MAKALAH
VALIDITAS DAN
REABILITAS TES
Dibuat Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran PLS
DAFTAR ISI
2.1 Karakteristik Tes Hasil Belajar
2.2 Validitas Tes Hasil Belajar
2.2.2 Teknik-Teknik Validasi Tes
2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Validitas
2.4.2 Teknik-teknik reliabilitas
2.5 Faktor –faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan konsep penilaian pendidikan
yang ada pada saat ini menunjukkan arah yang lebih luas. Penilaian program
pendidikan menyangkut penilaian terhadap tujuan pendidikan, isi program,
strategi pelaksanaan program dan sarana pendidikan. Penilaian proses belajar
mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola
interaksi guru siswa dan keterlaksanaan program belajar mengajar. Sedangkan
penilaian hasil belajar menyangkut hasil belajar jangka pendek dan hasil
belajar jangka panjang.
Dengan demikian, inti penilaian adalah
proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu
kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut berlangsung, baik dalam
bentuk validitas maupun reliabilitas. Keberhasilan mengungkapkan hasil dan
proses belajar siswa sebagaimana adanya (objektivitas hasil penilaian) sangat
tergantung pada kualitas alat penilaiannya di samping pada cara pelaksanaannya.
Standarisasi tes mengisyaratkan uji validitas dan reliabilitas tes . tes yang
sudah standar atau baku akan memiliki nilai manfaat praktis karena hasil yang
diperoleh dari penerapan tes itu akan diperoleh skor yang sahih dan konsisten.
Oleh karena itu guru sebelum menerapkan tes kepada siswa, sebaiknya terlebih
dahulu menguji validitas dan reliabilitas tes yang telah dibuat.
Berdasarkan hal tersebut, maka penulisan
makalah ini akan difokuskan pada pembahasan tentang “Validitas dan Reliabilitas
Tes” agar dapat lebih memahami apa itu sebenarnya validitas dan reliabilitas
serta lebih memahami bagaimana mengetahui suatu alat penilaian dikatakan
mempunyai kualitas yang baik.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
karakteristik tes hasil belajar yang baik?
2.
Apakah yang
dimaksud dengan validitas tes hasil belajar?
3.
Apakah
faktor-faktor yang mempengaruhi validitas tes hasil belajar?
4.
Apakah yang
dimaksud dengan reliabilitas tes hasil belajar?
5.
Apakah faktor-faktor
yang mempengaruhi reliabilitas tes hasil belajar?
6.
Bagaimana penafsiran
koefisien validitas dan reliabilitas?
1.3 Tujuan Pembahasan
1.
Untuk mengetahui
karakteristik tes hasil belajar yang baik.
2.
Untuk mengetahui
yang dimaksud dengan validitas tes hasil belajar.
3.
Untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi validitas tes hasil belajar.
4.
Untuk mengetahui
yang dimaksud dengan reliabilitas tes hasil belajar.
5.
Untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi reliabilitas tes hasil belajar.
6. Untuk mengetahui penafsiran koefisien validitas dan
reliabilitas.
BAB II
PEMBAHASAN
21 Karakteristik Tes Hasil Belajar
Karakteristik
menggambarkan seluruh tes namun karakteristik itu lebih mungkin menjadi penanda
tes standar dari pada tes yang dikembangkan oleh guru. Tes standar merupakan
tes yang dikembangkan oleh para pakar dan dibuat secara hati-hati. Butir soal
tes satu per satu dianalisis dan direvisi sampai memenuhi standar kualitas
tertentu.
Validitas berkaitan
dengan apakah suatu tes mengukur dan untuk siapa tes itu layak digunakan.
Sedangkan reliabilitas mengacu pada konsistensi yang dapat diestimasikan dari
data (skor) dengan menggunakan teknik statistic yang diperoleh dari koefisien
korelasi. Koefisien korelasi menunjukkan angka desimal antara 0,00 sampai 1,00.
Angka yang mendekati 0,00 menunjukkan validitas atau reliabilitas rendah.
Sedangkan angka yang mendekati 1,00 menunjukkan validitas dan reliabilitas
tinggi. Spesifikasi kondisi di dalam ujian juga menjadi karakteristik penting
bagi tes standar.
2.2 Validitas Tes Hasil Belajar
2.2.1 Pengertian Validitas
Validitas merupakan
derajat kemampuan suatu tes yang mengukur apa yang hendak diukur. Secara tidak
langsung itu meliputi tes dan skala yang terdiri atas sejumlah tugas yang
dipilih untuk berfungsi sebagai indikator hasil belajar.
Validitas berkenaan
dengan ketetapan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga
betul-betul menilai apa yang yang seharusnya dinilai. Sebagai contoh menilai
kemampuan siswa dalam matematika. Misalnya diberikan soal dengan kalimat yang
panjang dan berbelit-belit sehingga sukar ditangkap maknanya. Akhirnya siswa
tidak dapat menjawab karena tidak memahami pertanyaannya. Validitas tidak
berlaku universal sebab bergantung pada situasi dan tujuan penilaian. Alat
penilaian yang telah valid untuk suatu tujuan tertentu belum otomatis akan
valid untuk tujuan yang lain.
Dalam menggunakan
validitas suatu tes, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a.
Mengacu pada
materi yang hendak diujikan.
b.
Mengacu pada hasil
dari suatu tes atau instrument evaluasi yang dikenakan pada sekelompok
individu.
c.
Berkaitan dengan
derajar dengan istilah validasi tinggi, sedang, rendah.
d.
Mengacu pada
penggunaan hasil evaluasi.
2.2.2
Teknik-Teknik Validasi Tes
a.
Validitas Tes
Acuan Normatif
1)
Validitas Isi
Merupakan derajad dimana
suatu tes mengukur bidang-bidang isi pelajaran yang hendak diukur. Hal ini
sangat penting bagi tes hasil belajar. Validitas isi mempersyaratkan adanya
validitas butir soal dan sampel isi pelajaran. Esensi validitas isi berkaitan
dengan sampel. Dan menjadi penting apabila ingin menggambarkan kinerja siswa
terhadap suatu ranah tugas tertentu. Validitas isi ditentukan oleh penilaian
(judgement) para pakar. Tidak ada rumus untuk menghitungnya dan tidak ada cara
untuk mengungkapnya secara kuantitatif. Para pakar mengkaji seluruh butir soal
dan membuat penilaian tentang seberapa baik butir soal itu mencerminkan bidang
yang diujikan.
2)
Validitas Konstruk
Merupakan derajat dimana
suatu tes mampu mengukur konstruk hipotetik yang hendak diukur. Tahapan
validitas konstruk yaitu mengidentifikasi konstruk yang diperkirakan untuk
menghitung kinerja tes, menarik hipotesis berkenaan dengan kinerja tes dari
teori masing-masing konstruk, menguji hipotesis berdasarkan logika dan data
empirik.
Validitas konstruk fokus
pada sejauh mana alat ukur menunjukkan hasil pengukuran yang sesuai dengan
definisinya. Definisi variabel harus jelas gar penilaian validitas konstruk
mudah. Definisi tersebut diturunkan dari teori. Jika definisi telah
berlandaskan teori yang tepat, dan pertanyaan atau pernyataan item soal telah
sesuai, maka instrument dinyatakan valid secara validitas konstruk (Yusup, 2018)
3)
Validitas
Kongkaren
Merupakan derajat dimana
skor suatu tes berkaitan dengan skor tes lainnya, yakni tes yang telah sahih
kemudian diujikan pada waktu yang bersamaan dengan tes yang baru dibuat.
4)
Validitas
Peramalan
Merupakan derajat dimana
suatu tes dapat meramalkan seberapa baik siswa akan melaksanakan tugas di dalam
situasi mendatang. Validitas peramalan ditentukan dengan cara merumuskan
hubungan antara skor tes dengan ukuran keberhasilan pada situasi yang diinginkan.
b.
Validitas Tes
Acuan Patokan
Tujuan utama TAP untuk mengukur hasil belajar pada
satu tujuan pembelajaran atau lebih, sehingga validitas isi akan menjadi
perhatian utama di dalam menentukan reliabilitasnya.
1)
Validitas Isi
Validitas
isi pada TAP berkaitan dengan derajat kemampuan tes mengukur pencapaian tujuan
pembelajaran. Seperti halnya dengan TAN, pada TAP juga berkaitan dengan
validitas butir soal dan validitas sampel tujuan pembelajaran. Validitas isi
juga disebur sebagai validitas deskriptif.
2)
Validitas
Peramalan
Validitas
peramalan pada TAP mempertanyakan kemampuan tes meramalkan kinerja siswa di
masa depan. Validitas ini juga disebut sebagai validitas fungsional. Dengan
demikian salah satu fungsi tes adalah untuk membuat peramalan di masa depan.
Apabila tes itu baik, maka dapat dikatakan bahwa tes tersebut memiliki
validitas fungsional.
2.2.3 Uji Validitas
a.
Validitas
eksternal
Merupakan teknik
validitas yang mengkorelasikan antara skor hasil pengukuran baru dengan skor
hasil pengukuran lain yang memiliki tujuan sama
b.
Validitas Internal
Merupakan teknik
validitas yang berusaha ingin mengetahui kesesuaian antara satu butir dengan
keseluruhan butir. Dua teknik yang digunakan yaitu analisis bagian atau faktor
dan analisis butir.
2.3 Faktor Yang
Mempengaruhi Validitas
-
Ketidakjelasan
petunjuk tes.
-
Kesulitan siswa
dalam memahami padanan kata dan struktur kalimat.
-
Tingkat kesulitan
butir soal.
-
Pembuatan butir
soal.
-
Kedwimukaan
(ambiguity).
-
Butir soal kurang
baik.
-
Butir soal terlalu
pendek.
-
Penyusunan butir
soal dalam tes.
-
Pola-pola jawaban.
2.4 Realibilitas Tes
2.4.1
Pengertian Realibilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukan
sejauh mana suatu alat ukur dipercaya atau dapat diandalkan. Reliabilitas
mengacu pada keajegan hasil evaluasi, yakni konsistensi skor tes (test score)
dari masa ke masa.jika seorang guru memperoleh skor yang sama pada tes yang
sama pada kelompok siswa yang sama pada waktu yang berbeda, maka dia dapat
menyimpulkan bahwa hasil tes itu memiliki derajat reliabilitas tes yang tinggi
dari suatu masa ke masa.konsistensi hasil evaluasi itu menjadi sangat berharga.
Jika didasarkan pada data yang valid dan ditetapkan secara objektif.
Suatu hasil evaluasi pada umumnya tidak pernah mencapai konsistensi
secara sempurna. Beberapa jenis pengukuran tentu memiliki berbagai jenis
kesalahan ada bebrapa faktor berkaitan dengan karakteristik yang bersifat
temporer atau permanen. Sumber lain berkaitan dengan karakteristik tes itu atau
cara melaksanakan ujian, pensekoran dan penafsiran hasil ujian.
Makna
reliabilitas dapat diklarifikasikan dengan memperhatikan hal-hal berikut :
-
Reliabilitas
mengacu pada hassil yang diperoleh.
-
Estimasi
reliabilitas biasanya mengacu pada jenis konsistensi tertentu.
-
Reliabilitas
adalah penting, namun bukan menjadi
prasyarat bagi validitas.
-
Reliabilitas
selalu menggunakan statistic.
2.4.2 Teknik-teknik reliabilitas
Penghitungan reliabilitas untuk tes acuan normative setidak-tidaknya
lebih mudah dibandingkan dengan pernghitungan validitasa. Ada banyak jenis
reliabilitas yang berbeda-beda, masing-masing ditentukan dengan cara-cara yang
bebeda dan massing-masing menjelaskan jenis konsistensi yang berbeda .teknik
reliabilitas tes ulang, bentuk satara, dan belah dua semuanya ditentukan
melalui korelasi.
a.
Teknik
Reliabilitas Untuk Tes Acuan Normatif
Skor
tes dapat menjadi reliable atau konsisten secara berbeda.skor itu dapat dikatagorisasikan sesuaikan dengan
apakak sekor-sekor itu diperoleh dari satu tes yang diujikan sekali, dua kali,
ataukah dua tes diujukan dalam satu waktu sekali.rliabelitas ini dapat
diestimasikan dengan menggunakan
teknik korelasi, dan diungkap dengan angka decimal antara 0,00 sampai
dengan 1,00.
1)
Reliabilitas tes
ulang (test-retest reliability)
Teknik reliabilitas tes ulang adalah derajat dimana
skor tes tetap konsisten sepanjang masa. Ia menunjukan sebaran skor yang
terjadi dari bebrapa kegiatan ujian sebagai hasil dari kesalahan pengukuran
2)
Reliabilitas
bentuk setara (Equivalent-form Reliability)
Teknik reliabilitas setara adalah dua tes yang identik
kecuali untuk soal-soal aktual. Dua bentuk tes itu mengukur bidang isi
pelajaran yang sama, jumlah soal sama, struktur soal sama, tingkat kesulitan
sama, dan petunjukn ujian, penskoran dan penafsiran sama.
3)
Reliabilitas Belah
Dua (Spil-Half Reliabiliy)
Reliabilitas belah dua merupakan jenis reliabilitas
yang didasarkan pada konsistensi internal dari suatu tes. Karena prosedur
reliabilitas belah dua hanya memerlukan satu kali ujian, maka sumber kesalahan
pengukuran dapat dikurangi, seperti perbedaan situasi dan kondisi ujian, yang
dapat terjadi pada perhitungan reliabilitas tes ulang.
4)
Reliabilitas
kesetaraan nasional (Retional Equivalence Reliability)
Reliabilitas kesataraan nasional tidak dihitung
melalui korelasi, namun melalui penetapan hubungan antara satu butir soal
dengan seluruh butir lainnya dan total butir soal dalam tes.
b.
Reliabilitas Tes
Acuan Patokan
Reliabilitas tes acuan patokan mengacu pada
konsistensi tes mengukur apa yang diukur. Perhatian tes acuan patokan adalah
asesmen derajat stabilitas atau kesetaraan, yakni reliabilitas bentuk tes ulamg
dan kesetaraan.
1)
Tes acuan patokan
non-materi
Walaupun secara teoritik variabilitas skor yang
dicapai siswa tidak ada dalam tes acuan patokan, namun demikian variabilitas
itu tetap ada. Oleh karena itu apabila tes acuan patokan itu diterapkan dan
tingkat kinerja setiap siswa dicatat, maka hampir selalu terjadi variabilitas
skor. Derajat variabilitas itu akan bervariasi dari kelompok ke kelompok dan
dari tes ke tes lainnya. Apabila terdapat variabilitas skor, maka dapat
digunakan pengukuran tradisional untuk menghitung reliabilitas. Pendekatan yang
digunakan untuk menghitung koefisien reliabilitas pada tes acuan patokan hingga
sekarang ini belum ada yang diterima oleh semua pihak.
2)
Tes acuan patokan
materi
Livingston telah mengusulkan pendekatan untuk membuat
estimasi reliabilitas tes acuan patokan. Rumus yang digunakan pada dasarnya
adalah generalisasi dari teori reliabilitas klasik. Rumus yang digunakan itu
menghitung reliabilitas tes acuan patokan dengan cara pertama-tama menghitung
reliabilitas tradisional, seperti pada acuan tes normatif, kemudian
menyesuaikan berdasrkan pada kriteria skor tes acuan patokan. Rumus yang
digunakan hanya cocok untuk jenis tes materi.
2.5 Faktor –faktor
Yang Mempengaruhi Reliabilitas
Banyak faktor mempengaruhi reliabilitas,
faktor-faktor tersebut akan dapat digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki
prosedur pengembangan tes, pemakain tes, dan analisis informasi tes.
Pertimbangan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi realiabilitas tes ini bukan saja membantu guru dalam menasirkan
kofisien reliabilitass tes standar searalebih baik,melainkan juga membantu kita
didalam merumuskan tes yang lebih reliable. Beberapa faktor yang dimaksud
secara ringkas dijelaskan sebagai berikut:
a.
Panjang Tes
(length of test)
Kemunginan
cara paling rasional untuk meningkatkan reliabilitas adalah menambah jumlah
butiran soal.penambahan butiran soal akan memperbaiki sampel ranah perilaku
yang diujikan, perbaikan sampel ranah perilaku itu akan menghasilkan validitas
lebih tinggi dan mengurangi faktor kebetulan seperti tekanan. Walaupun sampel
perilaku itu banyak dan dapat menjaddikan butir soal semakn banyak pula,namun
perlu diperhatiakan adalah butiran soal itu jangan terlalau banyak sehinnga
waktu yang disediakan untuk ujian tidak cukup untuk siswa yang mengerjakannya.
Pendeknya, semakin banyak butir soal yang ada pada suatu tes maka semakin baik
sampel perilaku yang diukur didalam tes tersebut.
b.
Sebaran skor
(spread of scores)
Metode
korelasi untuk mmengestimasi reliabilitas memerlukan sebaran sekor. Jika
sebaran sekor itu sempit, maka koefisien reliabilitas akan menjadi
randah.begitu pula jika sebaran skor itu luas, maka koefisien reliabiltas akan
menjadi tinggi.
Sebaran
skor yang diperoleh siswa pada suatu tes adalah tergantung pada tingkat
kesulitan butir soal yang disajikan dan
kemampuan siswa dalam mengerjakan soal.
c.
Keobjektivan skor
(score objectivity)
Tes
objektif merupakan tes yang mampu mengurangi subjektivitas penskoran, artinya: setiap orang yang
menskor hassil tes akan menemukan skor
yang sama pada siswa yang sama. Untuk meningkatkan objektivitas, proses
pensekoran harus dilakuakan seobjektif mungkin dan mengurangi pengaruh guru dalam
menskor hassil ujian siswa.
2.6 Penafsiran Koefisien Validitas dan Reliabilitas
Penafsiran
skor koefisien korelasi tergantung pada bagaimana tes itu akan digunakan.
Apabila skor koefisien korelasi digunakan untuk mengestimasikan validitas atau
reliabilitas instrumen pengukuran, maka kriteria yang harus diambil harus lebih
tinggi dibandingkan dengan apabila skor koefisien itu digunakan untuk tujuan
tertentu, sperti penelitian yang mencari hubungan antar variabel. Koefisien
korelasi 0,45 misalnya, dikatakan baik untuk penelitian korelasional, namun
tidak baik untuk dijadikan sebagai indeks validitas prediktif, dan sangat buruk
untuk dijadikan sebagai indeks reliabilitas. Demikian pula, koefisein 0,60
dapat dikatakan baik untuk penelitian prediktif, namun masih belum memuaskan untuk
mengestimasi reliabilitas (Mochamanid, 2015)
Berkenaan
dengan validitas, seringkali penyusunan tes menghitung koefesien korelasi untuk
menentukan validitas prediktif, yakni derajat hubungan antara skor prediktor
dengan kriterium. Koefesien 0,40, misalnya, akan memiliki sedikit makna bagi
tujuan prediksi, karena hal ini menunjukkan korelasi yang rendah, dan
menunjukkan variasi 16%, sehingga tidak mampu digunakan untuk memprediksi skor
kriterium. Oleh karena itu tes yang skor koefesien korelasi di bawah 0,50
umumnya tidak memiliki manfaat untuk digunakan sebagai instrumen untuk
memprediksi kemampuan sekelompok atau individu siswa. Berkenaan dengan
reliabilitas, berapakah skor koefesien reliabilitas yang baik untuk sebuah tes.
Untuk tes kemampuan dan prestasi belajar yang standar, umumnya skor koefesien
korelasi yang dilipih adalah 0,90. Tes kepribadian umumnya menetapkan skor
koefesien korelasi minimal 0,8.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Secara
sederhana pengertian validitas adalah derajat kemampuan suatu tes mengukur apa yang
hendak diukur. Ada bebrapa teknik untuk mengukur validitas tes, yaitu validitas
tes isi, validitas konstrak, validitas kongkaren, dan validitas peramalan.
Reliabilitas mengacu pada keajegan hasil evaluasi,
yakni konsistensi skor tes dari masa ke masa. Ada bebrapa teknik untuk mengukur
reliabilitas tes, yaitu teknik reliabilitas belah dua, bentuk setara, bentuk
tes-retes, dan bentuk kesetaraan rasional.
DAFTAR PUSTAKA
Mochamanid. (2015). Makalah Evaluasi Pembelajaran
“Validitas dan Realibilitas Tes.”
https://pak-boedi.blogspot.com/2015/09/makalah-evaluasi-pembelajaran-validitas.html?m=1
diakses pada 9 November 2022 pukul 09.08
Yusup, F. (2018). Uji Validitas Dan
Reliabilitas Instrumen Penelitian Kuantitatif. Jurnal Tarbiyah : Jurnal Ilmu
Kependidikan, 7(1), 17–23.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar