif
Pembelajaran
PAIKEM bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Learning is
fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa
sudah menanamkan hal ini dipikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di
kelas. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan
cara diantaranya menyesuaikan setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya
kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada
yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau kemampuan
mendengar, dan kemampuan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula
dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan
mengakibatkan proses terbangunnya rasa percaya diri siswa.
Seorang
guru tidak berhak mengatakan salah kepada muridnya jika pendapatnya kurang
benar, karena sikap guru yang seperti ini akan membunuh karakter siswanya, dan
hal seperti ini akan berakibat fatal serta menjadikan murid enggan untuk
berargumen atau bertanya tentang apa saja yang sudah diduskusikan. Jadikan
suasana di dalam kelas menjadi suasana keluarga agar lebih terjalin hangat
antara siswa dengan gurunya.
3. Kreatif
Pembelajaran PAIKEM juga dirancang untuk mampu
mengembangkan kreativitas. Pembela haruslah memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, inisiatif, dan kreativitas serta kemandirian siswa sesuai dengan
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologisnya. Kemandirian dan
kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh semua
bentuk pembelajaran. Dengan dua bekal itu setiap orang akan mampu belajar
sepanjang hidupnya. Ciri seorang pembelajar yang mandiri adalah: mampu secara
cermat mendiagnosis situasi pembelajaran tertentu yang sedang dihadapinya;
mampu memilih strategi belajar tertentu untuk menyelesaikan masalah belajarnya;
memonitor keefektifan strategi tersebut; dan termotivasi untuk terlibat dalam
situasi belajar tersebut sampai masalahnya terselesaikan.
Dalam hal kreatif pasti akan memunculkan sesuatu yang
baru, seorang guru harus berfikiran kreatif dan memikirkan bagaimana caranya
agar peserta didik tidak merasa bosan ketika sedang belajar. Mungkin seorang
guru bisa saja memunculkan kreatifitas dalam kelas dengan menggunakan alat
peraga (properti) yang sesuai dalam mata pelajaran tersebut. Mengapa harus
demikian? Karena dengan dimunculkannya hal seperti ini peserta didik akan lebih
cepat dalam menangkap pelajaran tersebut serta minat dalam belajar akan terasa
menggebu-gebu.
4. Efektif
Pembelajaran harus dilakukan sedemikian rupa untuk
mencapai semua hasil belajar yang telah dirumuskan. Karena hasil belajar itu
beragam, karakteristik efektif dari pembelajaran ini mengacu kepada penggunaan
berbagai strategi belajarnya. Banyak orang beranggapan bahwa berbagai strategi
pembelajaran inovatif termasuk PAIKEM seringkali tidak efisien (memakan waktu).
Hal tersebut tentu amat mudah dipahami, dalam pembelajaran PAIKEM banyak hasil
belajar yang dicapai sehingga memerlukan waktu yang lama.
Sering kita temui beberapa guru yang kurang
profesional dalam kegiatan belajar-mengajar. Banyak juga guru yang tidak
efektif dalam menyampaikan materi. Seorang guru tidak bisa dikatakan efektif
jika ia belum bisa mengefektifkan dirinya sendiri, dengan mengatur waktu agar
bisa merangkul peserta didik dan menjadikannya paham dengan mata pelajaran yang
telah disampaikan.
5. Menyenangkan
Pembelajaran yang dilaksanakan haruslah dilakukan
dengan tetap memperhatikan suasana belajar yang menyenangkan. Belajar akan
efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Seseorang yang secara aktif
membangun pengetahuannya memerlukan dukungan suasana dan fasilitas belajar yang
maksimal. Suasana yang menyenangkan dan tidak diikuti suasana tegang sangat
baik untuk membangkitkan motivasi untuk belajar. Anak-anak pada dasarnya
belajar paling efektif pada saat mereka sedang bermain atau melakukan sesuatu
yang mengasyikkan.
Menurut penelitian, anak-anak menjadi berminat untuk
belajar jika topik yang dibahas sedapat mungkin dihubungkan dengan pengalaman
mereka dan disesuaikan dengan alam berpikir mereka. Yang dimaksudkan adalah bahwa
pokok bahasannya dikaitkan dengan pengalaman siswa sehari-hari dan disesuaikan
dengan dunia mereka dan bukan dunia guru sebagai orang dewasa. Apalagi jika
disesuaikan dengan kebiasaan mereka dalam belajar. Ciri yang terakhir ini
merupakan ciri pembelajaran kontekstual. Dengan demikian pembelajaran PAIKEM
sebenarnya juga pembelajaran kontekstual.
B. Metode
PAIKEM
Metode Pembelajaran
Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, diantaranya sebagai
berikut:
1. Tutorial
dicirikan dengan terjadinya pertukaran informasi antara peserta didik dengan
tutor.
2. Ceramah/kuliah
didominasi komunikasi lisan (oral) dari atau pengajar.
3. Resitasi
dicirikan dengan guru “mendengar” peserta didik berbicara, membaca, atau
melakukan tindakan lainnya.
4. Diskusi
dicirikan dengan komunikasi lisan antara guru peserta didik, serta antara
peserta didik.
5. Kegiatan
laboratoium dicirikan dengan situasi di mana peserta didik berinteraksi dengan
kejadian atau benda nyata.
6. Pekerjaan
rumah yang dapat berupa instruksi, latihan, atau proyek.
C. Langkah-langkah
Penerapan PAIKEM
Secara garis besar,
langkah-langkah penerapan PAIKEM, sebagai berikut:
1. Siswa
terlibat dalam berbagai macam kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan
kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar.
2. Guru
menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat
termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan
pembelajaran menarik, menyenangkan dan cocok bagi siswa.
3. Guru
mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik
dan menyediakan pojok baca.
4. Guru
menerapkan cara mengajar yang kooperatif dan interaktif termasuk cara belajar
kelompok.
5. Guru
mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri untuk pemecahan suatu masalah
untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan
lingkungan sekolah.
D. Kelebihan
dan kelemahan metode PAIKEM
Kelebihan PAIKEM:
1. Mengalami
: Peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun emosional
2. Komunikasi
: Kegiatan pembelajaran memungkinkan terjadinya komunikasi antara guru dan
peserta didik
3. Interaksi
: Kegiatan pembelajarannya memungkinkan terjadinya interaksi multi arah
4. Refleksi
: Kegiatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memikirkan kembali apa yang telah dilakukan
Kelemahan
PAIKEM:
1. Membutuhkan
dana, dalam pembelajaran yang PAIKEM sering kita memakai media sehingga
membutuhkan biaya yang lebih untuk menunjang proses pembelajaran
2. Pengembangan
RPP, dalam pembelajaran PAIKEM guru dituntut untuk kerja exstra dalam
pengembangan pembuatan RPP agar dapat menciptakan pembelajaran yang
diinginkan Manajemen kelas, dalam
pembelajaran ini guru harus selalu dapat menciptakan suasana kelas yang
kondusif dan menyenangkan.
3. Kurangnya
kreatifitas guru, dalam pembelajaran PAIKEM guru cenderung malas untuk melalkukan
pembelajaran yang inovatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar