LAPORAN MATERI PERKULIAHAN
PENDIDIKAN KELUARGA DAN PARENTING
Disusun
Untuk Memenuhi Tugas Individu
Mata
Kuliah : Pendidikan Keluarga dan Parenting
Disusun
oleh,
Putry
Anjani
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Laporan Materi Perkuliahan Pendidikan Keluarga dan
Parenting.
Tugas
Laporan Materi Perkuliahan ini berisi pembahasan mengenai materi perkuliahan yang di dalamnya
memaparkan berbagai macam pembahasan mengenai apa saja yang terdapat didalam mata kuliah Pendidikan Keluarga dan Parenting.
Kami mengucapkan terimakasih kepada ... selaku dosen mata kuliah Pendidikan Keluarga dan Parenting yang telah memberikan
tugas untuk membuat laporan
perkuliahan serta memberikan bimbingan dalam penyusunan.
Disamping itu kami
menyadari bahwa laporan
perkuliahan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat
di harapkan untuk perbaikan laporan
materi perkuliahan ini kedepannya. Semoga laporan materi
perkuliahan ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca.
Karawang, 27 Desember
2021
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER
B. Bentuk-bentuk Keluarga Berdasarkan
Pandangan Para Ahli
A. Pengertian Pendidikan Keluarga
D. Pembangunan Keluarga SAMAWA
F. Contoh Praktik Baik “Sebuah
Keluarga”
B. Penjelasan tentang pentingnya
parenting untuk memahamkan penanggungjawab keluarga.
3. Memahami Konsep Diri Orang Tua
5. Mendorong Tumbuh Kembang Anak
6. Membantu Tumbuh Kembang Balita
7. Menjaga Anak dari Pengaruh Media
8. Menjaga Kesehatan Reproduksi Balita
9. Membentuk Karakter Anak Sejak Dini
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak yang
memberikan dukungan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik anak
dalam kehidupannya.
Dilihat dari segi pendidikan, keluarga merupakan satu
kesatuan hidup (sistem nasional), dan keluarga menyediakan situasi belajar.
Sebagai satu kesatuan hidup bersama (sistem sosial), keluarga terdiri dari
ayah, ibu, dan anak. Ikatan kekeluargaan membantu anak mengembangkan sifat
persahabatan, cinta kasih, hubungan antar pribadi, kerja sama, disiplin,
tingkah laku yang baik, serta pengakuan akan kepribadian.
B.
Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan materi
perkuliahan pendidikan keluarga dan parenting ini adalah sebagai berikut:
1. Memenuhi
tugas perkuliahan pendidikan keluarga dan parenting
2. Mengetahui
pengertian keluarga dari pandangan para ahli
3. Mengetahui
bentuk-bentuk keluarga berdasarkan pandangan para ahli
4. Mengetahui
hubungan keluarga
5. Mengetahui
fungsi dari keluarga
6. Mengetahui
peran dalam keluarga
7. Mengetahui
pengertian pendidikan keluarga
8. Mengetahui
pendidikan di keluarga
9. Mengetahui
pendidikan berkeluarga
10. Mengetahui
pembangunan keluarga yang SAMAWA
11. Mengetahui
kehidupan keluarga
12. Mengetahui
dan menuliskan contoh praktik baik sebuah keluarga
C.
Ruang Lingkup
Penulisan laporan ini mempunyai ruang lingkup sebagai
berikut:
1. Hubungan
manusia dengan Tuhan nya
2. Hubungan
manusia dengan manusia
3. Hubungan
manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya
BAB II
KONSEP KELUARGA
A.
Pengertian Keluarga
1. Departeman
Kesehatan RI (1988)
Keluarga
merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan
beberapa orang yang berkumpul dan yinggal di suatu tempat dibawah satu atap
dalam keadaan saling ketergantungan.
2. BKKBN
(1999)
Keluarga
adalah dua orang atau lebih yang dibentuk berdasarkan ikatan perkawinan yang
sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materil yang layak, bertakwa
kepada Tuhan, memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antara anggota
keluarga dan masyarakat serta lingkungan.
3. UU
No.10 tahun 1992
Keluarga
adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami istri dan anaknya
atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.
4. Raisner
(1980)
Keluarga
adalah sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang
masing-masing mempunyai hubungan
kekerabatan yang terdiri dari bapak , ibu , adik dan kakak , nenek.
5. Spradley
dan Allender ( 1996)
Keluarga
adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari individu-individu yang bergabung
dan berinteraksi secara teratur antara
satu dengan yang lain yang di wujudkan dengan adanya saling ketergantungan dan
berhubungan untuk mencapai tujuan bersama.
ULASAN
:
Pengertian keluarga
Keluarga adalah
unit terkecil dari suatu masyarakat yang tinggal dan berkumpul di satu atap,
yang saling berinteraksi dan saling ketergantungan antara satu anggota keluarga
dengan anggota keluarga yang lainnya.
B.
Bentuk-bentuk Keluarga Berdasarkan Pandangan
Para Ahli
1. Keluarga
Inti
Keluarga
inti (nuclear family), yaitu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak
yang diperoleh dari keturunan atau adopsi maupun keduanya.
2. Keluarga
Asal
Keluarga
asal (family of origin), merupakan suatu unit keluarga tempat asal seseorang
dilahirkan.
3. Keluarga
Besar
Keluarga
besar (ekstended family), yaitu keluarga inti ditambah dengan sanak saudaranya,
misalnya kakek, nenek, keponakan, paman, bibi, saudara sepupu, dan lain
sebagainya
4. Keluarga
Berantai
Keluarga
Berantai, yaitu keluarga yang terbentuk karena perceraian dan/atau kematian
pasangan yang dicintai dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali
dan merupakan suatu keluarga inti.
5. Keluarga
Duda atau Janda
Keluarga
duda atau janda ( single family ), keluarga yang terjadi karena perceraian
dan/atau kematian pasangan yang dicintai.
6. Keluarga
Komposit
Keluarga
berkomposisi (composite) yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami dan
hidup secara bersama-sama.
7. Keluarga
Kohabitasi
Keluarga
kohabitasi ( Cohabitation ), dua orang menjadi satu keluarga tanpa pernikahan,
bisa memiliki anak atau tidak. Di Indonesia bentuk keluarga ini tidak lazim dan
bertentangan budaya timur. Namun, lambat laun, keluarga kohabitasi ini mulai
dapat diterima.
8. Keluarga
Inses
Keluarga
inses (incest family), seiring dengan masuknya nilai-nilai global dan pengaruh
informasi yang sangat dahsyat, dijumpai bentuk keluarga yang tidak lazim,
misalnya anak perempuan menikah dengan ayah kandungnya, ibu menikah dengan anak
kandung laki-laki, paman menikah dengan keponakannya, kakak menikah dengan adik
dari satu ayah dan satu ibu, dan ayah menikah dengan anak perempuan tirinya.
Walaupun tidak lazim dan melanggar nilai-nilai budaya, jumlah keluarga inses
semakin hari semakin besar. Hal ini dapat kita cermati melalui pemberitaan dari
berbagai media cetak dan elektronik.
9. Keluarga
Tradisional dan Non Tradisional
Keluarga
tradisional dan nontradisional, dibedakan berdasarkan ikatan perkawinan.
Keluarga tradisional diikat oleh perkawinan, sedangkan keluarga nontradisional tidak
diikat oleh perkawinan. Contoh keluarga tradisional adalah ayah-ibu dan anak
hasil dari perkawinan atau adopsi. Contoh keluarga nontradisional adalah
sekelompok orang tinggal di sebuah asrama
ULASAN
:
Keluarga Duda/Janda
(Single Family)
Keluarga
duda/janda (single family) adalah orang tua yang memelihara dan membesarkan
anak-anaknya tanpa adanya kehadiran dari pasangannya, mereka melakukan 2 tugas
sekaligus yaitu sebagai ayah dan ibu dari anak-anaknya seorang diri, karena
kehilangan/terpisah dengan pasangannya.
Single
family sendiri dapat terjadi disebabkan oleh 2 hal, baik itu yang disengaja
(diinginkan) seperti perceraian maupun yang tidak disengaja (tragedi) seperti
kematian pasangannya.
Didalam
sebuah keluarga terdapat sosok ayah, ibu dan anak sebagai satu kesatuan utuh
yang saling melengkapi satu sama lainnya. Berbeda dengan single family terlihat
jelas adanya ketidaklengkapan dalam jumlah anggota keluarga nya, seperti tidak
adanya ayah sebagai kepala keluarga atau tidak ada sosok ibu yang kehadirannya
selalu dirindukan dirumah. Akibat dari ketidaklengkapan tersebut maka pada
akhirnya akan mengubah tatanan fungsi didalam keluarga tersebut.
Secara
otomatis keluarga dalam single family memiliki 2 peranan ganda sekaligus yaitu
menjadi sosok ayah dan ibu untuk anak-anaknya. Mereka memberi nafkah bagi anak
yang ditanggungnya, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk mengasuh anaknya.
Mereka harus bisa melakukan keduanya dalam keadaan seimbang antara mencari
nafkah dan menjadi pengasuh bagi anak-anaknya. Apabila salah satu dari itu
tidak seimbang maka akan berdampak buruk bagi anaknya. Misalnya seorang
ayah/ibu (janda/duda) yang terlalu sibuk untuk bekerja, tidak ada waktu luang
dan mengabaikan anak-anak nya dapat menyebabkan dampak buruk bagi anak yang di
asuh nya.
Keluarga Inti
Keluarga inti
adalah unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan inti dari sebuah keluarga
yang mempunyai fungsi-fungsi tertentu, terdiri dari ayah, ibu dan anak.
C.
Hubungan Keluarga
1. Hubungan
Suami dan Istri
Dalam
kehidupan keluarga, pola hubungan antara suami-istri sangat vital, karena kedua
tokoh itu menduduki posisi kunci kehidupan keluarga tersebut. Hubungan
suami-istri tumbuh dan berkembang sejak perkenalan hingga dikukuhkan melalui
pernikahan yang diserahkan kepada terciptanya suatu kehidupan keluarga yang
tenang tenteram penuh kedamaian, diliputi rahmat dan kasih sayang. Pola, corak
dan kualitas pun berkembang seiring perkembangan kehidupan keluarga itu sendiri
2. Hubungan
Orang Tua Dengan Anak
Komunikasi
antara orangtua dengan anak sewaktu-waktu dapat beralih menjadi komunikasi
edukatif. Dalam peralihan ini orangtua sebagai pendidik yang aktif. Pelaksnaan
komunikasi edukatif yang dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara dengan mottonya:
hing ngarso sung tulada, hing madya mangun karsa, tut wuri handayani.
Komunikasi
edukatif itu menyiratkan adanya empati dan identifikasi antara orang tua
sebagai pendidik dengan anak sebagai terdidik, secara timbal balik, di mana
pendidik menginginkan yang terbaik bagi anak didiknya dalam suasana kasih
sayang. Akan tetapi pendidik tidak berpresentasi bahwa ia dapat mengubah dan
membentuk anak didik sekehendak hatinya.
3. Hubungan
Anak Dengan Anak
Komunikasi
antar anak dengan anak berlangsung seirama dengan tahapan perkembangan
pribadinya. Melalui permainan yang merupakan dunia anak, mereka menemukan
adanya aturan dan keteraturan dalam bermain bersama dan kehidupan bersama, yang
mempradugakanya adanya komunikasi dan saling mempercayai di antara mereka
dengan mengakui dan menghormati peran mereka masing-masing dalam permainan
bersama dan kehidupan bersama itu.
4. Hubungan
Anak Dengan Lingkungan
Anak-anak
menangkap dan menemui serta berkomunikasi dengan lingkungan dan dunianya
selaras dengan perikeadaannya sebagai anak yang sedang berkembang, sehingga
persepsinya terhadap lingkungan dan dunianya itu berbeda dengan persepsi orang
dewasa.
5. Hubungan
Anak Dengan Tetangga
a) Pola
hubungan yang tertutup.
Suatu
keluarga “menutup diri” terhadap tetangganya, sepertinya tidak mau tahu tentang
tetangganya dan tidak mengadakan hubungan dengan mereka, sehingga mereka nampak
mengisolasi diri terhadap tetangganya dan orang lain yang tidak berurusan
dengannya. Atau mungkin mereka tidak
bermaksud demikian, hanya sekedar ingin membatasi diri dalam hubungannya dengan
tetangganya.
b) Pola
hubungan yang terbuka
Pola yang terbuka ditemukan manakala antar
keluarga terdapat hubungan yang akrab sehingga di antara mereka bukan
sekedar saling mengenal, melainkan
bahkan saling memperhatikan. Kehidupan suatu keluarga sepertinya “transparan”
atau tembus pandang bagi tetangganya dan mereka saling perduli satu sama lain.
Pola terbuka manakala antara para keluarga tidak dirasakan ada suatu banteng
pemisah , entah dalam bentuk perbedaan stratifikasi atau perbedaan kemampuan ekonomis, disebut
Tonnies dengan istilah Gemeninschaft.
6. Hubungan
Anak Dengan Tuhan
Kesadaran
manusia akan aturan dan keteraturan yang ditemukannya di dunia yang tidak dapat
ditembusnya begitu sja, menyadarinya pula akan kemampuan dan ketidakmampuannya
dan akan kedudukannya di dunia ini. Banyak perstiwa dalam kehidupan keluarga
khususnya, yang di luar perhitungan dan kemauan dan bahkan tidak
terpikirkannya. Hal ini menyadarkan mereka akan adanya suatu kekuatan dan
kekuasaan di luar dirinya yang akhirnya menuntunnya ke arah kehidupan religius.
ULASAN
:
Hubungan anak dengan
lingkungan
Lingkungan
merupakann salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak.
Lingkungan mempengaruhi perkembangan karakter pada anak. Bila anak tumbuh dan
berkembang di lingkungan yang baik, santun, dan taat beragama maka anak pun
akan tercetak menjadi pribadi yang baik. Tetapi sebaliknya, pengaruh buruk dari
lingkungan juga merupakan kebiasaan yang mudah menular, oleh karena itu orang
tua harus benar-benar memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap anak.
Keluarga
merupakan lingkungan pertama anak pada masa tumbuh kembangnya. Orang tua
menjadi role model pertama yang akan ditiru oleh anak-anaknya, oleh karena itu
penting untuk orang tua menjaga sikapnya didepan anak-anaknya. Sikap yang baik
dari orang tua akan turut serta menanamkan kebiasaan baik pada anak-anaknya.
Kebiasaan baik ini lah yang akan ditanamkan kepada anak-anaknya.
Saat
menginjak usia sekolah, orang tua harus bisa menyadari betapa pentingnya
pengarush lingkungan sekolah terhadap anaknya. Walaupun berada diluar
lingkungan keluarga, orang tua harus selalu memperhatikan anak-anaknya seperti
bagaimana sikap dia di sekolah, dengan siapa dia berteman dan yang lainnya.
D.
Fungsi Keluarga
1. Fungsi
Keagamaan
Agama
adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Keluarga adalah tempat pertama penanaman
nilai-nilai keagamaan dan pemberi identitas agama pada setiap anak yang lahir.
Keluarga menumbuh kembangkan nilai-nilai agama sehingga anak menjadi manusia
yang berakhlak baik dan bertakwa.
Keluarga
mengajarkan seluruh anggotanya untuk melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan
dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melaksanakan fungsi agama tidak boleh
mengabaikan toleransi beragama karena keluarga Indonesia menganut kepercayaan
dan agama yang beragam
2. Fungsi
Sosial Budaya
Keluarga
adalah wahana utama dalam pembinaan dan penanaman nilai-nilai luhur budaya yang
selama ini menjadi anutan dalam tata kehidupan.
Fungsi
sosial budaya memberikan kesempatan kepada keluarga dan seluruh anggotanya
untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu
kesatuan.
Dengan
demikian, nilai luhur yang selama ini sudah menjadi anutan dalam kehidupan
bangsa tetap dapat dipertahankan dan dipelihara. Keluarga menjadi wahana
pertama anak dalam belajar berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan
sekitarnya, serta belajar adat istiadat yang berlaku di sekitarnya.
3. Fungsi
Cinta Kasih
Cinta
dan kasih sayang merupakan komponen penting dalam pembentukan karakter anak.
Fungsi cinta kasih memiliki makna keluarga harus menjadi tempat untuk
menciptakan suasana cinta dan kasih sayang dalam kehidupan berkeluarga,
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Fungsi
cinta kasih dapat diwujudkan dalam bentuk memberikan kasih sayang dan rasa aman
serta memberikan perhatian di antara anggota keluarga.
Fungsi
cinta kasih dalam keluarga menjadi landasan yang kukuh terhadap hubungan anak
dengan anak, suami dengan istri, orang tua dengan anaknya, serta hubungan
kekerabatan antargenerasi sehingga keluarga menjadi wadah utama bersemainya
kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.
4. Fungsi
Perlindungan
Keluarga
adalah tempat bernaung atau berlindung bagi seluruh anggota dan tempat untuk
menumbuhkan rasa aman serta kehangatan. Adanya suasana saling melindungi,
keluarga harus menjadi tempat yang aman, nyaman. dan menenteramkan semua
anggotanya.
Jika
keluarga berfungsi dengan baik, keluarga akan mampu memberikan fungsi
perlindungan bagi anggotanya serta dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Keluarga
melindungi setiap anggotanya dari tindakan-tindakan yang kurang baik sehingga
anggota keluarga merasa nyaman dan terlindung dari hal-hal yang tidak
menyenangkan.
5. Fungsi
Reproduksi
Keluarga
menjadi pengatur reproduksi keturunan secara sehat dan berencana sehingga anak-anak
yang dilahirkan menjadi generasi penerus yang berkualitas.
Keluarga
menjadi tempat mengembangkan fungsi reproduksi secara menyeluruh, termasuk
seksualitas yang sehat dan berkualitas, dan pendidikan seksualitas bagi anak.
Keluarga
juga menjadi tempat memberikan informasi kepada anggotanya tentang hal-hal yang
berkitan dengan seksualitas. Melanjutkan keturunan yang direncanakan dapat
menunjang terciptanya kesejahteraan keluarga.
6. Fungsi
Sosialisasi dan Pendidikan
Keluarga
sebagai tempat utama dan pertama memberikan pendidikan kepada semua anak untuk
bekal masa depan. Pendidikan yang diberikan oleh keluarga meliputi pendidikan
untuk mencerdaskan dan membentuk karakter anak.
Fungsi
sosialisasi dan pendidikan memiliki makna bahwa keluarga sebagai tempat untuk
mengembangkan proses interaksi dan tempat untuk belajar bersosialisasi serta
berkomunikasi secara baik dan sehat. Dengan interaksi intensif dalam keluarga,
proses pendidikan berjalan dengan efektif.
Keluarga
menyosialisasikan kepada anak tentang nilai, norma, dan cara untuk
berkomunikasi dengan orang lain, mengajarkan tentang hal-hal yang baik dan
buruk maupun yang salah dan yang benar.
7. Fungsi
Ekonomi
Keluarga
adalah sebagai tempat utama dalam membina dan menanamkan nilai-nilai yang
berhubungan dengan keuangan dan pengaturan penggunaan keuangan untuk memenuhi
kebutuhan hidup dan mewujudkan keluarga sejahtera.
Keluarga
sebagai tempat untuk memperoleh makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan
materi lainnya serta memberikan dukungan finansial kepada anggotanya.
8. Fungsi
Pembinaan Lingkungan
Keluarga
memiliki peran mengelola kehidupan dengan tetap memelihara lingkungan di
sekitarnya, baik lingkungan fisik maupun sosial, dan lingkungan mikro, meso,
dan makro.
Keluarga
berperan untuk membina lingkungan masyarakat dan lingkungan alam sekitar.
Keluarga dan anggotanya harus mengenal tetangga dan masyarakat di sekitar serta
peduli terhadap kelestarian lingkungan alam.
Sikap
peduli keluarga terhadap lingkungan untuk memberikan yang terbaik bagi generasi
yang akan datang.
ULASAN
:
Fungsi Keagamaan
Keluarga
merupakan tempat pertama dimana agama diajarkan. Penanaman nilai-nilai agama
sangat erat kaiannya dengan penanaman akhlak kepada anak, oleh karena itu
keluarga wajib memperkenalkan dan mengajarkan nilai-nilai agama kepada
anak-anaknya sejak mereka masih kecil. Hal ini bertujuan untuk memberikan bekal
kepada anak untuk kehidupan di masyarakat ataupun di akhirat nanti. Dari semua
agama yang ada, semuanya mengajarkan tentang hal-hal yang baik, menuntun
umatnya untuk senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan-nya serta selalu berbuat
baik dan benar.
Peran orang tua sangat berpengaruh bagi tingkat keimanan
anaknya, melalui bimbingannya untuk lebih mengenal lagi siapa Tuhan-nya,
bagaimana sifat Tuhan-nya, dan bagaimana kewajiban kita terhadap Tuhan.
Penananman nilai-nilai keagamaan kepada anak juga harus
memperhatikan tingkatan usia, fisik maupun psikis anak supaya mereka lebih
mudah mencerna apa yang di ajarkan oleh orang tuanya.
Nilai agama sebagai penyaring suatu kebiasaan/ adat /
kebudayaan. Oleh karena itu, keluarga harus senantiasa mengajarkan dan
mengamalkan isi dari nilai-nilai keagamaan yang di anutnya, karena anak akan
mencontoh apa yang dilakukan oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Maka
dari itu sebagai orang tua harus selalu mengingatkan supaya anak selalu ingat
terhadap Tuhan-nya dan menjadikan Agama sebagai patokan untuk berbuat sesuatu.
Hasil
Diskusi
Kelompok
1 (Penyaji)
1) Shifa
Bagaimana menciptakan
pola pendidikan yang baik yang seharusnya orang tua berikan kepada anaknya?
Jawab :
Beberapa hal yang perlu
dilakukan orangtua untuk dapat memberikan pola pengasuhan yang baik pada anak
adalah:
a) Memberikan
pujian atas usaha yang sudah dilakukan.
b) Hindari
anak dari trauma fisik dan psikis.
c) Dukung
perkembangan anak dengan memberikan kasih sayang dan kehangatan.
d) Tidak
membandingkan anak dengan anak lain.
e) Tidak
otoriter.
f) Berikan
tanggung jawab.
g) Penuhi
kebutuhan gizi.
h) Menciptakan
lingkungan yang positif.
i) Aktif
berkomunikasi.
2) Harum
Bagaimana cara
menumbuhkan fungsi sosialisasi didalam hubungan keluarga?
Jawab:
Fungsi sosialisasi di
dalam lingkungan keluarga, anak mulai dilatih dan diperkenalkan cara-cara hidup
bersama dengan orang lain. Anak diajak memahami lingkungan yang lebih luas
sehingga pada saatnya nanti seorang anak benar-benar siap untuk hidup dalam
masyarakat. Anak diperkenalkan oleh orang tuanya mengenai norma seperti norma
agama, norma kesopanan, norma hukum dan norma kesusilaan. Fungsi sosialisasi
lainnya diajarkan menjalankan kehidupan yang sesuai dengan nilai dan norma
masyarakat.
3) Febriya
Apa kedudukan dan fungsi
agama dalam sistem budaya dan peradaban modern?
Jawaban :
Agama berfungsi sebagai
wadah untuk mengakomodasi dan memodifikasi kebudayaan supaya sesuai dengan
prinsip dan ajaran agama. Apabila sebuah kebudayaan tidak sesuai dengan ajaran
agama, maka kebudayaan tersebut sebaiknya tidak langsung dieliminasi begitu
saja melainkan diubah bagian-bagian yang tidak sesuai dan kemudian diselaraskan
dengan ajaran agama.
4) Indah
Bagaimana jika fungsi keluarga
salah satunya tidak berjalan dengan baik?
Jawaban:
Jika sebuah keluarga
tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya, tidak hanya anggota keluarga yang
bersangkutan yang menjadi tidak bahagia, namun berimbas pula pada karakter
generasi muda secara keseluruhan.
5) Fivo
Seberapa penting
pendidikan seksual bagi seorang anak?
Jawaban :
Mengajarkan pendidikan
seks kepada anak sejak dini bisa menjadi imun yang akan membantu anak untuk
membentengi diri dari risiko kekerasan maupun pelecehan seksual di kemudian
hari.Apalagi dengan semakin transparannya.
Sejak kecil anak-anak
harus diberikan edukasi seksualitas, kenapa tidak boleh atau dilarang melakukan
ini dan itu, apa yang harus dilakukan dan dijaga, supaya mereka punya
integritas diri, tahu ada bagian penting dari tubuhnya yang tidak boleh
dipegang orang lain atau diekspos.
Agar anak tumbuh menjadi
generasi muda yang berkualitas, ada baiknya orang tua memberikan informasi
seputar seks sejak dini.
6) Shifa
Mengapa keluarga berperan
penting dalam memperluas dampak buruk sosial?
Jawaban :
Keluarga adalah wadah
pertama dimana anak pertama kali menempuh pendidikan. Sehingga dari situlah
baik buruknya anak terbentuk, jika sebagai orang tua, mereka memberikan
pengaruh buruk bagi anak maka pengaruh yang diberikan kepada anak tersebut akan
berkembang ditengah masyarakat. Itulah kenapa keluarga memegang peran dalam memperluas
dampak buruk sosial.
7) Naila
Rizki
Bagaimana jika kesehatan
mental seorang anak dipengaruhi oleh keluarganya?
Jawaban :
Keluarga yang lengkap dan
fungsional akan dapat meningkatkan kesehatan mental para anggota keluarganya.
Keluarga lebih dekat hubungannya dengan anak dibandingkan dengan masyarakat
luas. Keluarga merupakan lingkungan yang sangat penting dari keseluruhan sistem
lingkungan, karena berpengaruh langsung terhadap individu dan merupakan
mikrosistem yang menentukan kepribadian dan kesehatan mental anak.
Kelompok
3
1) Pertanyaan
: Seberapa penting pendidikan seksual bagi seorang anak? (Fivo Atanta)
Penyelaras : Nabila Dwi
Puspita
Jawab
Pendidikan seksual harus
diajarkan anak dari usia dini dan mana yang boleh boleh dipegang mana yang
nggak boleh dipegang biar tidak kejahatan seksual.
2) Pertanyaan
: Bagaimana cara menumbuhkan fungsi sosialisasi didalam hubungan keluarga
(Harum Sumitra)
Penyelaras : Rahma Nurdita
Jawaban :
Berkomunikasi dengan baik
sesama anggota keluarga, berkomunikasi yang baik antar orang tua pun sangat
penting, karna dengan adanya komunikasi yang baik dengan orangtua, anak
mempunyai rasa percaya diri, selain itu orang tua mendidik anaknya dengan
pendidikan dan akhlak, sehingga saat anak mulai bisa bersosialisasi dengan
lingkungan luar, anak bisa bersikap dengan baik dilingkungan keluarga dan
lingkungan luar. Orangtua pun menanamkan rasa kasih sayang, dorongan agar
anaknya percaya diri, dan memberikan rasa aman dan nyaman didalam hubungan
antar keluarga.
3) Pertanyaan
: Bagaimana menciptakan pola pendidikan yang baik yang seharusnya orangtua
berikan kepada anaknya ( Nur Shifa)
Penyelaras : Mutiara
Carissima
Jawaban :
Bertukar cerita dengan
anak atau mendengarkan cerita keseharian anak selama disekolah, lalu orangtua
juga bisa memberikan apresiasi kepada anak atas keberhasilan dia selama di
sekolah dan juga orangtua bisa memahami bagaimana emosi anak anak dengan cara
memberikan waktu kepada anak untuk sendiri agar emosi nya bisa terkontrol
dengan baik lalu setelah itu orangtua bisa bertanya kepada anak nantinya.
Kelompok
5
1) Pertanyaan
: Mengapa keluarga berperan penting dalam memperluas dampak buruk sosial ? (Nur
Shifa Fauzia)
Penyelaras : Jihan Fahira
Jawaban :
Keluarga adalah wadah
pertama dimana anak pertama kali menempuh pendidikan. Sehingga dari situlah
baik buruknya anak terbentuk, jika sebagai orang tua, mereka memberikan
pengaruh buruk bagi anak maka pengaruh yang diberikan kepada anak tersebut akan
berkembang ditengah masyarakat. Itulah kenapa keluarga memegang peran dalam
memperluas dampak buruk sosial.
2) Pertanyaan
: Bagaimana menciptakan pola pendidikan baik yang seharusnya orang tua berikan
kepan anak? (Nur Shifa Fauzia)
Penyelaras : Putri Zahara
Jawaban :
Pola asuh yang baik kita
sebagai orang tua harus ikut serta dalam kegiatan anak harus bisa membagi waktu
anak membiarkan anak bermain tetapi mengingatkan anak untuk belajara juga, jadi
kita boleh membebaskan anak tetapi juga harus tau batasan nya agar anak
tersebut tidak merasa tertekan jika terus dituntut.
3) Pertanyaan
: Apa kedudukan dan fungsi agama dalam sistem budaya dan peradaban modern?
(Febriya Nurhidayah)
Penyelaras : Laila Ainu
Jawaban :
Agama yang berfungsi
untuk memodifikasi kebudayaan contohnya adalah ketika jaman dulu sering
menyiapkan sesajen untuk arwah2 leluhur kan tidak sesuai dengan ajaran agama.
nah pada peradaban modern dimodifikasi agar sesuai dengan ajaran agama, yaitu
jadi mendoakan yang sudah tiada.
4) Pertanyaan
: Bagaimana cara menumbuhkan fungsi sosialisasi dalam keluarga? ( Harum Sumitra
)
Penyelaras : Siti
Humairoh
Jawaban
Untuk menumbuhkan fungsi sosialisasi
dalam keluarga kita sebagai orang tua harus banyak melakukan interaksi bersama anak
anak kita interaksi nya dengan cara berkomunikasi, menjalin komunikasi yang
baik menyampaikan norma norma yang baik sehingga secara perlahan fungsi
sosialisasi akan bertumbuh dalam keluarga.
E.
Peran Keluarga
1. Peran
Istri
Ditinjau
dari kehidupan keluarga secara keseluruhan, ibu berperan sebagai “ratu rumah
tangga” yang mengemudikan bahtera rumah tangga. Oleh karena itu memegang
peranan yang sangat vital bagi terciptanya iklim keluarga yang baik, kondisi
dan situasi pendidikan keluarga yang harmonis. Pelaksanaan peranannya sebagai
ratu rumah tangga mencakup: tatalaksana kerumahtanggaan, makanan, dan busana.
Ketiga jenis tatalaksana tersebut saat ini telah menjadi bidang studi yang
cukup luas dan kompleks
Dalam
masyarakat modern, seorang istri juga dituntut untuk menunaikan tugasnya di
luar keluarga, realisasi peranan ratu rumah tangga mengalami perubahan yang
cukup mendalam. Sebab betapapun sang istri itu sudah bekerja di luar rumah,
namun “kehadirannya” di dalam keluarga tetap diperlukan. Saat ini peran istri menjadi berubah “multi
peran”, namun dalam melaksanakan tugasnya tetap dituntut berperan sebagai
wanita. Berperan sebagai wanita di keluarga, maka dalam kehidupan berkeluarga
memegang peranan mengandung dan melahirkan anak. Dalam hubungannya dengan anak,
wanita berperan sebagai seorang ibu yang menjadi pendidik pertama dan utama.
Ibu bagi anak merupakan lambang kasih yang abadi dan tidak tergantikan.
2. Peran
Suami
Dalam
kehidupan sehari-hari ayah berperan sebagai kepala keluarga.Ia memimpin
kehidupan keluarga pada umumnya dan bertanggungjawab terhadap seluruh kehidupan
keluarga. Sedangkan sang istri mengemban tugas mengelola rumah tangga.
Sang
suami ibarat nakhoda dan istri ibarat jurumudi bahtera rumah tangga. Anatar
keduanya ada pembagian kerja secara seimbang dan saling mengisi atau saling
melengkapi. Di bidang ekonomi keluarga suami lebih berperan dalam pengadaan dan
pengayaan dana keluarga atau pencari nafkah, sedang bu berperan sebagai
pengatur dana sehingga dapat dinikmati manfaatnya oleh seluruh keluarga. Suami
bertanggung jawab atas kelancaran
kehidupan keluarga dan kesejahteraan serta keselamatan seluruh keluarga. Peran
suami berperan sebagai pelindung keluarga lahir bathin dan terpenuhinya
kebutuhan dasar. Maslow memperkenalkan lima jenis kebutuhan dasar (basic need)
manusia, yaitu: (1) kebutuhan dasar
biologis, (2) kebutuhan dasar rasa aman; (3) kebutuhan
dasar cinta kasih; (4) kebutuhan dasar pengakuan status; (5) kebutuhan dasar
harga diri atau realisasi diri.
3. Peran
Anak
Anak
merupakan tokoh penting dalam keluarga.
Dalam sudut “segi tiga nan abadi suatu keluarga atau “The Eternal Triangle” anak menduduki peranan
penting. Orangtua rela melakukan atau memiliki sesuatu adalah untuk anak. Anak
tampil peranannya sebagai amanat Tuhan, oleh karena itu orangtua menerima dan
menjunjung tinggi peranan anaknya seperti itu. Namun sebaliknya anak juga
merupakan suatu fitnah atau ujian bagi orangtua dalam melaksanakan peranan
keorangtuaannya. Dalam peralihan selanjutnya anak berperan sebagai anak didik
4. Peran
Anggota Keluarga
Dalam
keluarga sering pula terdapat orang lain dengan peranannya masing-masing, seperti : pembantu, paman, bibi dan sebagainya. Sehingga keluarga tersebut menjai keluarga
besar (extended). Kehadiran serta peranan mereka dalam keluarga itu mewarnai
situasi dan iklim keluarga yang bersangktan serta mempengaruhi pula pengambilan
peranan. Hal ini memperkaya lalu lintas hubungan serta memperkaya jenis corak
peranan yang harus dimainkan oleh anggota keluarga dalam pelaksanaan pendidikan keluarga.
ULASAN
:
Peran anak
Setiap
anggota keluarga memiliki peranannya masing-masing, baik ayah, ibu, atau anak. Seiring
bertambahnya usia juga memungkinkan peranan anak akan mengalami perubahan.
Peran anak dalam keluarga juga mencakup beberapa hal, mulai dari menghormati
kedua orang tua, belajar yang giat, bersikap sopan, bertanggung jawab, dan lain
sebagainya.
BAB III
PENDIDIKAN KELUARGA
A.
Pengertian Pendidikan Keluarga
Pendidikan Keluarga adalah upaya pendidikan yang
dilaksanakan oleh keluarga dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia
dalam keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Parenting
atau pengasuhan sebagai proses interaksi berkelanjutan antara orang tua dan
anak-anak mereka. Proses parenting adalah sebagai berikut :
1) Interaksi
terus menerus antara anak, orang tua dan masyarakat
2) Anak
yang memiliki kebutuhan di saat yang sama memenuhi kebutuhan penting orang tua
3) Orang
tua bertanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya serta memenuhi kebutuhannya.
4) Masyarakat
bertindak sebagai dukungan atau tekanan yang kuat bagi anak dan orang tua
Abdullah (2003:232), pendidikan keluarga adalah segala
usaha yang dilakukan oleh orang tua berupa pembiasaan dan improvisasi untuk
membantu perkembangan pribadi anak.
(Mansur (2005:319) mendefinisikan pendidikan keluarga
sebagai proses pemberian positif bagi tumbuh kembangnya anak sebagai fondasi
pendidikan selanjutnya.
Ki-Hajar Dewantara (1961) salah seorang tokoh
pendidikan Indonesia, menyatakan bahwa alam keluarga bagi setiap orang (anak)
adalah alam pendidikan permulaan. Di situ untuk pertama kalinya orang tua (ayah
maupun ibu) berkedudukan sebagai penuntun (guru), sebagai pengajar, sebagai
pendidik, pembimbing dan sebagai pendidik yang utama diperoleh anak. Maka tidak
berlebihan kiranya manakala merujuk pada pendapat para ahli di atas konsep
pendidikan keluarga tidak hanya sekedar tindakan (proses), tetapi ia hadir
dalam praktek dan implementasinya, terus dilaksanakan oleh para orang tua
(ayah-ibu) akan nilai-nilai pendidikan dalam keluarga. Meskipun terkadang
secara teoritis harus diakui belum sepenuhnya dipahami, bahkan dalam kebanyakan
orang tua belum banyak tahu bagaimana sebenarnya konsep pendidikan keluarga
itu. Namun, tanpa disadari para orang tua (ayah-ibu) dalam praktek-prakteknya
keseharian, para orang tua telah menjalankan fungsi-fungsi keluarga dalam
pendidikan anak-anak, karena fungsi keluarga pada hakekatnya adalah sebagai
pendidikan budi pekerti, sosial, kewarganegaraan, pembentukan kebiasaan dan
pendidikan intelektual anak
Pendidikan Keluarga mengandung dua makna yang saling
bertautan :
1) Pendidikan
Keluarga mengandung makna pendidikan di dalam keluarga; yaitu pendidikan yang
berlangsung di dalam keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga
atau anak-anak yang menjadi tanggungan keluarga itu.
2) Pendidikan
Keluarga mengandung makna pendidikan tentang berkeluarga; yaitu pendidikan
tentang cara menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan
keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.
ULASAN :
Pendidikan keluarga adalah usaha yang
dilakukan orang tua atau orang yang lebih tua didalam keluarga kepada anak yang
memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter dan kecerdasan intelektual
anak. Karena, keluarga merupakan lingkungan pertama yang menanamkan norma,
mengembangkan berbagai kebiasaan dan perilaku yang penting bagi kehidupan anak
kedepannya.
B.
Pendidikan di Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat.
Dalam Pasal 1 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
kedudukannya ditegaskan sebagai lembaga pendidikan informal. Pada pasal
tersebut dinyatakan Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan
lingkungan.
Pendidikan keluarga adalah pendidikan yang dilakukan
orang tua sebagai pendidik utama dalam bentuk bantuan, bimbingan, penyuluhan
dan pengajaran kepada dirinya sendiri, anggota keluarga lain dan kepada
anak-anaknya, sesuai dengan potensi mereka masing-masing, dengan jalan
memberikan pengaruh melalui pergaulan antara mereka.
Sehingga anggota keluarga dan anaknya kelak dapat
hidup mandiri dan bertanggungjawab dalam lingkungan keluarga dan masyarakat
sesuai dengan nilai-nilai budaya yang berlaku dan agama yang dianutnya.
Parenting berasal dari kata “Parent” dan “Penting”.
Parent, berkait dengan bagaimana menjadi orang tua. Penting, meningkatkan
kualitas interaksi anak dengan orang tua. Mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Menghindarkan anak dari potensi perilaku menyimpang.
Jadi “Parenting” adalah cara orang tua bertindak
sebagai orang tua terhadap anak-anaknya, dimana mereka melakukan serangkaian
usaha aktif, karena keluarga merupakan lingkungan kehidupan yang dikenal anak
untuk pertama kalinya dan untuk seterusnya anak belajar di dalam kehidupan
keluarga
Pendidikan Keluarga mengandung dua makna yang saling
bertautan :
Pertama : Pendidikan Keluarga mengandung makna
pendidikan di dalam keluarga; yaitu pendidikan yang berlangsung di dalam
keluarga terhadap anak-anak yang lahir di dalam keluarga atau anak-anak yang
menjadi tanggungan keluarga itu.
Kedua : Pendidikan Keluarga mengandung makna
pendidikan tentang berkeluarga; yaitu pendidikan tentang cara menyelenggarakan
kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah,
warahmah.
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan
yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan
didikan dan bimbingan. Juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian
besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang
paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Tugas utama dari
keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan
akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar
diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.
Pendidikan informal, yaitu pendidikan keluarga secara
potensial berakar dari pergaulan biasa, khususnya antara orang tua dan anak
didik. Jadi, setiap pergaulan tersebut adalah suatu lapangan pesiapan untuk
berubah menjadi situasi pendidikan kegiatan mendidik dilandasi oleh nilai moral
tertentu. Dalam proses pendidikan setiap orang tua wajib mengembangkan potensi
anak didiknya, dan banyak tergantung dari suasana pendidikan bagaimana tugas
tersebut diwujudkan.
ULASAN :
Pendidikan yang pertama diawali dari keluarga.
Keluarga merupakan tempat pertama bagi pembentukan dan pendidikan anak.
Rumah adalah sekolah pertama yang dikenal oleh anak, dimana peran orang
tua dan keluarga lainnya disini sangatlah penting. Melalui orangtua dan
keluarga yang lainnya anak akan belajar mengenai nilai-nilai dan norma sebelum
anak memasuki jenjang sekolah. Keluarga di rumah harus memiliki bekal
mengenai berbagai macam informasi tentang pendidikan anak.
Keluarga harus memberikan teladan yang baik bagi
anak, karena anak usia dini adalah peniru yang baik. Mereka akan meniru
apa yang dilakukan orang tua atau orang terdekat disekitarnya. Apa yang dilihat
dan didengar anak akan ditiru oleh anak. Jadi sebagai orang tua atau
anggota keluarga yang lainnya harus lebih berhati-hati dalam perilaku maupun
perkataan.
C.
Pendidikan Berkeluarga
Dalam perspektif pendidikan, posisi keluarga menempati
peran yang cukup urgent dalam membentuk nilai karakter
(akhlak) dalam bermasyarakat, selain sekolah/madrasah dan lingkungan. Membangun
keluarga dengan ciri berpendidikan mungkin bukan perkara mudah, perlu usaha dan
komitmen tinggi dari semua komponen kunci dalam keluarga, suami/istri harus
menunjukkan peranannya secara proporsional dan profesional. Ketika peran-peran
tersebut bisa terejawantah dengan baik, niscaya ketenangan hidup (sakinah)
dapat terwujud.
Pendidikan Berkeluarga yaitu pendidikan tentang cara
menyelenggarakan kehidupan keluarga untuk mencapai kehidupan keluarga yang
Sakinah, Mawaddah, Warahmah.
Untuk sampai pada target keluarga Samawa dibutuhkan
sebuah kurikulum yang mampu mengarahkan (guide) dalam aktifitas kehidupan.
Secara umum, kurikulum adalah seperangkat atau sistem rencana dan pengaturan
mengenai isi dan bahan pembelajaran yang dipedomani dalam aktivitas belajar
mengajar, serta mengetahui hasil pembelajaran melalui evaluasi.
Minimal ada empat komponen yg dibutuhkan dalam
kirikulum, yaitu tujuan/target pencapaian, materi atau bahan ajar, proses atau
kegiatan pembelajaran, serta evaluasi proses dan hasil pembelajaran. Konsep
Samawa tentu butuh komponen kurikulum. Dalam perspektif kurikulum pendidikan
keluarga ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
Pertama, memperjelas tujuan/target kehidupan keluarga,
antara lain, keselamatan dunia akhirat (rabbana aatina fil dunna khasanah wafil
aalhiroti khasanah waqinaa ‘adza bannar), menjadi hamba yang selalu taat kepada
Allah dan Rasul-Nya, dan seterusnya.
Kedua, buat materi/bahan ajar kehidupan keluarga yang
dapat membangun kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup, antara duniawi
dan ukhrowi. Layaknya sebuah lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), keluarga
juga memerlukan materi ajar dalam proses pembelajaran. Bukan hanya sekedar
pencapaian pengetahuan (knowledge) melalui tawaran kumpulan materi ajar, tetapi
penanaman nilai positif, tradisi/habituasi positif yg memang harus dibangun
dalam sebuah keluarga.
Ketiga, menguatkan proses pembelajaran yang mengarah
pada penguatan sikap spiritual (hablum minallah) dan sosial (hablum minannas).
Sebuah target capaian kurikulum nasional yang tidak mungkin hanya mengandalkan
pendidikan formal sekolah/madrasah, tetapi perlu didukung semua pihak.
Penguatan sikap tentu harus dibangun atas kesadaran
bersama antara para pihak, terutama orang tua (keluarga). Komitmen penanaman
nilai-nilai karakter (akhlak, moral, dan seterusnya). Sekali lagi perlu dimulai
dari unit terkecil dari masyarakat, yakni keluarga.
Keempat, melakukan evaluasi dan refleksi terhadap
segala aktifitas yg dilakukan secara berjenjang dan bertahap. Evaluasi diri
(muhasabah) perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kualitas target
capaian hidup terealisasi, adakah proses yg keliru dari kehidupan selama ini.
ULASAN :
Pendidikan berkeluarga adalah pendidikan didalam
keluarga yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang samawa, dimana untuk
mencapai tujuan tersebut harus dilakukan dengan usaha dan komitmen yang tinggi
dari setiap anggota keluarga.
D.
Pembangunan Keluarga SAMAWA
Menurut kaidah bahasa Indonesia, sakinah mempunyai
arti kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan. Jadi keluarga sakinah
mengandung makna keluarga yang diliputi rasa damai, tentram, juga. Jadi
keluarga sakinah adalah kondisi yang sangat ideal dalam kehidupan keluarga.
Ciri-Ciri Keluarga Sakinah
1) Rumah
Tangga Didirikan Berlandaskan Al-Quran Dan Sunnah
2) Rumah
Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)
3) Mengetahui
Peraturan Berumahtangga
4) Menghormati
dan Mengasihi Kedua Ibu Bapak
5) Menjaga
Hubungan Kerabat dan Ipar
Mawaddah merupakan jenis cinta membara,
yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, Mawaddah adalah kelapangan dada dan kehendak
jiwa dari kehendak buruk. sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap
berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Rasa damai dan tenteram
hanya dicapai dengan saling mencintai. Maka rumah tangga muslim punya ciri
khusus, yakni bersih lahir baathin, tenteram, damai dan penuh hiasan ibadah.
Firman Allah SWT Surat Ar-Rum : 21 yang
artinya :
“Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan aying. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaum yang berfikir”
Cara membangun keluarga yang SAMAWA :
1)
Memilih pasangan dengan kriteria yang tepat.
Untuk memastikan kita bisa membangun keluarga yang sakinah maka kita
harus bisa menentukan kriteria pasangan yang dicari dengan tepat. Tanpa
pemilihan pasangan yang cermat, akan sulit mencapai kondisi rumah tangga yang
sakinah, mawaddah dan warohmah. Oleh karena itu tentukan dulu pasangan seperti
apa yang dibutuhkan untuk membina keluarga yang sakinah, dan carilah kriteria
tersebut pada calon pasangan yang ada.
2)
Memenuhi syarat utama dalam berumah tangga.
Syarat utama lainnya dalam berumah tangga adalah Mawaddah yaitu artinya
‘Cinta yang menggebu’ dan Rahmah yang
artinya siap berkorban kepada yang dikasihi dan memiliki kasih sayang yang
lembut. Ketika kedua syarat ini terpenuhi maka untuk menuju rumah tangga yang
sakinah tidak akan menjadi begitu sulit, karena keduanya sudah menjadi landasan
terbentuknya satu rumah tangga
3)
Memelihara saling pengertian.
Tumbuhkanlah rasa kasih dan sayang keduanya dan juga anggota keluarga
itu baik. Kedua pihak harus dapat mencari cara menghilangkan sifat egois dan
cara menghilangkan sifat sombong agar dapat saling memahami dan mengerti satu
sama lain.
4)
Landasi rumah tangga dengan ajaran agama.
Tentu saja cara membina rumah tangga sakinah dan cara membina rumah
tangga yang baik adalah dengan melandasinya ajaran agama.
5)
Mengisi rumah tangga dengan kasih sayang.
Cintailah setiap anggota keluarga dengan sepenuh hati, maka rumah
tangga akan selalu penuh dengan kasih sayang. Anak-anak butuh dipeluk orang
tuanya dan pasangan hidup butuh untuk didampingi dan menjadi batu sandaran
dalam sulit.
6)
Senantiasa selalu bersyukur.
Suami dan istri tidak lupa bersyukur untuk beberapa hal kecil lainnya
setiap mereka berdoa kepada Allah. Yakinlah bahwa semua ujian dalam rumah
tangga akan membuat kita lebih kuat dan beriman. Selalu bersyukur terhadap
berbagai hal akan menjadi cara menjaga kesehatan hati dan cara menghindari
perilaku tercela yang bisa muncul dalam diri istri atau suami
7)
Menjalankan kewajiban masing-masing dengan baik.
Suami atau istri harus mengetahui dan memahami tentang tugas kewajiban
masing-masing dengan penuh pengertian.
8)
Saling menghargai.
Adanya rasa saling menghargai maka suami dan istri akan tahu bagaimana
perasaan masing-masing terhadap sesuatu hal tanpa perlu dipaksa untuk
mengungkapkannya.
9)
Menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Perlunya kebiasaan saling mengintrospeksi diri dan terus mencari cara
merubah sifat serta cara menjadi pribadi yang baik sangat penting agar
kekurangan suami dan istri dapat diterima oleh satu sama lain dan tidak menjadi
masalah besar dalam sebuah pernikahan.
10)
Memelihara kepercayaan terhadap pasangan.
Suami dan istri tidak bisa rukun bila salah satu selalu curiga terhadap
yang lainnya.
ULASAN :
Sakinah secara sederhana dapat diartikan sebagai
keamanan, kedamaian, ketenangan dan perlindungan timbal balik. Mawaddah artinya
ketika merasa senang dan sedih selalu mencintai keduanya. Akar kata dari
Warrohmah adalah rohmah yang artinya kasih sayang.
Tujuan utama dalam menikah adalah mendapatkan keluarga
yang bahagia yang sakinah mawadah dan warahmah. Agama Islam telah memberikan
berbagai pengarahan untuk bisa mendapatkan keluarga yang sakinah. Jika sebuah
rumah tangga berhasil berjalan dengan sakinah, mawaddah dan warohmah, hal itu
akan memberikan kebaikan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya .Memiliki
keluarga yang utuh adalah dambaan setiap orang yang berada dalam suatu
pernikahan. Untuk mendapatkan keluarga dan rumah tangga yang utuh, diperlukan
adanya cara membina keluarga dengan sakinah, mawadah dan warohmah.
Hasil Diskusi
Kelompok 2
1) Pertanyaan
: Bagaimana ciri-ciri atau karakteristik yang bisa menggambarkan seperti apakah
keluarga yang sakinah? (Putry Anjani)
Jawaban :
Ciri-ciri atau
karakteristik yang bisa menggambarkan seperti apakah keluarga tersebut.
a) Terdapat
cinta, kasih sayang, dan rasa saling memiliki yang terjaga satu sama lain
b) Terdapat
ketenangan dan ketentraman yang terjaga, bukan konflik atau mengarah pada
perceraian
c) Keikhlasan
atau ketulusan peran yang diberikan masing-masing anggota keluarga, baik peran
dari suami sebagai kepala rumah tangga, istri senagai ibu
d) Mengelola
amanah suami, serta anak-anak yang menjadi amanah dari Allah untuk diberikan
pendidikan yang baik
e) Kecintaan
yang mengarahkan kepada cinta illahiah dan nilai agama, bukan hanya kecintaan
terhadap makhluk atau hawa nafsu semata
f) Jauh
dari ketidakpercayaan, kecurigaan, dan perasaan was-was antar pasangan mampu
menjaga satu sama lain dalam aspek keimanan dan ibadah, bukan saling
menjerumuskan atau saling menghancurkan satu sama lain
g) Mampu
menjaga pergaulan dalam islam, tidak melakukan penyelewengan apalagi
penghianatan sesame pasangan
h) Terpenuhinya
kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam keluarga mulai dari rezeki,
kebutuhan dorongan seksual, dan rasa memiliki satu sama lain
i) Mendukung
karis, profesi satu sama lain yang diwujudkan untuk sama-sama membangun
keluarga dan membangun ummat sebagai amanah dari Allah SWT. oleh karena itu
jika semua ini anda penuhi dan anda lakukan maka inshaallah kebahagiaan akan
mewarnai keluarga anda, dan dia pun tentunya akan membayarnya dengan
melimpahkan kasih saying dan kebahagiaan dalam berkeluarga
2) Pertanyaan
: Keluarga seperti apa ang bisa mendapatkan konseling keluarga? Lalu dimana
konseling keluarga bisa di dapatkan? (Fitra sadilah)
Jawaban:
Tujuan konseling keluarga
a) Membantu
anggota keluarga belajar dan memahami bahwa dinamika keluarga merupakan hasil
pengaruh hubungan antar anggota keluarga.
b) Membantu
anggota keluarga dapat menerima kenyataan bahwa bila salah satu anggota keluarga
mengalami masalah, dia akan dapat memberikan pengaruh, baik pada persepsi,
harapan, maupun interaksi dengan anggota keluarga yang lain.
c) Upaya
melaksanakan konseling keluarga kepada anggota keluarga dapat mengupayakan
tumbuh dan berkembang suatu keseimbangan dalam kehidupan berumah tangga.
d) Mengembangkan
rasa penghargaan diri dari seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga
yang lain.
e) Membantu
anggota keluarga mencapai kesehatan fisik agar fungsi keluarga menjadi
maksimal.
f) Membantu
individu keluarga yang dalam keadaan sadar tentang kondisi dirinya yang
bermasalah, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri
dan nasibnya sehubungan dengan kehidupan keluarganya.
Ketika keluarga mengalami
ketidakseimbangan dari tujuan keluarga yg telah di sebutkan di atas, keluarga
boleh mengajukan konseling keluarga di psikologi, orang tua atau pun orang yang
sudah berpengalaman mengenai keluarga.
3) Pertanyaan
: Apa pengaruh positif dari rumah tangga yang sakinah? (Naila Rizki)
Jawaban:
a) sikap
saling musyawarah dengan anggota keluarga tapi satu tujuan
b) terjalin
hubungan komunikasi yang baik dengan anggota keluarga
c) sikap
saling menghargai satu sama lain dengan anggota keluarga
4) Pertanyaan
: Usaha apa saja yang dilakukan untuk mencapai keluarga sakinah mawadah
warohmah? (Hilda)
Jawaban :
Dalam berkeluarga tak
hanya menunai kan sunah rosul akan tetapi bayak kewajiban agar menjadi keluarga
sakinah, mawaddah dan , warohmah mulai dari :
a) Memilih
pasangan dengan kriteria yang tepat
Untuk memastikan kita
bisa membangun keluarga yang sakinah maka kita harus bisa menentukan kriteria
pasangan yang dicari dengan tepat. Tanpa pemilihan pasangan yang cermat, akan
sulit mencapai kondisi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.
b) Memenuhi
syarat utama dalam berumah tangga
Syarat utama lainnya
dalam berumah tangga adalah Mawaddah yaitu artinya ‘Cinta yang menggebu’ dan
Rahmah yang artinya siap berkorban kepada yang dikasihi dan memiliki kasih
sayang yang lembut. Ketika kedua syarat ini terpenuhi maka untuk menuju rumah
tangga yang sakinah tidak akan menjadi begitu sulit, karena keduanya sudah
menjadi landasan terbentuknya satu rumah tangga.
c) Memelihara
saling pengertian
Sebuah perkawinan tidak
akan berjalan dengan baik jika tidak ada saling pengertian antar suami istri.
Tumbuhkanlah rasa itu baik-baik. Kedua pihak harus dapat mencari cara
menghilangkan sifat egois dan cara menghilangkan sifat sombong agar dapat
saling memahami dan mengerti satu sama lain.
d) Landasi
rumah tangga dengan ajaran agama
Tentu saja cara membina
rumah tangga sakinah dan cara membina rumah tangga yang baik adalah dengan
melandasinya dengan ajaran agama Islam. Suami harus bertindak sebagai
pembimbing istri serta anak-anaknya, dan membawa keluarganya dalam ajaran agama
yang benar.
e) Mengisi
rumah tangga dengan kasih sayang
Sebuah rumah tangga tanpa
cinta dan kasih sayang akan membuat sengsara orang-orang yang ada di dalamnya.
Anak-anak butuh dipeluk orang tuanya dan pasangan hidup butuh untuk didampingi
dan menjadi batu sandaran dalam keadaan sulit.
5) Pertanyaan
: Apa saja faktor pendukung dan penghambat keluarga sakinah dalam islam?
(Kharisma)
Jawaban :
Islam memberikan tuntutan
pada umatnya untuk menuntun menuju
keluarga sakinah yaitu:
a) Dilandasi
oleh mawaddah dan rahmah
b) Hubungan
saling membutuhkan satu sama lain sebagaimana suami istri disimbolkan dalam
al-Quran dengan pakaian.
c) Suami
istri dalam bergaul memperhatikan yang secara wajar dianggap patut (ma’ruf).
d) Keluarga
yang baik adalah memiliki kecenderungan pada agama, yang muda menghormati yang
tua dan yang tua menyayangi yang muda, sederhana dalam belanja, santun dalam
pergaulan, dan selalu intropeksi.
Adapun sebaliknya
penyakit yang menghambat keluarga sakinah, antara lain:
a) Aqidah
yang keliru atau sesat yang dapat mengancam fungsi religius dalam keluarga.
b) Makanan
yang tidak halal dan sehat. Makanan yang haram dapat mendorong seseorang
melakukan perbuatan haram pula.
c) Pola
hidup konsumtif, berfoya-foya akan mendorong seseorang mengikuti kemauan gaya
hidupnya sekalipun yang dilakukakannya adalah hal-hal yang diharamkan, seperti
korupsi, mencuri, menipu dan sebagainya.
d) Pergaulan
yang tidak legal dan tidak sehat
e) Kebodohan
secara intelektual maupun secara sosial.
f) Akhlak
yang rendah
g) Jauh
dari tuntutan agama
6) Pertanyaan
: Dalam islam menyebutkan ciri2 keharmonisan keluarga ada poin hubungan dengan
anak, bagaimana cara membangun hubungan yang baik dengan anak? (Endah Aulya)
Jawaban :
Berpartisipasi dalam
kehidupan anak
a. Tempatkan
diri Anda pada tingkat yang sama dengan anak. Anda dapat memperbaiki hubungan
dengan anak melalui interaksi yang sesuai dengan usianya. Pikirkan cara untuk
memberi pelajaran, mengerjakan proyek dan bermain sesuai tingkat kemampuan
anak.
b. Tekankan
pentingnya waktu keluarga.
Contoh : Usahakan untuk
makan malam bersama keluarga setiap malam jika memungkinkan dan mintalah setiap
orang untuk berbagi pengalaman baik dan buruk hari itu. Pergilah menghadiri
acara olahraga, film, atau acara yang diadakan komunitas bersama-sama.
c. Dedikasikan
waktu untuk berkomunikasi secara pribadi dengan setiap anak.
Contoh : Jalinlah
kedekatan dengan setiap anak melalui hobi yang sama. Misalnya, Anda bisa
mengajari cara memancing kepada salah satu anak di akhir pekan atau berlatih
piano dengan anak yang lain. Sisihkan waktu setiap minggu untuk membangun
hubungan spesial dengan setiap anak
Mempertahankan Komunikasi
Positif
a. Jadilah
orang yang dapat dipercaya.Namun, kepercayaan tidak berarti Anda harus
mempercayai semua yang dikatakan anak, tetapi itu berarti Anda akan mencoba dan
memberinya kepercayaan sampai terbukti sebaliknya.
b. Terapkan
3 prinsip utama dalam pengasuhan anak yang efektif.
§ Bersikap
tegas. Jelaskan konsekuensi dari perilaku tertentu dan terapkan secara
konsisten.
§ Bersikap
adil. Pastikan hukuman sesuai dengan kesalahan yang dilakukan. Usahakan untuk
tidak menerapkan konsekuensi yang berlebihan atau terlalu berat.
§ Bersikap
bersahabat. Sampaikan kata-kata Anda dengan nada yang kuat dan sopan. Anda
cukup menjelaskan pelanggaran yang ia lakukan dan memberi tahu apa
konsekuensinya. Jangan lupa untuk memberikan pujian kepada anak saat ia
melakukan hal-hal baik.
7) Pertanyaan
: Kriteria/yang di sebut keluarga samawa itu harus yang seperti apa? karena
walaupun sudah bisa saling memahami juga selalu aja ada persilisihan? (Indah )
Jawaban
Wajar jika didalam
keluarga atau berumah tangga terjadi perselisihan tetapi apabila perselisihan
itu berlanjut terus menerus atau sering terjadi maka keluarga tersebut tidak
bisa dikatakan keluarga samawa lagi karena samawa itu mempunyai arti tentram,
cinta kasih, dan kasih sayang. Jadi jika dari ketiga arti samawa itu ada yang
hilang salah satu didalam kehidupan berumah tangga, maka keluarga tersebut
tidak bisa dikatakan samawa lagi karena sudah hilang ketentraman dalam rumah
tangga jika terus menerus berselisih, seiring itu cinta kasih dan kasih sayang
pun akan hilang
Kelompok 3
1) Pertanyaan
: Dalam Islam menyebutkan ciri-ciri keharmonisan keluarga, ada poin hubungan
dengan anak. Bagaimana cara membangun hubungan yang baik dengan anak? (Endah
Aulya)
Penyelaras : Rahma
Nurdita
Jawaban :
a) Menerima
emosi anak
Saat anak merasa bahagia,
orang tua juga harus memiliki mood yang baik, saat anak merasa sedih atau marah
orang tua juga tidak boleh menunjukkan rasa kecewa, marah atau sedih.
b) Mendengarkan
cerita anak tanpa menghakimi
Anak sangat butuh pendengar,
saat anak menceritakan ceritanya kepada orang tuanya sebisa mungkin orang tua
jangan menghakimi cerita tersebut apalagi sampai memarahi.
c) Luangkan
waktu bersama
Meluangkan waktu bersama
anggota keluarga yang lain membuat hubungan semakin dekat
d) Ajak
anak mengerjakan pekerjaan rumah
Saat semua anggota
keluarga memiliki waktu luang, isi dengan mengerjakan pekerjaan rumah,
bergotong royong bersama-sama
e) Berlibur
bersama
Hal ini sangat dinantikan
oleh anak untuk bisa berlibur bersama orang tua, karena hal ini dapat
menciptakan momen baru untuk anak
f) Sering
melakukan sentuhan fisik
Sentuhan fisik agar anak
merasa disayang juga, dengan dipeluk atau dielus
g) Hindari
memainkan hp atau mengerjakan pekerjaan kantor saat berkomunikasi dengan anak
Karena dalam mengobrol
dengan anak jangan sampai sibuk atau terganggu dengan hal lain.
2) Pertanyaan
: Kriteria yang disebut SAMAWA itu harus yang seperti apa? Karena walaupun
sudah bisa saling memahami juga selalu saja ada perselisihan? (Indah Nurfauziah)
Penyelaras : Nabila Dwi
Puspita W
Jawaban :
Perselisihan itu wajar karena setiap
orang punya beda pendapat masih bisa dikatakan SAMAWA kalau tidak sampai
perceraian.
Kelompok
5
1)
Pertanyaan : Apa saja faktor pendukung dan
penghambat keluarga sakinah dalam Islam? (Kharisma)
Penyelaras
: Putri Zahara
Jawaban
:
Faktor
pendukung, dalam Hadits Nabi juga diterangkan bahwa terdapat empat faktor dapat
mendatangkan kebahagiaan dalam sebuah keluarga, yakni : suami/istri yang setia,
lingkungan yang baik, rezeki yang dekat, dan hadirnya anak-anak yang berbakti.
Dalam sebuah keluarga kehadiran anak dipandang juga sebagai perhiasan kehidupan
dunia, sebagaimana firman Allah.
Faktor
penghambat, pergaulan yang tidak terjaga. Pergaulan disini dimaksudkan adalah
pergaulan dengan yang bukan muhrimnya. Oleh karena itu seseorang yang sudah
berumah tangga tidak diperbolehkan untuk berduaan dengan selain muhrim. Karena
suasana psikologis saat berduaan dapat menggiring pada perselingkuhan, meskipun
terdapat maksud baik pada awalnya.
2)
Pertanyaan : Apa pengaruh positif dari
keluarga sakinah? (Naila Rizki Amelia)
Penyelaras
: Jihan Fahira Al Habsyi
Jawaban
:
Dampak keluarga
sakinah ialah rumah tangga menjadi harmonis hubungan anak dengan orang tua baik
serta terjalinnya komunikasi yang baik antar anggota keluarga dan tumbuh
kembang anak terarah dengan baik.
E.
Kehidupan Keluarga
Kehidupan keluarga memiliki peranan penting di dalam
pembangunan sosial ekonomi, sosial psikologis, sosial budaya dan pembangunan
kehidupan spiritual suatu bangsa.
Perubahan sosial ekonomi suatu bangsa atau negara,
maju atau mundur, dapat diukur atau terposisikan pada kehidupan sosial ekonomi
yang sedang berlangsung dalam kehidupan keluarga.
Kehidupan keluarga dapat berkembang seperti apa yang
diharapkan, apabila kehidupan keluarga diawali oleh pemahaman yang jelas
tentang pengertian keluarga itu sendiri dan keluarga mampu melaksanakan
fungsinya
ULASAN :
Keluarga adalah awal dari sebuah
kehidupan, rumah yang akan menerima dengan kedua tangan. Keluarga bukan
hanya sekadar status sejak lahir. Bukan juga cuma tempat berpulang atau
persoalan siapa dari mereka yang lebih dekat denganmu. Namun, kehadiran
keluarga di tengah kehidupan merupakan sesuatu yang lebih besar dan berharga.
Didalam keluarga kita diajarkan banyak hal baik itu diajarkan
cara interaksi sosial, ekonomi dan yang lainnya.
F.
Contoh Praktik Baik “Sebuah Keluarga”
Setiap keluarga memiliki visi dan misi untuk mencapai
tujuan yang mereka impikan. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. Dalam
keluarga saya pendidikan pertama diberikan dari orang tua baik dari ayah maupun
ibu, dan pendukung nya seperti kakak, anak diberikan pembiasaan baik seperti
diajarkan untuk selalu senantiasa bertaqwa kepada Tuhan, membangun hubungan
yang baik antar anggota keluarga, tetangga maupun teman, dan selalu membantu
dalam hal pelajaran disekolah. Keluarga juga selalu terbuka jika ada masalah
diantara anggota keluarga dan selalu mencari solusi bersama untuk masalah
tersebut. Menjadi tempat untuk berkumpul dan bercanda bersama tidak ada kecanggungan
antara orangg tua dengan anak karena semuanya saling terbuka, dan kalau pun ada
pertengkaran tidak sampai berlarut-larut, semuanya akan mulai normal kembali
karena kita selalu diajarkan untuk meminta maaf duluan jikalau merasa bersalah
pada orang lain. Orang tua juga selalu mengajarkan dan meminta anak untuk
mengembangkan potensi yang di miliki oleh anak, bukan memaksakan apa yang orang
tua inginkann untuk anak. Selalu memberikan reward sebagai bentuk apresiasi
keberhasilan anak, dan memberikan semangat saat anak merasa terpuruk atau
merasa diposisi bawah. Orang tua juga selalu bertutur kata yang baik didepan
anak-anaknya dan selalu mengingatkan agar kita sebagai anak bertutur kata yang
baik juga baik dilingkungan keluarga maupun diluar rumah, pembiasaan ini juga
melekat sampai saat ini meskipun lingkungan pertemanan anak ada saja beberapa
anak yang sering bertutur kata tidak baik/ toxic
, anak tidak ikut terbawa oleh temannya tersebut karena sudah terbiasa bertutur
kata yang baik seperti yang diajarkan oleh orang tuanya.
BAB IV
KONSEP PARENTING
A.
Pengertian Parenting
Menurut para Ahli :
1) Jerome
Kagam (1997)
Beliau adalah seorang psikologi perkembangan, yang
mendefinisikan pengasuh sebagai serangkaian keputusan tentang sosialisasi pada
anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh orang tua agar mampu
bertanggung jawab dan memberikan konstribusi sebagai anggota masyarakat.
Jadi pengasuh di sini bagaimana orang tua harus menjelaskan
kepada anak bagaimana anak bisa memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap
semua hal yang dilakukan. Keluarga juga harus selalu mendukung kegiatan yang
dilakukan anak selagi itu merupakan hal yang baik untuk dilakukan.
2) Hetherington
dan Whiting (1999)
Pengasuh menurut Heterington dan Whiting adalah proses
interaksi total antara orang tua dengan anak, seperti pemeliharaan, pemberian
makan, membersihkan, melindungi dan proses sosialisasi anak dengan lingkungan
sekitar.
Orang tua merupakan pengasuh terbaik bagi anaknya dan orang
tua akan menerapkan pengasuh yang terbaik bagi anaknya dan orang tua akan
menjadi contoh bagi anaknya.
3) Gunarsa
(2002)
Pengasuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak
dengan orang tua yang meliputi bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik (makan,
minum, pakaian, dan lain sebagainya) dan kebutuhan psikologis (afeksi atau
perasaan) tetap juga norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat
hidup selaras dengan lingkungan.
4) Masud
Hoghughi, (Masud Hoghughi adalah direktur dari
Aycliffe Centre for Children, County Durham Dan menyandang gelar sebagai
anggota kehormatan sebagai Professor fakultas Psychology, University of Hull,
Amerika)
Menyampaikan : Pengasuhan merupakan hubungan antara orang
tua dan anak yang multidimensi dapat terus berkembang. Mencakup beragam
aktifitas dengan tujuan : anak mampu
berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan
fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan sosial.
5) David
D. Burns M.D (professor dari fakultas psikologi di University of South Florida)
Menyebutkan bahwa pengasuhan merupakan sebuah proses
interaksi yang berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak
juga bagi orang tua.
ULASAN
Parenting
adalah segala tindakan yang menjadi bagian dalam proses interaksi yang
berlangsung terus-menerus dan mempengaruhi bukan hanya bagi anak tapi juga bagi
orang tua yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak yang dilakukan
sejak awal anak dilahirkan hingga dewasa dalam rangka melindungi, merawat, mengajari,
mendisiplinkan dan memberi panduan.
B.
Penjelasan tentang pentingnya parenting untuk memahamkan
penanggungjawab keluarga.
Topik Parenting Meliputi
:
1.
Bersiap Menjadi Orang Tua
Orangtua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah
dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang dapat
membentuk sebuah keluarga. Orangtua memiliki tanggung jawab untuk mendidik,
mengasuh, dan membimbing termasuk memperhatikan kesehatan anak-anaknya untuk
mencapai tahapan tertentu.
Orangtua harus mampu menghantarkan anak untuk siap dalam
kehidupan bermasyarakat karena pengetahuan yang pertama diterima oleh anak
adalah dari orangtuanya. Sebelum menjadi orangtua hebat, calon orang tua harus
mengetahui secara mendalam tentang berbagai hal yang berhubungan dengan
persiapan-persiapan menjelang memasuki lembaga pernikahan, yaitu antara lain:
a) Persiapan
Spiritual/Moral
Dalam diri setiap orang beriman selalu terdapat
keinginan bahwa suatu hari nanti akan mendapatkan jodoh yang saleh/salihah,
yang taat beribadah, bisa bersama-sama dalam mengarungi kehidupan di dunia,
dalam suka dan duka, dan akhirnya bersama-sama masuk surga selamat dari neraka.
b) Persiapan
Konsepsional
Memahami konsep tentang lembaga pernikahan sebagai
sarana untuk beribadah dan meningkatkan pahala dari Tuhan YME. Pernikahan
sebagai wadah terciptanya generasi robbani, penerus perjuangan menegakkan agama
Allah. Adapun jika dari pernikahan
diikuti dengan lahirnya anak yang saleh/salihah, maka sang anak akan menjadi penyelamat
bagi kedua orangtuanya
c) Persiapan
Kepribadian
Dalam hal ini, belajar untuk mengenal (bukan untuk
dikenal). Seorang laki-laki yang menjadi suami atau seorang perempuan yang
menjadi istri, sesungguhnya awalnya adalah orang asing bagi kita, yang mungkin
mempunyai latar belakang, suku, dan kebiasaan yang berbeda. Semua perbedaan
tersebut dapat menjadi pemicu timbulnya perselisihan.
Bila perbedaan tersebut tidak dikelola dengan baik
melalui komunikasi, keterbukaan, dan kepercayaan, maka bisa jadi timbul
persoalan dalam pernikahan. Untuk itu, diperlukan keberadaan jiwa yang besar
untuk mau menerima dan berusaha mengenali pasangan kita.
d) Persiapan
Fisik
Kesiapan fisik ini ditandai dengan kesehatan yang
memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai
suami ataupun istri secara optimal. Saat sebelum menikah, ada baiknya bila
memeriksakan kesehatan tubuh, terutama faktor yang mempengaruhi masalah
reproduksi. Apakah organ-organ reproduksi dapat berfungsi dengan baik, bila
ditemukan penyakit atau kelainan tertentu, segeralah berobat.
e) Persiapan
Material
Dalam agama, tidak menghendaki kita berfikiran
materialistis, yaitu hidup yang hanya berorientasi pada materi. Akan tetapi
bagi seorang suami, yang akan mengemban amanah sebagai kepala keluarga, maka
adanya kesiapan calon suami untuk memberi nafkah perlu diutamakan.
Sebaliknya, bagi pihak wanita, perlu adanya kesiapan
untuk mengelola keuangan keluarga. Jika suami berikhtiar untuk menafkahi maka
Tuhan Yang Maha Kuasa akan mencukupkan rizki kepadanya.
f) Persiapan
Sosial
Setelah sepasang manusia menikah, berarti status
sosialnya di masyarakat pun berubah. Mereka bukan lagi gadis dan lajang, tetapi
telah berubah menjadi sebuah keluarga. Sebagai akibatnya, mereka pun harus
mulai membiasakan diri untuk terlibat dalam kegiatan sosial di kedua belah
pihak keluarga maupun di masyarakat.
ULASAN
Orang tua merupakan suatu kesatuan antara Ayah dan Ibu
yang diikat oleh ikatan pernikahan. Mempersiapkan diri menjadi orang tua harus
dimulai pada masa pranikah agar pasangan suami dan istri mengerti dan siap
untuk menjalankan peranan nya masing-masing setelah menikah nanti. Persiapan
itu sendiri bukan hanya dari segi fisik/ material melainkan dari segi batin/
dalam diri juga.
2.
Memahami Peran Orang Tua
Dalam proses perkembangan
anak, peran orang tua antara lain:
1) Mendampingi
Setiap anak memerlukan perhatian dari orang tuanya.
Sebagian orang tua ada yang bekerja dan pulang ke rumah dalam keadaan lelah,
sehingga hanya memiliki sedikit waktu bertemu dan berkumpul dengan keluarga.
Bagi para orang tua yang menghabiskan sebagian waktunya untuk bekerja di luar
rumah, bukan berarti mereka gugur kewajiban untuk mendampingi dan menemani
anak-anak ketika di rumah. Meskipun hanya dengan waktu yang sedikit, namun
orang tua bisa memberikan perhatian yang berkualitas dengan fokus menemani
anak, seperti mendengar ceritanya, bercanda atau bersenda gurau, bermain
bersama dll.
2) Menjalin
komunikasi
Komunikasi menjadi hal penting dalam hubungan orang
tua dan anak karena komunikasi merupakan jembatan yang menghubungkan keinginan,
harapan dan respon masing-masing pihak. Melalui komunikasi, orang tua dapat
menyampaikan harapan, masukan dan dukungan pada anak. Begitu pula sebaliknya,
anak dapat bercerita dan menyampaikan pendapatnya.
3) Memberikan
kesempatan
Orang tua perlu memberikan kesempatan pada anak.
Kesempatan pada anak dapat dimaknai sebagai suatu kepercayaan. Tentunya
kesempatan ini tidak hanya sekedar diberikan tanpa adanya pengarahan dan
pengawasan. Anak akan tumbuh menjadi sosok yang percaya diri apabila diberikan
kesempatan untuk mencoba, mengekspresikan, mengeksplorasi dan mengambil
keputusan.
4) Mengawasi
Pengawasan mutlak diberikan pada anak agar anak tetap
dapat dikontrol dan diarahkan. Tentunya pengawasan yang dimaksud bukan berarti
dengan memata-matai dan main curiga. Tetapi pengawasan yang dibangun dengan
dasar komunikasi dan keterbukaan. Orang tua perlu secara langsung dan tidak
langsung untuk mengamati dengan siapa dan apa yang dilakukan oleh anak, sehinga
dapat meminimalisir dampak pengaruh negatif pada anak.
5) Mendorong
atau memberikan motivasi
Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau
organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan. Motivasi bisa muncul dari
diri individu (internal) maupun dari luar individu (eksternal). Setiap individu
merasa senang apabila diberikan penghargaan dan dukungan atau motivasi.
Motivasi menjadikan individu menjadi semangat dalam mencapai tujuan. Motivasi
diberikan agar anak selalu berusaha mempertahankan dan meningkatkan apa yang
sudah dicapai. Apabila anak belum berhasil, maka motivasi dapat membuat anak
pantang menyerah dan mau mencoba lagi.
6) Mengarahkan
Orang tua memiliki posisi strategis dalam membantu
agar anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri.
Peran Orangtua Dalam
Pengasuhan
Anak adalah bagian yang tak terpisahkan dan merupakan buah
cinta dari ayah dan ibu. Anak yang lahir dengan belaian kasih sayang dari ayah
dan ibunya akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan selalu siap dalam
menghadapi tantangan masa depan. Orangtua yang baik bukanlah mereka yang suka
menyerahkan urusan pengasuhan anaknya kepada orang lain.
Oleh karena itu menciptakan kedekatan antara orangtua
dengan anaknya adalah sebuah investasi yang sangat berharga. Kita sebagai
orangtua akan menyesal jika tidak memulainya sejak dini. Dalam kaitannya dengan
pengasuhan, orangtua harus menyediakan cukup waktu untuk menjalankan kedekatan
dan menjadi pelatih emosi bagi anak-anaknya.
ULASAN
Orang tua memiliki peranan penting dalam pengasuhan
anak-anaknya. Sebagai orang tua penting untuk mengetahui peran dan fungsi nya
dalam keluarga, orang tua juga harus bisa mengawasi dan membimbing
anak-anaknya. Selalu meluangkan waktu untuk keluarga walaupun dalam waktu sibuk
untuk menjaga keharmonisan antar anggota keluarga yang lain.
3.
Memahami Konsep Diri Orang Tua
Untuk dapat menjalankan pengasuhan, orang tua harus
memiliki kepercayaan diri dalam mendidik anak-anaknya. Kepercayaan diri berasal
dari konsep diri yang positif.
Kepercayaan diri mengasuh anak menumbuhkan keyakinan bahwa
orang tua mampu menjalankan tugas dalam mengasuh anak-anak mereka.
Konsep diri adalah gambaran diri seseorang tentang
ciri-ciri yang dimilikinya. Konsep diri berkembang sejak bayi sampai dewasa.
Konsep diri menurut Ahli
:
1) Jalaluddin
Rakhmat
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri
kita sendiri baik bersifat psikologi, sosial maupun fisik.
2) Deddy
Mulyana
Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa
diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain
kepada diri individu
Jadi, konsep diri adalah suatu pandangan terhadap diri
kita sendiri atau yang sering disebut “Aku” baik itu dilihat dari perilaku
ataupun psikis. Konsep diri dapat kita peroleh dari individu masing-masing
ataupun informasi dari orang lain.
ULASAN
Konsep diri merupakan suatu pandangan terhadap diri
sendiri. Orang tua harus bisa memahami konsep diri nya sendiri agar bisa
menentukan mau dibawa kemana sebuah keluarga itu. Orang tua harus punya pendirian
dan keyakinan pada diri nya sendiri agar kelak menjadi contoh yang baik untuk
anak-anaknya.
4.
Melibatkan Peran Ayah
Penelitian awal tentang interaksi anak dan ayah (sekitar
tahun 1980-an), menguraikan keterlibatan ayah dirumah menjadi beberapa kategori
yaitu kehangatan, pengawasan, model peran jenis kelamin, menyenangkan sebagai
teman brmain, dan melatih kemandirian (Doherty, dkk 1998). Pada tahun 1985,
Lamb,Pleck, Charnov dan Levine (2002) kemudian mengenalkan dimensi-dimensi
keterlibatan ayah, yaitu :
1) Paternal
engagement. Engangement/interaction adalah pengasuhan secara langsung,
interaksi satu lawan satu dengan anak, mempunyai waktu unuk bersantai atau
bermain. Interaksi ini meliputi kegiatab seperti memberi makan, mengenakan
baju, berbincang, bermain, mengerjakan PR, dll.
2) Paternal
accessibility. Accessibility adalah bentuk keterlibatan ang lebih rendah.
Orangtua ada didekat anak tetapi tidak berinteraksi secara langsung dengan
anak.
3) Paternal
responsibility. Responsibility adalah bentuk keterlibatan yang mencakup
tanggungjawab dalam hal perencanaan, pengambilan keputusan dan pengaturan.
ULASAN
Melibatkan peran ayah dalam melakukan aktifitas bersama
anak memberi dampak positif pada anak yaitu bahwa ikatan antara ayah dan anak
berperan dalam pembentukan karakter pada anak. menciptakan komunikasi yang baik
dengan cara ayah melakukan aktivitas bersama anak seperti bermain,
berjalan-jalan, membaca, mengenalkan lingkungan sekitar. Ayah dapat mengajak
berdialog, menyempatkan diri menghubungi anak ketika ayah tidak di rumah. Hal
itu tentunya perlu kerjasama dan dukungan dari ibu, karena banyak ayah yang
merasa kurang percaya diri dalam menangani anak-anaknya
5.
Mendorong Tumbuh Kembang Anak
Tumbuh kembang anak berjalan dengan cepat pada periode
emasnya di usia 0-3 tahun. Umumnya, pada tahapan usia ini, anak melakukan
proses pembentukan dirinya baik fisik maupun emosional. Tentu peran orangtua
dibutuhkan untuk memantau tumbuh kembang berjalan dengan baik.
Pada periode emas, perkembangan otak anak juga berkembang
dan bertumbuh dengan cepat dibandingkan waktu lain dalam hidupnya. Sehingga
tidak ada salahnya orangtua rutin memberikan stimulasi positif pada anak.
Tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi serta nutrisi anak,
ada faktor lain yang perlu diperhatikan orangtua untuk mengoptimalkan tumbuh
kembang anak sesuai dengan usianya. Sebaiknya orangtua mengetahui cara yang
dapat membantu untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak di periode emasnya,
seperti:
1) Lingkungan
Memengaruhi Tumbuh Kembang Anak
Lingkungan anak memengaruhi tumbuh dan kembang anak. Lingkungan
yang baik tentu membuat anak memiliki hubungan yang positif dengan orang-orang
di sekitarnya. Hubungan yang positif menjadi pengalaman anak untuk menjalani
proses tumbuh kembang pada periode emasnya. Situasi lingkungan anak membentuk
anak ke depannya. Namun, hubungan yang positif dengan orangtua dan keluarga
menjadi hal utama yang perlu dilakukan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan anak berjalan baik.
2) Lakukan
Permainan yang Menyenangkan
Pada awal pertumbuhannya, pembelajaran yang diberikan pada anak
sebaiknya dilakukan sesuai dengan usianya agar anak dapat menerima informasi
dengan baik. Salah satu cara yang bisa dilakukan orangtua adalah belajar sambil
bermain. Hal-hal yang menyenangkan lebih mudah diterima oleh anak sehingga
berikan anak permainan yang menyenangkan yang membuat ia berkesempatan untuk
bereksplorasi, memecahkan masalah, dan belajar dari kondisi yang dihadapi.
Ketika anak mengalami kesulitan, jangan ragu untuk membantu dan mendukung anak.
Namun, jangan lupa untuk tetap biarkan anak menemukan cara sendiri untuk
mengatasi masalahnya.
3) Luangkan
Waktu Bersama Anak
Orangtua sebaiknya luangkan waktu untuk berinteraksi dengan
anak. Interaksi yang baik membantu anak meningkatkan kemampuan bersosialisasi,
berkomunikasi, memecahkan masalah. Dengan meluangkan waktu bersama anak,
orangtua juga lebih menjadi dekat dengan anak. Dengan begitu, orangtua mudah
menemukan perubahan atau adanya gejala dari gangguan kesehatan pada anak. Jika
anak mengalami gangguan kesehatan, sebaiknya orangtua jangan panik. Tetap
tenang dan gunakan aplikasi Halodoc untuk bertanya langsung pada dokter
mengenai gejala yang dialami oleh anak.
4) Penuhi
Kebutuhan Gizi
Pemenuhan kebutuhan gizi pada anak memengaruhi tumbuh kembang anak.
Tidak ada salahnya untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi sejak anak mulai
mengonsumsi makanan pendamping ASI. Tiap anak mulai diberikan MPASI sejak
menginjak usia 6 bulan dengan tekstur makanan yang lembut. Sebaiknya jangan
lupa berikan makanan yang menunjang kebutuhan vitamin serta nutrisi yang
dibutuhkan oleh anak pada masa tumbuh kembang. Jangan lupa memenuhi kebutuhan
protein di dalam tubuh anak untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan fisik
anak. Kalsium juga memiliki peran yang penting bagi tumbuh kembang anak untuk
pembentukan tulang pada anak-anak hingga dewasa.
ULASAN
Pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi hal yang menjadi
perhatian utama bagi para orangtua. Tumbuh kembang anak juga perlu dilakukan
pemantauan oleh orangtua agar berjalan sesuai dengan tahapan usianya dan anak
terhindar dari gangguan yang mungkin saja terjadi. Lingkungan juga menjadi
faktor pendukung yang pertumbuhan dan perkembangan pada anak, lingkungan yang
positif akan berdampak baik terhadap pertumbuhan dan perkembangannya, untuk itu
orangtua harus selalu memerhatikan lingkungan sekitarnya.
6.
Membantu Tumbuh Kembang Balita
Kemampuan dan tumbuh kembang anak perlu dirangsang oleh
orang tua agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan sesuai
umurnya.
Stimulasi adalah perangsangan (penglihatan, bicara,
pendengaran, perabaan) yang datang dari lingkungan anak. Anak yang mendapat
stimulasi yang terarah akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang
kurang bahkan tidak mendapat stimulasi. Stimulasi juga dapat berfungsi sebagai
penguat yang bermanfaat bagi perkembangan anak. Berbagai macam stimulasi
seperti stimulasi visual (penglihatan), verbal (bicara), auditif (pendengaran),
taktil (sentuhan) dll dapat mengoptimalkan perkembangan anak.
Pemberian stimulasi akan lebih efektif apabila
memperhatikan kebutuhan-kebutuhan anak sesuai dengan tahap-tahap
perkembangannya.
Pada tahap perkembangan awal anak berada pada tahap
sensori motorik. Pemberian stimulasi visual pada ranjang bayi akan meningkatkan
perhatian anak terhadap lingkungannya, bayi akan gembira dengan tertawa-tawa
dan menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya. Tetapi bila rangsangan itu terlalu
banyak, reaksi dapat sebaliknya yaitu perhatian anak akan berkurang dan anak
akan menangis.
Pada tahun-tahun pertama anak belajar mendengarkan.
Stimulus verbal pada periode ini sangat penting untuk perkembangan bahasa anak
pada tahun pertama kehidupannya. Kualitas dan kuantitas vokal seorang anak
dapat bertambah dengan stimulasi verbal dan anak akan belajar menirukan
kata-kata yang didengarnya. Tetapi bila simulasi auditif terlalu banyak
(lingkungan ribut) anak akan mengalami kesukaran dalam membedakan berbagai
macam suara.
Stimulasi visual dan verbal pada permulaan perkembangan
anak merupakan stimulasi awal yang penting, karena dapat menimbulkan
sifat-sifat ekspresif misalnya mengangkat alis, membuka mulut dan mata seperti
ekspresi keheranan, dll. Selain itu anak juga memerlukan stimulasi taktil,
kurangnya stimulasi taktil dapat menimbulkan penyimpangan perilaku sosial,
emosional dan motorik. Perhatian dan kasih sayang juga merupakan stimulasi yang
diperlukan anak, misalnya dengan bercakap-cakap, membelai, mencium, bermain dll.
Stimulasi ini akan menimbulkan rasa aman dan rasa percaya diri pada anak,
sehingga anak akan lebih responsif terhadap lingkungannya dan lebih berkembang.
Pada anak yang lebih besar yang sudah mampu berjalan dan
berbicara, akan senang melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap
lingkungannya. Motif ini dapat diperkuat atau diperlemah oleh lingkungannya
melalui sejumlah rekasi yang diberikan terhapap perilaku anak tersebut.
Misalnya anak akan belajar untuk mengetahui perilaku mana yang membuat ibu
senang/mendapat pujian dari ibu, dan perilaku mana yang mendapat marah dari
ibu. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang responsif akan memperlihatkan
perilaku eksploratif yang tinggi.
Stimulasi verbal juga dibutuhkan pada tahap perkembangan
ini. Dengan penguasaan bahasa, anak akan mengembangkan ide-idenya melalui
pertanyaan-pertanyaan, yang selanjutnya akan mempengaruhi perkembangan
kognitifnya (kecerdasan).
Pada masa sekolah, perhatian anak mulai keluar dari
lingkungan keluarganya, perhatian mulai teralih ke teman sebayanya. Akan sangat
menguntungkan apabila anak mempunyai banyak kesempatan untuk bersosialisasi
dengan lingkungannya. Melalui sosialisasi anak akan memperoleh lebih banyak
stimulasi sosial yang bermanfaat bagi perkembangan sosial anak.
Pada saat ini di Indonesia telah dikembangkan program
untuk anak-anak prasekolah yang bertujuan untuk menstimulasi perkembangan anak
sedini mungkin, dengan menggunakan APE (alat permainan edukatif). APE adalah
alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak disesuaikan dengan
usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk pengembangan aspek
fisik (kegiatan-kegiatan yang menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik
anak), aspek bahasa (dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar),
aspek kecerdasan (dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk, warna dll.), dan
aspek sosial (khususnya dalam hubungannya dengan interaksi antara ibu dan anak,
keluarga, dan masyarakat). Bermain, mengajak anak berbicara, dan kasih sayang
adalah ’makanan’ yang penting untuk perkembangan anak, seperti halnya kebutuhan
makan untuk pertumbuhan badan. Bermain bagi anak tidak sekedar mengisi waktu
luang saja, tetapi melalui bermain anak belajar mengendalikan dan
mengkoordinasikan otot-ototnya, melibatkan persaan, emosi, dan pikirannya.
Sehingga dengan bermain anak mendapat berbagai pengalaman hidup, selain itu
bila dikakukan bersama orang tuanya hubungan orang tua dan anak menjadi semakin
akrab dan orang tua juga akan segera mengetahui kalau terdapat gangguan
perkembangan anak secara dini. Buku bacaan anak juga penting karena akan
menambah kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menambah wawasan terhadap
lingkungannya. Untuk perkembangan motorik serta pertumbuhan otot-otot tubuh
diperlukan stimulasi yang terarah dengan bermain, latihan-latihan atau olah
raga. Anak perlu diperkenalkan dengan olah raga sedini mungkin, misalnya
melempar/menangkap bola, melompat, main tali, naik sepeda dll).
Seorang ahli mengatakan bahwa prioritas untuk anak adalah
makanan, perawatan kesehatan, dan bermain. Makanan yang baik, pertumbuhan yang
adekuat, dan kesehatan yang terpelihara adalah penting, tetapi perkembangan
intelektual juga diperlukan. Bermain merupakan ”sekolah” yang berharga bagi
anak sehingga perkembangan intelektualnya optimal.
ULASAN
Tumbuh kembang tidak hanya dipengaruhi pada perubahan
fisik seperti tinggi badan dan berat badan, arti kata pertumbuhan sendiri
merupakan suatu konsep bertambahnya ukuran atau jumlah sel yang mendukung
bertambahnya ukuran berat, panjang, dan volume pada organ tubuh. Untuk itu
orang tua harus terus mendukung perkembangannya baik itu dengan memberikan
asupan gizi yang baik, dan menjaga kondisi sosial dan lingkungan yang positif
untuk anak.
7.
Menjaga Anak dari Pengaruh Media
Perkembangan era digital dan media kini semakin pesat.
Anak-anak tidak lagi menerima informasi positif dari suguhan tayangan media.
Informasi negatif yang yang belum sepantasnya diketahui anak kini diterima
dengan sangat bebas. Untuk itu orangtua harus mencegah dampak negatif media
dari anak-anak. Seperti yang dimuat dalam buku Menjadi Orangtua Hebat terbitan
BKKBN, berikut kiat melindungi anak dari pengaruh media.
Pertama, adanya pembatasan waktu dan aturan yang jelas
mengenai lamanya menonton televisi, kapan dan jenis-jenis tayangan yang sesuai
usia anak.
Kedua, mengarahkan anak dari kegiatan lain, seperti
olahraga, membaca, kegiatan budaya, kursus dan lain sebagainya.
Ketiga, orangtua mendampingi anak saat menonton tayangan
televisi dan menjadikan tontonan sebagai sebuah media pembelajaran.
Keempat, menghindari anak dari tontonan televisi yang mengajarkan
pacaran dan tayangan yang dapat merangsang nafsu seksual.
ULASAN
Perkembangan dunia digital yang semakin pesat membuat kita
dengan mudah mengakses berbagai informasi. Dan karena dampak dari corona juga
membuat kita harus bisa mengakses berbagai hal didalam gadget kita, baik itu
orang dewasa maupun anak-anak. Di jaman sekarang sudah tak heran lagi jika
anak-anak menggunakan gadget nya di depan umum, maka dari itu kontrol orang tua
harus ada disini. Orang tua harus selalu memantau apa yang dilakukan anaknya,
terlebih lagi akses dunia digital bukan hanya berdampak positif melainkan ada
dampak positifnya juga, jadi sebagai orangtua bijak seharusnya lebih membatasi
anaknya untuk bermain gadget dan mengajak anak nya untuk bermain diluar agar
tidak terlalu terfokus pada gadget nya.
8.
Menjaga Kesehatan Reproduksi Balita
Berbagai hal berkaitan dengan pembahasan masalah kesehatan
reproduksi, baik bagi balita (pra sekolah), anak sekolah (6 - 12 tahun), remaja
(10 - 19 tahun) maupun orang dewasa sudah banyak dilakukan.
Bahkan diberbagai sekolahpun saat ini sudah mulai
diberikan mata pelajaran yang terkait dengan kesehatan reproduksi, ini kabar
yang menggembirakan tentunya tinggal bagaimana mengemasnya kedalam bagian dari
kurikulum di sekolah.
Merawat kesehatan reproduksi balita memang sangat penting,
karena membutuhkan peran orang tua dalam meningkatkan derajad kesehatan secara
menyeluruh, baik organ fisik, mental dan sosial balita.
Peran yang bisa diambil orang tua adalah berupa bagaimana
merawat, menjaga, mengasuh, memelihara, membesarkan anak balitanya agar tumbuh
dan berkembang secara sehat.
Pendidikan seksualitas perlu dihadirkan juga pada balita
yang menyangkut pengenalan identitas diri dan jenis kelamin, hubungan antara
laki-laki dan perempuan, organ-organ reproduksi dan fungsinya, bagaimana
merawat kesehatan, menghindarkan diri dari kekeran seksual dan sebagainya
Langkah-Langkah Mengajarkan Pendidikan Seksual pada anak
§ 1-2
tahun
Sejak anak masih bayi, orang tua sudah mengenalkan seks secara dasar
kepada anak melalui pengenalan jenis kelamin dirinya sendiri atau orang lain,
contohnya dengan mengatakan bahwa mama, nenek, dan tante itu adalah perempuan,
sedangkan papa, kakek, dan om itu adalah laki-laki. Hal tersebut sudah cukup
menjelaskan pada anak tentang perbedaan antara pria dan wanita.
Setelah anak berusia 2 tahun, biasanya perbendaharaan
kata-katanya sudah lebih banyak dan ia sudah mulai bisa berbicara. Pada saat
ini, tahapan pengenalan tentang pendidikan seks bisa ditingkatkan, misalnya dengan
memberitahu nama alat kelamin kepada anak.
Dalam memberitahu nama alat kelamin pada anak, sebut sesuai nama
sebenarnya, tanpa istilah-istilah lain yang tidak ada hubungannya dan hanya
akan membingungkannya. Setelah penyebutan nama, beritahu juga anak bahwa alat
kelamin merupakan sesuatu yang harus dijaga dengan baik dan tidak boleh
disentuh oleh orang lain, selain diri mereka sendiri. O juga mulai ajarkan cara
menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin mereka.
§ 3-5
tahun
Di rentang usia ini, Si Kecil biasanya sudah mengerti tentang
perbedaan jenis kelamin. Mereka juga akan banyak menanyakan perihal seputar
seks. Penjelasan sederhana tentang seks pada anak merupakan kewajiban orang
tua. Jadi Anda tidak perlu menunggu hingga muncul pertanyaan darinya dan baru
memberikan jawaban.
Penjelasan bisa Anda lakukan, misalnya sambil memandikan Si
Kecil. Ajarkan ia membersihkan kelaminnya dengan benar atau larang ia memainkan
alat kelaminnya karena bisa menyebabkan lecet.
Di samping itu, Anda juga harus memberitahu Si Kecil
batasan-batasan dalam memperlakukan temannya, sehingga mereka bisa bersikap
sopan satu sama lain. Misalnya, tidak mengangkat gaun atau rok teman perempuan,
tidak menurunkan celana teman laki-laki atau perempuan, dan tidak mendorong teman
hingga jatuh. Sedangkan untuk mengungkapkan rasa sayang pada teman, Si Kecil
boleh menggandeng tangan mereka.
ULASAN
:
Mengajarkan edukasi terhadap alat reproduksi tidak hanya
dilakukan guru di sekolah, orang tua juga harus mengajarkan edukasi terhadap
anak nya dari usia sedini mungkin agar si anak tahu cara merawat dan tahu
hal-hal apa saja yang harus dan tidak baik untuk kesehatan alat reproduksi nya.
9.
Membentuk Karakter Anak Sejak Dini
Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan
yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan
dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan
alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual).
Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan
pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara
anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan
dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan
pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu,
Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya
dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk
dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka
lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara
langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan
sangat menentukan pembentukan karakter anak. Dan yang tidak bisa diabaikan
adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan
spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah
ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.
Usia dini merupakan masa kritis. Konsisten bentukan
karakter seseorang, penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mengkin
kepada anak-anak adalah kunci utama membangun bangsa. Menurut para pakar
penelitian anak dalam perkembangan otak manusia (neouroscience) apabila pada
usia dini pada anak tidak diberi pendidikan, pengasuhan, stimulasi yang baik
maka akan berpengaruh terhadap struktur perkembanagn otaknya, hal ini terjadi
karena perkembangan otak amat pesat terjadi pada usia dibawah 7 tahun dimana 90
persen otak sudah terbentuk pada usia ini.
Karakter berasal dari kata yunani charassein yang berarti
mengukir sehingga terbentuk suatu pola artinya memiliki karakter yang baik
adalah tidak secara otomatis dimiliki setiap manusia begitu ia dilahirkan
tetapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan. Anak akan
tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dapat terwujud jika anak tumbuh
dilingkungan yang berkarakter, fitrah anak yang terlahir suci dapat dikembangakan
secara optimal, ini memerlukan peran serta semua pihak keluarga, sekolah dan
seluruh komponen yang ada dalam masyarakat contoh lembaga keagamaan,
perkumpulan olah raga, komunitas bisnis dan lain-lain. Oleh karena itu
pendidikan karakter disekolah terutama usia TK dan SD juga perlu dilakukan
tentunya sesuai dengan tahap perkembangan umur anak.
Seperti yang telah dijelaskan diatas, karakter anak bisa
dibentuk dan dibangun sejak usia dini, tidak peduli riwayat orang tua anak
tersebut, jika anak dididik dan dibimbing dengan sangat baik maka sangat besar
kemungkinan sifat dan sikap orang tua yang tidak patut ditiru dan diturunkan
bisa dihilangkan dari anak. Dan berikut beberapa tips bagaimana membentuk
karakter anak yang baik dan berkualitas:
·
Konsisten
Orang tua adalah orang pertama yang bertanggung jawab terhadap
keadaan anak, begitu juga dalam membangun karakter anak. Orang tua memiliki
peranan yang sang penting. Untuk itu dalam membangun dan membentuk karakter
anak, orang tua juga harus memiliki perilaku yang baik, mulai dari cara
berbicara sampai tingkah laku harus baik dan orang tua harus menerapkan semua
itu dihadapan atau dibelakang anak dengan baik
·
Berkelanjutan (Continue)
Dalam membangun dan membentuk karakter anak, orang tua tidak
hanya menerapkan konsistensi anak dalam berperilaku yang hanya dilakukan pada
waktu dan keadaan tertentu saja. Akan tetapi untuk menumbuhkan dan melekaktkan
karakter ini kepada anak maka orang tua harus melakannya secara terus menerus,
berkelanjutan dan berkesinambungan
Tentunya dalam menerapkan ini dilakukan dengan cara membimbing
yang baik, pola asuh yang benar dan pendidikan yang baik yang dilakukan sejak
usia dini sampai usia dewasa. Dan proses ini juga harus disesuaikan dengan
perubahan usia anak, semakin dewasa anak maka pembentukan karakter semakin
bertambah namun jika karakter baik sudah tertanam sejak usia dini maka dengan
sendirinya anak akan mengikuti karakter yang ada dalam dirinya tersebut
·
Konsekuen
Tidak selamanya apa yang diberikan orang tua kepada anak berjalan
dengan baik, tentu ada hal-hal kencil yang bisa membuat kedua berada dalam satu
argumen dan pertentangan. Untuk itu jika anak berbuat salah, maka orang tua
harus tetap memberikan pelajaran kepada anak-anak, hal ini bertujuan untuk
mengajarkan rasa tanggung jawab dan memahami tentang sebuah kesalahan dan
hukuman.
ULASAN
Keluarga merupakan lingkungan pertama untuk mengembangkan
karakter pada anak, dan merupakan contoh/ role model terbaik untuk anak, karakter
anak bisa dibentuk dan dibangun sejak usia dini, tidak peduli riwayat orang tua
anak tersebut, jika anak dididik dan dibimbing dengan sangat baik maka sangat
besar kemungkinan sifat dan sikap orang tua yang tidak patut ditiru dan
diturunkan bisa dihilangkan dari anak
Hasil diskusi kelompok 5
1. Pertanyaan
: Apa saja hambatan dalam pembentukan karakter pada anak usia dini di dalam
keluarga? (Kharisma Prameswari)
Penjawab : Jihan fahira Al habsyi
Jawaban :
Perkembangan
media masa kini sangat pesat. Namun, tentunya ada dampak positif dan
negatifnya. Media televisi, koran, internet, hiburan di lingkungan sekitar yang
mudah diakses dan tanpa adanya filter yang mampu menyaring tanyangan tersebut
juga turut berkontribusi dalam perkembangan karakter anak. Dari pengalaman
orangtua menjelaskan bahhwa keberadaan tayangan televisi saat ini lebih
intensif jika dibandingkan pengamanan dari orangtua.
Dalam
lingkungan luar rumah, seorang anak memiliki banyak teman dan ruang gerak yang
berbeda jika dibandingkan ketika anak berada di rumah. Perbedaan yang mencolok
tersebut akan memicu tingkah laku yang unik dari anak. Banyak anak yang menjadi
hiperaktif ketika berada di dekat teman sebayanya, bahkan cenderung meniru
sikap teman-temannya, tanpa bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
Hambatan
lain yang dialami oleh orangtua adalah kebiasaan berperilaku sopan-santun yang
sudah mulai luntur. Kebiasaan ini sudah tergantikan dengan kebiasaan yang konon
katanya disebut "modern". Bahasa yang digunakan pun sudah jauh dari
definisi sopan dan santun. Anak lebih mudah menirukan kebiasaan seperti ini
dari lingkungan sekitar.
2. Pertanyaan
: Apa saja menghambat delay pada perkembangan anak? (Nabila dwi puspita)
Penjawab: Putri Zahara
Jawaban :
1) Sering
ajak Si Kecil mengobrol
Mengobrol dengan Si Kecil merupakan salah satu terapi
anak Speech Delay yang cukup efektif. Selain itu, cara ini juga dapat
meningkatkan keakraban antara Bunda dan Si Kecil.
2) Membacakan
cerita
Salah satu cara mengatasi
Speech Delay pada anak dapat dilakukan dengan membacakan cerita atau dongeng
yang dilengkapi gambar-gambar menarik. Hal ini dapat bermanfaat untuk
meningkatkan daya imajinasi dan menambah kosakata Si Kecil.
3) Batasi
screen time
Seiring perkembangan
teknologi, terkadang gadget menjadi benda yang sulit sekali dipisahkan dari Si
Kecil. Tapi ternyata, penggunaan gadget yang berlebihan pada anak dapat
menurunkan kemampuan bicaranya.
4) Konsultasi
dengan dokter/tenaga ahli
Ketika Si Kecil belum
mulai mengoceh atau tidak belum berkata apapun pada usia 1 tahun, sebaiknya
Bunda membawa Si Kecil ke dokter spesialis anak atau psikolog anak untuk
dilakukan penanganan lebih lanjut.
3. Pertanyaan
: menurut kelompok 5 Bagaimana cara menanamkan nilai kepada anak saat karakter
anak sudah terbentuk? (Naila)
Penjawab : Laila
Jawaban :
Karakter pada anak itu tentunya berbeda-beda. Ada anak
yang karakternya sudah terbentuk tanpa disadari. Untuk menanamkan nilai pada
anak yang karakternya sudah terbentuk adalah dengan cara memberi pengertian
pada anak agar karakternya tersebut tidak mengarah pada keburukan. Orangtua
harus senantiasa membimbing dan mendidik anaknya untuk selalu mengembangkan
diri dalam hal kebaikan
Kelompok 2 Penyelaras
1. Pertanyaan
: menurut kelompok 5 Bagaimana cara menanamkan nilai kepada anak saat karakter
anak sudah terbentuk? (Naila)
Penyelaras
: Harum
Dengan cara orang tua memberikan nilai2 karakter
sesuai dengan karakter yg sudah terbentuk didalam diri anak, agar anak tersebut
tidak hanya membentuk karakter dengan cara sendiri walaupun karakter itu adalah
fondasi namun anak juga harus memounyai nilai yang diberikan oleh ortu untuk
pegangan dalam karakter nya
Penyelaras kelompok 1
1. Pertanyaan
: menurut kelompok 5 Bagaimana cara menanamkan nilai kepada anak saat karakter
anak sudah terbentuk? (Naila)
Penyelaras
: Endah
Tambahan
mengenai Pembentukan karakter anak apabila karakternya sudah terbentuk,
mungkin sebagai orang tua hanya bisa mengarahkan saja, agar anak dapat
mengendalikan dan mengolah emosinya dengan baik
DAFTAR PUSTAKA
Samhis
Setiawan. 2021. Pengertian Keluarga.
Diakses pada 4 Oktober 2021, dari https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-keluarga/
Hanif
Sri Yulianto. 2021. Penjelasan 8 Fungsi
Keluarga yang Wajib Diketahui. Diakses pada 4 Oktober 2021, dari https://www.bola.com/ragam/read/4485007/penjelasan-8-fungsi-keluarga-yang-wajib-diketahui
Dr.
Suparyanto, M.Kes. 2011. Pengertian
Keluarga. Diakses pada 6 Oktober 2021, dari
http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/10/pengertian-keluarga.html
M.
Syahran Jailani. Teori Pendidikan
Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua Dalam Pendidikan Anak Usia Dini.
Diakses pada 20 Oktober 2021, dari https://media.neliti.com/media/publications/publications/56713-ID-teori-pendidikan-keluarga-dan-tangung-ja.pdf
Hery
Noer Aly. 2008. Watak Pendidikan Islam.
Diakses pada 20 Oktober 2021, dari http://repository.uinbanten.ac.id/2176/5/BAB%20III%20Revisi.pdf
Sofyan
Basir. 2019. Membangun Keluarga Sakinah.
Diakses pada 26 Oktober 2021, dari https://core.ac.uk/download/pdf/327171681.pdf
Novi
Puji Astuti. 2021. Parenting adalah Pola
Asuh Orang Tua terhadap Anak, Kenali Jenis-jenisnya. Diakses pada 9
Desember 2021, dari https://www.merdeka.com/jabar/parenting-adalah-pola-asuh-orang-tua-terhadap-anak-kenali-jenis-jenisnya-kln.html
BKKBN.
2020. 6 Langkah Persiapan Menjadi
Orangtua. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://siapnikah.org/6-langkah-persiapan-menjadi-orangtua/
http://etheses.iainkediri.ac.id/2134/3/932104816%20BAB%20II.pdf
Sri
Muliati Abdullah. Keterlibatan Ayah dalam
Pengasuhan Anak (Paternal Involvement): Sebuah Tujuan Teoritis. Diakses
pada 9 Desember 2021, dari https://fpsi.mercubuana-yogya.ac.id/wp-content/uploads/2012/06/Keterlibatan-Ayah-dalam-Pengasuhan-Anak.pdf
Vessy
Frizona. 2016. Kiat Menjaga Anak dari Pengaruh
Media. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://lifestyle.okezone.com/read/2016/07/08/196/1433894/kiat-menjaga-anak-dari-pengaruh-media
dr.Gabriella
Florencia. 2019. Begini Cara Optimalkan
Tumbuh Kembang Anak di Periode Emas. Diakses pada 9 Desember 2021, darii https://www.halodoc.com/artikel/begini-cara-optimalkan-tumbuh-kembang-anak-di-periode-emas
Pemkab
Kulonprogo. 2016. Edukasi Perawatan
Kesehatan Reproduksi Balita. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://kulonprogokab.go.id/v31/detil/4475/edukasi-perawatan-kesehatan-reproduksi-balita
Susanto
Wibowo. 2019. Pentingnya Menjaga Kesehatan
Seksual Pada Anak. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://motherandbeyond.id/read/12905/pentingnya-menjaga-kesehatan-seksual-pada-anak
dr.
Nia Karnia,SpA.,MKes. 2006. Stimulasi
Tumbuh Kembang Anak Untuk Mencapau Tumbuh Kembang Yang Optimal. Diakses
pada 9 Desember 2021, dari http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2010/02/stimulasi_tumbuh_kembang_anak_optimal.pdf
Kamilia
Khusna. 2017. Membangun Karakter Anak
Usia Dini. Diakses pada 9 Desember 2021, dari https://www.kompasiana.com/kamiliakhusna/5938af12d192738622546bf8/membangun-karakter-anak-usia-dini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar