Jumat, 17 Maret 2023

PENDIDIKAN KELUARGA DAN PARENTING

 

LAPORAN MATERI PERKULIAHAN

PENDIDIKAN KELUARGA DAN PARENTING

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu

Mata Kuliah : Pendidikan Keluarga dan Parenting


Disusun oleh,

Putry Anjani 

 

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

2021

 


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Laporan Materi Perkuliahan Pendidikan Keluarga dan Parenting.

            Tugas Laporan Materi Perkuliahan ini berisi pembahasan mengenai materi perkuliahan yang di dalamnya memaparkan berbagai macam pembahasan mengenai apa saja yang terdapat didalam mata kuliah Pendidikan Keluarga dan Parenting.

Kami mengucapkan terimakasih kepada ... selaku dosen mata kuliah Pendidikan Keluarga dan Parenting yang telah memberikan tugas untuk membuat laporan perkuliahan serta memberikan bimbingan dalam penyusunan.

            Disamping itu kami menyadari bahwa laporan perkuliahan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat di harapkan untuk perbaikan laporan materi perkuliahan ini kedepannya. Semoga laporan materi perkuliahan ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca.

Karawang, 27 Desember 2021

 

Penyusun



BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak yang memberikan dukungan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik anak dalam kehidupannya.

Dilihat dari segi pendidikan, keluarga merupakan satu kesatuan hidup (sistem nasional), dan keluarga menyediakan situasi belajar. Sebagai satu kesatuan hidup bersama (sistem sosial), keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ikatan kekeluargaan membantu anak mengembangkan sifat persahabatan, cinta kasih, hubungan antar pribadi, kerja sama, disiplin, tingkah laku yang baik, serta pengakuan akan kepribadian.

 

B.     Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan laporan materi perkuliahan pendidikan keluarga dan parenting ini adalah sebagai berikut:

1.      Memenuhi tugas perkuliahan pendidikan keluarga dan parenting

2.      Mengetahui pengertian keluarga dari pandangan para ahli

3.      Mengetahui bentuk-bentuk keluarga berdasarkan pandangan para ahli

4.      Mengetahui hubungan keluarga

5.      Mengetahui fungsi dari keluarga

6.      Mengetahui peran dalam keluarga

7.      Mengetahui pengertian pendidikan keluarga

8.      Mengetahui pendidikan di keluarga

9.      Mengetahui pendidikan berkeluarga

10.  Mengetahui pembangunan keluarga yang SAMAWA

11.  Mengetahui kehidupan keluarga

12.  Mengetahui dan menuliskan contoh praktik baik sebuah keluarga

 

C.    Ruang Lingkup

Penulisan laporan ini mempunyai ruang lingkup sebagai berikut:

1.      Hubungan manusia dengan Tuhan nya

2.      Hubungan manusia dengan manusia

3.      Hubungan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya

 


BAB II

KONSEP KELUARGA

A.    Pengertian Keluarga

1.      Departeman Kesehatan RI (1988)

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan yinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

2.      BKKBN (1999)

Keluarga adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungan.

3.      UU No.10 tahun 1992

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.

4.      Raisner (1980)

Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang masing-masing  mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak , ibu , adik dan kakak , nenek.

5.      Spradley dan Allender ( 1996)

Keluarga adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari individu-individu yang bergabung dan berinteraksi secara teratur  antara satu dengan yang lain yang di wujudkan dengan adanya saling ketergantungan dan berhubungan untuk mencapai tujuan bersama.

 

ULASAN :

Pengertian keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang tinggal dan berkumpul di satu atap, yang saling berinteraksi dan saling ketergantungan antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lainnya.

 

B.     Bentuk-bentuk Keluarga Berdasarkan Pandangan Para Ahli

1.      Keluarga Inti

Keluarga inti (nuclear family), yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari keturunan atau adopsi maupun keduanya.

2.      Keluarga Asal

Keluarga asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang dilahirkan.

3.      Keluarga Besar

Keluarga besar (ekstended family), yaitu keluarga inti ditambah dengan sanak saudaranya, misalnya kakek, nenek, keponakan, paman, bibi, saudara sepupu, dan lain sebagainya

4.      Keluarga Berantai

Keluarga Berantai, yaitu keluarga yang terbentuk karena perceraian dan/atau kematian pasangan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan suatu keluarga inti.

5.      Keluarga Duda atau Janda

Keluarga duda atau janda ( single family ), keluarga yang terjadi karena perceraian dan/atau kematian pasangan yang dicintai.

6.      Keluarga Komposit

Keluarga berkomposisi (composite) yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan hidup secara bersama-sama.

7.      Keluarga Kohabitasi

Keluarga kohabitasi ( Cohabitation ), dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan, bisa memiliki anak atau tidak. Di Indonesia bentuk keluarga ini tidak lazim dan bertentangan budaya timur. Namun, lambat laun, keluarga kohabitasi ini mulai dapat diterima.

8.      Keluarga Inses

Keluarga inses (incest family), seiring dengan masuknya nilai-nilai global dan pengaruh informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim, misalnya anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ibu menikah dengan anak kandung laki-laki, paman menikah dengan keponakannya, kakak menikah dengan adik dari satu ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak perempuan tirinya. Walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah keluarga inses semakin hari semakin besar. Hal ini dapat kita cermati melalui pemberitaan dari berbagai media cetak dan elektronik.

9.      Keluarga Tradisional dan Non Tradisional

Keluarga tradisional dan nontradisional, dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan. Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga nontradisional tidak diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga tradisional adalah ayah-ibu dan anak hasil dari perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga nontradisional adalah sekelompok orang tinggal di sebuah asrama

 

ULASAN :

Keluarga Duda/Janda (Single Family)

Keluarga duda/janda (single family) adalah orang tua yang memelihara dan membesarkan anak-anaknya tanpa adanya kehadiran dari pasangannya, mereka melakukan 2 tugas sekaligus yaitu sebagai ayah dan ibu dari anak-anaknya seorang diri, karena kehilangan/terpisah dengan pasangannya.

Single family sendiri dapat terjadi disebabkan oleh 2 hal, baik itu yang disengaja (diinginkan) seperti perceraian maupun yang tidak disengaja (tragedi) seperti kematian pasangannya.

Didalam sebuah keluarga terdapat sosok ayah, ibu dan anak sebagai satu kesatuan utuh yang saling melengkapi satu sama lainnya. Berbeda dengan single family terlihat jelas adanya ketidaklengkapan dalam jumlah anggota keluarga nya, seperti tidak adanya ayah sebagai kepala keluarga atau tidak ada sosok ibu yang kehadirannya selalu dirindukan dirumah. Akibat dari ketidaklengkapan tersebut maka pada akhirnya akan mengubah tatanan fungsi didalam keluarga tersebut.

Secara otomatis keluarga dalam single family memiliki 2 peranan ganda sekaligus yaitu menjadi sosok ayah dan ibu untuk anak-anaknya. Mereka memberi nafkah bagi anak yang ditanggungnya, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk mengasuh anaknya. Mereka harus bisa melakukan keduanya dalam keadaan seimbang antara mencari nafkah dan menjadi pengasuh bagi anak-anaknya. Apabila salah satu dari itu tidak seimbang maka akan berdampak buruk bagi anaknya. Misalnya seorang ayah/ibu (janda/duda) yang terlalu sibuk untuk bekerja, tidak ada waktu luang dan mengabaikan anak-anak nya dapat menyebabkan dampak buruk bagi anak yang di asuh nya.

Keluarga Inti

Keluarga inti adalah unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan inti dari sebuah keluarga yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu, terdiri dari ayah, ibu dan anak.

 

C.    Hubungan Keluarga

1.      Hubungan Suami dan Istri

Dalam kehidupan keluarga, pola hubungan antara suami-istri sangat vital, karena kedua tokoh itu menduduki posisi kunci kehidupan keluarga tersebut. Hubungan suami-istri tumbuh dan berkembang sejak perkenalan hingga dikukuhkan melalui pernikahan yang diserahkan kepada terciptanya suatu kehidupan keluarga yang tenang tenteram penuh kedamaian, diliputi rahmat dan kasih sayang. Pola, corak dan kualitas pun berkembang seiring perkembangan kehidupan keluarga itu sendiri

2.      Hubungan Orang Tua Dengan Anak

Komunikasi antara orangtua dengan anak sewaktu-waktu dapat beralih menjadi komunikasi edukatif. Dalam peralihan ini orangtua sebagai pendidik yang aktif. Pelaksnaan komunikasi edukatif yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara dengan mottonya: hing ngarso sung tulada, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Komunikasi edukatif itu menyiratkan adanya empati dan identifikasi antara orang tua sebagai pendidik dengan anak sebagai terdidik, secara timbal balik, di mana pendidik menginginkan yang terbaik bagi anak didiknya dalam suasana kasih sayang. Akan tetapi pendidik tidak berpresentasi bahwa ia dapat mengubah dan membentuk anak didik sekehendak hatinya. 

3.      Hubungan Anak Dengan Anak

Komunikasi antar anak dengan anak berlangsung seirama dengan tahapan perkembangan pribadinya. Melalui permainan yang merupakan dunia anak, mereka menemukan adanya aturan dan keteraturan dalam bermain bersama dan kehidupan bersama, yang mempradugakanya adanya komunikasi dan saling mempercayai di antara mereka dengan mengakui dan menghormati peran mereka masing-masing dalam permainan bersama dan kehidupan bersama itu.

4.      Hubungan Anak Dengan Lingkungan

Anak-anak menangkap dan menemui serta berkomunikasi dengan lingkungan dan dunianya selaras dengan perikeadaannya sebagai anak yang sedang berkembang, sehingga persepsinya terhadap lingkungan dan dunianya itu berbeda dengan persepsi orang dewasa.  

5.      Hubungan Anak Dengan Tetangga

a)      Pola hubungan yang tertutup.

Suatu keluarga “menutup diri” terhadap tetangganya, sepertinya tidak mau tahu tentang tetangganya dan tidak mengadakan hubungan dengan mereka, sehingga mereka nampak mengisolasi diri terhadap tetangganya dan orang lain yang tidak berurusan dengannya.   Atau mungkin mereka tidak bermaksud demikian, hanya sekedar ingin membatasi diri dalam hubungannya dengan tetangganya.

b)      Pola hubungan yang terbuka

Pola  yang terbuka ditemukan manakala antar keluarga terdapat hubungan yang akrab sehingga di antara mereka bukan sekedar  saling mengenal, melainkan bahkan saling memperhatikan. Kehidupan suatu keluarga sepertinya “transparan” atau tembus pandang bagi tetangganya dan mereka saling perduli satu sama lain. Pola terbuka manakala antara para keluarga tidak dirasakan ada suatu banteng pemisah , entah dalam bentuk perbedaan stratifikasi  atau perbedaan kemampuan ekonomis, disebut Tonnies dengan istilah Gemeninschaft.  

6.      Hubungan Anak Dengan Tuhan

Kesadaran manusia akan aturan dan keteraturan yang ditemukannya di dunia yang tidak dapat ditembusnya begitu sja, menyadarinya pula akan kemampuan dan ketidakmampuannya dan akan kedudukannya di dunia ini. Banyak perstiwa dalam kehidupan keluarga khususnya, yang di luar perhitungan dan kemauan dan bahkan tidak terpikirkannya. Hal ini menyadarkan mereka akan adanya suatu kekuatan dan kekuasaan di luar dirinya yang akhirnya menuntunnya ke arah kehidupan religius.

 

ULASAN :

Hubungan anak dengan lingkungan

Lingkungan merupakann salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak. Lingkungan mempengaruhi perkembangan karakter pada anak. Bila anak tumbuh dan berkembang di lingkungan yang baik, santun, dan taat beragama maka anak pun akan tercetak menjadi pribadi yang baik. Tetapi sebaliknya, pengaruh buruk dari lingkungan juga merupakan kebiasaan yang mudah menular, oleh karena itu orang tua harus benar-benar memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap anak.

Keluarga merupakan lingkungan pertama anak pada masa tumbuh kembangnya. Orang tua menjadi role model pertama yang akan ditiru oleh anak-anaknya, oleh karena itu penting untuk orang tua menjaga sikapnya didepan anak-anaknya. Sikap yang baik dari orang tua akan turut serta menanamkan kebiasaan baik pada anak-anaknya. Kebiasaan baik ini lah yang akan ditanamkan kepada anak-anaknya.

Saat menginjak usia sekolah, orang tua harus bisa menyadari betapa pentingnya pengarush lingkungan sekolah terhadap anaknya. Walaupun berada diluar lingkungan keluarga, orang tua harus selalu memperhatikan anak-anaknya seperti bagaimana sikap dia di sekolah, dengan siapa dia berteman dan yang lainnya.

 

D.    Fungsi Keluarga

1.      Fungsi Keagamaan

Agama adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Keluarga adalah tempat pertama penanaman nilai-nilai keagamaan dan pemberi identitas agama pada setiap anak yang lahir. Keluarga menumbuh kembangkan nilai-nilai agama sehingga anak menjadi manusia yang berakhlak baik dan bertakwa.

Keluarga mengajarkan seluruh anggotanya untuk melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melaksanakan fungsi agama tidak boleh mengabaikan toleransi beragama karena keluarga Indonesia menganut kepercayaan dan agama yang beragam

2.      Fungsi Sosial Budaya

Keluarga adalah wahana utama dalam pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur budaya yang selama ini menjadi anutan dalam tata kehidupan.

Fungsi sosial budaya memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan.

Dengan demikian, nilai luhur yang selama ini sudah menjadi anutan dalam kehidupan bangsa tetap dapat dipertahankan dan dipelihara. Keluarga menjadi wahana pertama anak dalam belajar berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, serta belajar adat istiadat yang berlaku di sekitarnya.

3.      Fungsi Cinta Kasih

Cinta dan kasih sayang merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter anak. Fungsi cinta kasih memiliki makna keluarga harus menjadi tempat untuk menciptakan suasana cinta dan kasih sayang dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Fungsi cinta kasih dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan kasih sayang dan rasa aman serta memberikan perhatian di antara anggota keluarga.

Fungsi cinta kasih dalam keluarga menjadi landasan yang kukuh terhadap hubungan anak dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan anaknya, serta hubungan kekerabatan antargenerasi sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.

4.      Fungsi Perlindungan

Keluarga adalah tempat bernaung atau berlindung bagi seluruh anggota dan tempat untuk menumbuhkan rasa aman serta kehangatan. Adanya suasana saling melindungi, keluarga harus menjadi tempat yang aman, nyaman. dan menenteramkan semua anggotanya.

Jika keluarga berfungsi dengan baik, keluarga akan mampu memberikan fungsi perlindungan bagi anggotanya serta dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Keluarga melindungi setiap anggotanya dari tindakan-tindakan yang kurang baik sehingga anggota keluarga merasa nyaman dan terlindung dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

5.      Fungsi Reproduksi

Keluarga menjadi pengatur reproduksi keturunan secara sehat dan berencana sehingga anak-anak yang dilahirkan menjadi generasi penerus yang berkualitas.

Keluarga menjadi tempat mengembangkan fungsi reproduksi secara menyeluruh, termasuk seksualitas yang sehat dan berkualitas, dan pendidikan seksualitas bagi anak.

Keluarga juga menjadi tempat memberikan informasi kepada anggotanya tentang hal-hal yang berkitan dengan seksualitas. Melanjutkan keturunan yang direncanakan dapat menunjang terciptanya kesejahteraan keluarga.

6.      Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan

Keluarga sebagai tempat utama dan pertama memberikan pendidikan kepada semua anak untuk bekal masa depan. Pendidikan yang diberikan oleh keluarga meliputi pendidikan untuk mencerdaskan dan membentuk karakter anak.

Fungsi sosialisasi dan pendidikan memiliki makna bahwa keluarga sebagai tempat untuk mengembangkan proses interaksi dan tempat untuk belajar bersosialisasi serta berkomunikasi secara baik dan sehat. Dengan interaksi intensif dalam keluarga, proses pendidikan berjalan dengan efektif.

Keluarga menyosialisasikan kepada anak tentang nilai, norma, dan cara untuk berkomunikasi dengan orang lain, mengajarkan tentang hal-hal yang baik dan buruk maupun yang salah dan yang benar.

7.      Fungsi Ekonomi

Keluarga adalah sebagai tempat utama dalam membina dan menanamkan nilai-nilai yang berhubungan dengan keuangan dan pengaturan penggunaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mewujudkan keluarga sejahtera.

Keluarga sebagai tempat untuk memperoleh makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan materi lainnya serta memberikan dukungan finansial kepada anggotanya.

8.      Fungsi Pembinaan Lingkungan

Keluarga memiliki peran mengelola kehidupan dengan tetap memelihara lingkungan di sekitarnya, baik lingkungan fisik maupun sosial, dan lingkungan mikro, meso, dan makro.

Keluarga berperan untuk membina lingkungan masyarakat dan lingkungan alam sekitar. Keluarga dan anggotanya harus mengenal tetangga dan masyarakat di sekitar serta peduli terhadap kelestarian lingkungan alam.

Sikap peduli keluarga terhadap lingkungan untuk memberikan yang terbaik bagi generasi yang akan datang.

 

ULASAN :

Fungsi Keagamaan

Keluarga merupakan tempat pertama dimana agama diajarkan. Penanaman nilai-nilai agama sangat erat kaiannya dengan penanaman akhlak kepada anak, oleh karena itu keluarga wajib memperkenalkan dan mengajarkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Hal ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada anak untuk kehidupan di masyarakat ataupun di akhirat nanti. Dari semua agama yang ada, semuanya mengajarkan tentang hal-hal yang baik, menuntun umatnya untuk senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan-nya serta selalu berbuat baik dan benar.

      Peran orang tua sangat berpengaruh bagi tingkat keimanan anaknya, melalui bimbingannya untuk lebih mengenal lagi siapa Tuhan-nya, bagaimana sifat Tuhan-nya, dan bagaimana kewajiban kita terhadap Tuhan.

      Penananman nilai-nilai keagamaan kepada anak juga harus memperhatikan tingkatan usia, fisik maupun psikis anak supaya mereka lebih mudah mencerna apa yang di ajarkan oleh orang tuanya.

      Nilai agama sebagai penyaring suatu kebiasaan/ adat / kebudayaan. Oleh karena itu, keluarga harus senantiasa mengajarkan dan mengamalkan isi dari nilai-nilai keagamaan yang di anutnya, karena anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Maka dari itu sebagai orang tua harus selalu mengingatkan supaya anak selalu ingat terhadap Tuhan-nya dan menjadikan Agama sebagai patokan untuk berbuat sesuatu.

 

Hasil Diskusi

Kelompok 1 (Penyaji)

1)      Shifa

Bagaimana menciptakan pola pendidikan yang baik yang seharusnya orang tua berikan kepada anaknya?

Jawab :

Beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua untuk dapat memberikan pola pengasuhan yang baik pada anak adalah:

a)      Memberikan pujian atas usaha yang sudah dilakukan.

b)      Hindari anak dari trauma fisik dan psikis.

c)      Dukung perkembangan anak dengan memberikan kasih sayang dan kehangatan.

d)      Tidak membandingkan anak dengan anak lain.

e)      Tidak otoriter.

f)       Berikan tanggung jawab.

g)      Penuhi kebutuhan gizi.

h)      Menciptakan lingkungan yang positif.

i)       Aktif berkomunikasi.

2)      Harum

Bagaimana cara menumbuhkan fungsi sosialisasi didalam hubungan keluarga?

Jawab:

Fungsi sosialisasi di dalam lingkungan keluarga, anak mulai dilatih dan diperkenalkan cara-cara hidup bersama dengan orang lain. Anak diajak memahami lingkungan yang lebih luas sehingga pada saatnya nanti seorang anak benar-benar siap untuk hidup dalam masyarakat. Anak diperkenalkan oleh orang tuanya mengenai norma seperti norma agama, norma kesopanan, norma hukum dan norma kesusilaan. Fungsi sosialisasi lainnya diajarkan menjalankan kehidupan yang sesuai dengan nilai dan norma masyarakat.

3)      Febriya

Apa kedudukan dan fungsi agama dalam sistem budaya dan peradaban modern?

Jawaban :

Agama berfungsi sebagai wadah untuk mengakomodasi dan memodifikasi kebudayaan supaya sesuai dengan prinsip dan ajaran agama. Apabila sebuah kebudayaan tidak sesuai dengan ajaran agama, maka kebudayaan tersebut sebaiknya tidak langsung dieliminasi begitu saja melainkan diubah bagian-bagian yang tidak sesuai dan kemudian diselaraskan dengan ajaran agama.

4)      Indah

Bagaimana jika fungsi keluarga salah satunya tidak berjalan dengan baik?

Jawaban:

Jika sebuah keluarga tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya, tidak hanya anggota keluarga yang bersangkutan yang menjadi tidak bahagia, namun berimbas pula pada karakter generasi muda secara keseluruhan.

5)      Fivo

Seberapa penting pendidikan seksual bagi seorang anak?

Jawaban :

Mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak dini bisa menjadi imun yang akan membantu anak untuk membentengi diri dari risiko kekerasan maupun pelecehan seksual di kemudian hari.Apalagi dengan semakin transparannya.

Sejak kecil anak-anak harus diberikan edukasi seksualitas, kenapa tidak boleh atau dilarang melakukan ini dan itu, apa yang harus dilakukan dan dijaga, supaya mereka punya integritas diri, tahu ada bagian penting dari tubuhnya yang tidak boleh dipegang orang lain atau diekspos.

Agar anak tumbuh menjadi generasi muda yang berkualitas, ada baiknya orang tua memberikan informasi seputar seks sejak dini.

6)      Shifa

Mengapa keluarga berperan penting dalam memperluas dampak buruk sosial?

Jawaban :

Keluarga adalah wadah pertama dimana anak pertama kali menempuh pendidikan. Sehingga dari situlah baik buruknya anak terbentuk, jika sebagai orang tua, mereka memberikan pengaruh buruk bagi anak maka pengaruh yang diberikan kepada anak tersebut akan berkembang ditengah masyarakat. Itulah kenapa keluarga memegang peran dalam memperluas dampak buruk sosial.

7)      Naila Rizki

Bagaimana jika kesehatan mental seorang anak dipengaruhi oleh keluarganya?

Jawaban :

Keluarga yang lengkap dan fungsional akan dapat meningkatkan kesehatan mental para anggota keluarganya. Keluarga lebih dekat hubungannya dengan anak dibandingkan dengan masyarakat luas. Keluarga merupakan lingkungan yang sangat penting dari keseluruhan sistem lingkungan, karena berpengaruh langsung terhadap individu dan merupakan mikrosistem yang menentukan kepribadian dan kesehatan mental anak.

 

Kelompok 3

1)      Pertanyaan : Seberapa penting pendidikan seksual bagi seorang anak? (Fivo Atanta)

Penyelaras : Nabila Dwi Puspita

Jawab

Pendidikan seksual harus diajarkan anak dari usia dini dan mana yang boleh boleh dipegang mana yang nggak boleh dipegang biar tidak kejahatan seksual.

2)      Pertanyaan : Bagaimana cara menumbuhkan fungsi sosialisasi didalam hubungan keluarga (Harum Sumitra)

Penyelaras : Rahma Nurdita

Jawaban :

Berkomunikasi dengan baik sesama anggota keluarga, berkomunikasi yang baik antar orang tua pun sangat penting, karna dengan adanya komunikasi yang baik dengan orangtua, anak mempunyai rasa percaya diri, selain itu orang tua mendidik anaknya dengan pendidikan dan akhlak, sehingga saat anak mulai bisa bersosialisasi dengan lingkungan luar, anak bisa bersikap dengan baik dilingkungan keluarga dan lingkungan luar. Orangtua pun menanamkan rasa kasih sayang, dorongan agar anaknya percaya diri, dan memberikan rasa aman dan nyaman didalam hubungan antar keluarga.

3)      Pertanyaan : Bagaimana menciptakan pola pendidikan yang baik yang seharusnya orangtua berikan kepada anaknya ( Nur Shifa)

Penyelaras : Mutiara Carissima

Jawaban :

Bertukar cerita dengan anak atau mendengarkan cerita keseharian anak selama disekolah, lalu orangtua juga bisa memberikan apresiasi kepada anak atas keberhasilan dia selama di sekolah dan juga orangtua bisa memahami bagaimana emosi anak anak dengan cara memberikan waktu kepada anak untuk sendiri agar emosi nya bisa terkontrol dengan baik lalu setelah itu orangtua bisa bertanya kepada anak nantinya.

 

Kelompok 5

1)      Pertanyaan : Mengapa keluarga berperan penting dalam memperluas dampak buruk sosial ? (Nur Shifa Fauzia)

Penyelaras : Jihan Fahira

Jawaban :

Keluarga adalah wadah pertama dimana anak pertama kali menempuh pendidikan. Sehingga dari situlah baik buruknya anak terbentuk, jika sebagai orang tua, mereka memberikan pengaruh buruk bagi anak maka pengaruh yang diberikan kepada anak tersebut akan berkembang ditengah masyarakat. Itulah kenapa keluarga memegang peran dalam memperluas dampak buruk sosial.

2)      Pertanyaan : Bagaimana menciptakan pola pendidikan baik yang seharusnya orang tua berikan kepan anak? (Nur Shifa Fauzia)

Penyelaras : Putri Zahara

Jawaban :

Pola asuh yang baik kita sebagai orang tua harus ikut serta dalam kegiatan anak harus bisa membagi waktu anak membiarkan anak bermain tetapi mengingatkan anak untuk belajara juga, jadi kita boleh membebaskan anak tetapi juga harus tau batasan nya agar anak tersebut tidak merasa tertekan jika terus dituntut.

3)      Pertanyaan : Apa kedudukan dan fungsi agama dalam sistem budaya dan peradaban modern? (Febriya Nurhidayah)

Penyelaras : Laila Ainu

Jawaban :

Agama yang berfungsi untuk memodifikasi kebudayaan contohnya adalah ketika jaman dulu sering menyiapkan sesajen untuk arwah2 leluhur kan tidak sesuai dengan ajaran agama. nah pada peradaban modern dimodifikasi agar sesuai dengan ajaran agama, yaitu jadi mendoakan yang sudah tiada.

4)      Pertanyaan : Bagaimana cara menumbuhkan fungsi sosialisasi dalam keluarga? ( Harum Sumitra )

Penyelaras : Siti Humairoh

Jawaban

Untuk menumbuhkan fungsi sosialisasi dalam keluarga kita sebagai orang tua harus banyak melakukan interaksi bersama anak anak kita interaksi nya dengan cara berkomunikasi, menjalin komunikasi yang baik menyampaikan norma norma yang baik sehingga secara perlahan fungsi sosialisasi akan bertumbuh dalam keluarga.

 

E.     Peran Keluarga

1.      Peran Istri

Ditinjau dari kehidupan keluarga secara keseluruhan, ibu berperan sebagai “ratu rumah tangga” yang mengemudikan bahtera rumah tangga. Oleh karena itu memegang peranan yang sangat vital bagi terciptanya iklim keluarga yang baik, kondisi dan situasi pendidikan keluarga yang harmonis. Pelaksanaan peranannya sebagai ratu rumah tangga mencakup: tatalaksana kerumahtanggaan, makanan, dan busana. Ketiga jenis tatalaksana tersebut saat ini telah menjadi bidang studi yang cukup luas dan kompleks

Dalam masyarakat modern, seorang istri juga dituntut untuk menunaikan tugasnya di luar keluarga, realisasi peranan ratu rumah tangga mengalami perubahan yang cukup mendalam. Sebab betapapun sang istri itu sudah bekerja di luar rumah, namun “kehadirannya” di dalam keluarga tetap diperlukan.  Saat ini peran istri menjadi berubah “multi peran”, namun dalam melaksanakan tugasnya tetap dituntut berperan sebagai wanita. Berperan sebagai wanita di keluarga, maka dalam kehidupan berkeluarga memegang peranan mengandung dan melahirkan anak. Dalam hubungannya dengan anak, wanita berperan sebagai seorang ibu yang menjadi pendidik pertama dan utama. Ibu bagi anak merupakan lambang kasih yang abadi  dan tidak tergantikan.

2.      Peran Suami

Dalam kehidupan sehari-hari ayah berperan sebagai kepala keluarga.Ia memimpin kehidupan keluarga pada umumnya dan bertanggungjawab terhadap seluruh kehidupan keluarga. Sedangkan sang istri mengemban tugas mengelola rumah tangga.

Sang suami ibarat nakhoda dan istri ibarat jurumudi bahtera rumah tangga. Anatar keduanya ada pembagian kerja secara seimbang dan saling mengisi atau saling melengkapi. Di bidang ekonomi keluarga suami lebih berperan dalam pengadaan dan pengayaan dana keluarga atau pencari nafkah, sedang bu berperan sebagai pengatur dana sehingga dapat dinikmati manfaatnya oleh seluruh keluarga. Suami bertanggung jawab  atas kelancaran kehidupan keluarga dan kesejahteraan serta keselamatan seluruh keluarga. Peran suami berperan sebagai pelindung keluarga lahir bathin dan terpenuhinya kebutuhan dasar. Maslow memperkenalkan lima jenis kebutuhan dasar (basic need) manusia, yaitu: (1)  kebutuhan dasar biologis,  (2)  kebutuhan dasar rasa aman; (3) kebutuhan dasar cinta kasih; (4) kebutuhan dasar pengakuan status; (5) kebutuhan dasar harga diri atau realisasi diri.

3.      Peran Anak

Anak merupakan  tokoh penting dalam keluarga. Dalam sudut “segi tiga nan abadi suatu keluarga atau  “The Eternal Triangle” anak menduduki peranan penting. Orangtua rela melakukan atau memiliki sesuatu adalah untuk anak. Anak tampil peranannya sebagai amanat Tuhan, oleh karena itu orangtua menerima dan menjunjung tinggi peranan anaknya seperti itu. Namun sebaliknya anak juga merupakan suatu fitnah atau ujian bagi orangtua dalam melaksanakan peranan keorangtuaannya. Dalam peralihan selanjutnya anak berperan sebagai anak didik

4.      Peran Anggota Keluarga

Dalam keluarga sering pula terdapat orang lain dengan peranannya masing-masing,  seperti : pembantu, paman,  bibi dan sebagainya.  Sehingga keluarga tersebut menjai keluarga besar (extended). Kehadiran serta peranan mereka dalam keluarga itu mewarnai situasi dan iklim keluarga yang bersangktan serta mempengaruhi pula pengambilan peranan. Hal ini memperkaya lalu lintas hubungan serta memperkaya jenis corak peranan yang harus dimainkan oleh anggota keluarga  dalam pelaksanaan pendidikan keluarga.

 

ULASAN :

Peran anak

Setiap anggota keluarga memiliki peranannya masing-masing, baik ayah, ibu, atau anak. Seiring bertambahnya usia juga memungkinkan peranan anak akan mengalami perubahan. Peran anak dalam keluarga juga mencakup beberapa hal, mulai dari menghormati kedua orang tua, belajar yang giat, bersikap sopan, bertanggung jawab, dan lain sebagainya.

 

 


BAB III

PENDIDIKAN KELUARGA

A.    Pengertian Pendidikan Keluarga

Pendidikan Keluarga adalah upaya pendidikan yang dilaksanakan oleh keluarga dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Parenting atau pengasuhan sebagai proses interaksi berkelanjutan antara orang tua dan anak-anak mereka. Proses parenting adalah sebagai berikut :

1)      Interaksi terus menerus antara anak, orang tua dan masyarakat

2)      Anak yang memiliki kebutuhan di saat yang sama memenuhi kebutuhan penting orang tua

3)      Orang tua bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya serta memenuhi kebutuhannya.

4)      Masyarakat bertindak sebagai dukungan atau tekanan yang kuat bagi anak dan orang tua

Abdullah (2003:232), pendidikan keluarga adalah segala usaha yang dilakukan oleh orang tua berupa pembiasaan dan improvisasi untuk membantu perkembangan pribadi anak.

(Mansur (2005:319) mendefinisikan pendidikan keluarga sebagai proses pemberian positif bagi tumbuh kembangnya anak sebagai fondasi pendidikan selanjutnya.

Ki-Hajar Dewantara (1961) salah seorang tokoh pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa alam keluarga bagi setiap orang (anak) adalah alam pendidikan permulaan. Di situ untuk pertama kalinya orang tua (ayah maupun ibu) berkedudukan sebagai penuntun (guru), sebagai pengajar, sebagai pendidik, pembimbing dan sebagai pendidik yang utama diperoleh anak. Maka tidak berlebihan kiranya manakala merujuk pada pendapat para ahli di atas konsep pendidikan keluarga tidak hanya sekedar tindakan (proses), tetapi ia hadir dalam praktek dan implementasinya, terus dilaksanakan oleh para orang tua (ayah-ibu) akan nilai-nilai pendidikan dalam keluarga. Meskipun terkadang secara teoritis harus diakui belum sepenuhnya dipahami, bahkan dalam kebanyakan orang tua belum banyak tahu bagaimana sebenarnya konsep pendidikan keluarga itu. Namun, tanpa disadari para orang tua (ayah-ibu) dalam praktek-prakteknya keseharian, para orang tua telah menjalankan fungsi-fungsi keluarga dalam pendidikan anak-anak, karena fungsi keluarga pada hakekatnya adalah sebagai pendidikan budi pekerti, sosial, kewarganegaraan, pembentukan kebiasaan dan pendidikan intelektual anak

Pendidikan Keluarga mengandung dua makna yang saling bertautan :

1)      Pendidikan Keluarga mengandung makna pendidikan di dalam keluarga; yaitu pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga atau anak-anak yang menjadi tanggungan keluarga itu.

2)      Pendidikan Keluarga mengandung makna pendidikan tentang berkeluarga; yaitu pendidikan tentang cara menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

ULASAN :

Pendidikan keluarga adalah usaha yang dilakukan orang tua atau orang yang lebih tua didalam keluarga kepada anak yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan kecerdasan intelektual anak. Karena, keluarga merupakan lingkungan pertama yang menanamkan norma, mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan anak kedepannya.

 

B.     Pendidikan di Keluarga

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Dalam Pasal 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kedudukannya ditegaskan sebagai lembaga pendidikan informal. Pada pasal tersebut dinyatakan Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang dilakukan orang tua sebagai pendidik utama dalam bentuk bantuan, bimbingan, penyuluhan dan pengajaran kepada dirinya sendiri, anggota keluarga lain dan kepada anak-anaknya, sesuai dengan potensi mereka masing-masing, dengan jalan memberikan pengaruh melalui pergaulan antara mereka.

Sehingga anggota keluarga dan anaknya kelak dapat hidup mandiri dan bertanggungjawab dalam lingkungan keluarga dan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai budaya yang berlaku dan agama yang dianutnya.

Parenting berasal dari kata “Parent” dan “Penting”. Parent, berkait dengan bagaimana menjadi orang tua. Penting, meningkatkan kualitas interaksi anak dengan orang tua. Mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Menghindarkan anak dari potensi perilaku menyimpang.

Jadi “Parenting” adalah cara orang tua bertindak sebagai orang tua terhadap anak-anaknya, dimana mereka melakukan serangkaian usaha aktif, karena keluarga merupakan lingkungan kehidupan yang dikenal anak untuk pertama kalinya dan untuk seterusnya anak belajar di dalam kehidupan keluarga

Pendidikan Keluarga mengandung dua makna yang saling bertautan :

Pertama : Pendidikan Keluarga mengandung makna pendidikan di dalam keluarga; yaitu pendidikan yang berlangsung di dalam keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga atau anak-anak yang menjadi tanggungan keluarga itu.

Kedua : Pendidikan Keluarga mengandung makna pendidikan tentang berkeluarga; yaitu pendidikan tentang cara menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.

Pendidikan informal, yaitu pendidikan keluarga secara potensial berakar dari pergaulan biasa, khususnya antara orang tua dan anak didik. Jadi, setiap pergaulan tersebut adalah suatu lapangan pesiapan untuk berubah menjadi situasi pendidikan kegiatan mendidik dilandasi oleh nilai moral tertentu. Dalam proses pendidikan setiap orang tua wajib mengembangkan potensi anak didiknya, dan banyak tergantung dari suasana pendidikan bagaimana tugas tersebut diwujudkan.

 

ULASAN :

Pendidikan yang pertama diawali dari keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama bagi  pembentukan dan pendidikan anak. Rumah adalah sekolah pertama  yang dikenal oleh anak, dimana peran orang tua dan keluarga lainnya disini sangatlah penting.  Melalui orangtua dan keluarga yang lainnya anak akan belajar mengenai nilai-nilai dan norma sebelum  anak memasuki jenjang sekolah. Keluarga di rumah harus memiliki bekal mengenai  berbagai macam informasi tentang pendidikan anak. 

Keluarga harus  memberikan teladan yang baik bagi anak, karena anak usia dini  adalah peniru yang baik. Mereka akan meniru apa yang dilakukan orang tua atau orang terdekat disekitarnya. Apa yang dilihat dan didengar anak akan ditiru oleh anak.  Jadi sebagai orang tua atau anggota keluarga yang lainnya harus lebih berhati-hati dalam perilaku maupun perkataan.

 

C.    Pendidikan Berkeluarga

Dalam perspektif pendidikan, posisi keluarga menempati peran yang cukup urgent dalam membentuk nilai karakter (akhlak) dalam bermasyarakat, selain sekolah/madrasah dan lingkungan. Membangun keluarga dengan ciri berpendidikan mungkin bukan perkara mudah, perlu usaha dan komitmen tinggi dari semua komponen kunci dalam keluarga, suami/istri harus menunjukkan peranannya secara proporsional dan profesional. Ketika peran-peran tersebut bisa terejawantah dengan baik, niscaya ketenangan hidup (sakinah) dapat terwujud.

Pendidikan Berkeluarga yaitu pendidikan tentang cara menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah.

Untuk sampai pada target keluarga Samawa dibutuhkan sebuah kurikulum yang mampu mengarahkan (guide) dalam aktifitas kehidupan. Secara umum, kurikulum adalah seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar, serta mengetahui hasil pembelajaran melalui evaluasi.

Minimal ada empat komponen yg dibutuhkan dalam kirikulum, yaitu tujuan/target pencapaian, materi atau bahan ajar, proses atau kegiatan pembelajaran, serta evaluasi proses dan hasil pembelajaran. Konsep Samawa tentu butuh komponen kurikulum. Dalam perspektif kurikulum pendidikan keluarga ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

Pertama, memperjelas tujuan/target kehidupan keluarga, antara lain, keselamatan dunia akhirat (rabbana aatina fil dunna khasanah wafil aalhiroti khasanah waqinaa ‘adza bannar), menjadi hamba yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan seterusnya.

Kedua, buat materi/bahan ajar kehidupan keluarga yang dapat membangun kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup, antara duniawi dan ukhrowi. Layaknya sebuah lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), keluarga juga memerlukan materi ajar dalam proses pembelajaran. Bukan hanya sekedar pencapaian pengetahuan (knowledge) melalui tawaran kumpulan materi ajar, tetapi penanaman nilai positif, tradisi/habituasi positif yg memang harus dibangun dalam sebuah keluarga.

Ketiga, menguatkan proses pembelajaran yang mengarah pada penguatan sikap spiritual (hablum minallah) dan sosial (hablum minannas). Sebuah target capaian kurikulum nasional yang tidak mungkin hanya mengandalkan pendidikan formal sekolah/madrasah, tetapi perlu didukung semua pihak.

Penguatan sikap tentu harus dibangun atas kesadaran bersama antara para pihak, terutama orang tua (keluarga). Komitmen penanaman nilai-nilai karakter (akhlak, moral, dan seterusnya). Sekali lagi perlu dimulai dari unit terkecil dari masyarakat, yakni keluarga.

Keempat, melakukan evaluasi dan refleksi terhadap segala aktifitas yg dilakukan secara berjenjang dan bertahap. Evaluasi diri (muhasabah) perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kualitas target capaian hidup terealisasi, adakah proses yg keliru dari kehidupan selama ini.

 

ULASAN :

Pendidikan berkeluarga adalah pendidikan didalam keluarga yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang samawa, dimana untuk mencapai tujuan tersebut harus dilakukan dengan usaha dan komitmen yang tinggi dari setiap anggota keluarga.

 

D.    Pembangunan Keluarga SAMAWA

Menurut kaidah bahasa Indonesia, sakinah mempunyai arti kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, juga. Jadi keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga.

Ciri-Ciri Keluarga Sakinah

1)      Rumah Tangga Didirikan Berlandaskan Al-Quran Dan Sunnah

2)      Rumah Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)

3)      Mengetahui Peraturan Berumahtangga

4)      Menghormati dan Mengasihi Kedua Ibu Bapak

5)      Menjaga Hubungan Kerabat dan Ipar

Mawaddah merupakan jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, Mawaddah adalah kelapangan dada dan kehendak jiwa dari kehendak buruk. sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Rasa damai dan tenteram hanya dicapai dengan saling mencintai. Maka rumah tangga muslim punya ciri khusus, yakni bersih lahir baathin, tenteram, damai dan penuh hiasan ibadah.

Firman Allah SWT Surat Ar-Rum : 21 yang artinya :

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan aying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaum yang berfikir”

Cara membangun keluarga yang SAMAWA :

1)      Memilih pasangan dengan kriteria yang tepat. 

Untuk memastikan kita bisa membangun keluarga yang sakinah maka kita harus bisa menentukan kriteria pasangan yang dicari dengan tepat. Tanpa pemilihan pasangan yang cermat, akan sulit mencapai kondisi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah. Oleh karena itu tentukan dulu pasangan seperti apa yang dibutuhkan untuk membina keluarga yang sakinah, dan carilah kriteria tersebut pada calon pasangan yang ada.

2)      Memenuhi syarat utama dalam berumah tangga.

Syarat utama lainnya dalam berumah tangga adalah Mawaddah yaitu artinya ‘Cinta yang menggebu’  dan Rahmah yang artinya siap berkorban kepada yang dikasihi dan memiliki kasih sayang yang lembut. Ketika kedua syarat ini terpenuhi maka untuk menuju rumah tangga yang sakinah tidak akan menjadi begitu sulit, karena keduanya sudah menjadi landasan terbentuknya satu rumah tangga

3)      Memelihara saling pengertian.

Tumbuhkanlah rasa kasih dan sayang keduanya dan juga anggota keluarga itu baik. Kedua pihak harus dapat mencari cara menghilangkan sifat egois dan cara menghilangkan sifat sombong agar dapat saling memahami dan mengerti satu sama lain.

4)      Landasi rumah tangga dengan ajaran agama.

Tentu saja cara membina rumah tangga sakinah dan cara membina rumah tangga yang baik adalah dengan melandasinya ajaran agama.

5)      Mengisi rumah tangga dengan kasih sayang.

Cintailah setiap anggota keluarga dengan sepenuh hati, maka rumah tangga akan selalu penuh dengan kasih sayang. Anak-anak butuh dipeluk orang tuanya dan pasangan hidup butuh untuk didampingi dan menjadi batu sandaran dalam sulit.

6)      Senantiasa selalu bersyukur.

Suami dan istri tidak lupa bersyukur untuk beberapa hal kecil lainnya setiap mereka berdoa kepada Allah. Yakinlah bahwa semua ujian dalam rumah tangga akan membuat kita lebih kuat dan beriman. Selalu bersyukur terhadap berbagai hal akan menjadi cara menjaga kesehatan hati dan cara menghindari perilaku tercela yang bisa muncul dalam diri istri atau suami

7)      Menjalankan kewajiban masing-masing dengan baik.

Suami atau istri harus mengetahui dan memahami tentang tugas kewajiban masing-masing dengan penuh pengertian.

8)      Saling menghargai.

Adanya rasa saling menghargai maka suami dan istri akan tahu bagaimana perasaan masing-masing terhadap sesuatu hal tanpa perlu dipaksa untuk mengungkapkannya.

9)      Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Perlunya kebiasaan saling mengintrospeksi diri dan terus mencari cara merubah sifat serta cara menjadi pribadi yang baik sangat penting agar kekurangan suami dan istri dapat diterima oleh satu sama lain dan tidak menjadi masalah besar dalam sebuah pernikahan.

10)  Memelihara kepercayaan terhadap pasangan.

Suami dan istri tidak bisa rukun bila salah satu selalu curiga terhadap yang lainnya.

 

ULASAN :

Sakinah secara sederhana dapat diartikan sebagai keamanan, kedamaian, ketenangan dan perlindungan timbal balik. Mawaddah artinya ketika merasa senang dan sedih selalu mencintai keduanya. Akar kata dari Warrohmah adalah rohmah yang artinya kasih sayang.

Tujuan utama dalam menikah adalah mendapatkan keluarga yang bahagia yang sakinah mawadah dan warahmah. Agama Islam telah memberikan berbagai pengarahan untuk bisa mendapatkan keluarga yang sakinah. Jika sebuah rumah tangga berhasil berjalan dengan sakinah, mawaddah dan warohmah, hal itu akan memberikan kebaikan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya .Memiliki keluarga yang utuh adalah dambaan setiap orang yang berada dalam suatu pernikahan. Untuk mendapatkan keluarga dan rumah tangga yang utuh, diperlukan adanya cara membina keluarga dengan sakinah, mawadah dan warohmah. 

 

Hasil Diskusi

Kelompok 2

1)      Pertanyaan : Bagaimana ciri-ciri atau karakteristik yang bisa menggambarkan seperti apakah keluarga yang sakinah? (Putry Anjani)

Jawaban :

Ciri-ciri atau karakteristik yang bisa menggambarkan seperti apakah keluarga tersebut.

a)      Terdapat cinta, kasih sayang, dan rasa saling memiliki yang terjaga satu sama lain

b)      Terdapat ketenangan dan ketentraman yang terjaga, bukan konflik atau mengarah pada perceraian

c)      Keikhlasan atau ketulusan peran yang diberikan masing-masing anggota keluarga, baik peran dari suami sebagai kepala rumah tangga, istri senagai ibu

d)      Mengelola amanah suami, serta anak-anak yang menjadi amanah dari Allah untuk diberikan pendidikan yang baik

e)      Kecintaan yang mengarahkan kepada cinta illahiah dan nilai agama, bukan hanya kecintaan terhadap makhluk atau hawa nafsu semata

f)       Jauh dari ketidakpercayaan, kecurigaan, dan perasaan was-was antar pasangan mampu menjaga satu sama lain dalam aspek keimanan dan ibadah, bukan saling menjerumuskan atau saling menghancurkan satu sama lain

g)      Mampu menjaga pergaulan dalam islam, tidak melakukan penyelewengan apalagi penghianatan sesame pasangan

h)      Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam keluarga mulai dari rezeki, kebutuhan dorongan seksual, dan rasa memiliki satu sama lain

i)       Mendukung karis, profesi satu sama lain yang diwujudkan untuk sama-sama membangun keluarga dan membangun ummat sebagai amanah dari Allah SWT. oleh karena itu jika semua ini anda penuhi dan anda lakukan maka inshaallah kebahagiaan akan mewarnai keluarga anda, dan dia pun tentunya akan membayarnya dengan melimpahkan kasih saying dan kebahagiaan dalam berkeluarga

2)      Pertanyaan : Keluarga seperti apa ang bisa mendapatkan konseling keluarga? Lalu dimana konseling keluarga bisa di dapatkan? (Fitra sadilah)

Jawaban:

Tujuan konseling keluarga

a)      Membantu anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil pengaruh hubungan antar anggota keluarga.

b)      Membantu anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi, harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.

c)      Upaya melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.

d)      Mengembangkan rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain.

e)      Membantu anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi maksimal.

f)       Membantu individu keluarga yang dalam keadaan sadar tentang kondisi dirinya yang bermasalah, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri dan nasibnya sehubungan dengan kehidupan keluarganya.

Ketika keluarga mengalami ketidakseimbangan dari tujuan keluarga yg telah di sebutkan di atas, keluarga boleh mengajukan konseling keluarga di psikologi, orang tua atau pun orang yang sudah berpengalaman mengenai keluarga.

3)      Pertanyaan : Apa pengaruh positif dari rumah tangga yang sakinah? (Naila Rizki)

 Jawaban:

a)      sikap saling musyawarah dengan anggota keluarga tapi satu tujuan

b)      terjalin hubungan komunikasi yang baik dengan anggota keluarga

c)      sikap saling menghargai satu sama lain dengan anggota keluarga

4)      Pertanyaan : Usaha apa saja yang dilakukan untuk mencapai keluarga sakinah mawadah warohmah? (Hilda)

 Jawaban :

Dalam berkeluarga tak hanya menunai kan sunah rosul akan tetapi bayak kewajiban agar menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan , warohmah mulai dari :

a)      Memilih pasangan dengan kriteria yang tepat

Untuk memastikan kita bisa membangun keluarga yang sakinah maka kita harus bisa menentukan kriteria pasangan yang dicari dengan tepat. Tanpa pemilihan pasangan yang cermat, akan sulit mencapai kondisi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.

b)      Memenuhi syarat utama dalam berumah tangga

Syarat utama lainnya dalam berumah tangga adalah Mawaddah yaitu artinya ‘Cinta yang menggebu’ dan Rahmah yang artinya siap berkorban kepada yang dikasihi dan memiliki kasih sayang yang lembut. Ketika kedua syarat ini terpenuhi maka untuk menuju rumah tangga yang sakinah tidak akan menjadi begitu sulit, karena keduanya sudah menjadi landasan terbentuknya satu rumah tangga.

c)      Memelihara saling pengertian

Sebuah perkawinan tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada saling pengertian antar suami istri. Tumbuhkanlah rasa itu baik-baik. Kedua pihak harus dapat mencari cara menghilangkan sifat egois dan cara menghilangkan sifat sombong agar dapat saling memahami dan mengerti satu sama lain.

d)      Landasi rumah tangga dengan ajaran agama

Tentu saja cara membina rumah tangga sakinah dan cara membina rumah tangga yang baik adalah dengan melandasinya dengan ajaran agama Islam. Suami harus bertindak sebagai pembimbing istri serta anak-anaknya, dan membawa keluarganya dalam ajaran agama yang benar.

e)      Mengisi rumah tangga dengan kasih sayang

Sebuah rumah tangga tanpa cinta dan kasih sayang akan membuat sengsara orang-orang yang ada di dalamnya. Anak-anak butuh dipeluk orang tuanya dan pasangan hidup butuh untuk didampingi dan menjadi batu sandaran dalam keadaan sulit.

5)      Pertanyaan : Apa saja faktor pendukung dan penghambat keluarga sakinah dalam islam? (Kharisma)

Jawaban :

Islam memberikan tuntutan pada umatnya untuk menuntun menuju

keluarga sakinah yaitu:

a)      Dilandasi oleh mawaddah dan rahmah

b)      Hubungan saling membutuhkan satu sama lain sebagaimana suami istri disimbolkan dalam al-Quran dengan pakaian.

c)      Suami istri dalam bergaul memperhatikan yang secara wajar dianggap patut (ma’ruf).

d)      Keluarga yang baik adalah memiliki kecenderungan pada agama, yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, sederhana dalam belanja, santun dalam pergaulan, dan selalu intropeksi.

Adapun sebaliknya penyakit yang menghambat keluarga sakinah, antara lain:

a)      Aqidah yang keliru atau sesat yang dapat mengancam fungsi religius dalam keluarga.

b)      Makanan yang tidak halal dan sehat. Makanan yang haram dapat mendorong seseorang melakukan perbuatan haram pula.

c)      Pola hidup konsumtif, berfoya-foya akan mendorong seseorang mengikuti kemauan gaya hidupnya sekalipun yang dilakukakannya adalah hal-hal yang diharamkan, seperti korupsi, mencuri, menipu dan sebagainya.

d)      Pergaulan yang tidak legal dan tidak sehat

e)      Kebodohan secara intelektual maupun secara sosial.

f)       Akhlak yang rendah

g)      Jauh dari tuntutan agama

6)      Pertanyaan : Dalam islam menyebutkan ciri2 keharmonisan keluarga ada poin hubungan dengan anak, bagaimana cara membangun hubungan yang baik dengan anak? (Endah Aulya)

Jawaban :

Berpartisipasi dalam kehidupan anak

a.       Tempatkan diri Anda pada tingkat yang sama dengan anak. Anda dapat memperbaiki hubungan dengan anak melalui interaksi yang sesuai dengan usianya. Pikirkan cara untuk memberi pelajaran, mengerjakan proyek dan bermain sesuai tingkat kemampuan anak.

b.      Tekankan pentingnya waktu keluarga.

Contoh : Usahakan untuk makan malam bersama keluarga setiap malam jika memungkinkan dan mintalah setiap orang untuk berbagi pengalaman baik dan buruk hari itu. Pergilah menghadiri acara olahraga, film, atau acara yang diadakan komunitas bersama-sama.

c.       Dedikasikan waktu untuk berkomunikasi secara pribadi dengan setiap anak.

Contoh : Jalinlah kedekatan dengan setiap anak melalui hobi yang sama. Misalnya, Anda bisa mengajari cara memancing kepada salah satu anak di akhir pekan atau berlatih piano dengan anak yang lain. Sisihkan waktu setiap minggu untuk membangun hubungan spesial dengan setiap anak

Mempertahankan Komunikasi Positif

a.       Jadilah orang yang dapat dipercaya.Namun, kepercayaan tidak berarti Anda harus mempercayai semua yang dikatakan anak, tetapi itu berarti Anda akan mencoba dan memberinya kepercayaan sampai terbukti sebaliknya.

b.      Terapkan 3 prinsip utama dalam pengasuhan anak yang efektif.

§  Bersikap tegas. Jelaskan konsekuensi dari perilaku tertentu dan terapkan secara konsisten.

§  Bersikap adil. Pastikan hukuman sesuai dengan kesalahan yang dilakukan. Usahakan untuk tidak menerapkan konsekuensi yang berlebihan atau terlalu berat.

§  Bersikap bersahabat. Sampaikan kata-kata Anda dengan nada yang kuat dan sopan. Anda cukup menjelaskan pelanggaran yang ia lakukan dan memberi tahu apa konsekuensinya. Jangan lupa untuk memberikan pujian kepada anak saat ia melakukan hal-hal baik.

7)      Pertanyaan : Kriteria/yang di sebut keluarga samawa itu harus yang seperti apa? karena walaupun sudah bisa saling memahami juga selalu aja ada persilisihan? (Indah )

Jawaban

Wajar jika didalam keluarga atau berumah tangga terjadi perselisihan tetapi apabila perselisihan itu berlanjut terus menerus atau sering terjadi maka keluarga tersebut tidak bisa dikatakan keluarga samawa lagi karena samawa itu mempunyai arti tentram, cinta kasih, dan kasih sayang. Jadi jika dari ketiga arti samawa itu ada yang hilang salah satu didalam kehidupan berumah tangga, maka keluarga tersebut tidak bisa dikatakan samawa lagi karena sudah hilang ketentraman dalam rumah tangga jika terus menerus berselisih, seiring itu cinta kasih dan kasih sayang pun akan hilang

 

Kelompok 3

1)      Pertanyaan : Dalam Islam menyebutkan ciri-ciri keharmonisan keluarga, ada poin hubungan dengan anak. Bagaimana cara membangun hubungan yang baik dengan anak? (Endah Aulya)

Penyelaras : Rahma Nurdita

Jawaban :

a)      Menerima emosi anak

Saat anak merasa bahagia, orang tua juga harus memiliki mood yang baik, saat anak merasa sedih atau marah orang tua juga tidak boleh menunjukkan rasa kecewa, marah atau sedih.

b)      Mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi

Anak sangat butuh pendengar, saat anak menceritakan ceritanya kepada orang tuanya sebisa mungkin orang tua jangan menghakimi cerita tersebut apalagi sampai memarahi.

c)      Luangkan waktu bersama

Meluangkan waktu bersama anggota keluarga yang lain membuat hubungan semakin dekat

d)      Ajak anak mengerjakan pekerjaan rumah

Saat semua anggota keluarga memiliki waktu luang, isi dengan mengerjakan pekerjaan rumah, bergotong royong bersama-sama

e)      Berlibur bersama

Hal ini sangat dinantikan oleh anak untuk bisa berlibur bersama orang tua, karena hal ini dapat menciptakan momen baru untuk anak

f)       Sering melakukan sentuhan fisik

Sentuhan fisik agar anak merasa disayang juga, dengan dipeluk atau dielus

g)      Hindari memainkan hp atau mengerjakan pekerjaan kantor saat berkomunikasi dengan anak

Karena dalam mengobrol dengan anak jangan sampai sibuk atau terganggu dengan hal lain.

2)      Pertanyaan : Kriteria yang disebut SAMAWA itu harus yang seperti apa? Karena walaupun sudah bisa saling memahami juga selalu saja ada perselisihan? (Indah Nurfauziah)

Penyelaras : Nabila Dwi Puspita W

Jawaban :

Perselisihan itu wajar karena setiap orang punya beda pendapat masih bisa dikatakan SAMAWA kalau tidak sampai perceraian.

Kelompok 5

1)      Pertanyaan : Apa saja faktor pendukung dan penghambat keluarga sakinah dalam Islam? (Kharisma)

Penyelaras : Putri Zahara

Jawaban :

Faktor pendukung, dalam Hadits Nabi juga diterangkan bahwa terdapat empat faktor dapat mendatangkan kebahagiaan dalam sebuah keluarga, yakni : suami/istri yang setia, lingkungan yang baik, rezeki yang dekat, dan hadirnya anak-anak yang berbakti. Dalam sebuah keluarga kehadiran anak dipandang juga sebagai perhiasan kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah.

Faktor penghambat, pergaulan yang tidak terjaga. Pergaulan disini dimaksudkan adalah pergaulan dengan yang bukan muhrimnya. Oleh karena itu seseorang yang sudah berumah tangga tidak diperbolehkan untuk berduaan dengan selain muhrim. Karena suasana psikologis saat berduaan dapat menggiring pada perselingkuhan, meskipun terdapat maksud baik pada awalnya.

2)      Pertanyaan : Apa pengaruh positif dari keluarga sakinah? (Naila Rizki Amelia)

Penyelaras : Jihan Fahira Al Habsyi

Jawaban :

Dampak keluarga sakinah ialah rumah tangga menjadi harmonis hubungan anak dengan orang tua baik serta terjalinnya komunikasi yang baik antar anggota keluarga dan tumbuh kembang anak terarah dengan baik.

 

E.     Kehidupan Keluarga

Kehidupan keluarga memiliki peranan penting di dalam pembangunan sosial ekonomi, sosial psikologis, sosial budaya dan pembangunan kehidupan spiritual suatu bangsa.

Perubahan sosial ekonomi suatu bangsa atau negara, maju atau mundur, dapat diukur atau terposisikan pada kehidupan sosial ekonomi yang sedang berlangsung dalam kehidupan keluarga.

Kehidupan keluarga dapat berkembang seperti apa yang diharapkan, apabila kehidupan keluarga diawali oleh pemahaman yang jelas tentang pengertian keluarga itu sendiri dan keluarga mampu melaksanakan fungsinya

 

ULASAN :

            Keluarga adalah awal dari sebuah kehidupan, rumah yang akan menerima dengan kedua tangan. Keluarga bukan hanya sekadar status sejak lahir. Bukan juga cuma tempat berpulang atau persoalan siapa dari mereka yang lebih dekat denganmu. Namun, kehadiran keluarga di tengah kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar dan berharga.

Didalam keluarga kita diajarkan banyak hal baik itu diajarkan cara interaksi sosial, ekonomi dan yang lainnya.

 

F.     Contoh Praktik Baik “Sebuah Keluarga”

Setiap keluarga memiliki visi dan misi untuk mencapai tujuan yang mereka impikan. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. Dalam keluarga saya pendidikan pertama diberikan dari orang tua baik dari ayah maupun ibu, dan pendukung nya seperti kakak, anak diberikan pembiasaan baik seperti diajarkan untuk selalu senantiasa bertaqwa kepada Tuhan, membangun hubungan yang baik antar anggota keluarga, tetangga maupun teman, dan selalu membantu dalam hal pelajaran disekolah. Keluarga juga selalu terbuka jika ada masalah diantara anggota keluarga dan selalu mencari solusi bersama untuk masalah tersebut. Menjadi tempat untuk berkumpul dan bercanda bersama tidak ada kecanggungan antara orangg tua dengan anak karena semuanya saling terbuka, dan kalau pun ada pertengkaran tidak sampai berlarut-larut, semuanya akan mulai normal kembali karena kita selalu diajarkan untuk meminta maaf duluan jikalau merasa bersalah pada orang lain. Orang tua juga selalu mengajarkan dan meminta anak untuk mengembangkan potensi yang di miliki oleh anak, bukan memaksakan apa yang orang tua inginkann untuk anak. Selalu memberikan reward sebagai bentuk apresiasi keberhasilan anak, dan memberikan semangat saat anak merasa terpuruk atau merasa diposisi bawah. Orang tua juga selalu bertutur kata yang baik didepan anak-anaknya dan selalu mengingatkan agar kita sebagai anak bertutur kata yang baik juga baik dilingkungan keluarga maupun diluar rumah, pembiasaan ini juga melekat sampai saat ini meskipun lingkungan pertemanan anak ada saja beberapa anak yang sering bertutur kata tidak baik/ toxic , anak tidak ikut terbawa oleh temannya tersebut karena sudah terbiasa bertutur kata yang baik seperti yang diajarkan oleh orang tuanya.

 


BAB IV

KONSEP PARENTING

A.    Pengertian Parenting

Menurut para Ahli :

1)      Jerome Kagam (1997)

         Beliau adalah seorang psikologi perkembangan, yang mendefinisikan pengasuh sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orang tua agar mampu bertanggung jawab dan memberikan konstribusi sebagai anggota masyarakat.

         Jadi pengasuh di sini bagaimana orang tua harus menjelaskan kepada anak bagaimana anak bisa memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap semua hal yang dilakukan. Keluarga juga harus selalu mendukung kegiatan yang dilakukan anak selagi itu merupakan hal yang baik untuk dilakukan.

2)      Hetherington dan Whiting (1999)

         Pengasuh menurut Heterington dan Whiting adalah proses interaksi total antara orang tua dengan anak, seperti pemeliharaan, pemberian makan, membersihkan, melindungi dan proses sosialisasi anak dengan lingkungan sekitar.

         Orang tua merupakan pengasuh terbaik bagi anaknya dan orang tua akan menerapkan pengasuh yang terbaik bagi anaknya dan orang tua akan menjadi contoh bagi anaknya.

3)      Gunarsa (2002)

         Pengasuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik (makan, minum, pakaian, dan lain sebagainya) dan kebutuhan psikologis (afeksi atau perasaan) tetap juga norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan.

4)      Masud Hoghughi, (Masud Hoghughi adalah direktur dari  Aycliffe Centre for Children, County Durham Dan menyandang gelar sebagai anggota kehormatan sebagai Professor fakultas Psychology, University of Hull, Amerika)

         Menyampaikan : Pengasuhan merupakan hubungan antara orang tua dan anak yang multidimensi dapat terus berkembang. Mencakup beragam aktifitas dengan tujuan :  anak mampu berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik.  Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan sosial.

5)      David D. Burns M.D (professor dari fakultas psikologi di University of South Florida)

         Menyebutkan bahwa pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak juga bagi orang tua.

 

ULASAN

                 Parenting adalah segala tindakan yang menjadi bagian dalam proses interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak tapi juga bagi orang tua yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak yang dilakukan sejak awal anak dilahirkan hingga dewasa dalam rangka melindungi, merawat, mengajari, mendisiplinkan dan memberi panduan.

 

B.     Penjelasan tentang pentingnya parenting untuk memahamkan penanggungjawab keluarga.

Topik Parenting Meliputi :

1.      Bersiap Menjadi Orang Tua

           Orangtua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orangtua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh, dan membimbing termasuk memperhatikan kesehatan anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu.

           Orangtua harus mampu menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat karena pengetahuan yang pertama diterima oleh anak adalah dari orangtuanya. Sebelum menjadi orangtua hebat, calon orang tua harus mengetahui secara mendalam tentang berbagai hal yang berhubungan dengan persiapan-persiapan menjelang memasuki lembaga pernikahan, yaitu antara lain:

a)      Persiapan Spiritual/Moral

               Dalam diri setiap orang beriman selalu terdapat keinginan bahwa suatu hari nanti akan mendapatkan jodoh yang saleh/salihah, yang taat beribadah, bisa bersama-sama dalam mengarungi kehidupan di dunia, dalam suka dan duka, dan akhirnya bersama-sama masuk surga selamat dari neraka.

b)      Persiapan Konsepsional

               Memahami konsep tentang lembaga pernikahan sebagai sarana untuk beribadah dan meningkatkan pahala dari Tuhan YME. Pernikahan sebagai wadah terciptanya generasi robbani, penerus perjuangan menegakkan agama Allah.  Adapun jika dari pernikahan diikuti dengan lahirnya anak yang saleh/salihah, maka sang anak akan menjadi penyelamat bagi kedua orangtuanya

c)      Persiapan Kepribadian

               Dalam hal ini, belajar untuk mengenal (bukan untuk dikenal). Seorang laki-laki yang menjadi suami atau seorang perempuan yang menjadi istri, sesungguhnya awalnya adalah orang asing bagi kita, yang mungkin mempunyai latar belakang, suku, dan kebiasaan yang berbeda. Semua perbedaan tersebut dapat menjadi pemicu timbulnya perselisihan.

               Bila perbedaan tersebut tidak dikelola dengan baik melalui komunikasi, keterbukaan, dan kepercayaan, maka bisa jadi timbul persoalan dalam pernikahan. Untuk itu, diperlukan keberadaan jiwa yang besar untuk mau menerima dan berusaha mengenali pasangan kita.

d)      Persiapan Fisik

               Kesiapan fisik ini ditandai dengan kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami ataupun istri secara optimal. Saat sebelum menikah, ada baiknya bila memeriksakan kesehatan tubuh, terutama faktor yang mempengaruhi masalah reproduksi. Apakah organ-organ reproduksi dapat berfungsi dengan baik, bila ditemukan penyakit atau kelainan tertentu, segeralah berobat.

e)      Persiapan Material

               Dalam agama, tidak menghendaki kita berfikiran materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada materi. Akan tetapi bagi seorang suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka adanya kesiapan calon suami untuk memberi nafkah perlu diutamakan.

               Sebaliknya, bagi pihak wanita, perlu adanya kesiapan untuk mengelola keuangan keluarga. Jika suami berikhtiar untuk menafkahi maka Tuhan Yang Maha Kuasa akan mencukupkan rizki kepadanya.

f)       Persiapan Sosial

               Setelah sepasang manusia menikah, berarti status sosialnya di masyarakat pun berubah. Mereka bukan lagi gadis dan lajang, tetapi telah berubah menjadi sebuah keluarga. Sebagai akibatnya, mereka pun harus mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan sosial di kedua belah pihak keluarga maupun di masyarakat.

 

ULASAN

           Orang tua merupakan suatu kesatuan antara Ayah dan Ibu yang diikat oleh ikatan pernikahan. Mempersiapkan diri menjadi orang tua harus dimulai pada masa pranikah agar pasangan suami dan istri mengerti dan siap untuk menjalankan peranan nya masing-masing setelah menikah nanti. Persiapan itu sendiri bukan hanya dari segi fisik/ material melainkan dari segi batin/ dalam diri juga.

 

2.      Memahami Peran Orang Tua

Dalam proses perkembangan anak, peran orang tua antara lain:

1)      Mendampingi

               Setiap anak memerlukan perhatian dari orang tuanya. Sebagian orang tua ada yang bekerja dan pulang ke rumah dalam keadaan lelah, sehingga hanya memiliki sedikit waktu bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Bagi para orang tua yang menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja di luar rumah, bukan berarti mereka gugur kewajiban untuk mendampingi dan menemani anak-anak ketika di rumah. Meskipun hanya dengan waktu yang sedikit, namun orang tua bisa memberikan perhatian yang berkualitas dengan fokus menemani anak, seperti mendengar ceritanya, bercanda atau bersenda gurau, bermain bersama dll.

2)      Menjalin komunikasi

               Komunikasi menjadi hal penting dalam hubungan orang tua dan anak karena komunikasi merupakan jembatan yang menghubungkan keinginan, harapan dan respon masing-masing pihak. Melalui komunikasi, orang tua dapat menyampaikan harapan, masukan dan dukungan pada anak. Begitu pula sebaliknya, anak dapat bercerita dan menyampaikan pendapatnya.

3)      Memberikan kesempatan

               Orang tua perlu memberikan kesempatan pada anak. Kesempatan pada anak dapat dimaknai sebagai suatu kepercayaan. Tentunya kesempatan ini tidak hanya sekedar diberikan tanpa adanya pengarahan dan pengawasan. Anak akan tumbuh menjadi sosok yang percaya diri apabila diberikan kesempatan untuk mencoba, mengekspresikan, mengeksplorasi dan mengambil keputusan.

4)      Mengawasi

               Pengawasan mutlak diberikan pada anak agar anak tetap dapat dikontrol dan diarahkan. Tentunya pengawasan yang dimaksud bukan berarti dengan memata-matai dan main curiga. Tetapi pengawasan yang dibangun dengan dasar komunikasi dan keterbukaan. Orang tua perlu secara langsung dan tidak langsung untuk mengamati dengan siapa dan apa yang dilakukan oleh anak, sehinga dapat meminimalisir dampak pengaruh negatif pada anak.

5)      Mendorong atau memberikan motivasi

               Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan. Motivasi bisa muncul dari diri individu (internal) maupun dari luar individu (eksternal). Setiap individu merasa senang apabila diberikan penghargaan dan dukungan atau motivasi. Motivasi menjadikan individu menjadi semangat dalam mencapai tujuan. Motivasi diberikan agar anak selalu berusaha mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Apabila anak belum berhasil, maka motivasi dapat membuat anak pantang menyerah dan mau mencoba lagi.

6)      Mengarahkan

               Orang tua memiliki posisi strategis dalam membantu agar anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.

 

Peran Orangtua Dalam Pengasuhan

           Anak adalah bagian yang tak terpisahkan dan merupakan buah cinta dari ayah dan ibu. Anak yang lahir dengan belaian kasih sayang dari ayah dan ibunya akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan selalu siap dalam menghadapi tantangan masa depan. Orangtua yang baik bukanlah mereka yang suka menyerahkan urusan pengasuhan anaknya kepada orang lain.

           Oleh karena itu menciptakan kedekatan antara orangtua dengan anaknya adalah sebuah investasi yang sangat berharga. Kita sebagai orangtua akan menyesal jika tidak memulainya sejak dini. Dalam kaitannya dengan pengasuhan, orangtua harus menyediakan cukup waktu untuk menjalankan kedekatan dan menjadi pelatih emosi bagi anak-anaknya.

 

ULASAN

           Orang tua memiliki peranan penting dalam pengasuhan anak-anaknya. Sebagai orang tua penting untuk mengetahui peran dan fungsi nya dalam keluarga, orang tua juga harus bisa mengawasi dan membimbing anak-anaknya. Selalu meluangkan waktu untuk keluarga walaupun dalam waktu sibuk untuk menjaga keharmonisan antar anggota keluarga yang lain.

 

3.      Memahami Konsep Diri Orang Tua

           Untuk dapat menjalankan pengasuhan, orang tua harus memiliki kepercayaan diri dalam mendidik anak-anaknya. Kepercayaan diri berasal dari konsep diri yang positif.

           Kepercayaan diri mengasuh anak menumbuhkan keyakinan bahwa orang tua mampu menjalankan tugas dalam mengasuh anak-anak mereka.

           Konsep diri adalah gambaran diri seseorang tentang ciri-ciri yang dimilikinya. Konsep diri berkembang sejak bayi sampai dewasa.

Konsep diri menurut Ahli :

1)      Jalaluddin Rakhmat

               Konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri kita sendiri baik bersifat psikologi, sosial maupun fisik.

2)      Deddy Mulyana

               Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada diri individu

               Jadi, konsep diri adalah suatu pandangan terhadap diri kita sendiri atau yang sering disebut “Aku” baik itu dilihat dari perilaku ataupun psikis. Konsep diri dapat kita peroleh dari individu masing-masing ataupun informasi dari orang lain.

 

ULASAN

           Konsep diri merupakan suatu pandangan terhadap diri sendiri. Orang tua harus bisa memahami konsep diri nya sendiri agar bisa menentukan mau dibawa kemana sebuah keluarga itu. Orang tua harus punya pendirian dan keyakinan pada diri nya sendiri agar kelak menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya.

 

4.      Melibatkan Peran Ayah

           Penelitian awal tentang interaksi anak dan ayah (sekitar tahun 1980-an), menguraikan keterlibatan ayah dirumah menjadi beberapa kategori yaitu kehangatan, pengawasan, model peran jenis kelamin, menyenangkan sebagai teman brmain, dan melatih kemandirian (Doherty, dkk 1998). Pada tahun 1985, Lamb,Pleck, Charnov dan Levine (2002) kemudian mengenalkan dimensi-dimensi keterlibatan ayah, yaitu :

1)      Paternal engagement. Engangement/interaction adalah pengasuhan secara langsung, interaksi satu lawan satu dengan anak, mempunyai waktu unuk bersantai atau bermain. Interaksi ini meliputi kegiatab seperti memberi makan, mengenakan baju, berbincang, bermain, mengerjakan PR, dll.

2)      Paternal accessibility. Accessibility adalah bentuk keterlibatan ang lebih rendah. Orangtua ada didekat anak tetapi tidak berinteraksi secara langsung dengan anak.

3)      Paternal responsibility. Responsibility adalah bentuk keterlibatan yang mencakup tanggungjawab dalam hal perencanaan, pengambilan keputusan dan pengaturan.

 

ULASAN

           Melibatkan peran ayah dalam melakukan aktifitas bersama anak memberi dampak positif pada anak yaitu bahwa ikatan antara ayah dan anak berperan dalam pembentukan karakter pada anak. menciptakan komunikasi yang baik dengan cara ayah melakukan aktivitas bersama anak seperti bermain, berjalan-jalan, membaca, mengenalkan lingkungan sekitar. Ayah dapat mengajak berdialog, menyempatkan diri menghubungi anak ketika ayah tidak di rumah. Hal itu tentunya perlu kerjasama dan dukungan dari ibu, karena banyak ayah yang merasa kurang percaya diri dalam menangani anak-anaknya

 

5.      Mendorong Tumbuh Kembang Anak

           Tumbuh kembang anak berjalan dengan cepat pada periode emasnya di usia 0-3 tahun. Umumnya, pada tahapan usia ini, anak melakukan proses pembentukan dirinya baik fisik maupun emosional. Tentu peran orangtua dibutuhkan untuk memantau tumbuh kembang berjalan dengan baik.

           Pada periode emas, perkembangan otak anak juga berkembang dan bertumbuh dengan cepat dibandingkan waktu lain dalam hidupnya. Sehingga tidak ada salahnya orangtua rutin memberikan stimulasi positif pada anak.

           Tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi serta nutrisi anak, ada faktor lain yang perlu diperhatikan orangtua untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya. Sebaiknya orangtua mengetahui cara yang dapat membantu untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak di periode emasnya, seperti:

1)      Lingkungan Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak

     Lingkungan anak memengaruhi tumbuh dan kembang anak. Lingkungan yang baik tentu membuat anak memiliki hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitarnya. Hubungan yang positif menjadi pengalaman anak untuk menjalani proses tumbuh kembang pada periode emasnya. Situasi lingkungan anak membentuk anak ke depannya. Namun, hubungan yang positif dengan orangtua dan keluarga menjadi hal utama yang perlu dilakukan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan baik.

2)      Lakukan Permainan yang Menyenangkan

     Pada awal pertumbuhannya, pembelajaran yang diberikan pada anak sebaiknya dilakukan sesuai dengan usianya agar anak dapat menerima informasi dengan baik. Salah satu cara yang bisa dilakukan orangtua adalah belajar sambil bermain. Hal-hal yang menyenangkan lebih mudah diterima oleh anak sehingga berikan anak permainan yang menyenangkan yang membuat ia berkesempatan untuk bereksplorasi, memecahkan masalah, dan belajar dari kondisi yang dihadapi. Ketika anak mengalami kesulitan, jangan ragu untuk membantu dan mendukung anak. Namun, jangan lupa untuk tetap biarkan anak menemukan cara sendiri untuk mengatasi masalahnya.

3)      Luangkan Waktu Bersama Anak

     Orangtua sebaiknya luangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak. Interaksi yang baik membantu anak meningkatkan kemampuan bersosialisasi, berkomunikasi, memecahkan masalah. Dengan meluangkan waktu bersama anak, orangtua juga lebih menjadi dekat dengan anak. Dengan begitu, orangtua mudah menemukan perubahan atau adanya gejala dari gangguan kesehatan pada anak. Jika anak mengalami gangguan kesehatan, sebaiknya orangtua jangan panik. Tetap tenang dan gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya langsung pada dokter mengenai gejala yang dialami oleh anak.

4)      Penuhi Kebutuhan Gizi

     Pemenuhan kebutuhan gizi pada anak memengaruhi tumbuh kembang anak. Tidak ada salahnya untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi sejak anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI. Tiap anak mulai diberikan MPASI sejak menginjak usia 6 bulan dengan tekstur makanan yang lembut. Sebaiknya jangan lupa berikan makanan yang menunjang kebutuhan vitamin serta nutrisi yang dibutuhkan oleh anak pada masa tumbuh kembang. Jangan lupa memenuhi kebutuhan protein di dalam tubuh anak untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. Kalsium juga memiliki peran yang penting bagi tumbuh kembang anak untuk pembentukan tulang pada anak-anak hingga dewasa.

 

ULASAN

           Pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi hal yang menjadi perhatian utama bagi para orangtua. Tumbuh kembang anak juga perlu dilakukan pemantauan oleh orangtua agar berjalan sesuai dengan tahapan usianya dan anak terhindar dari gangguan yang mungkin saja terjadi. Lingkungan juga menjadi faktor pendukung yang pertumbuhan dan perkembangan pada anak, lingkungan yang positif akan berdampak baik terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, untuk itu orangtua harus selalu memerhatikan lingkungan sekitarnya.

 

6.      Membantu Tumbuh Kembang Balita

           Kemampuan dan tumbuh kembang anak perlu dirangsang oleh orang tua agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan sesuai umurnya.

           Stimulasi adalah perangsangan (penglihatan, bicara, pendengaran, perabaan) yang datang dari lingkungan anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang kurang bahkan tidak mendapat stimulasi. Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Berbagai macam stimulasi seperti stimulasi visual (penglihatan), verbal (bicara), auditif (pendengaran), taktil (sentuhan) dll dapat mengoptimalkan perkembangan anak.

           Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya.

           Pada tahap perkembangan awal anak berada pada tahap sensori motorik. Pemberian stimulasi visual pada ranjang bayi akan meningkatkan perhatian anak terhadap lingkungannya, bayi akan gembira dengan tertawa-tawa dan menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya. Tetapi bila rangsangan itu terlalu banyak, reaksi dapat sebaliknya yaitu perhatian anak akan berkurang dan anak akan menangis.

           Pada tahun-tahun pertama anak belajar mendengarkan. Stimulus verbal pada periode ini sangat penting untuk perkembangan bahasa anak pada tahun pertama kehidupannya. Kualitas dan kuantitas vokal seorang anak dapat bertambah dengan stimulasi verbal dan anak akan belajar menirukan kata-kata yang didengarnya. Tetapi bila simulasi auditif terlalu banyak (lingkungan ribut) anak akan mengalami kesukaran dalam membedakan berbagai macam suara.

           Stimulasi visual dan verbal pada permulaan perkembangan anak merupakan stimulasi awal yang penting, karena dapat menimbulkan sifat-sifat ekspresif misalnya mengangkat alis, membuka mulut dan mata seperti ekspresi keheranan, dll. Selain itu anak juga memerlukan stimulasi taktil, kurangnya stimulasi taktil dapat menimbulkan penyimpangan perilaku sosial, emosional dan motorik. Perhatian dan kasih sayang juga merupakan stimulasi yang diperlukan anak, misalnya dengan bercakap-cakap, membelai, mencium, bermain dll. Stimulasi ini akan menimbulkan rasa aman dan rasa percaya diri pada anak, sehingga anak akan lebih responsif terhadap lingkungannya dan lebih berkembang.

           Pada anak yang lebih besar yang sudah mampu berjalan dan berbicara, akan senang melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap lingkungannya. Motif ini dapat diperkuat atau diperlemah oleh lingkungannya melalui sejumlah rekasi yang diberikan terhapap perilaku anak tersebut. Misalnya anak akan belajar untuk mengetahui perilaku mana yang membuat ibu senang/mendapat pujian dari ibu, dan perilaku mana yang mendapat marah dari ibu. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang responsif akan memperlihatkan perilaku eksploratif yang tinggi.

           Stimulasi verbal juga dibutuhkan pada tahap perkembangan ini. Dengan penguasaan bahasa, anak akan mengembangkan ide-idenya melalui pertanyaan-pertanyaan, yang selanjutnya akan mempengaruhi perkembangan kognitifnya (kecerdasan).

           Pada masa sekolah, perhatian anak mulai keluar dari lingkungan keluarganya, perhatian mulai teralih ke teman sebayanya. Akan sangat menguntungkan apabila anak mempunyai banyak kesempatan untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Melalui sosialisasi anak akan memperoleh lebih banyak stimulasi sosial yang bermanfaat bagi perkembangan sosial anak.

           Pada saat ini di Indonesia telah dikembangkan program untuk anak-anak prasekolah yang bertujuan untuk menstimulasi perkembangan anak sedini mungkin, dengan menggunakan APE (alat permainan edukatif). APE adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk pengembangan aspek fisik (kegiatan-kegiatan yang menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak), aspek bahasa (dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar), aspek kecerdasan (dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk, warna dll.), dan aspek sosial (khususnya dalam hubungannya dengan interaksi antara ibu dan anak, keluarga, dan masyarakat). Bermain, mengajak anak berbicara, dan kasih sayang adalah ’makanan’ yang penting untuk perkembangan anak, seperti halnya kebutuhan makan untuk pertumbuhan badan. Bermain bagi anak tidak sekedar mengisi waktu luang saja, tetapi melalui bermain anak belajar mengendalikan dan mengkoordinasikan otot-ototnya, melibatkan persaan, emosi, dan pikirannya. Sehingga dengan bermain anak mendapat berbagai pengalaman hidup, selain itu bila dikakukan bersama orang tuanya hubungan orang tua dan anak menjadi semakin akrab dan orang tua juga akan segera mengetahui kalau terdapat gangguan perkembangan anak secara dini. Buku bacaan anak juga penting karena akan menambah kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menambah wawasan terhadap lingkungannya. Untuk perkembangan motorik serta pertumbuhan otot-otot tubuh diperlukan stimulasi yang terarah dengan bermain, latihan-latihan atau olah raga. Anak perlu diperkenalkan dengan olah raga sedini mungkin, misalnya melempar/menangkap bola, melompat, main tali, naik sepeda dll).

           Seorang ahli mengatakan bahwa prioritas untuk anak adalah makanan, perawatan kesehatan, dan bermain. Makanan yang baik, pertumbuhan yang adekuat, dan kesehatan yang terpelihara adalah penting, tetapi perkembangan intelektual juga diperlukan. Bermain merupakan ”sekolah” yang berharga bagi anak sehingga perkembangan intelektualnya optimal.

 

ULASAN

           Tumbuh kembang tidak hanya dipengaruhi pada perubahan fisik seperti tinggi badan dan berat badan, arti kata pertumbuhan sendiri merupakan suatu konsep bertambahnya ukuran atau jumlah sel yang mendukung bertambahnya ukuran berat, panjang, dan volume pada organ tubuh. Untuk itu orang tua harus terus mendukung perkembangannya baik itu dengan memberikan asupan gizi yang baik, dan menjaga kondisi sosial dan lingkungan yang positif untuk anak.

 

7.      Menjaga Anak dari Pengaruh Media

           Perkembangan era digital dan media kini semakin pesat. Anak-anak tidak lagi menerima informasi positif dari suguhan tayangan media. Informasi negatif yang yang belum sepantasnya diketahui anak kini diterima dengan sangat bebas. Untuk itu orangtua harus mencegah dampak negatif media dari anak-anak. Seperti yang dimuat dalam buku Menjadi Orangtua Hebat terbitan BKKBN, berikut kiat melindungi anak dari pengaruh media.

           Pertama, adanya pembatasan waktu dan aturan yang jelas mengenai lamanya menonton televisi, kapan dan jenis-jenis tayangan yang sesuai usia anak.

           Kedua, mengarahkan anak dari kegiatan lain, seperti olahraga, membaca, kegiatan budaya, kursus dan lain sebagainya.

           Ketiga, orangtua mendampingi anak saat menonton tayangan televisi dan menjadikan tontonan sebagai sebuah media pembelajaran.

           Keempat, menghindari anak dari tontonan televisi yang mengajarkan pacaran dan tayangan yang dapat merangsang nafsu seksual.

 

ULASAN

           Perkembangan dunia digital yang semakin pesat membuat kita dengan mudah mengakses berbagai informasi. Dan karena dampak dari corona juga membuat kita harus bisa mengakses berbagai hal didalam gadget kita, baik itu orang dewasa maupun anak-anak. Di jaman sekarang sudah tak heran lagi jika anak-anak menggunakan gadget nya di depan umum, maka dari itu kontrol orang tua harus ada disini. Orang tua harus selalu memantau apa yang dilakukan anaknya, terlebih lagi akses dunia digital bukan hanya berdampak positif melainkan ada dampak positifnya juga, jadi sebagai orangtua bijak seharusnya lebih membatasi anaknya untuk bermain gadget dan mengajak anak nya untuk bermain diluar agar tidak terlalu terfokus pada gadget nya.

 

8.      Menjaga Kesehatan Reproduksi Balita

           Berbagai hal berkaitan dengan pembahasan masalah kesehatan reproduksi, baik bagi balita (pra sekolah), anak sekolah (6 - 12 tahun), remaja (10 - 19 tahun) maupun orang dewasa sudah banyak dilakukan.

           Bahkan diberbagai sekolahpun saat ini sudah mulai diberikan mata pelajaran yang terkait dengan kesehatan reproduksi, ini kabar yang menggembirakan tentunya tinggal bagaimana mengemasnya kedalam bagian dari kurikulum di sekolah.

           Merawat kesehatan reproduksi balita memang sangat penting, karena membutuhkan peran orang tua dalam meningkatkan derajad kesehatan secara menyeluruh, baik organ fisik, mental dan sosial balita.

           Peran yang bisa diambil orang tua adalah berupa bagaimana merawat, menjaga, mengasuh, memelihara, membesarkan anak balitanya agar tumbuh dan berkembang secara sehat.

           Pendidikan seksualitas perlu dihadirkan juga pada balita yang menyangkut pengenalan identitas diri dan jenis kelamin, hubungan antara laki-laki dan perempuan, organ-organ reproduksi dan fungsinya, bagaimana merawat kesehatan, menghindarkan diri dari kekeran seksual dan sebagainya

           Langkah-Langkah Mengajarkan Pendidikan Seksual pada anak

§  1-2 tahun

     Sejak anak masih bayi, orang tua sudah mengenalkan seks secara dasar kepada anak melalui pengenalan jenis kelamin dirinya sendiri atau orang lain, contohnya dengan mengatakan bahwa mama, nenek, dan tante itu adalah perempuan, sedangkan papa, kakek, dan om itu adalah laki-laki. Hal tersebut sudah cukup menjelaskan pada anak tentang perbedaan antara pria dan wanita.

     Setelah anak berusia 2 tahun, biasanya perbendaharaan kata-katanya sudah lebih banyak dan ia sudah mulai bisa berbicara. Pada saat ini, tahapan pengenalan tentang pendidikan seks bisa ditingkatkan, misalnya dengan memberitahu nama alat kelamin kepada anak.

     Dalam memberitahu nama alat kelamin pada anak, sebut sesuai nama sebenarnya, tanpa istilah-istilah lain yang tidak ada hubungannya dan hanya akan membingungkannya. Setelah penyebutan nama, beritahu juga anak bahwa alat kelamin merupakan sesuatu yang harus dijaga dengan baik dan tidak boleh disentuh oleh orang lain, selain diri mereka sendiri. O juga mulai ajarkan cara menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin mereka.

§  3-5 tahun

     Di rentang usia ini, Si Kecil biasanya sudah mengerti tentang perbedaan jenis kelamin. Mereka juga akan banyak menanyakan perihal seputar seks. Penjelasan sederhana tentang seks pada anak merupakan kewajiban orang tua. Jadi Anda tidak perlu menunggu hingga muncul pertanyaan darinya dan baru memberikan jawaban.

     Penjelasan bisa Anda lakukan, misalnya sambil memandikan Si Kecil. Ajarkan ia membersihkan kelaminnya dengan benar atau larang ia memainkan alat kelaminnya karena bisa menyebabkan lecet.

     Di samping itu, Anda juga harus memberitahu Si Kecil batasan-batasan dalam memperlakukan temannya, sehingga mereka bisa bersikap sopan satu sama lain. Misalnya, tidak mengangkat gaun atau rok teman perempuan, tidak menurunkan celana teman laki-laki atau perempuan, dan tidak mendorong teman hingga jatuh. Sedangkan untuk mengungkapkan rasa sayang pada teman, Si Kecil boleh menggandeng tangan mereka.

 

ULASAN :

           Mengajarkan edukasi terhadap alat reproduksi tidak hanya dilakukan guru di sekolah, orang tua juga harus mengajarkan edukasi terhadap anak nya dari usia sedini mungkin agar si anak tahu cara merawat dan tahu hal-hal apa saja yang harus dan tidak baik untuk kesehatan alat reproduksi nya.

 

9.      Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

           Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual).

           Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.

           Usia dini merupakan masa kritis. Konsisten bentukan karakter seseorang, penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mengkin kepada anak-anak adalah kunci utama membangun bangsa. Menurut para pakar penelitian anak dalam perkembangan otak manusia (neouroscience) apabila pada usia dini pada anak tidak diberi pendidikan, pengasuhan, stimulasi yang baik maka akan berpengaruh terhadap struktur perkembanagn otaknya, hal ini terjadi karena perkembangan otak amat pesat terjadi pada usia dibawah 7 tahun dimana 90 persen otak sudah terbentuk pada usia ini.

           Karakter berasal dari kata yunani charassein yang berarti mengukir sehingga terbentuk suatu pola artinya memiliki karakter yang baik adalah tidak secara otomatis dimiliki setiap manusia begitu ia dilahirkan tetapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dapat terwujud jika anak tumbuh dilingkungan yang berkarakter, fitrah anak yang terlahir suci dapat dikembangakan secara optimal, ini memerlukan peran serta semua pihak keluarga, sekolah dan seluruh komponen yang ada dalam masyarakat contoh lembaga keagamaan, perkumpulan olah raga, komunitas bisnis dan lain-lain. Oleh karena itu pendidikan karakter disekolah terutama usia TK dan SD juga perlu dilakukan tentunya sesuai dengan tahap perkembangan umur anak.

           Seperti yang telah dijelaskan diatas, karakter anak bisa dibentuk dan dibangun sejak usia dini, tidak peduli riwayat orang tua anak tersebut, jika anak dididik dan dibimbing dengan sangat baik maka sangat besar kemungkinan sifat dan sikap orang tua yang tidak patut ditiru dan diturunkan bisa dihilangkan dari anak. Dan berikut beberapa tips bagaimana membentuk karakter anak yang baik dan berkualitas:

·         Konsisten

     Orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab terhadap keadaan anak, begitu juga dalam membangun karakter anak. Orang tua memiliki peranan yang sang penting. Untuk itu dalam membangun dan membentuk karakter anak, orang tua juga harus memiliki perilaku yang baik, mulai dari cara berbicara sampai tingkah laku harus baik dan orang tua harus menerapkan semua itu dihadapan atau dibelakang anak dengan baik

·         Berkelanjutan (Continue)

     Dalam membangun dan membentuk karakter anak, orang tua tidak hanya menerapkan konsistensi anak dalam berperilaku yang hanya dilakukan pada waktu dan keadaan tertentu saja. Akan tetapi untuk menumbuhkan dan melekaktkan karakter ini kepada anak maka orang tua harus melakannya secara terus menerus, berkelanjutan dan berkesinambungan

     Tentunya dalam menerapkan ini dilakukan dengan cara membimbing yang baik, pola asuh yang benar dan pendidikan yang baik yang dilakukan sejak usia dini sampai usia dewasa. Dan proses ini juga harus disesuaikan dengan perubahan usia anak, semakin dewasa anak maka pembentukan karakter semakin bertambah namun jika karakter baik sudah tertanam sejak usia dini maka dengan sendirinya anak akan mengikuti karakter yang ada dalam dirinya tersebut

·         Konsekuen

     Tidak selamanya apa yang diberikan orang tua kepada anak berjalan dengan baik, tentu ada hal-hal kencil yang bisa membuat kedua berada dalam satu argumen dan pertentangan. Untuk itu jika anak berbuat salah, maka orang tua harus tetap memberikan pelajaran kepada anak-anak, hal ini bertujuan untuk mengajarkan rasa tanggung jawab dan memahami tentang sebuah kesalahan dan hukuman.

 

ULASAN

           Keluarga merupakan lingkungan pertama untuk mengembangkan karakter pada anak, dan merupakan contoh/ role model terbaik untuk anak, karakter anak bisa dibentuk dan dibangun sejak usia dini, tidak peduli riwayat orang tua anak tersebut, jika anak dididik dan dibimbing dengan sangat baik maka sangat besar kemungkinan sifat dan sikap orang tua yang tidak patut ditiru dan diturunkan bisa dihilangkan dari anak

 

Hasil diskusi kelompok 5

1.      Pertanyaan : Apa saja hambatan dalam pembentukan karakter pada anak usia dini di dalam keluarga? (Kharisma Prameswari)

Penjawab : Jihan fahira Al habsyi

Jawaban :

Perkembangan media masa kini sangat pesat. Namun, tentunya ada dampak positif dan negatifnya. Media televisi, koran, internet, hiburan di lingkungan sekitar yang mudah diakses dan tanpa adanya filter yang mampu menyaring tanyangan tersebut juga turut berkontribusi dalam perkembangan karakter anak. Dari pengalaman orangtua menjelaskan bahhwa keberadaan tayangan televisi saat ini lebih intensif jika dibandingkan pengamanan dari orangtua.

Dalam lingkungan luar rumah, seorang anak memiliki banyak teman dan ruang gerak yang berbeda jika dibandingkan ketika anak berada di rumah. Perbedaan yang mencolok tersebut akan memicu tingkah laku yang unik dari anak. Banyak anak yang menjadi hiperaktif ketika berada di dekat teman sebayanya, bahkan cenderung meniru sikap teman-temannya, tanpa bisa membedakan mana yang baik dan buruk.

Hambatan lain yang dialami oleh orangtua adalah kebiasaan berperilaku sopan-santun yang sudah mulai luntur. Kebiasaan ini sudah tergantikan dengan kebiasaan yang konon katanya disebut "modern". Bahasa yang digunakan pun sudah jauh dari definisi sopan dan santun. Anak lebih mudah menirukan kebiasaan seperti ini dari lingkungan sekitar.

 

2.      Pertanyaan : Apa saja menghambat delay pada perkembangan anak? (Nabila dwi puspita)

Penjawab: Putri Zahara

Jawaban :

1)      Sering ajak Si Kecil mengobrol

Mengobrol dengan Si Kecil merupakan salah satu terapi anak Speech Delay yang cukup efektif. Selain itu, cara ini juga dapat meningkatkan keakraban antara Bunda dan Si Kecil.

2)      Membacakan cerita

Salah satu cara mengatasi Speech Delay pada anak dapat dilakukan dengan membacakan cerita atau dongeng yang dilengkapi gambar-gambar menarik. Hal ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan daya imajinasi dan menambah kosakata Si Kecil.

3)      Batasi screen time

Seiring perkembangan teknologi, terkadang gadget menjadi benda yang sulit sekali dipisahkan dari Si Kecil. Tapi ternyata, penggunaan gadget yang berlebihan pada anak dapat menurunkan kemampuan bicaranya.

4)      Konsultasi dengan dokter/tenaga ahli

Ketika Si Kecil belum mulai mengoceh atau tidak belum berkata apapun pada usia 1 tahun, sebaiknya Bunda membawa Si Kecil ke dokter spesialis anak atau psikolog anak untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

 

3.      Pertanyaan : menurut kelompok 5 Bagaimana cara menanamkan nilai kepada anak saat karakter anak sudah terbentuk? (Naila)

Penjawab : Laila

Jawaban :

Karakter pada anak itu tentunya berbeda-beda. Ada anak yang karakternya sudah terbentuk tanpa disadari. Untuk menanamkan nilai pada anak yang karakternya sudah terbentuk adalah dengan cara memberi pengertian pada anak agar karakternya tersebut tidak mengarah pada keburukan. Orangtua harus senantiasa membimbing dan mendidik anaknya untuk selalu mengembangkan diri dalam hal kebaikan

 

Kelompok 2 Penyelaras

1.      Pertanyaan : menurut kelompok 5 Bagaimana cara menanamkan nilai kepada anak saat karakter anak sudah terbentuk? (Naila)

Penyelaras : Harum

Dengan cara orang tua memberikan nilai2 karakter sesuai dengan karakter yg sudah terbentuk didalam diri anak, agar anak tersebut tidak hanya membentuk karakter dengan cara sendiri walaupun karakter itu adalah fondasi namun anak juga harus memounyai nilai yang diberikan oleh ortu untuk pegangan dalam karakter nya

 

Penyelaras kelompok 1

1.      Pertanyaan : menurut kelompok 5 Bagaimana cara menanamkan nilai kepada anak saat karakter anak sudah terbentuk? (Naila)

Penyelaras : Endah

Tambahan  mengenai Pembentukan karakter anak apabila karakternya sudah terbentuk, mungkin sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan saja, agar anak dapat mengendalikan dan mengolah emosinya dengan baik

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Samhis Setiawan. 2021. Pengertian Keluarga. Diakses pada 4 Oktober 2021, dari  https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-keluarga/

Hanif Sri Yulianto. 2021. Penjelasan 8 Fungsi Keluarga yang Wajib Diketahui. Diakses pada 4 Oktober 2021, dari  https://www.bola.com/ragam/read/4485007/penjelasan-8-fungsi-keluarga-yang-wajib-diketahui

Dr. Suparyanto, M.Kes. 2011. Pengertian Keluarga. Diakses pada 6 Oktober 2021, dari  http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/10/pengertian-keluarga.html

M. Syahran Jailani. Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Diakses pada 20 Oktober 2021, dari https://media.neliti.com/media/publications/publications/56713-ID-teori-pendidikan-keluarga-dan-tangung-ja.pdf

Hery Noer Aly. 2008. Watak Pendidikan Islam. Diakses pada 20 Oktober 2021, dari http://repository.uinbanten.ac.id/2176/5/BAB%20III%20Revisi.pdf

Sofyan Basir. 2019. Membangun Keluarga Sakinah. Diakses pada 26 Oktober 2021, dari https://core.ac.uk/download/pdf/327171681.pdf

Novi Puji Astuti. 2021. Parenting adalah Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak, Kenali Jenis-jenisnya. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://www.merdeka.com/jabar/parenting-adalah-pola-asuh-orang-tua-terhadap-anak-kenali-jenis-jenisnya-kln.html

BKKBN. 2020. 6 Langkah Persiapan Menjadi Orangtua. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://siapnikah.org/6-langkah-persiapan-menjadi-orangtua/

http://etheses.iainkediri.ac.id/2134/3/932104816%20BAB%20II.pdf

Sri Muliati Abdullah. Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak (Paternal Involvement): Sebuah Tujuan Teoritis. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://fpsi.mercubuana-yogya.ac.id/wp-content/uploads/2012/06/Keterlibatan-Ayah-dalam-Pengasuhan-Anak.pdf

Vessy Frizona. 2016. Kiat Menjaga Anak dari Pengaruh Media. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://lifestyle.okezone.com/read/2016/07/08/196/1433894/kiat-menjaga-anak-dari-pengaruh-media

dr.Gabriella Florencia. 2019. Begini Cara Optimalkan Tumbuh Kembang Anak di Periode Emas. Diakses pada 9 Desember 2021, darii https://www.halodoc.com/artikel/begini-cara-optimalkan-tumbuh-kembang-anak-di-periode-emas

Pemkab Kulonprogo. 2016. Edukasi Perawatan Kesehatan Reproduksi Balita. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://kulonprogokab.go.id/v31/detil/4475/edukasi-perawatan-kesehatan-reproduksi-balita

Susanto Wibowo. 2019. Pentingnya Menjaga Kesehatan Seksual Pada Anak. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://motherandbeyond.id/read/12905/pentingnya-menjaga-kesehatan-seksual-pada-anak

dr. Nia Karnia,SpA.,MKes. 2006. Stimulasi Tumbuh Kembang Anak Untuk Mencapau Tumbuh Kembang Yang Optimal. Diakses pada 9 Desember 2021, dari http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/02/stimulasi_tumbuh_kembang_anak_optimal.pdf

Kamilia Khusna. 2017. Membangun Karakter Anak Usia Dini. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://www.kompasiana.com/kamiliakhusna/5938af12d192738622546bf8/membangun-karakter-anak-usia-dini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengelolaan Pemberdayaan Masyarakat

  RESUME PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Disusun oleh, Putry Anjani  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS KEGURU...