MAKALAH
“FILSAFAT PENDIDIKAN”
Disusun
untuk memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah : Orientasi dan Etika Profesi
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB
I PENDAHULUAN 1
A. Latar
Belakang 1
B. Rumusan
Masalah 1
C. Tujuan 1
BAB
II PEMBAHASAN 2
A. Pengertian
Filsafat Pendidikan 2
B. Tujuan
Filsafat Pendidikan 2
C. Manfaat
Filsafat Pendidikan 3
D. Ruang
Lingkup Filsafat Pendidikan 4
E. Sistematika
Filsafat Pendidikan 5
F. Aliran-aliran
filsafat pendidikan 6
G. Sasaran
Filsafat Pendidikan 9
BAB
III PENUTUP 12
KESIMPULAN 12
DAFTAR PUSTAKA 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Filsafat tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan
manusia, karena sejarah filsafat erat kaitannya dengan sejarah manusia pada
masa lampau. Filsafat yang dijadikan sebagai pandangan hidup, erat kaitannya dnegan
nilai-nilai tentang manusia yang dianggap benar sebagai pandangan hidup oleh
suatu masyarakat atau bangsa untuk mewujudkannya yang terkandung dalam filsafat
tersebut. Oleh karena itu suatu filsafat yang diyakini oleh suatu masyarakat
atau bangsa akan berkaitan erat dengan sistem pendidikan yang diraaskan oleh
masyarakat dan bangsa tersebut.
Filsafat pendidikan ini sebagai usaha untuk
mengenalkan filsafat pendidikan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu.
Adapun filsafat pendidikan adalah disiplin ilmu yang mempelajari dan berusaha
mengungkap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Agar pendidikan
mempunyai arti jelas, karena pendidikan sangat pesar peranannya dalam membna
kemajuan suatu bangsa sesuai dengan filsafat yang diyakini.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian filsafat pendidikan
2. Apa
saja tujuan dari filsafat pendidikan
3. Apa
manfaat filsafat pendidikan
4. Apa
saja ruang lingkup filsafat pendidikan
5. Apa
saja sistematika dari filsafat pendidikan
6. Aliran-aliran
filsafat pendidikan
7. Sasaran
Filsafat Pendidikan
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian filsafat pendidikan
2. Mengetahui
tujuan dari filsafat pendidikan
3. Mengetahui
manfaat dalam filsafat pendidikan
4. Mengetahui
ruang lingkup filsafat pendidikan
5. Mengetahui
sistematika dari filsafat pendidikan
6. Mengetahui
Aliran-aliran filsafat pendidikan
7. Mengetahui
Sasaran Filsafat Pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Filsafat Pendidikan
Filsafat dan filosof berasal dari kata Yunani, yaitu
Philosophia dan philosophos. Menurut bentuk kata, seorang philosophos adalah
seorang pencinta kebijaksanaan. Pendapat lain mengatakan bahwa filsafat menurut
asal katanya adalah "cinta akan kebenaran", yang berasal dari bahasa
Yunani philos (cinta) dan shopia (kebenaran). Ada juga yang berpendapat bahwa,
kata falsafah berasal dari bahasa Yunani Kuno, apabila diterjemahkan secara
bebas berarti "cinta akan hikmah". Dengan demikian falsafat itu
sendiri bukanlah hikmah; tetapi filsafat adalah cinta terhadap hikmah dan
selalu berusaha untuk mendapatkan hikmah. Oleh karena itu, seorang filosof atau
orang yang mencintai hikmah akan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian
kepadanya dan menciptakan sikap yang positif terhadapnya. Di samping itu, dalam
mencari hakekat sesuatu, akan berusaha menentukan sebab akibat serta berusaha
menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.
Pada dasarnya pengertian pendidikan (UU SISDIKNAS
No.20 tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
Filsafat pendidikan menururt Al-Syaibany (19?9:30)
adalah :
"Pelaksanaan
pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu
mencerminkan satu segi darisegi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan
kepada pelaksanaan prinsip prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi
dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara
praktis".
B.
Tujuan
Filsafat Pendidikan
Secara umum tujuan pendidikan dapat dikatakan dapat
membawa anak ke arah tingkat kedewasaan, artinya membawa anak didik agar dapat
berdiri sendiri (mandiri) dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat.
Ada
empat macam tujuan pendidikan yang tingkatan dan luasnya berlainan, yaitu:
a. Tujuan
Pendidikan Nasional
Tujuan pendidikan
nasional yaitu membangun kualitas yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan
selalu dapat meningkatkan kebudayaan dengan-Nya sebagai warga negara yang
berjiwa pancasila yang mempunyai semangat dan kesadaran yang tinggi, berbudi
pekerti luhur dan berkepribadian yang kuat, cerdas, terampil, dan dapat
mengembangkan dan menyuburkan tingkat demokrasi, dapat memelihara hubungan yang
baik antara sesama manusia dan dengan lingkungannya, sehat jasmani, mampu
mengembangkan daya estetika, sanggup membangun diri dan masyarakat.
b. Tujuan
Institusional
Tujuan institusional
adalah perumusan secara umum pola perilaku dan pola kemampuan yang harus
dimiliki oleh lulusan suatu lembaga pendidikan.
c. Tujuan
Kurikuler
Tujuan Kurikuler yaitu
untuk mencapai pola perilaku dan pola kemampuan serta keterampilan yang harus
dimiliki oleh lulusan suatu lembaga, yang sebenarnya merupakan tujuan
institusional dari bagan pendidikan tersebut.
d. Tujuan
instruksional
Tujuan instruksional
adalah rumusan secara terperinci apa saja yang harus dikuasai oleh siswa dan
anak didik sesudah melewati kegiatan instruksional yang bersangkutan dengan
berhasil.
C.
Manfaat
Filsafat Pendidikan
Manfaat filsafat pendidikan menurut Al-Syaibany adalah
sebagai berikut :
a. Filsafat
pendidikan dapat menolong para perancang pendidikan dan orang-orang yang
membutuhkannya untuk membentuk pikiran sehat terhadap proses pendidikan.
Disamping itu dapat menolong terhadap tujuan dan fungsi serta meningkatkan mutu
pendidikan serta memperbaiki pelaksanaan pendidikan yang meliputi penilaian,
bimbingan dan penyuluhan.
b. Filsafat
pendidikan dapat membentuk asas secara untuk menentukan pandangan kajian yang
umum, termasuk kurikulm, kaidah-kaidah pengajaran dan kebijaksanaan yang harus
dibuat.
c. Filsafat
pendidika dianggap sebagai asas atau dasar yang terbaik untuk pernilaian
pendidikan secara menyeluruh. Penilaian pendidikan meliputi segala
usaha adan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah, perguruan tinggi
secara umum untuk mendidik warga negara dan segala yang berhubungan dengan
pendidikan.
d. Filsafat
pendidikan memberikan corak dan pribadi yang khas dan istimewa sesuai dengan
prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama, dan nilai umat islam. disamping member
corzk kebudayaan, social, perekonomian, social dan politik untuk tuntunan masa
depan.
D.
Ruang
Lingkup Filsafat Pendidikan
Jalaluddin dan Sa’id di dalam bukunya mengutip
dari Tim Dosen IKIP Malang menjelaskan, bahwa Secara makro (umum) apa
yang menjadi obyek pemikiran filsafat yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau
permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan alam sekitarnya adalah juga
merupakan obyek pemikiran filsafat pendidikan. Tetapi seara mikro
(khusus) yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi;
1) Merumuskan
secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature Of Education).
2) Merumuskan
sifat hakikat manusia sebagai subjek dan objek pendidikan (The Nature Of Man).
3) Merumuskan
secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama, dan
kebudayaan.
4) Merumuskan
hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan.
5) Merumuskan
hubungan antara negara (ideologi), filsafat pendidikan, dan politik pendidikan
(sistem pendidikan).
6) Merumuskan
sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pedidikan.
Berbeda dengan yang di atas, Drs. Anas
Salahudin, M.Pd. di dalam bukunya “Filsafat Pendidikan” merumuskan, bahwa ruang
lingkup filsafat pendidikan adalah sebagai berikut;
1) Pendidik
2) Murid
atau anak didik
3) Materi
pendidikan
4) Perbuatan
mendidik
5) Metode
pendidikan
6) Evaluasi
pendidikan
7) Tujuan
pendidikan
8) Alat-alat
pendidikan
9) Dan
lingkungan pendidikan.
E.
Sistematika
Filsafat Pendidikan
1. Ontologi
Pendidikan
Ontologi
dalam segi arti bahasa yaitu terdiri dari dua suku kata yakni Ontos dan Logos.
Ontos berarti sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. jadi
Ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan
segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan
hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu
hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib, dalam keharmonisan. Ontologi
dapat pula di artikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada.
Obyek ilmu ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat di
jangkau pancaindera. dengan demikian.
Obyek
ilmu adalah pengalaman inderawi. dengan kata lain, Ontologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan
pada logika semata. pengertian ini juga di dukung pula oleh pernyataan Runes
bahwa "Ontology is the theory of being qua being", artinya Ontologi
adalah teori tentang wujud.
2. Epistimologi
Pendidikan
Epistimologi
pendidikan adalah kata lain dari filsafat ilmu berasal dari bahasa latin
episteme, berarti knowledge, yaitu pengetahuan dan logos, berarti theory. jadi
epistimologi, berarti "teori pengetahuan" atau teori tentang metode,
cara, dan dasar dari ilmu pengetahuan, atau studi tentang hakikat tertinggi,
kebenaran, dan batas ilmu manusia.
Dalam
filsafat, epistemologi merupakan cabang filsafat yang meneliti asal, struktur,
metode metode, dan kesahihan pengetahuan. dalam arti istilah epistemologi
adalah analisis filosofi terhadap sumber sumber pengetahuan. dari mana dan
bagaimana pengetahuan diperoleh, menjadi kajian epistemologi, sebagai contoh
bahwa semua pengetahuan berasal dari tuhan ( innama al'ilm min indillah,
la'ilmalana illa ma'alamtana), artinya tuhan sebagai sumber pengetahuan. dalam
epistemologi, di bicarakan tentang sumber pengetahuan dan sistematikanya.
Selain
itu, dibicarakan pula tentang hakikat ketetapan susunan berpikir yang secara akurat
pula di gunakan untuk masalah masalah yang bersangkutan dengan maksud menemukan
kebenaran isi sebuah pernyataan. isi pernyataan adalah sesuatu yang ingin di
ketahui. oleh karena itu, epistemologi relevan dengan ilmu pengetahuan yang di
sebut juga filsafat ilmu.
3. Aksiologi
pendidikan
Aksiologi
pendidikan berkaitan dengan masalah ilmu dan pengetahuan (kognitio), maksudnya
adalah memikirkan segala hakikat pengetahuan atau hakikat keberadaan segala
sesuatu yang bersifat fisikal dan metafisikal, baik yang umum maupun yang
khusus. oleh karena itu, kajiannya mengarahkan diri pada dasar dasar
pengetahuan dalam bentuk penalaran, logika, sumber pengetahuan, dan kriteria
kebenaran. demikian pula dengan aspek ontologinya, kajian tentang hakikatnya
mengarahkan diri pada hal hal yang sifatnya metafisikal, asumsial, dan batas
batas penjelajahan ilmu yang di lengkapi perspektif epistemologi tentang sistem
berpikir dan struktur pengetahuan ilmiah.
Dengan
penjelasan di atas, dapat di ambil pemahaman bahwa objek penyelidikan ilmu
pengetahuan hanya terbatas pada sesuatu yang dapat di selidiki secara ilmiah.
jika tidak dapat di selidiki lagi, ilmu pengetahuan akan berhenti sampai di
situ. berbeda dengan penyelidikan filsafat pendidikan, yang akan terus bekerja
hingga masalah yang di kajinya di temukan hingga ke akar akarnya. bahkan,
filsafat pendidikan baru menampakkan hasil kerjanya manakala ilmu pengetahuan
yang di kaji telah memiliki kemampuan mendekatkan diri antara hamba dengan sang
pencipta.
Perlu
di tegaskan sekali lagi bahwa tujuan pendidikan atau aksiologi pendidikan
secara esensial adalah terwujudnya anak didik yang memahami ilmu dan
mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari. terwujudnya insan kamil yaitu
manusia yang kembali pada fitrahnya dan pada tujuan kehidupannya yang sejati.
Aksiologi
pendidikan juga berkaitan dengan aliran aliran pendidikan yang terus
berkembang.
F.
Aliran-aliran
filsafat pendidikan
Berikut adalah aliran-aliran filsafat pendidikan
menurut tulisan Imam Bernadib dalam bukunya Filsafat Pendidikan :
1. Aliran
Progresif
Secara
umum progresif berpijak pada aliran pragmatis, yaitu aliran filsafat yang
berpandang bahwa kebenaran segala sesuatu ada pada kegunaan praktisnya. Atas
dasar pandangan pokoknya sebagaimana diatas, pragmatis memandang bahwa :
a. Realita
bukanlah semesta atau ide yang bersifat abstrak, umum, tetap, melainkan
merupakan sesuatu yang berupa proses , bukan tetap.
b. Hakikat
sesuatu dipandang dari kegunaannya.
c. Tidak
ada pengetahuan yang tetap, tetapi selalu berubah.
d. Manusia
adalah penentu pengembeng pengetahuan itu.
Pandangan progresif
tentang beberapa hal terkait pendidikan :
a. Pendidikan
harus membawa kemajuan, tidak konservatif dan tidak otoriter.
b. Pendidikan
harus memperhatikan kemampuan-kemampuan dasar manusia yang merupakan motor
penggerak bagi kemajuan dirinya.
c. Ada
ilmu-ilmu yang potensial untuk membantu p[emikiran dan praktik pendidikan,
yaitu antropologi, biologi, psikologi dan ilmu alam.
d. Realita
yang berupa ide dapat digunakan untuk kemajuaan.
e. Dalam
mencari ilmu pengetahuan lebih menekankan pada pendekatan induktif,
rasional dan empiric.
f.
Sesuai dengan filsafatnya yang empiric,
progresivisme memandang nilaiatau norma bukan sebagai ide murni dan harus diuji
secara empiric, yaitu dicocokkan dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat.
g. Pandangannya
tentang belajar progresivisme berpendapat bahwa peserta didik memiliki potensi
yang berupa akal dan kecerdasan yang dapat digunakan untuk menghadapi
lingkungannya dalam bentuk memecahkan berbagai masalah. Konsekuensinya tidak
ada pemisahan antara sekolah dan masyarakat. Sekolah juga harus mengembengkan
kreativitas peserta didik.
h. Pandangaan
progresivisme tentang kurikulum adalah bahwa kurukulum harus fleksibel, tidak
bersifat universal, harus sesuai dengan kebutuhan setiap anak, serta sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan setempat. Kuriikulum harus dapat
mengembangkan intelek, emosi, motorik,dan social peserta didik secara utuh.
2. Aliran
Esensialisme
Berbeda
dengan aliran progresivisme yang berpendapat bahwa tidak ada yang sifatnya
universal bahwa disamping adanya perubahan juga ada yang sifatnya abadi, tetap
sepanjang zaman, yaitu berupa esensinya sesuatu intinya sesuatu, hakikat
sesuatu yang tidak berubah.
Pendapat
esensialisme tentang beberapa hal mengenai pendidikan :
a. Tentang
apa yang harus diajarkan kepada peserta didik disamping adanya hal-hal yang
berubah sesuai dengan tuntutan zaman, ada materi pelajaran yang sifatnya tetap,
ada pada setiap zaman. Tentang materi apa yang sifatnya tetap tersebut,
misalnya bahasa, moral, matematika, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya.
Hal-hal yang esensi tersebut ada meskipun wujud riilnya berbeda-beda.
b. Pendidikan
harus menemukan hal-hal yang merupakanesensi tersebut.
c. Kurikulum
tidak perlu terlalu banyak menyajikan pengetahuan atau pengalaman. Cukup diberikan
yang esensi, yang merupakan inti dari berbagai pengetahuan atau pengalaman, dan
selanjutnya peserta didik harus mengembangkan dirinya.
3. Aliran
Perenialisme
Perenialisme
adalah suatu pandangan bahwa dalam zaman yang selalu berubah tetap ada “benang
merah” yang menghubungkan zaman yang satu dengan zaman yang lain, atau antara
wilayah yang satu dengan wilayah yang lain pada zaman yang sama.
Pandangan umum
perenialisme dintaranya yaitu :
a. Kehidupan
manusia dewasa ini dengan penuh kekacauan, baik dalm hal moral,social, maupun
intelektual. Hal ini akibat tidak adanya kepastian tidak ada yang dapat dipakai
sebagai pegangan untuk menghadapi dunia yang justru selalu berubah. Dengan
demikian, aliran ini juga mengakui adanya perubahan, tetapi menghendaki agar dalam
perubahan tersebut manusia memiliki pegamgan yang kuat, sehingga tidak
terombang-ambing oleh kondisi dan tuntutan lingkungan.
b. Aliran
perenialisme menempuh pendekatan regresif, yaitu mencari pegangan dari masa
lalu, yaiti apa yang telah menjadi pegangan hidup bagi orang-orang terdahulu
yang sampai sekarang masih juga berfungsi sebagai pegangan hidup. Yang dimaksud
masa lalu ini adalah masa lalunya masyarakat Eropa, yaitu masa kebesaran para
filosof terkenal pada zaman sebelum Masehi dan masyarakat Eropa
zaman pertengahan atau zaman berkembangnya agama-agama besar.
c. Ada
dua macam pegangan yang diperlukan manusia sejak dulu hingga sekarang, yaitu
kepercayaan yang bersumber dari Tuhan dan kepercayaan hasil rasio.
d. Pandangan
perenialisme tentang kebenaran adalah bahwa kebenaran merupakan paduan antara
kebenaran hasil fikiran kebenaran yang melekat pada objek, dan keyakinan adanya
kesesuian antara hasil berpikir dan kondisi objek.
e. Kebenaran
berpikir diperoleh dengan menggunakan hokum-hukum logika.
f.
Pandangan perenialisme tentang nilai atau
norma sesuai dengan orientasinya pada abad pertengahan, yaitu :
·
Memandang norma adalah persoalan kejiwaan.
·
Dasar nilai bersifat teologis dan ukuran
baik buruk dari Tuhan.
Pandangan perenialisme
yang menyangkut pendidikan :
a) Tentang
kurikulum, perenialisme berpendapat :
1) Kurikulum
merupakan alat untuk mengembamhkan akal dan moral.
2) Kurikulum
harum meliputi pengalaman langsung maupun tidak langsung.
b) Tentang
belajar, pandangan perenialisme adalah :
1) Titik
tolak belajar adalah bahwa manisia adalah makhluk rasionalis. Titik
tolak kemampuan manusia adalah kemampuan berfikir.
2) Dari
berfikir berkembanglah kebebasan, ketrampilan, bahasa dan sebagainya.
3) Belajar
adalah persoalan latihan dan disiplin mental. Yang penting adalah pengembengan
kemampuan dasar, sedang materi ajar hanyalah alat untuk mengembangkan kemampuan
dasar. Kalau kemampuan dasarnya tersebut sudah berkembang dengan sendirinya
menusia akan dapat menghadapi dan memecahkan segala masalah yang sedang
dihadapi.
4) Ada
belajar yang terjadi dalam bentuk pengajaran dan ada belajar belajar yang
berupapenemuan sendiri oleh peserta didik.
G.
Sasaran
Filsafat Pendidikan
1. Tujuan
Pendidikan
Filsafat
pendidikan adalah ilmu yang pada hakekatnya merupakan jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Karena bersifat filosofis,
maka hakekatnya adalah penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan
pendidikan. Sasaran utamanya adalah tujuan pendidikan, sebagai jawiban dari
pertanyaan "Untuk apa sekolah ini diadakan?; Ke arah mana pendidikan ini
akan dibawa?". Untuk menentukan tujuan pendidikan itu, filsafat
mengadakan tinjauan yang luas dan mendalam mengenai realita, dikupaslah
pandangan tentang dunia dan pandangan hidup manusia. Akhimya konsep-konsep dari
semua it9u dijadikan landasan penyusunan konsep tujuan pendidikan. Kemudian,
dikupas pula mengenai pengalaman pendidik dalam mengembangkan dan menumbuhkan
anak yang berhubungan dengan realita. Semua ini akan dipakai sebagai bahan
pertimbangan dalam mengembangkan diri. Di samping itu dikaji pula pandangan
mengenai hakekat Khalik, makhluk, alam semesta, pengetahuan dan nilai-nilai.
Semuanya dipadukan dalam menentukan kurikulum.
2. Metode
Apabila
tujuan telah dirumuskan sesuai dengan tujuan filsafat yang dianut, langkah
selanjutnya adalah mengupas tentang cara-cara menerapkan aspek-aspek
pendidikan yang terkandung dalam tujuan pendidikan. Filsafat akan mengadakan
pembahasan tentang aku (ego) dan tujuan, lalu dibahas pula metode apa yang
tepat bagi pribadi yang bersangkutan. Misalnya, berdasarkan ilmu jiwa
kepribadian, aliran monisme faham Materialisme menganggap bahwa manusia adalah
makhluk reaksi, pola reaksinya disampaikan sebagai stimulus response. Untuk
meningkatkan efektivitas tingkah laku manusia hanya dibutuhkan pengalaman atau
latihan (drill). Sedangkan menurut aliran monisme faham Idealisme memandang
bahwa manusia itu asas primemya adalah jiwa, karena jasmani tanpa jiwa tidak
akan berdaya. Maka pendidikan harus dilaksanakan berdasarkan kodrat dan
kebutuhan asas roldaani, untuk membina rasio, perasaan, kemauan dan spirit
manusia.
Dari
kedua faham tersebut bisa melahirkan beberapa metode yang bisa digunakan dalam
proses pendidikan, misalnya metode latihan, metode penugasan, metode ceramah
dan sebagainya. Jadi memilih metode pun harus mengacu kepada tujuanberdasarkan
kajian filsafat.
3. Alat
Pendidikan
Yang
dimaksud dengn alat pendidikan ialah segala sesuatu apa yang dipergunakan dalam
usaha mencapai pendidikan. Pendidikan pun merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan.
Berdasarkan fungsinya,
alat-alat pendidikan dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu :
a) Alat
sebagai perlengkapan.
b) Alat
sebagai pembantu dalam mempermudah usaha pencapaian tujuan.
c) Alat
sebagai tujuan.
Dalam
memikirkan alat-alat yang akan dipakai dalam pendidikan, fungsi setiap alat
sebaiknya diperhitungkan. Antara lain soal kematangan anak-anak untuk menerima
pendidikan itu, dan soal ruangan serta waktunya. Jadi pemilihan alat harus
disesuaikan dengan hal-hal tersebut.
Berdasarkan taraf-taraf
perkembangan anak, alat-alat pendidikan terbagi atas :
a) Alat-alat
yang memberi perlengkapan berupa kecakapan berbuat dan pengetahuan hapalan.
Alat ini dapat disebut sebagai alat pembiasaan.
b) Alat-alat
untuk memberi pengertian, membentuk sikap, minat dan cara-cara berpikir.
c) Alat-alat
yang membawa ke arah keheningan bathin, kepercayaan dan penyerahan diri kepada
Tuhan.
Selain pembagian
tersebut, alat-alat pendidikan dapat pula dibedakan atas :
a) Alat-alat
langsung, yaitu alat-alat yang bersifat menganjurkan sej alan dengan maksud
usaha.
b) Alat-alat
tidak langsung; yaitu alat-alat yang bersifat pencegahan dan pembasmian
hal-hal yang bertentangan dengan maksud usaha.
Alat-alat langsung disebut juga alat
positif, misalnya segala jenis anjuran, perintah, keharusan. Sedangkan
alat-alat tidak langsung disebut alat negatif, misalnya larangan-larangan,
peringatanperingatan dan sejenisnya dengan segala akibatnya,. Pembagian yang
lain adalah si terdidik dan pendidik. Disamping ketiga hal tersebut, yang
termasuk sasaran Filsafat Pendidikan adalah faktor-faktor pendidikan, dan
usaha-usaha mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang mendukung usaha pendidikan.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Filsafat
pendidikan menururt Al-Syaibany (19?9:30) adalah :
"Pelaksanaan
pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu
mencerminkan satu segi darisegi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan
kepada pelaksanaan prinsip prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi
dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara
praktis".
Secara
umum tujuan pendidikan dapat dikatakan dapat membawa anak ke arah tingkat
kedewasaan, artinya membawa anak didik agar dapat berdiri sendiri (mandiri)
dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat.
Sistematika
Filsafat Pendidikan terdiri dari : Ontologi Pendidikan, Epistimologi
Pendidikan, dan Aksiologi pendidikan.
Aliran-aliran
filsafat pendidikan terdiri dari Aliran Progresif, Aliran Esensialisme, dan
Aliran Perenialisme.
DAFTAR PUSTAKA
Dr.
A. H. Amka, M.Si. 2019. Filsafat
Pendidikan. Sidoarjo: Nizamia Learning Center. (http://eprints.ulm.ac.id/6122/1/B2.%20Publikasi%20Buku%20Filsafat%20Pendidikan.pdf)
http://wawanhermawan90.blogspot.com/2012/01/makalah-filsafat-pendidikan.html
https://dosenmuslim.com/makalah/makalah-filsafat-pendidikan/
https://pgmickudus.blogspot.com/2015/01/filsafat-pendidikan.html
http://wawanhermawan90.blogspot.com/2012/01/makalah-filsafat-pendidikan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar