Jumat, 17 Maret 2023

Filsafat Pendidikan

 

MAKALAH

“FILSAFAT PENDIDIKAN”

 

Disusun untuk memenuhi Tugas Individu

Mata Kuliah : Orientasi dan Etika Profesi


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                                                                               i

DAFTAR ISI                                                                                                              ii

BAB I PENDAHULUAN                                                                                          1

A.    Latar Belakang                                                                                                1

B.     Rumusan Masalah                                                                                           1

C.     Tujuan                                                                                                             1

BAB II PEMBAHASAN                                                                                           2

A.    Pengertian Filsafat Pendidikan                                                                       2

B.     Tujuan Filsafat Pendidikan                                                                            2

C.     Manfaat Filsafat Pendidikan                                                                          3

D.    Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan                                                               4

E.     Sistematika Filsafat Pendidikan                                                                     5

F.      Aliran-aliran filsafat pendidikan                                                                    6

G.    Sasaran Filsafat Pendidikan                                                                           9

BAB III PENUTUP                                                                                                   12

KESIMPULAN                                                                                                          12

DAFTAR PUSTAKA                                                                                                13


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Filsafat tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, karena sejarah filsafat erat kaitannya dengan sejarah manusia pada masa lampau. Filsafat yang dijadikan sebagai pandangan hidup, erat kaitannya dnegan nilai-nilai tentang manusia yang dianggap benar sebagai pandangan hidup oleh suatu masyarakat atau bangsa untuk mewujudkannya yang terkandung dalam filsafat tersebut. Oleh karena itu suatu filsafat yang diyakini oleh suatu masyarakat atau bangsa akan berkaitan erat dengan sistem pendidikan yang diraaskan oleh masyarakat dan bangsa tersebut.

Filsafat pendidikan ini sebagai usaha untuk mengenalkan filsafat pendidikan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu. Adapun filsafat pendidikan adalah disiplin ilmu yang mempelajari dan berusaha mengungkap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Agar pendidikan mempunyai arti jelas, karena pendidikan sangat pesar peranannya dalam membna kemajuan suatu bangsa sesuai dengan filsafat yang diyakini.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian filsafat pendidikan

2.      Apa saja tujuan dari filsafat pendidikan

3.      Apa manfaat filsafat pendidikan

4.      Apa saja ruang lingkup filsafat pendidikan

5.      Apa saja sistematika dari filsafat pendidikan

6.      Aliran-aliran filsafat pendidikan

7.      Sasaran Filsafat Pendidikan

C.    Tujuan

1.      Mengetahui  pengertian filsafat pendidikan

2.      Mengetahui tujuan dari filsafat pendidikan

3.      Mengetahui manfaat dalam filsafat pendidikan

4.      Mengetahui ruang lingkup filsafat pendidikan

5.      Mengetahui sistematika dari filsafat pendidikan

6.      Mengetahui Aliran-aliran filsafat pendidikan

7.      Mengetahui Sasaran Filsafat Pendidikan


BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Filsafat Pendidikan

Filsafat dan filosof berasal dari kata Yunani, yaitu Philosophia dan philosophos. Menurut bentuk kata, seorang philosophos adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Pendapat lain mengatakan bahwa filsafat menurut asal katanya adalah "cinta akan kebenaran", yang berasal dari bahasa Yunani philos (cinta) dan shopia (kebenaran). Ada juga yang berpendapat bahwa, kata falsafah berasal dari bahasa Yunani Kuno, apabila diterjemahkan secara bebas berarti "cinta akan hikmah". Dengan demikian falsafat itu sendiri bukanlah hikmah; tetapi filsafat adalah cinta terhadap hikmah dan selalu berusaha untuk mendapatkan hikmah. Oleh karena itu, seorang filosof atau orang yang mencintai hikmah akan berusaha mendapatkannya, memusatkan perhatian kepadanya dan menciptakan sikap yang positif terhadapnya. Di samping itu, dalam mencari hakekat sesuatu, akan berusaha menentukan sebab akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman­-pengalaman manusia.

Pada dasarnya pengertian pendidikan (UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Filsafat pendidikan menururt Al-Syaibany (19?9:30) adalah :

"Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dari­segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis".

 

B.     Tujuan Filsafat Pendidikan

Secara umum tujuan pendidikan dapat dikatakan dapat membawa anak ke arah tingkat kedewasaan, artinya membawa anak didik agar dapat berdiri sendiri (mandiri) dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat.

Ada empat macam tujuan pendidikan yang tingkatan dan luasnya berlainan, yaitu:

a.       Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional yaitu membangun kualitas yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan selalu dapat meningkatkan kebudayaan dengan-Nya sebagai warga negara yang berjiwa pancasila yang mempunyai semangat dan kesadaran yang tinggi, berbudi pekerti luhur dan berkepribadian yang kuat, cerdas, terampil, dan dapat mengembangkan dan menyuburkan tingkat demokrasi, dapat memelihara hubungan yang baik antara sesama manusia dan dengan lingkungannya, sehat jasmani, mampu mengembangkan daya estetika, sanggup membangun diri dan masyarakat.

b.      Tujuan Institusional

Tujuan institusional adalah perumusan secara umum pola perilaku dan pola kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu lembaga pendidikan.

c.       Tujuan Kurikuler

Tujuan Kurikuler yaitu untuk mencapai pola perilaku dan pola kemampuan serta keterampilan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu lembaga, yang sebenarnya merupakan tujuan institusional dari bagan pendidikan tersebut.

d.      Tujuan instruksional

Tujuan instruksional adalah rumusan secara terperinci apa saja yang harus dikuasai oleh siswa dan anak didik sesudah melewati kegiatan instruksional yang bersangkutan dengan berhasil.

 

C.    Manfaat Filsafat Pendidikan

Manfaat filsafat pendidikan menurut Al-Syaibany adalah sebagai berikut :

a.       Filsafat pendidikan dapat menolong para perancang pendidikan dan orang-orang yang membutuhkannya untuk membentuk pikiran sehat terhadap proses pendidikan. Disamping itu dapat menolong terhadap tujuan dan fungsi serta meningkatkan mutu pendidikan serta memperbaiki pelaksanaan pendidikan yang meliputi penilaian, bimbingan dan penyuluhan.

b.      Filsafat pendidikan dapat membentuk asas secara untuk menentukan pandangan kajian yang umum, termasuk kurikulm, kaidah-kaidah pengajaran dan kebijaksanaan yang harus dibuat.

c.       Filsafat pendidika dianggap sebagai asas atau dasar yang terbaik untuk pernilaian pendidikan secara menyeluruh. Penilaian pendidikan meliputi segala usaha  adan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah, perguruan tinggi secara umum untuk mendidik warga negara dan segala yang berhubungan dengan pendidikan.

d.      Filsafat pendidikan memberikan corak dan pribadi yang khas dan istimewa sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama, dan nilai umat islam. disamping member corzk kebudayaan, social, perekonomian, social dan politik untuk tuntunan masa depan.

 

D.    Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan

Jalaluddin dan Sa’id di dalam bukunya mengutip dari Tim Dosen IKIP Malang menjelaskan, bahwa Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan alam sekitarnya adalah juga merupakan  obyek pemikiran filsafat pendidikan. Tetapi seara mikro (khusus) yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi;

1)      Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (The Nature Of Education).

2)      Merumuskan sifat hakikat manusia sebagai subjek dan objek pendidikan (The Nature Of Man).

3)      Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama, dan kebudayaan.

4)      Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan.

5)      Merumuskan hubungan antara negara (ideologi), filsafat pendidikan, dan politik pendidikan (sistem pendidikan).

6)      Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidikan yang merupakan tujuan pedidikan.

Berbeda dengan yang di atas, Drs. Anas Salahudin, M.Pd. di dalam bukunya “Filsafat Pendidikan” merumuskan, bahwa ruang lingkup filsafat pendidikan adalah sebagai berikut;

1)      Pendidik

2)      Murid atau anak didik

3)      Materi pendidikan

4)      Perbuatan mendidik

5)      Metode pendidikan

6)      Evaluasi pendidikan

7)      Tujuan pendidikan

8)      Alat-alat pendidikan

9)      Dan lingkungan pendidikan.

 

E.     Sistematika Filsafat Pendidikan

1.      Ontologi Pendidikan 

Ontologi dalam segi arti bahasa yaitu terdiri dari dua suku kata yakni Ontos dan Logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. jadi Ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata  hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib, dalam keharmonisan. Ontologi dapat pula di artikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat di jangkau pancaindera. dengan demikian.

Obyek ilmu adalah pengalaman inderawi. dengan kata lain, Ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. pengertian ini juga di dukung pula oleh pernyataan Runes bahwa "Ontology is the theory of being qua being", artinya Ontologi adalah teori tentang wujud.

2.      Epistimologi Pendidikan

Epistimologi pendidikan adalah kata lain dari filsafat ilmu berasal dari bahasa latin episteme, berarti knowledge, yaitu pengetahuan dan logos, berarti theory. jadi epistimologi, berarti "teori pengetahuan" atau teori tentang metode, cara, dan dasar dari ilmu pengetahuan, atau studi tentang hakikat tertinggi, kebenaran, dan batas ilmu manusia.

Dalam filsafat, epistemologi merupakan cabang filsafat yang meneliti asal, struktur, metode metode, dan kesahihan pengetahuan. dalam arti istilah epistemologi adalah analisis filosofi terhadap sumber sumber pengetahuan. dari mana dan bagaimana pengetahuan diperoleh, menjadi kajian epistemologi, sebagai contoh bahwa semua pengetahuan berasal dari tuhan ( innama al'ilm min indillah, la'ilmalana illa ma'alamtana), artinya tuhan sebagai sumber pengetahuan. dalam epistemologi, di bicarakan tentang sumber pengetahuan dan sistematikanya.

Selain itu, dibicarakan pula tentang hakikat ketetapan susunan berpikir yang secara akurat pula di gunakan untuk masalah masalah yang bersangkutan dengan maksud menemukan kebenaran isi sebuah pernyataan. isi pernyataan adalah sesuatu yang ingin di ketahui. oleh karena itu, epistemologi relevan dengan ilmu pengetahuan yang di sebut juga filsafat ilmu.

3.      Aksiologi pendidikan

Aksiologi pendidikan berkaitan dengan masalah ilmu dan pengetahuan (kognitio), maksudnya adalah memikirkan segala hakikat pengetahuan atau hakikat keberadaan segala sesuatu yang bersifat fisikal dan metafisikal, baik yang umum maupun yang khusus. oleh karena itu, kajiannya mengarahkan diri pada dasar dasar pengetahuan dalam bentuk penalaran, logika, sumber pengetahuan, dan kriteria kebenaran. demikian pula dengan aspek ontologinya, kajian tentang hakikatnya mengarahkan diri pada hal hal yang sifatnya metafisikal, asumsial, dan batas batas penjelajahan ilmu yang di lengkapi perspektif epistemologi tentang sistem berpikir dan struktur pengetahuan ilmiah.

Dengan penjelasan di atas, dapat di ambil pemahaman bahwa objek penyelidikan ilmu pengetahuan hanya terbatas pada sesuatu yang dapat di selidiki secara ilmiah. jika tidak dapat di selidiki lagi, ilmu pengetahuan akan berhenti sampai di situ. berbeda dengan penyelidikan filsafat pendidikan, yang akan terus bekerja hingga masalah yang di kajinya di temukan hingga ke akar akarnya. bahkan, filsafat pendidikan baru menampakkan hasil kerjanya manakala ilmu pengetahuan yang di kaji telah memiliki kemampuan mendekatkan diri antara hamba dengan sang pencipta.

Perlu di tegaskan sekali lagi bahwa tujuan pendidikan atau aksiologi pendidikan secara esensial adalah terwujudnya anak didik yang memahami ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari. terwujudnya insan kamil yaitu manusia yang kembali pada fitrahnya dan pada tujuan kehidupannya yang sejati.

Aksiologi pendidikan juga berkaitan dengan aliran aliran pendidikan yang terus berkembang.

 

F.     Aliran-aliran filsafat pendidikan

Berikut adalah aliran-aliran filsafat pendidikan menurut tulisan Imam Bernadib dalam bukunya Filsafat Pendidikan :

1.      Aliran Progresif

Secara umum progresif berpijak pada aliran pragmatis, yaitu aliran filsafat yang berpandang bahwa kebenaran segala sesuatu ada pada kegunaan praktisnya. Atas dasar pandangan pokoknya sebagaimana diatas, pragmatis memandang bahwa :

a.       Realita bukanlah semesta atau ide yang bersifat abstrak, umum, tetap, melainkan merupakan sesuatu yang berupa proses , bukan tetap.

b.      Hakikat sesuatu dipandang dari kegunaannya.

c.       Tidak ada pengetahuan yang tetap, tetapi selalu berubah.

d.      Manusia adalah penentu pengembeng pengetahuan itu.

Pandangan progresif tentang beberapa hal terkait pendidikan :

a.       Pendidikan harus membawa kemajuan, tidak konservatif dan tidak otoriter.

b.      Pendidikan harus memperhatikan kemampuan-kemampuan dasar manusia yang merupakan motor penggerak bagi kemajuan dirinya.

c.       Ada ilmu-ilmu yang potensial untuk membantu p[emikiran dan praktik pendidikan, yaitu antropologi, biologi, psikologi dan ilmu alam.

d.      Realita yang berupa ide dapat digunakan untuk kemajuaan.

e.       Dalam mencari ilmu pengetahuan  lebih menekankan pada pendekatan induktif, rasional dan empiric.

f.        Sesuai dengan filsafatnya yang empiric, progresivisme memandang nilaiatau norma bukan sebagai ide murni dan harus diuji secara empiric, yaitu dicocokkan dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat.

g.      Pandangannya tentang belajar progresivisme berpendapat bahwa peserta didik memiliki potensi yang berupa akal dan kecerdasan yang dapat digunakan untuk menghadapi lingkungannya dalam bentuk memecahkan berbagai masalah. Konsekuensinya tidak ada pemisahan antara sekolah dan masyarakat. Sekolah juga harus mengembengkan kreativitas peserta didik.

h.      Pandangaan progresivisme tentang kurikulum adalah bahwa kurukulum harus fleksibel, tidak bersifat universal, harus sesuai dengan kebutuhan setiap anak, serta sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan setempat. Kuriikulum harus dapat mengembangkan intelek, emosi, motorik,dan social peserta didik secara utuh.

2.      Aliran Esensialisme

Berbeda dengan aliran progresivisme yang berpendapat bahwa tidak ada yang sifatnya universal bahwa disamping adanya perubahan juga ada yang sifatnya abadi, tetap sepanjang zaman, yaitu berupa esensinya sesuatu intinya sesuatu, hakikat sesuatu yang tidak berubah.

Pendapat esensialisme tentang beberapa hal mengenai pendidikan :

a.       Tentang apa yang harus diajarkan kepada peserta didik disamping adanya hal-hal yang berubah sesuai dengan tuntutan zaman, ada materi pelajaran yang sifatnya tetap, ada pada setiap zaman. Tentang materi apa yang sifatnya tetap tersebut, misalnya bahasa, moral, matematika, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya. Hal-hal yang esensi tersebut ada meskipun wujud riilnya berbeda-beda.

b.      Pendidikan harus menemukan hal-hal yang merupakanesensi tersebut.

c.       Kurikulum tidak perlu terlalu banyak menyajikan pengetahuan atau pengalaman. Cukup diberikan yang esensi, yang merupakan inti dari berbagai pengetahuan atau pengalaman, dan selanjutnya peserta didik harus mengembangkan dirinya.

3.      Aliran Perenialisme

Perenialisme adalah suatu pandangan bahwa dalam zaman yang selalu berubah tetap ada “benang merah” yang menghubungkan zaman yang satu dengan zaman yang lain, atau antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain pada zaman yang sama.

Pandangan umum perenialisme dintaranya yaitu :

a.       Kehidupan manusia dewasa ini dengan penuh kekacauan, baik dalm hal moral,social, maupun intelektual. Hal ini akibat tidak adanya kepastian tidak ada yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk menghadapi dunia yang justru selalu berubah. Dengan demikian, aliran ini juga mengakui adanya perubahan, tetapi menghendaki agar dalam perubahan tersebut manusia memiliki pegamgan yang kuat, sehingga tidak terombang-ambing oleh kondisi dan tuntutan lingkungan.

b.      Aliran perenialisme menempuh pendekatan regresif, yaitu mencari pegangan dari masa lalu, yaiti apa yang telah menjadi pegangan hidup bagi orang-orang terdahulu yang sampai sekarang masih juga berfungsi sebagai pegangan hidup. Yang dimaksud masa lalu ini adalah masa lalunya masyarakat Eropa, yaitu masa kebesaran para filosof  terkenal pada zaman sebelum Masehi dan masyarakat Eropa zaman pertengahan atau zaman berkembangnya agama-agama besar.

c.       Ada dua macam pegangan yang diperlukan manusia sejak dulu hingga sekarang, yaitu kepercayaan yang bersumber dari Tuhan dan kepercayaan hasil rasio.

d.      Pandangan perenialisme tentang kebenaran adalah bahwa kebenaran merupakan paduan antara kebenaran hasil fikiran kebenaran yang melekat pada objek, dan keyakinan adanya kesesuian antara hasil berpikir  dan kondisi objek.

e.       Kebenaran berpikir diperoleh dengan menggunakan hokum-hukum logika.

f.        Pandangan perenialisme tentang nilai atau norma sesuai dengan orientasinya pada abad pertengahan, yaitu :

·         Memandang norma adalah persoalan kejiwaan.

·         Dasar nilai bersifat teologis dan ukuran baik buruk dari Tuhan.

Pandangan perenialisme yang menyangkut pendidikan :

a)      Tentang kurikulum, perenialisme berpendapat :

1)      Kurikulum merupakan alat untuk mengembamhkan akal dan moral.

2)      Kurikulum harum meliputi pengalaman langsung maupun tidak langsung.

b)      Tentang belajar, pandangan perenialisme adalah :

1)      Titik tolak belajar adalah  bahwa manisia adalah makhluk rasionalis. Titik tolak kemampuan manusia adalah kemampuan berfikir.

2)      Dari berfikir berkembanglah kebebasan, ketrampilan, bahasa dan sebagainya.

3)      Belajar adalah persoalan latihan dan disiplin mental. Yang penting adalah pengembengan kemampuan dasar, sedang materi ajar hanyalah alat untuk mengembangkan kemampuan dasar. Kalau kemampuan dasarnya tersebut sudah berkembang dengan sendirinya menusia akan dapat menghadapi dan memecahkan segala masalah yang sedang dihadapi.

4)      Ada belajar yang terjadi dalam bentuk pengajaran dan ada belajar belajar yang berupapenemuan sendiri oleh peserta didik.

 

G.    Sasaran Filsafat Pendidikan

1.      Tujuan Pendidikan

Filsafat pendidikan adalah ilmu yang pada hakekatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam lapangan pendidikan. Karena bersifat filosofis, maka hakekatnya adalah penerapan suatu analisa filosofis terhadap lapangan pendidikan. Sasaran utamanya adalah tujuan pendidikan, sebagai jawiban dari pertanyaan "Untuk apa sekolah ini diadakan?; Ke arah mana pendidikan ini akan dibawa?". Untuk menentukan tujuan pendi­dikan itu, filsafat mengadakan tinjauan yang luas dan mendalam mengenai realita, dikupaslah pandangan tentang dunia dan pandangan hidup manusia. Akhimya konsep-konsep dari semua it9u dijadikan landasan penyusunan konsep tujuan pendidikan. Kemudian, dikupas pula mengenai pengalaman pendidik dalam mengembangkan dan menumbuhkan anak yang berhubungan dengan realita. Semua ini akan dipakai sebagai bahan pertim­bangan dalam mengembangkan diri. Di samping itu dikaji pula pandangan mengenai hakekat Khalik, makhluk, alam semesta, pengetahuan dan nilai-nilai. Semuanya dipadukan dalam menentukan kurikulum.

2.      Metode

Apabila tujuan telah dirumuskan sesuai dengan tujuan filsafat yang dianut, langkah selanjutnya adalah mengupas ten­tang cara-cara menerapkan aspek-aspek pendidikan yang terkan­dung dalam tujuan pendidikan. Filsafat akan mengadakan pem­bahasan tentang aku (ego) dan tujuan, lalu dibahas pula metode apa yang tepat bagi pribadi yang bersangkutan. Misalnya, berdasarkan ilmu jiwa kepribadian, aliran monisme faham Mate­rialisme menganggap bahwa manusia adalah makhluk reaksi, pola reaksinya disampaikan sebagai stimulus response. Untuk mening­katkan efektivitas tingkah laku manusia hanya dibutuhkan pengalaman atau latihan (drill). Sedangkan menurut aliran monisme faham Idealisme memandang bahwa manusia itu asas primemya adalah jiwa, karena jasmani tanpa jiwa tidak akan berdaya. Maka pendidikan harus dilaksanakan berdasarkan kodrat dan kebutuhan asas roldaani, untuk membina rasio, perasaan, kemauan dan spirit manusia.

Dari kedua faham tersebut bisa melahirkan beberapa metode yang bisa digunakan dalam proses pendidikan, misalnya metode latihan, metode penugasan, metode ceramah dan sebagainya. Jadi memilih metode pun harus mengacu kepada tujuanberdasarkan kajian filsafat.

3.      Alat Pendidikan

Yang dimaksud dengn alat pendidikan ialah segala sesuatu apa yang dipergunakan dalam usaha mencapai pendidikan. Pendidikan pun merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

Berdasarkan fungsinya, alat-alat pendidikan dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu :

a)      Alat sebagai perlengkapan.

b)      Alat sebagai pembantu dalam mempermudah usaha pencapaian tujuan.

c)      Alat sebagai tujuan.

Dalam memikirkan alat-alat yang akan dipakai dalam pendidikan, fungsi setiap alat sebaiknya diperhitungkan. Antara lain soal kematangan anak-anak untuk menerima pendidikan itu, dan soal ruangan serta waktunya. Jadi pemilihan alat harus disesuaikan dengan hal-hal tersebut.

Berdasarkan taraf-taraf perkembangan anak, alat-alat pendidikan terbagi atas :

a)      Alat-alat yang memberi perlengkapan berupa kecakapan berbuat dan pengetahuan hapalan. Alat ini dapat disebut sebagai alat pembiasaan.

b)      Alat-alat untuk memberi pengertian, membentuk sikap, minat dan cara-cara berpikir.

c)      Alat-alat yang membawa ke arah keheningan bathin, kepercayaan dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Selain pembagian tersebut, alat-alat pendidikan dapat pula dibedakan atas :

a)      Alat-alat langsung, yaitu alat-alat yang bersifat menganjurkan sej alan dengan maksud usaha.

b)      Alat-alat tidak langsung; yaitu alat-alat yang bersifat pence­gahan dan pembasmian hal-hal yang bertentangan dengan maksud usaha.

Alat-alat langsung disebut juga alat positif, misalnya segala jenis anjuran, perintah, keharusan. Sedangkan alat-alat tidak langsung disebut alat negatif, misalnya larangan-larangan, peringatan­peringatan dan sejenisnya dengan segala akibatnya,. Pembagian yang lain adalah si terdidik dan pendidik. Disamping ketiga hal tersebut, yang termasuk sasaran Filsafat Pendidikan adalah faktor-faktor pendidikan, dan usaha-usaha mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang mendukung usaha pendidikan.


BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Filsafat pendidikan menururt Al-Syaibany (19?9:30) adalah :

"Pelaksanaan pandangan falsafah dan kaidah falsafah dalam bidang pendidikan. Filsafat itu mencerminkan satu segi dari­segi pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan kepada pelaksanaan prinsip prinsip dan kepercayaan-kepercayaan yang menjadi dasar dari falsafah umum dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan secara praktis".

Secara umum tujuan pendidikan dapat dikatakan dapat membawa anak ke arah tingkat kedewasaan, artinya membawa anak didik agar dapat berdiri sendiri (mandiri) dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat.

Sistematika Filsafat Pendidikan terdiri dari : Ontologi Pendidikan, Epistimologi Pendidikan, dan Aksiologi pendidikan.

Aliran-aliran filsafat pendidikan terdiri dari Aliran Progresif, Aliran Esensialisme, dan Aliran Perenialisme.


DAFTAR PUSTAKA

Dr. A. H. Amka, M.Si. 2019. Filsafat Pendidikan. Sidoarjo: Nizamia Learning Center. (http://eprints.ulm.ac.id/6122/1/B2.%20Publikasi%20Buku%20Filsafat%20Pendidikan.pdf)

http://wawanhermawan90.blogspot.com/2012/01/makalah-filsafat-pendidikan.html

https://www.kompasiana.com/afwanulfajri/5e69d0b4d541df1d247ed912/pengertian-sistematika-filsafat-pendidikan-ontologi-pendidikan-epistemologi-pendidikan-dan-aksiologi-pendidikan?page=all

https://dosenmuslim.com/makalah/makalah-filsafat-pendidikan/
https://pgmickudus.blogspot.com/2015/01/filsafat-pendidikan.html

http://wawanhermawan90.blogspot.com/2012/01/makalah-filsafat-pendidikan.html

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengelolaan Pemberdayaan Masyarakat

  RESUME PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Disusun oleh, Putry Anjani  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS KEGURU...