Selasa, 04 Mei 2021

Makalah Belajar Sepanjang Hayat

 

MAKALAH

BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Disusun untuk memenuhi Tugas Bab 4


Disusun oleh,

Nama

: Putry Anjani

NPM

: -

Kelas

: 2B

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

2021


 

Dengan menyebut nama Allah S.W.T. yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, segala puji dan syukur penyusun panjatkan kepadaNya atas berkat, rahmat, serta hidayahNya penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah “Belajar Sepanjang Hayat”  ini dengan baik.

Kami menyadari, makalah yang kami buat jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca, guna menghasilkan makalah yang lebih baik.

Bekasi, 2 Maret 2021 

Penyusun


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN.. 1

A.     LATAR BELAKANG.. 1

B.      RUMUSAN MASALAH.. 1

C.      TUJUAN PEMBAHASAN.. 1

BAB II PEMBAHASAN.. 3

A.      DEFINISI BELAJAR SEPANJANG HAYAT. 3

B.      KONSEP BELAJAR SEPANJANG HAYAT. 3

C.      DASAR PEMIKIRAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT. 7

D.      TARGET BELAJAR SEPANJANG HAYAT. 8

E.      MANFAAT BELAJAR SEPANJANG HAYAT. 11

F.      TUJUAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT. 12

G.     IMPLIKASI BELAJAR SEPANJANG HAYAT. 13

BAB III PENUTUP. 16

DAFTAR PUSTAKA.. 18

 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Dunia semakin hari semakin mengalami perubahan. Perubahan dan perkembangan itu menuntut manusia harus terus belajar dimanapun dan kapanpun. Konsep belajar sepanjang hayat atau yang dikenal dengan Long Life education bisa dilakukan dimana saja, mulai dari lingkungan keluarga dimulai dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan sampai dengan usia tua, Belajar sepanjang hayat juga bisa dilakukan dalam pendidikam formal, dari mulai Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menegah Atas/kejuruan, Perguruan Tinggi. Lahirnya konsep belajar sepanjang hayat adalah bagian dari keprihatinan pada dunia pedidikan yang ada, karena masih banyak masyarakat yang tidak bisa menikmati pendidikan pada dunia formal.

B.     RUMUSAN MASALAH

Penulis dalam makalah ini akan membahas tentang ” Belajar Sepanjang Hayat” yang dibatasi oleh beberapa masalah seperti berikut :

  1. Apa itu belajar sepanjang hayat?
  2. Bagaimana konsep dari belajar sepanjang hayat?
  3. Apa saja dasar pemikiran belajar sepanjang hayat?
  4. Siapa yang menjadi target belajar sepanjang hayat?
  5. Apa saja manfaat belajar sepanjang hayat?
  6. Apa tujuan dari belajar sepanjang hayat?
  7. Bagaimana implikasi belajar sepanjang hayat?

C.     TUJUAN PEMBAHASAN

Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui definisi dari belajar sepanjang hayat
  2. Mengetahui konsep dari belajar sepanjang hayat
  3. Mengetahui dasar pemikiran belajar sepanjang hayat
  4. Mengetahui target belajar sepanjang hayat
  5. Mengetahui manfaat dari belajar sepanjang hayat
  6. Mengetahui tujuan-tujuan dari belajar sepanjang hayat
  7. Mengetahui implikasi dari belajar sepanjang hayat


BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Belajar sepanjang hayat adalah suatu proses yang terus menerus untuk setiap orang dengan menambah dan menyesuaikan pengetahuan dan keterampilannya, serta pertimbangan dan kemampuan untuk tindakannya. Hal itu harus mamampukan manusia untuk menjadi sadar akan diri sendiri dan lingkunganya, dan untuk memainkan peranan sosial dalam pekerjaan dan dalam lingkungan masyarakat. Pengetahuan, keterampilan kerja, pemahaman baaimana hidup dengan orang lain, dan keterampilan-keterampilan hidup, merupakan empat aspek yang terkait sangat erat dari kenyataan yang sama.

B.     KONSEP BELAJAR SEPANJANG HAYAT

  1. Pengertian Konsep

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia selain berarti rancangan, konsep juga bermakna ide atau pengertian yang di abtraksikan dari peristiwa-peristiwa konkrit atau gambaran mental dan obyek proses ataupun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi memahami hal-hal lain.

Kata konsep dari bahasa inggris (concept), yang berarti bagan, rencana, gagasan, pandangan, cita-cita (yang telah ada dalam fikiran).

Sedangkan menurut Ibrahim Madkur, kata konsep (Inggnis concept) dipadankan dengan istilah makna kulli (Arab), yang artinya pikiran (gagasan) yang bersifat umum, yang dapat menenima generalisasi. Sedangkan dengan makna-makna tersebut, maka konsep yang dimaksudkan dalam pengertian ini, ialah sejumlah gagasan, ide-ide, pemikiran, pandangan ataupun teori-teori yang dalam konteks ini dimaksudkan ialah ide-ide, gagasan, pemikiran tentang belajar sepanjang hayat.

  1. Belajar Sepanjang Hayat

Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fase-fase perkembangan pada manusia. Oleh karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu harus dilalui dengan belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembanganya, maka belajar itu dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua. Bertolak dari fase-fase perkembangan seperti dikemukakan Havinghurst, berimplikasi kepada keharusan untuk belajar secara terus menerus sepanjang hayat dan memberi kemudahan kepada para perancang pendidikan pada setiap jenjang pendidikan untuk:

a.       Menentukan arah pendidikan.

b.      Menentukan metode atau model belajar anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan tugas perkembangannya.

c.       Menyiapkan materi pembelajaran yang tepat.

d.      Menyiapkan pengalaman belajar yang cocok dengan tugas perkembangan itu.

Dalam hubungannya dengan belajar sepanjang hayat, akan dikemukakan tugas-tugas perkembangan masa dewasa awal, masa setengah baya dan orang tua, untuk memberikan pengalaman belajar yang sesuai dalam rangka belajar sepanjang hayat.

Dari dimensi psikologis, belajar sepanjang hayat, terutama bagi orang dewasa dan orang tua dalam situasi belajar mempunyai sikap tertentu. Karena itu perlu diperhatikan hal-hal berikut:

1)      Belajar adalah suatu pengalaman yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri. Maka orang dewasa perlu dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang lebih mutakhir, ketrampilan baru dan sikap yang lain.

2)      Orang dewasa belajar kalau ditemukannya arti pribadi bagi dirinya dan melihat sesuatu mempunyai hubungan dengan kebutuhannya.

3)      Bagi orang dewasa proses belajar adalah khas dan bersifat individual. Setiap orang punya cara dan kecepatan sendiri untuk belajar dan memecahkan masalah. Dengan kesempatan mengamati cara-cara yang dipakai orang lain, Ia dapat memperbaiki dan menyempumakan caranya sendiri, agar menjadi lebih efektif.

Secara umum konsep belajar sepanjang hayat adalah sebagai berikut:

1.      Pengembangan potensi manusia (the development of human potential)

Belajar sepanjang hayat mengakui bahwa setiap individu memiliki potensi belajar sekaligus menerima beberapa keterbatasan yang terkandung dalam potensi individu. Keterbatasan potensi yang dimaksud tidak didasarkan pada kapasitas biologis dan fisik semata, tetapi lebih pada kurangnya kepuasan terhadap apa yang kita bebankan atas diri kita. Kita harus berpandangan optimistis mengenai kapasitas manusia, didasarkan pada kepercayaan bahwa semua dari kita, terlepas dari latar belakang, faktor genetik, pengembangan lingkungan, kepercayaan, warna kulit atau kebangsaan, dapat membuat lompatan kuantum dalam mencapai potensi kemanusiaan.

Mendukung atau dukungan mencakup beberapa hal:

a.       Dukungan dari para profesional yang dilatih khusus, disebut konselor belajar

b.      Sikap ramah dan simpatik kepada pembelajar baru dengan atau tanpa kesulitan belajar

c.       Pembangunan infrastruktur belajar untuk memuaskan kebutuhan setiap orang

d.      Penilaian yang tidak mengancam dan sistem kualifikasi yang dibutuhkan oleh pembelajar

e.       Pribadi yang berorientasi sukses dan prosedur yang mudah dipahami untuk diarahkan menuju terpenuhinya kebutuhan setiap pembelajar.

2.      Terus menerus (continously)

Persediaan kesempatan belajar tersedia secara tetap dan sesuai dengan tuntutan yang diinginkan. Dalam dunia belajar sepanjang hayat permintaan akan tinggi dan berkelanjutan, tanpa melihat usia dan jenis kelamin.

3.      Proses (process)

Proses memperkuat ide bahwa belajar merupakan aktivitas personal yang berpusat di dalam (internal) atau tanpa dukungan lingkungan kelompok (eksternal), yang merupakan hasil holistik dan tidak terikat struktur yang ada di luar organisasinya.

4.      Menstimulasi (stimulates)

Stimulasi merupakan proses perangsangan yang lebih dari sekedar menyediakan layanan informasi yang dibutuhkan, akan tetapi secara aktif dan positif mempromosikan belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat, sekaligus memberikan pesan bahwa setiap orang dapat mengikuti proses belajar kapanpun, dimanapun, sesuai dengan kebutuhannya. Proses stimulasi ini harus melekat dalam sistem, dimana organisasi menginisiasi pembelajaran.

5.      Memberdayakan (empowers)

Memberdayakan adalah menempatkan kekuatan di tangan individu untuk mengembangkan potensi dirinya melalui belajar. Melaui belajar, individu diperkaya dan diperkuat pemahamannya mengenai konsep “knowledge is poower”. Pembelajar sepanjang hayat harus diberdayakan kapasitas dan kapabilitasnya dalam membuat keputusan, memecahkan masalah, berpikir melalui tindakan, dan menguasai kehidupannya.

6.      Individu-individu (individuals)

Belajar sepanjang hayat mengakui individu sebagai pihak yang mampu membuat keputusan, melakukan usaha-usaha, dan akan memperoleh manfaat dari proses belajar.

7.      Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan merupakan penafsiran atau interpretasi informasi yang dapat memberikan makna lebih besar dengan menempatkannya dalam sebuah kontinum belajar yang mengarah pada kebijaksanaan.

8.      Nilai (values)

Merupakan atribut paling penting dapat kita pelajari dari proses pendidikan. Belajar, dalam konteks sistem nilai personal dapat menciptakan sikap yang menjamin pendekatan positif bagi pengembangan potensi individu secara berkelanjutanm dan mendorong setiap orang untuk mengakui potensi yang dimilikinya. Disamping itu, organisasi, bangsa dan komunitas juga memiliki sistem nilai yang saling berkaitan.

9.      Kecakapan (skills)

Memungkinkan belajar untuk bisa diubah menjadi tindakan. Kecakapan dapat secara bersama-sama diterapkan dalam beragam tempat kerja atau kegiatan sosial. Pengembangan kecakapan baru juga bisa  menambah kebanggaan personal dan mampu menyenangkan setiap orang dalam belajar, sekaligus membangun rasa percaya diri yang tinggi serta pandangan positif.

10.  Pemahaman (understanding)

Tingkat pemahaman seseorang sering diperoleh dari hasil belajar pengetahuan kecakapan aplikatif. Kondisi ini tidak dapat diperoleh tanpa adanya kebiasaaan belajar yang melekat pada diri seseorang

C.     DASAR PEMIKIRAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT

1.      Dasar Teoritis/ Religious

Konsep pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya : An Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir.

Konsep pendidikan yang tidak terbatas ini juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi :

للحدالىإلمهدامنلعلماطلبا

“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”

2.      Dasar Yuridis

Konsep pendidikan seumur hidup di Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan negara yaitu melalui :

a.       Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO. IV/MPR/1978 tentang GBHN menetapkan prinsip-prinsip pembangungan nasional, antara lain :

×          Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang)

×          Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah tangga), sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).

b.      UU No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 sebagai berikut :

“Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.

c.       UU Nomor 2 Tahun 1989

Penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga, sebagaimana dijelaskan pada ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan”.

D.    TARGET BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Belajar sepanjang hayat dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga, dalam pendidikan formal, dan dalam pendidikan non formal.

1.      Belajar sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga

Tempat belajar yang pertama bagi seorang manusia adalah lingkungan keluaraga, pada tapa inilah tahap yang paling menentukan seorang anak untuk memulai pembelajaran dalam keluarganya.Khususnya dalam ajaran Islam pembelajaran sudah dimulai ketika seorang bayi masih berada dalam rahimnya, dalam konsep ini jelas bahwa Islam memang sangat memperhatikan umatnya untuk senantiasa belajar. Kemudian dalam Islam dijelaskan berdasarkan hadis Rasulullah Saw “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya sebagai Yahudi Nasrani atau Majusi.” Dalam hadis ini jelas bahwa peran orang tua dalam keluarga sangatlah penting untuk mendidik putra-putrinya, orang tuanyalah yang akan membentuk pribadi anaknya dalam lingkungan keluarga. Belajar sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga menurut penulis bisa dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut :

a.       Belajar pada masa balita

Dalam masa balita orang tua mulai bisa mengajarkan kepada anaknya, sesuai dengan kemampuan serta fase perkembanganya.Misalnya dengan mengajarkan atau melatih anak untuk bisa merangkak, kemudian berdiri, berjalan walaupun pembelajaran seperti ini bisa terjadi secara alami tapi tetap membutuhkan perhatian khusus dari orang tua. Selain itu pada masa balita bisa dilakukan pembelajaran seperti mengucapkan kalimat atau kata sederhana serta belajar bicara dan lain sebagainya

b.      Belajar pada masa kanak-kanak

Dalam fase ini orang tua mempunyai peranan penting untuk memberikan pembelajaran pada anak-anaknya, orang tua mulai memberikan pembelajaran misalnya bagaimana mereka menggunakan pakaian atau melepaskannya, mebiasakan anak untuk hidup disiplin dengan cara memberikan contoh misalnya dengan berangkat dan pulang sekolah tepat waktu, belajar dan bermain sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Pada masa ini pembelajaran mengenai hidup bersih juga bisa mulai diberikan misalnya dengan mandi, menggosok gigi, mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, dan lain sebagainya. Dalam fase ini orang tua bukan hanya memberikan pembelajaran tetapi harus bisa memberikan contoh karena cenderung seorang anak biasanya melakukan sesuatu dari apa yang dilihatnya. Pada masa ini pembentukan karakter juga bisa diberikan misalnya dengan mencium tangan orang tua ketika berangkat dan pulang sekolah disertai mengucapkan salam, menghormati yang lebih tua, membiasakan sholat lima waktu dan lain sebagainya.

c.       Belajar pada masa remaja.

Masa remaja merupakan masa yang paling rentang, pada fase ini seorang anak cenderung mempunyai sifat labil, oleh sebab itu peranan orang tua dalam memberikan pembelajaran dalam lingkungan keluarga sangatlah penting.Agar pada masa ini bisa berkembang dengan baik, tanpa terpengaruh oleh lingkungan luar, terpengaruh oleng teman-teman bergaulnya. Pada masa ini konsep pembelajaran sepanjang hayat mempunyai peranan penting karena dalam fase ini pula seorang anak akan mulai mencari jati dirinya, mulai mengenal dunia pergaulan, dan cenderung memiliki keinginan untuk punya kebebasan dalam melakukan sesuatu. Pembelajaran disiplin dan pengwasan serta perhatian dari orang tua sangatlah penting agar anak bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang positif serta berkembang secara normal.

d.      Belajar pada masa dewasa

Konsep belajar sepanjang hayat pada masa dewasa merupakan masa yang penting dilakukan dalam lingkungan keluarga.Pada fase ini seorang anak remaja yang berkembang menjadi manusia dewasa mulai mengenal jati dirinya, bahkan memilki karakter tersendiri.Pada masa ini pula biasanya kecenderungan seseorang untuk menyudahi belajar sangat dominan khususnya perempuan.Diawali selesai masa kuliah, kemudian menikah, punya anak dan memilki keluaraga.Pada masa-masa ini seseorang cenderung lebih memetingkan keluarga, pekerjaan dibadingkan dengan belajarnya.Padahal pada masa ini pembelajaran masih tetap bisa dijalankan.Oleh sebab itu dalam lingkungan keluarga ini orang tua harus bisa memberikan pemahan kepada anak-ankanya agar terus belajar sepanjang hidupnya, baik belajar formal maupun non formal.

e.       Belajar pada masa tua atau usia lanjut

Dalam lingkungan keluarga Konsep pembelajaran dalam Islam bahwa belajar tidak mengenal usia, sesuai dengan hadis yang ada pada landasan diatas. Maka sesunggunya pada usia ini seseorang harus tetap belajar, yang tentunya dilakukan dalam keluarga. Pada masa ini orang tua bisa belajar pada anak-anaknya atau pada masa ini orang tua memberikan pembeljaran pada anak-anaknya.Karena sesunggunya belajar sepanjang hayat bukan hanya belajar tapi juga memberikan pembelajaran. Orang tua yang memilki banyak ilmu maka ia akan semakin bijak dalam mengambil keputusan dalam setiap masalah yang dihadapi dalam hidupnya.

2.      Belajar sepanjang hayat dalam pendidikan Formal

Pembelajaran sepanjang hayat (Long Life education) dalam pendidikan formal, adalah pembelajaran yang sistematis dan terencana, memilki tujuan – tujuan khusus sesuai dengan bakat, kemampuan atau jurusan yang diminati oleh pembelajar. Yang termasuk dalam pendidikan formal adalah dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sekolah menengah kejuruan, perguruan tinggi, D1, D2, D3, S1,S2, dan S3. Pada pendidikan formal setelah seseorang meyelesaikan program sekolah menegah atas atau kejuruan, setiap orang diperbolehkan untuk mengikuti perkuliahan di perguruan tinggi, tak mengenal usia, jenis kelamin, suku dan golongan. Oleh sebab itu hal ini berlaku sampai kapanpun selama sesorang masih memilki keinginan untuk belajar maka selama itu pula banyak kesempatan bagi setiap orang untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.

3.      Belajar sepanjang hayat dalam pendidikan Non Formal

Belajar tidak mengenal usia, waktu dan tempat, dimanapun kapanpun kita bisa belajar dari kehidupan ini. Belajar tidak harus dibangku sekolah atau pendidikan formal serta berizazah, tetapi belajar bisa dimana saja, dari berbagai sumber yang berisi tentang pengetahuan.Banyak orang yang belajar ototidak (belajar sendiri) namun mereka lebih berhasil dari orang-orang yang berpendidikan formal, itu artinya belum tentu orang yang berpendidikan formal bisa lebih sukses daripada orang yang tidak berpendidikan formal. Sesungguhnya yang membuat orang menjadi sukses adalah kemampuannya beradaptasi dengan orang lain, komunikatif, pandai begaul, punya kemauan keras dan tentunya skil tidak kalah penting.

Pendidikan non formal tidak mengenal ruang dan waktu, setiap orang bisa belajar kapanpun, orang bisa belajar dari apa yang dilihatnya, di dengarnya, dirasakannya, dialaminya dan lain sebagainya. Konsep pendidikan sepajang hayat pada pendidikan non formal lebih luas dari yang lainnya.Pendidikan non formal ini bisa dilakukan seperti kelompok belajar, organisasi, tempat kursus atau pelatihan, atau ditempat – tempat pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak.Oleh sebab itu sudah seharusnya setiap orang harus terus belajar dari setiap perjalanan hidupnya sampai ajal menjemputnya.Karena ilmu pengetahuan sangat berguna bagi setiap orang walalupun bagi orang yang sudah berusia lanjut sekalipun.

E.     MANFAAT BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Manfaat belajar sepanjang hayat adalah menjadikan seseorang tidak ketinggalan zaman, dapat terus memperbarui pengetahuan terutama bagi mereka yang sudah tidak mengenyam bangku sekolah lagi Dalam arti telah lulus dari sekolah formal, menjadikan individu Yang tidak akan terasing oleh generasi dibawahnya, menjadikan individu yang berwawasan luas serta mampu beradaptasi dengan perubahan yang akan datang sehingga dapat tetap memberikan sumbangan ilmu pengetahuan bagi kehidupan dilingkungannya.ini juga manfat dari belajar sepanjang hayat:

1.      Tinjauan Idiologis.

Secara kodrat manusia itu selalu ingin mengembangkan diri. Manusia memiliki hak yang sama dalam memperoleh pendidikan, sehingga dengan pendidikan akan menambah pengetahuan dan kualitas hidupnya secara otomatis.

  1. Tinjauan Ekonomis.

Tidak ada jalan lain agar manusia keluar dari kebodohan dan kemiskinan kecuali terus memperkaya hidup dengan ilmu melalui pendidikan yang berlangsung seumur hidup. Hal ini akan memberikan dampak pada meningkatnya produktifitas hidup, mengembangkan setiap potensi serta sumber daya yang dimiliki. Jika setiap individu dengan sadar mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan maka dimungkinkan mereka akan menikmat kehidupan ini dengan nyaman dan bermakna.

  1. Tinjauan Sosiologis.

Permasalahan pokok yang terjadi di negara berkembang adalah pemborosan pendidikan. Putus sekolah, kurang menyadari pentingnya pendidikan pemahaman yang keliru mengenai pendidikan itu sendiri atau bahkan tidak sekolah sama sekali. Sehingga yang terjadi adalah angka buta huruf bertambah, pengangguran di mana-mana hal ini yang di indikasikan sebagai pemborosan pendidikan.

  1. Tinjauan Politis.

Negara kita adalah negara demokratis, di mana setiap warga negara harus memahami akan hak dan kewajibannya di samping mengetahui pula peran pemerintah. Dengan demikian fungsi dari pendidikan seumur hidup adalah memberikan pendidikan kewarganegaraan kepada setiap warga negaranya.

  1. Tinjauan Teknologis.

Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang, maka setiap individu harus mengikuti perkembangan yang terjadi.

  1. Tinjauan Psikologis dan pedagogis.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara terus menerus akan memberikan pengaruh besar kepada proses pendidikan. Komunikasi yang diberikan oleh guru sangat penting untuk mengkomunikasikan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut.

F.      TUJUAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Belajar sepanjang hayat memiliki tujuan menciptakan belajar untuk hidup (learning to be) dan membentuk masyarakat belajar (learning society). Ditegaskan Trisnamansyah, tujuan pendidikan sepanjang hayat adalah tidak sekedar untuk adanya perubahan melainkan pula untuk tercapainya kepuasan diri dari pihak yang melakukan belajarnya itu sendiri.

Dalam perspektif yang lain disebutkan bahwa sedikitnya ada dua tujuan dari belajar sepanjang hayat termasuk didalamnya tujuan belajar mandiri atau self-learning yaitu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan positif yang terus menerus berubah dan berkembang dalam sepanjang kehidupan manusia dan masyarakat, dan untuk menyiapkan diri guna mencapai kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Belajar sepanjang hayat merupakan landasan yang kuat bagi program-program pendidikan non formal yang mengarah pada upaya untuk menumbuhkan masyarakat gemar belajar. Masyarakat gemar belajar dapat terwujud apabila setiap warga masyarakat selalu mencari dan menemukan sesuatu yang baru dan bermakna, meningkatkan belajar. Kegiatan belajar yang dilakkukan oleh setiap warga masyarakat tidak terbatas hanya untuk mengetahui atau belajar sesuatu (learning how to learn), tidak pula belajar hanya untuk memecahkan masalah yang timbul dalam kehidupan (learning how to solve problems). Kegiatan belajar yang mereka lakukan terarah untuk kepentingan dan kemajuan kehidupannya (learning how to be), belajar untuk melakukan sesuatu (learning how to do), dan belajar untuk hidup bersama (learning how to live together).

Masyarakat gemar belajar (learning society) atau masyarakat berencana (planning society) atay disebut juga sebagai masyarakat inovatif (innovative society) adalah suatu masyarakat  yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Sebagian besar atau bahkan seluruh warga masyarakat aktif dan mencari informasi yang berhubungan dengan kepentingan dan kebutuhan hidupnya.
  2. Menemukan informasi baru melalui kegiatan membaca berbagai sumber informasi seperti buku, jurnal, surat kabar, majalah dan lain sebagainya.
  3. Mampu dan bisa menulis dan menyebarluaskan informasi.
  4. Melakukan kegiatan belajar secara sadar dan berkelanjutan.
  5. Sadar dan percaya bahwa belajar adalah kebutuhan dan bagian yang tidak terpisahkan dalam memelihara dan mengembangkan kehidupan ke arah yang lebih baik.

G.    IMPLIKASI BELAJAR SEPANJANG HAYAT

Menurut W.P Guruge dalam buku Toward Better Educational Management, implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan adalah :

1.       Pendidikan baca tulis fungsional

a.       Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik.

b.      Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya tersebut.

2.       Pendidikan vokasional

Pendidikan vokasional sebagai program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah atau sebagai program pendidikan formal dan non formal dalam rangka ‘apprentice ship training merupakan salah satu program dalam pendidikan seumur hidup. Namun pendidikan vokasional tidak boleh dipandang sebagai jalan pintas tetapi tetap dilaksanakan secara kontinu.

3.       Pendidikan professional

Sebagai realisasi pendidikan seumur hidup, dalam tiap profesi hendaklah tercipta built in mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi, dan sikap profesionalnya.

4.       Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan

Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari asas pendidikan seumur hidup.

5.       Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik

Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik perlu diberikan dalam pendidikan seumur hidup bagi kehidupan berbangsa dan bernegara baik menjadi rakyat maupun pimpinan.

6.       Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang

Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang perlu diberikan secara konstruktif sebagai bagian konsep long life education. Dengan cara ini waktu senggang dapat dimanfaatkan berbasis budaya yang baik sehingga pendidikan seumur hidup dapat berjalan menyenangkan.

Contoh lain implikasi belajar sepanjang hayat di lingkungan social

1.      Program Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan yang Rentan Masalah Sosial dan Ekonomi.

Program pendidikan dan pemberdayaan perempuan, merupakan pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan perempuan, khususnya mereka yang termarginalkan, baik karena factor kultur maupun struktur. Proram pendidikan perempuan difokuskan pada dua hal, yakni peningkatan kesadaran perempuan akan hak-hak dasar kemanusiaan (HAM) dan peningkatan kemampuan/kecakapan perempuan yang dapat mendorong perempuan dapat berkiprah secara maksimal dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa.

Program pendidikan perempuan sementara ini masih menjadi domain pemerintah pusat, dalam arti bahwa pemerintah daerah belum ada yang menganggarkan dana untuk program yang sama dengan pemerintah pusat.

Tujuan Khusus yang ingin dicapai untuk pemberberdayaan perempuan yaitu:

a.       Mamahami nilai nilai hak asai manusia (HAM)

b.      Memahami ilai-nilai demokrasi, hak dan kewajiban setiap perempuan

c.       Memiliki keterampilan memadai dalam membantu meningkatkan pendapat Keluarga.

d.      Memiliki kemampuan untuk mengorganisasi dan memobilisasi; partisipasi dalam organisasi komunitas perempuan.

Substansi materi pada program pendidikan dan pemberdayaan perempuan meliputi:

a.       Bidang Keterampilan

1)Pengenalan alat, 2) Pengenalan Teknik-teknik, dan cara merias pengantin, 3) Pengenalan karakteristik setiap orang, 4) penguatan Materi dan pengulangan, 5) Kegiatan Praktek.

b.      Bidang Umum-Integratif

1)      Gender dalam kehidupan rumah tangga

2)      Pengelolaan ekonomi keluarga berwawasan gender

3)      Gender dan kehidupan demokrasi dalam keluarga

4)      Hak Asasi Manusia (HAM) dalam keluarga

5)      Hak-hak Perempuan, bahaya trafficking dan Anak

c.       Bidang Penunjang

1)      Pelatihan fasilitator dan nara sumber teknis

2)      Pelatihan pengelolaan kelompok usaha ekonomi produktif

1.       Program Kursus Wirausaha Desa dan Kursus Wirausaha Kota (KWD & KWK).

Program ini merupakan program yang mengarahkan peserta didik untuk mengenal, memahami, dan memanfaatkan sumber-sumber yang ada di lingkungan sekitar untuk kemudian dijadikan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan berekonomi. Program ini merupakan program yang bersumber dari pemerintah pusat yang bertujuan untuk mengembangan sikap dan keterampilan kewirausahaan di pedesaan maupun di perkotaan. Program ini berjalan hampir semua provinsi di Indonesia, termasuk pada lima provinsi lokasi penelitian.

Program kursus ini penyelengaraannya sudah sukup melembaga dan sebenarnya sudah lebih banyak yang berdiri sendiri (establish). Program ini diselenggarakan oleh lembaga-lembaga yang sudah lama berdiri di masyarakat. Namun demikian untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dan output peserta didik, pemerintah memberikan rambu-rambu penyelenggaraan dan pembinaan, baik dalam pendanaan maupun substansi program. Keseluruhan program tersebut terbingkai dalam satuan pendidikan di antaranya adalah PKBM, Yayasan, Lembaga Kursus dan Pelatihan, Organisasi Sosial Kemasyarakatan, Organisasi Peduli Perempuan, dan lainnya.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Dari yang telah diuraikan di atas dapatlah ditarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan penerapan belajar sepanjang hayat adalah sebagai berikut :

1.      Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan dengan fase-fase perkembangan pada manusia.

2.      Secara umum konsep belajar sepanjang hayat adalah sebagai berikut:

a.       Pengembangan potensi manusia (the development of human potential)

b.      Terus menerus (continously)

c.       Proses (Process)

d.      Menstimulasi (stimulates)

e.       Memberdayakan (empowers)

f.       Individu-individu (individuals)

g.      Pengetahuan (knowledge)

h.      Nilai (Values)

i.        Kecakapan (skills)

j.        Pemahaman (understanding)

3.      Dasar pemikiran belajar sepanjang hayat terdiri dari dasar pemikiran teoritis dan dasar pemikiran yuridis.

4.      Target belajar sepanjang hayat dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga, pendidikan formal, maupun dalam pendidikan non formal.

5.      Manfaat belajar sepanjang hayat adalah menjadikan seseorang tidak ketinggalan zaman, dapat terus memperbarui pengetahuan terutama bagi mereka yang sudah tidak mengenyam bangku sekolah lagi

6.      Belajar sepanjang hayat memiliki tujuan menciptakan belajar untuk hidup (learning to be) dan membentuk masyarakat belajar (learning society).

  1. Implikasi belajar sepanjang hayat menurut W.P Guruge dalam buku Toward Better Educational Management, yaitu :

a.       Pendidikan baca tulis fungsional

b.      Pendidikan vokasional

c.       Pendidikan Professional

d.      Pendidikan kearah perubahan dan pembangunan

e.       Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik

f.       Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang

Adapun contoh lain dari implikasi belajar sepanjang hayat yaitu :

a.       Program Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan yang Rentan Masalah Sosial dan Ekonomi.

b.      Program Kursus Wirausaha Desa dan Kursus Wirausaha Kota (KWD & KWK).

B.     SARAN

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.


DAFTAR PUSTAKA 

Nanonganongfa. 2014. Belajar Sepanjang Hayat. https://nanonganongfa.wordpress.com/2014/12/02/belajar-sepanjang-hayat/ (di akses 28 Februari 2021).

Ilmu Baru. 2008. Konsep Belajar Sepanjang Hayat. https://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/10/01/konsep-belajar-sepanjang-hayat/ (di akses 28 Februari 2021)

Suci Ayu Farida. 2015. Pembelajaran Sepanjang Hayat. http://suciayufarida.blogspot.com/2015/04/pembelajaran-sepanjang-hayat.html (di akses pada 28 Februari 2021)

Achmad Hufad, Jhoni R Pramudia, Sardien Supariatna. 2010. Studi Tentang Implementasi Program Belajar Sepanjang Hayat Di Indonesia. http://file.upi.edu/Direktori/PROCEEDING/Seminar_Internas.NFE/STUDI_TENTANG_IMPLEMENTASI_PROGRAM_BELAJAR_SEPANJANG_HAYAT_DI_INDONESIA.pdf (di akses 28 Februari 2021)

Rizky Meilynda. 2015. Makalah Long Life Education. http://rizkymeilynda.blogspot.com/2015/01/makalah-long-life-education.html (di akses pada 1 Maret 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengelolaan Pemberdayaan Masyarakat

  RESUME PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Disusun oleh, Putry Anjani  PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS KEGURU...