MAKALAH
BELAJAR SEPANJANG HAYAT
Disusun
untuk memenuhi Tugas Bab 4
Disusun
oleh,
|
Nama |
: Putry Anjani |
|
NPM |
: - |
|
Kelas |
: 2B |
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
Dengan menyebut nama Allah S.W.T. yang Maha
pengasih lagi Maha penyayang, segala puji dan syukur penyusun panjatkan
kepadaNya atas berkat, rahmat, serta hidayahNya penyusun dapat menyelesaikan
penyusunan makalah “Belajar Sepanjang Hayat”
ini dengan baik.
Kami
menyadari, makalah yang kami buat jauh dari sempurna dan masih banyak
kekurangan. Oleh sebab itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca, guna menghasilkan makalah yang lebih baik.
Bekasi, 2 Maret 2021
Penyusun
DAFTAR ISI
A. DEFINISI
BELAJAR SEPANJANG HAYAT
B. KONSEP
BELAJAR SEPANJANG HAYAT
C. DASAR
PEMIKIRAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT
D. TARGET
BELAJAR SEPANJANG HAYAT
E. MANFAAT
BELAJAR SEPANJANG HAYAT
F. TUJUAN
BELAJAR SEPANJANG HAYAT
G. IMPLIKASI
BELAJAR SEPANJANG HAYAT
BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dunia semakin hari semakin mengalami perubahan.
Perubahan dan perkembangan itu menuntut manusia harus terus belajar dimanapun
dan kapanpun. Konsep belajar sepanjang hayat atau yang dikenal dengan Long Life
education bisa dilakukan dimana saja, mulai dari lingkungan keluarga dimulai
dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan sampai dengan usia tua, Belajar
sepanjang hayat juga bisa dilakukan dalam pendidikam formal, dari mulai Taman
Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menegah
Atas/kejuruan, Perguruan Tinggi. Lahirnya konsep belajar sepanjang hayat adalah
bagian dari keprihatinan pada dunia pedidikan yang ada, karena masih banyak
masyarakat yang tidak bisa menikmati pendidikan pada dunia formal.
B. RUMUSAN MASALAH
Penulis dalam makalah ini akan membahas tentang ”
Belajar Sepanjang Hayat” yang dibatasi oleh beberapa masalah seperti berikut :
- Apa
itu belajar sepanjang hayat?
- Bagaimana
konsep dari belajar sepanjang hayat?
- Apa
saja dasar pemikiran belajar sepanjang hayat?
- Siapa
yang menjadi target belajar sepanjang hayat?
- Apa
saja manfaat belajar sepanjang hayat?
- Apa
tujuan dari belajar sepanjang hayat?
- Bagaimana
implikasi belajar sepanjang hayat?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah
sebagai berikut :
- Mengetahui
definisi dari belajar sepanjang hayat
- Mengetahui
konsep dari belajar sepanjang hayat
- Mengetahui
dasar pemikiran belajar sepanjang hayat
- Mengetahui
target belajar sepanjang hayat
- Mengetahui
manfaat dari belajar sepanjang hayat
- Mengetahui
tujuan-tujuan dari belajar sepanjang hayat
- Mengetahui implikasi dari belajar sepanjang hayat
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI BELAJAR SEPANJANG HAYAT
Belajar
sepanjang hayat adalah suatu proses yang terus menerus untuk setiap orang
dengan menambah dan menyesuaikan pengetahuan dan keterampilannya, serta
pertimbangan dan kemampuan untuk tindakannya. Hal itu harus mamampukan manusia
untuk menjadi sadar akan diri sendiri dan lingkunganya, dan untuk memainkan
peranan sosial dalam pekerjaan dan dalam lingkungan masyarakat. Pengetahuan,
keterampilan kerja, pemahaman baaimana hidup dengan orang lain, dan
keterampilan-keterampilan hidup, merupakan empat aspek yang terkait sangat erat
dari kenyataan yang sama.
B.
KONSEP BELAJAR SEPANJANG HAYAT
- Pengertian
Konsep
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia selain berarti
rancangan, konsep juga bermakna ide atau pengertian yang di abtraksikan dari
peristiwa-peristiwa konkrit atau gambaran mental dan obyek proses ataupun yang
ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi memahami hal-hal lain.
Kata konsep dari bahasa inggris (concept), yang
berarti bagan, rencana, gagasan, pandangan, cita-cita (yang telah ada dalam
fikiran).
Sedangkan menurut Ibrahim Madkur, kata konsep
(Inggnis concept) dipadankan dengan istilah makna kulli (Arab), yang artinya
pikiran (gagasan) yang bersifat umum, yang dapat menenima generalisasi.
Sedangkan dengan makna-makna tersebut, maka konsep yang dimaksudkan dalam
pengertian ini, ialah sejumlah gagasan, ide-ide, pemikiran, pandangan ataupun
teori-teori yang dalam konteks ini dimaksudkan ialah ide-ide, gagasan,
pemikiran tentang belajar sepanjang hayat.
- Belajar
Sepanjang Hayat
Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang
belajar terus menerus dan berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian
sampai akhir hayat, sejalan dengan fase-fase perkembangan pada manusia. Oleh
karena setiap fase perkembangan pada masing-masing individu harus dilalui dengan
belajar agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembanganya, maka belajar itu
dimulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahkan masa tua. Bertolak dari
fase-fase perkembangan seperti dikemukakan Havinghurst, berimplikasi kepada
keharusan untuk belajar secara terus menerus sepanjang hayat dan memberi
kemudahan kepada para perancang pendidikan pada setiap jenjang pendidikan
untuk:
a. Menentukan
arah pendidikan.
b. Menentukan
metode atau model belajar anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan tugas
perkembangannya.
c. Menyiapkan
materi pembelajaran yang tepat.
d. Menyiapkan
pengalaman belajar yang cocok dengan tugas perkembangan itu.
Dalam hubungannya dengan belajar sepanjang hayat,
akan dikemukakan tugas-tugas perkembangan masa dewasa awal, masa setengah baya
dan orang tua, untuk memberikan pengalaman belajar yang sesuai dalam rangka
belajar sepanjang hayat.
Dari dimensi psikologis, belajar sepanjang hayat,
terutama bagi orang dewasa dan orang tua dalam situasi belajar mempunyai sikap
tertentu. Karena itu perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1) Belajar
adalah suatu pengalaman yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri. Maka
orang dewasa perlu dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang lebih mutakhir,
ketrampilan baru dan sikap yang lain.
2) Orang
dewasa belajar kalau ditemukannya arti pribadi bagi dirinya dan melihat sesuatu
mempunyai hubungan dengan kebutuhannya.
3) Bagi
orang dewasa proses belajar adalah khas dan bersifat individual. Setiap orang
punya cara dan kecepatan sendiri untuk belajar dan memecahkan masalah. Dengan
kesempatan mengamati cara-cara yang dipakai orang lain, Ia dapat memperbaiki
dan menyempumakan caranya sendiri, agar menjadi lebih efektif.
Secara
umum konsep belajar sepanjang hayat adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan
potensi manusia (the development of human potential)
Belajar sepanjang hayat mengakui bahwa
setiap individu memiliki potensi belajar sekaligus menerima beberapa
keterbatasan yang terkandung dalam potensi individu. Keterbatasan potensi yang
dimaksud tidak didasarkan pada kapasitas biologis dan fisik semata, tetapi
lebih pada kurangnya kepuasan terhadap apa yang kita bebankan atas diri kita.
Kita harus berpandangan optimistis mengenai kapasitas manusia, didasarkan pada
kepercayaan bahwa semua dari kita, terlepas dari latar belakang, faktor
genetik, pengembangan lingkungan, kepercayaan, warna kulit atau kebangsaan,
dapat membuat lompatan kuantum dalam mencapai potensi kemanusiaan.
Mendukung atau dukungan mencakup
beberapa hal:
a. Dukungan
dari para profesional yang dilatih khusus, disebut konselor belajar
b. Sikap
ramah dan simpatik kepada pembelajar baru dengan atau tanpa kesulitan belajar
c. Pembangunan
infrastruktur belajar untuk memuaskan kebutuhan setiap orang
d. Penilaian
yang tidak mengancam dan sistem kualifikasi yang dibutuhkan oleh pembelajar
e. Pribadi
yang berorientasi sukses dan prosedur yang mudah dipahami untuk diarahkan
menuju terpenuhinya kebutuhan setiap pembelajar.
2. Terus
menerus (continously)
Persediaan
kesempatan belajar tersedia secara tetap dan sesuai dengan tuntutan yang
diinginkan. Dalam dunia belajar sepanjang hayat permintaan akan tinggi dan
berkelanjutan, tanpa melihat usia dan jenis kelamin.
3. Proses
(process)
Proses
memperkuat ide bahwa belajar merupakan aktivitas personal yang berpusat di
dalam (internal) atau tanpa dukungan lingkungan kelompok (eksternal), yang
merupakan hasil holistik dan tidak terikat struktur yang ada di luar
organisasinya.
4. Menstimulasi
(stimulates)
Stimulasi
merupakan proses perangsangan yang lebih dari sekedar menyediakan layanan
informasi yang dibutuhkan, akan tetapi secara aktif dan positif mempromosikan
belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat, sekaligus
memberikan pesan bahwa setiap orang dapat mengikuti proses belajar kapanpun,
dimanapun, sesuai dengan kebutuhannya. Proses stimulasi ini harus melekat dalam
sistem, dimana organisasi menginisiasi pembelajaran.
5. Memberdayakan
(empowers)
Memberdayakan
adalah menempatkan kekuatan di tangan individu untuk mengembangkan potensi dirinya
melalui belajar. Melaui belajar, individu diperkaya dan diperkuat pemahamannya
mengenai konsep “knowledge is poower”. Pembelajar sepanjang hayat harus
diberdayakan kapasitas dan kapabilitasnya dalam membuat keputusan, memecahkan
masalah, berpikir melalui tindakan, dan menguasai kehidupannya.
6. Individu-individu
(individuals)
Belajar
sepanjang hayat mengakui individu sebagai pihak yang mampu membuat keputusan,
melakukan usaha-usaha, dan akan memperoleh manfaat dari proses belajar.
7. Pengetahuan
(knowledge)
Pengetahuan
merupakan penafsiran atau interpretasi informasi yang dapat memberikan makna
lebih besar dengan menempatkannya dalam sebuah kontinum belajar yang mengarah
pada kebijaksanaan.
8. Nilai
(values)
Merupakan
atribut paling penting dapat kita pelajari dari proses pendidikan. Belajar,
dalam konteks sistem nilai personal dapat menciptakan sikap yang menjamin
pendekatan positif bagi pengembangan potensi individu secara berkelanjutanm dan
mendorong setiap orang untuk mengakui potensi yang dimilikinya. Disamping itu,
organisasi, bangsa dan komunitas juga memiliki sistem nilai yang saling
berkaitan.
9. Kecakapan
(skills)
Memungkinkan
belajar untuk bisa diubah menjadi tindakan. Kecakapan dapat secara bersama-sama
diterapkan dalam beragam tempat kerja atau kegiatan sosial. Pengembangan
kecakapan baru juga bisa menambah
kebanggaan personal dan mampu menyenangkan setiap orang dalam belajar,
sekaligus membangun rasa percaya diri yang tinggi serta pandangan positif.
10. Pemahaman
(understanding)
Tingkat
pemahaman seseorang sering diperoleh dari hasil belajar pengetahuan kecakapan
aplikatif. Kondisi ini tidak dapat diperoleh tanpa adanya kebiasaaan belajar
yang melekat pada diri seseorang
C.
DASAR PEMIKIRAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT
1. Dasar Teoritis/ Religious
Konsep pendidikan seumur hidup ini
pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal
yaitu John Dewey. Kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya : An
Introduction to Life Long Education. Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu
dengan hidup. Oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup
sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir.
Konsep pendidikan yang tidak terbatas
ini juga telah lama diajarkan oleh Islam, sebagaimana dinyatakan dalam Hadits
Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi :
للحدالىإلمهدامنلعلماطلبا
“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian
sampai liang lahat”
2. Dasar Yuridis
Konsep pendidikan seumur hidup di
Indonesia mulai dimasyarakatkan melalui kebijakan negara yaitu melalui :
a. Ketetapan MPR No. IV/MPR/1973 JO TAP. NO.
IV/MPR/1978 tentang GBHN menetapkan prinsip-prinsip pembangungan nasional,
antara lain :
×
Pembangunan
nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan seluruh rakyat Indonesia (Arah Pembangunan Jangka Panjang)
×
Pendidikan
berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam keluarga (rumah tangga),
sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab bersama
antara keluarga, masyarakat dan pemerintah (Bab IV GBHN Bagian Pendidikan).
b. UU
No. 2 Tahun 1989 Pasal 4 sebagai berikut :
“Pendidikan
nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”.
c. UU
Nomor 2 Tahun 1989
Penegasan tentang pendidikan seumur
hidup, dikemukakan dalam Pasal 10 Ayat (1) yang berbunyi : “penyelenggaraan
pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu pendidikan luar sekolah dalam
hal ini termasuk di dalamnya pendidikan keluarga, sebagaimana dijelaskan pada
ayat (4), yaitu : “pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan
luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan agama,
nilai budaya, nilai moral dan keterampilan”.
D.
TARGET BELAJAR SEPANJANG HAYAT
Belajar sepanjang hayat dapat dilakukan dalam
lingkungan keluarga, dalam pendidikan formal, dan dalam pendidikan non formal.
1. Belajar sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga
Tempat belajar yang pertama bagi seorang manusia
adalah lingkungan keluaraga, pada tapa inilah tahap yang paling menentukan
seorang anak untuk memulai pembelajaran dalam keluarganya.Khususnya dalam
ajaran Islam pembelajaran sudah dimulai ketika seorang bayi masih berada dalam
rahimnya, dalam konsep ini jelas bahwa Islam memang sangat memperhatikan
umatnya untuk senantiasa belajar. Kemudian dalam Islam dijelaskan berdasarkan
hadis Rasulullah Saw “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah maka kedua
orang tuanyalah yg menjadikannya sebagai Yahudi Nasrani atau Majusi.” Dalam
hadis ini jelas bahwa peran orang tua dalam keluarga sangatlah penting untuk
mendidik putra-putrinya, orang tuanyalah yang akan membentuk pribadi anaknya
dalam lingkungan keluarga. Belajar sepanjang hayat dalam lingkungan keluarga
menurut penulis bisa dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut :
a. Belajar pada masa balita
Dalam masa balita orang tua mulai bisa mengajarkan kepada
anaknya, sesuai dengan kemampuan serta fase perkembanganya.Misalnya dengan
mengajarkan atau melatih anak untuk bisa merangkak, kemudian berdiri, berjalan
walaupun pembelajaran seperti ini bisa terjadi secara alami tapi tetap
membutuhkan perhatian khusus dari orang tua. Selain itu pada masa balita bisa
dilakukan pembelajaran seperti mengucapkan kalimat atau kata sederhana serta
belajar bicara dan lain sebagainya
b. Belajar pada masa kanak-kanak
Dalam fase ini orang tua mempunyai peranan penting
untuk memberikan pembelajaran pada anak-anaknya, orang tua mulai memberikan
pembelajaran misalnya bagaimana mereka menggunakan pakaian atau melepaskannya,
mebiasakan anak untuk hidup disiplin dengan cara memberikan contoh misalnya
dengan berangkat dan pulang sekolah tepat waktu, belajar dan bermain sesuai
dengan waktu yang sudah ditentukan. Pada masa ini pembelajaran mengenai hidup
bersih juga bisa mulai diberikan misalnya dengan mandi, menggosok gigi, mencuci
tangan, membuang sampah pada tempatnya, dan lain sebagainya. Dalam fase ini
orang tua bukan hanya memberikan pembelajaran tetapi harus bisa memberikan
contoh karena cenderung seorang anak biasanya melakukan sesuatu dari apa yang
dilihatnya. Pada masa ini pembentukan karakter juga bisa diberikan misalnya
dengan mencium tangan orang tua ketika berangkat dan pulang sekolah disertai
mengucapkan salam, menghormati yang lebih tua, membiasakan sholat lima waktu
dan lain sebagainya.
c. Belajar
pada masa remaja.
Masa remaja merupakan masa yang paling rentang, pada
fase ini seorang anak cenderung mempunyai sifat labil, oleh sebab itu peranan
orang tua dalam memberikan pembelajaran dalam lingkungan keluarga sangatlah
penting.Agar pada masa ini bisa berkembang dengan baik, tanpa terpengaruh oleh
lingkungan luar, terpengaruh oleng teman-teman bergaulnya. Pada masa ini konsep
pembelajaran sepanjang hayat mempunyai peranan penting karena dalam fase ini
pula seorang anak akan mulai mencari jati dirinya, mulai mengenal dunia
pergaulan, dan cenderung memiliki keinginan untuk punya kebebasan dalam
melakukan sesuatu. Pembelajaran disiplin dan pengwasan serta perhatian dari
orang tua sangatlah penting agar anak bisa melakukan aktivitas-aktivitas yang
positif serta berkembang secara normal.
d. Belajar pada masa dewasa
Konsep belajar sepanjang hayat pada masa dewasa
merupakan masa yang penting dilakukan dalam lingkungan keluarga.Pada fase ini
seorang anak remaja yang berkembang menjadi manusia dewasa mulai mengenal jati
dirinya, bahkan memilki karakter tersendiri.Pada masa ini pula biasanya
kecenderungan seseorang untuk menyudahi belajar sangat dominan khususnya
perempuan.Diawali selesai masa kuliah, kemudian menikah, punya anak dan memilki
keluaraga.Pada masa-masa ini seseorang cenderung lebih memetingkan keluarga,
pekerjaan dibadingkan dengan belajarnya.Padahal pada masa ini pembelajaran
masih tetap bisa dijalankan.Oleh sebab itu dalam lingkungan keluarga ini orang
tua harus bisa memberikan pemahan kepada anak-ankanya agar terus belajar
sepanjang hidupnya, baik belajar formal maupun non formal.
e. Belajar pada masa tua atau usia lanjut
Dalam lingkungan keluarga Konsep pembelajaran dalam
Islam bahwa belajar tidak mengenal usia, sesuai dengan hadis yang ada pada
landasan diatas. Maka sesunggunya pada usia ini seseorang harus tetap belajar,
yang tentunya dilakukan dalam keluarga. Pada masa ini orang tua bisa belajar
pada anak-anaknya atau pada masa ini orang tua memberikan pembeljaran pada
anak-anaknya.Karena sesunggunya belajar sepanjang hayat bukan hanya belajar
tapi juga memberikan pembelajaran. Orang tua yang memilki banyak ilmu maka ia
akan semakin bijak dalam mengambil keputusan dalam setiap masalah yang dihadapi
dalam hidupnya.
2. Belajar
sepanjang hayat dalam pendidikan Formal
Pembelajaran sepanjang hayat (Long
Life education) dalam pendidikan formal, adalah pembelajaran yang sistematis
dan terencana, memilki tujuan – tujuan khusus sesuai dengan bakat, kemampuan
atau jurusan yang diminati oleh pembelajar. Yang termasuk dalam pendidikan formal
adalah dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama,
sekolah menengah atas, sekolah menengah kejuruan, perguruan tinggi, D1, D2, D3,
S1,S2, dan S3. Pada pendidikan formal setelah seseorang meyelesaikan program
sekolah menegah atas atau kejuruan, setiap orang diperbolehkan untuk mengikuti
perkuliahan di perguruan tinggi, tak mengenal usia, jenis kelamin, suku dan
golongan. Oleh sebab itu hal ini berlaku sampai kapanpun selama sesorang masih
memilki keinginan untuk belajar maka selama itu pula banyak kesempatan bagi
setiap orang untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.
3. Belajar
sepanjang hayat dalam pendidikan Non Formal
Belajar tidak mengenal usia, waktu dan tempat,
dimanapun kapanpun kita bisa belajar dari kehidupan ini. Belajar tidak harus
dibangku sekolah atau pendidikan formal serta berizazah, tetapi belajar bisa
dimana saja, dari berbagai sumber yang berisi tentang pengetahuan.Banyak orang
yang belajar ototidak (belajar sendiri) namun mereka lebih berhasil dari
orang-orang yang berpendidikan formal, itu artinya belum tentu orang yang
berpendidikan formal bisa lebih sukses daripada orang yang tidak berpendidikan
formal. Sesungguhnya yang membuat orang menjadi sukses adalah kemampuannya
beradaptasi dengan orang lain, komunikatif, pandai begaul, punya kemauan keras
dan tentunya skil tidak kalah penting.
Pendidikan non formal tidak mengenal ruang dan
waktu, setiap orang bisa belajar kapanpun, orang bisa belajar dari apa yang
dilihatnya, di dengarnya, dirasakannya, dialaminya dan lain sebagainya. Konsep
pendidikan sepajang hayat pada pendidikan non formal lebih luas dari yang
lainnya.Pendidikan non formal ini bisa dilakukan seperti kelompok belajar, organisasi,
tempat kursus atau pelatihan, atau ditempat – tempat pengajian ibu-ibu dan
bapak-bapak.Oleh sebab itu sudah seharusnya setiap orang harus terus belajar
dari setiap perjalanan hidupnya sampai ajal menjemputnya.Karena ilmu
pengetahuan sangat berguna bagi setiap orang walalupun bagi orang yang sudah
berusia lanjut sekalipun.
E.
MANFAAT BELAJAR SEPANJANG HAYAT
Manfaat
belajar sepanjang hayat adalah menjadikan seseorang tidak ketinggalan zaman,
dapat terus memperbarui pengetahuan terutama bagi mereka yang sudah tidak
mengenyam bangku sekolah lagi Dalam arti telah lulus dari sekolah formal,
menjadikan individu Yang tidak akan terasing oleh generasi dibawahnya,
menjadikan individu yang berwawasan luas serta mampu beradaptasi dengan
perubahan yang akan datang sehingga dapat tetap memberikan sumbangan ilmu
pengetahuan bagi kehidupan dilingkungannya.ini juga manfat dari belajar
sepanjang hayat:
Secara
kodrat manusia itu selalu ingin mengembangkan diri. Manusia memiliki hak yang
sama dalam memperoleh pendidikan, sehingga dengan pendidikan akan menambah
pengetahuan dan kualitas hidupnya secara otomatis.
- Tinjauan Ekonomis.
Tidak ada jalan
lain agar manusia keluar dari kebodohan dan kemiskinan kecuali terus memperkaya
hidup dengan ilmu melalui pendidikan yang berlangsung seumur hidup. Hal ini
akan memberikan dampak pada meningkatnya produktifitas hidup, mengembangkan
setiap potensi serta sumber daya yang dimiliki. Jika setiap individu dengan
sadar mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan maka dimungkinkan mereka
akan menikmat kehidupan ini dengan nyaman dan bermakna.
- Tinjauan Sosiologis.
Permasalahan
pokok yang terjadi di negara berkembang adalah pemborosan pendidikan. Putus
sekolah, kurang menyadari pentingnya pendidikan pemahaman yang keliru mengenai
pendidikan itu sendiri atau bahkan tidak sekolah sama sekali. Sehingga yang
terjadi adalah angka buta huruf bertambah, pengangguran di mana-mana hal ini
yang di indikasikan sebagai pemborosan pendidikan.
- Tinjauan Politis.
Negara kita
adalah negara demokratis, di mana setiap warga negara harus memahami akan hak
dan kewajibannya di samping mengetahui pula peran pemerintah. Dengan demikian
fungsi dari pendidikan seumur hidup adalah memberikan pendidikan
kewarganegaraan kepada setiap warga negaranya.
- Tinjauan Teknologis.
Ilmu pengetahuan
dan teknologi terus berkembang, maka setiap individu harus mengikuti
perkembangan yang terjadi.
- Tinjauan Psikologis dan pedagogis.
Ilmu pengetahuan
dan teknologi yang berkembang secara terus menerus akan memberikan pengaruh
besar kepada proses pendidikan. Komunikasi yang diberikan oleh guru sangat
penting untuk mengkomunikasikan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut.
F.
TUJUAN BELAJAR SEPANJANG HAYAT
Belajar
sepanjang hayat memiliki tujuan menciptakan belajar untuk hidup (learning to
be) dan membentuk masyarakat belajar (learning society). Ditegaskan
Trisnamansyah, tujuan pendidikan sepanjang hayat adalah tidak sekedar untuk
adanya perubahan melainkan pula untuk tercapainya kepuasan diri dari pihak yang
melakukan belajarnya itu sendiri.
Dalam
perspektif yang lain disebutkan bahwa sedikitnya ada dua tujuan dari belajar
sepanjang hayat termasuk didalamnya tujuan belajar mandiri atau self-learning
yaitu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan positif yang terus menerus
berubah dan berkembang dalam sepanjang kehidupan manusia dan masyarakat, dan
untuk menyiapkan diri guna mencapai kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan
datang.
Belajar
sepanjang hayat merupakan landasan yang kuat bagi program-program pendidikan
non formal yang mengarah pada upaya untuk menumbuhkan masyarakat gemar belajar.
Masyarakat gemar belajar dapat terwujud apabila setiap warga masyarakat selalu
mencari dan menemukan sesuatu yang baru dan bermakna, meningkatkan belajar.
Kegiatan belajar yang dilakkukan oleh setiap warga masyarakat tidak terbatas
hanya untuk mengetahui atau belajar sesuatu (learning how to learn), tidak pula
belajar hanya untuk memecahkan masalah yang timbul dalam kehidupan (learning
how to solve problems). Kegiatan belajar yang mereka lakukan terarah untuk
kepentingan dan kemajuan kehidupannya (learning how to be), belajar untuk
melakukan sesuatu (learning how to do), dan belajar untuk hidup bersama
(learning how to live together).
Masyarakat
gemar belajar (learning society) atau masyarakat berencana (planning society)
atay disebut juga sebagai masyarakat inovatif (innovative society) adalah suatu
masyarakat yang memiliki ciri-ciri
sebagai berikut :
- Sebagian besar atau bahkan seluruh
warga masyarakat aktif dan mencari informasi yang berhubungan dengan
kepentingan dan kebutuhan hidupnya.
- Menemukan informasi baru melalui
kegiatan membaca berbagai sumber informasi seperti buku, jurnal, surat
kabar, majalah dan lain sebagainya.
- Mampu dan bisa menulis dan
menyebarluaskan informasi.
- Melakukan kegiatan belajar secara
sadar dan berkelanjutan.
- Sadar dan percaya bahwa belajar
adalah kebutuhan dan bagian yang tidak terpisahkan dalam memelihara dan
mengembangkan kehidupan ke arah yang lebih baik.
G.
IMPLIKASI BELAJAR SEPANJANG HAYAT
Menurut W.P
Guruge dalam buku Toward Better Educational Management, implikasi pendidikan
seumur hidup pada program pendidikan adalah :
1. Pendidikan
baca tulis fungsional
a. Memberikan
kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik.
b. Menyediakan
bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan
yang telah dimilikinya tersebut.
2. Pendidikan
vokasional
Pendidikan vokasional sebagai program pendidikan di
luar sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah atau sebagai program
pendidikan formal dan non formal dalam rangka ‘apprentice ship training
merupakan salah satu program dalam pendidikan seumur hidup. Namun pendidikan
vokasional tidak boleh dipandang sebagai jalan pintas tetapi tetap dilaksanakan
secara kontinu.
3. Pendidikan
professional
Sebagai realisasi pendidikan seumur hidup, dalam
tiap profesi hendaklah tercipta built in mechanism yang memungkinkan golongan
profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut
metodologi, perlengkapan, terminologi, dan sikap profesionalnya.
4. Pendidikan
ke arah perubahan dan pembangunan
Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai
golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga
merupakan konsekuensi penting dari asas pendidikan seumur hidup.
5. Pendidikan
kewarganegaraan dan kedewasaan politik
Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik
perlu diberikan dalam pendidikan seumur hidup bagi kehidupan berbangsa dan
bernegara baik menjadi rakyat maupun pimpinan.
6. Pendidikan
kultural dan pengisian waktu senggang
Pendidikan kultural dan pengisian waktu senggang
perlu diberikan secara konstruktif sebagai bagian konsep long life education.
Dengan cara ini waktu senggang dapat dimanfaatkan berbasis budaya yang baik
sehingga pendidikan seumur hidup dapat berjalan menyenangkan.
Contoh lain implikasi belajar sepanjang hayat di
lingkungan social
1.
Program
Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan yang Rentan Masalah Sosial dan Ekonomi.
Program
pendidikan dan pemberdayaan perempuan, merupakan pendidikan yang bertujuan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan perempuan, khususnya mereka yang
termarginalkan, baik karena factor kultur maupun struktur. Proram pendidikan
perempuan difokuskan pada dua hal, yakni peningkatan kesadaran perempuan akan
hak-hak dasar kemanusiaan (HAM) dan peningkatan kemampuan/kecakapan perempuan
yang dapat mendorong perempuan dapat berkiprah secara maksimal dalam kehidupan
keluarga, masyarakat dan bangsa.
Program
pendidikan perempuan sementara ini masih menjadi domain pemerintah pusat, dalam
arti bahwa pemerintah daerah belum ada yang menganggarkan dana untuk program
yang sama dengan pemerintah pusat.
Tujuan Khusus
yang ingin dicapai untuk pemberberdayaan perempuan yaitu:
a. Mamahami
nilai nilai hak asai manusia (HAM)
b. Memahami
ilai-nilai demokrasi, hak dan kewajiban setiap perempuan
c. Memiliki
keterampilan memadai dalam membantu meningkatkan pendapat Keluarga.
d. Memiliki
kemampuan untuk mengorganisasi dan memobilisasi; partisipasi dalam organisasi
komunitas perempuan.
Substansi
materi pada program pendidikan dan pemberdayaan perempuan meliputi:
1)Pengenalan
alat, 2) Pengenalan Teknik-teknik, dan cara merias pengantin, 3) Pengenalan
karakteristik setiap orang, 4) penguatan Materi dan pengulangan, 5) Kegiatan
Praktek.
1) Gender
dalam kehidupan rumah tangga
2) Pengelolaan
ekonomi keluarga berwawasan gender
3) Gender
dan kehidupan demokrasi dalam keluarga
4) Hak
Asasi Manusia (HAM) dalam keluarga
5) Hak-hak
Perempuan, bahaya trafficking dan Anak
c. Bidang
Penunjang
1) Pelatihan
fasilitator dan nara sumber teknis
2) Pelatihan
pengelolaan kelompok usaha ekonomi produktif
1. Program
Kursus Wirausaha Desa dan Kursus Wirausaha Kota (KWD & KWK).
Program ini merupakan program yang mengarahkan
peserta didik untuk mengenal, memahami, dan memanfaatkan sumber-sumber yang ada
di lingkungan sekitar untuk kemudian dijadikan sebagai sumber daya yang dapat
dimanfaatkan dalam kehidupan berekonomi. Program ini merupakan program yang
bersumber dari pemerintah pusat yang bertujuan untuk mengembangan sikap dan
keterampilan kewirausahaan di pedesaan maupun di perkotaan. Program ini berjalan
hampir semua provinsi di Indonesia, termasuk pada lima provinsi lokasi
penelitian.
Program kursus ini penyelengaraannya sudah sukup
melembaga dan sebenarnya sudah lebih banyak yang berdiri sendiri (establish).
Program ini diselenggarakan oleh lembaga-lembaga yang sudah lama berdiri di
masyarakat. Namun demikian untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dan output
peserta didik, pemerintah memberikan rambu-rambu penyelenggaraan dan pembinaan,
baik dalam pendanaan maupun substansi program. Keseluruhan program tersebut
terbingkai dalam satuan pendidikan di antaranya adalah PKBM, Yayasan, Lembaga
Kursus dan Pelatihan, Organisasi Sosial Kemasyarakatan, Organisasi Peduli
Perempuan, dan lainnya.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari
yang telah diuraikan di atas dapatlah ditarik beberapa kesimpulan yang
berkaitan dengan penerapan belajar sepanjang hayat adalah sebagai berikut :
1. Belajar
sepanjang hayat adalah suatu konsep tentang belajar terus menerus dan
berkesinambungan (continuing-learning) dari buaian sampai akhir hayat, sejalan
dengan fase-fase perkembangan pada manusia.
2. Secara
umum konsep belajar sepanjang hayat adalah sebagai berikut:
a. Pengembangan
potensi manusia (the development of human potential)
b. Terus
menerus (continously)
c. Proses
(Process)
d. Menstimulasi
(stimulates)
e. Memberdayakan
(empowers)
f. Individu-individu
(individuals)
g. Pengetahuan
(knowledge)
h. Nilai
(Values)
i.
Kecakapan (skills)
j.
Pemahaman
(understanding)
3. Dasar
pemikiran belajar sepanjang hayat terdiri dari dasar pemikiran teoritis dan
dasar pemikiran yuridis.
4. Target
belajar sepanjang hayat dapat dilakukan dalam lingkungan keluarga, pendidikan
formal, maupun dalam pendidikan non formal.
5.
Manfaat
belajar sepanjang hayat adalah menjadikan seseorang tidak ketinggalan zaman, dapat
terus memperbarui pengetahuan terutama bagi mereka yang sudah tidak mengenyam
bangku sekolah lagi
6.
Belajar
sepanjang hayat memiliki tujuan menciptakan belajar untuk hidup (learning to
be) dan membentuk masyarakat belajar (learning society).
- Implikasi
belajar sepanjang hayat menurut W.P Guruge dalam buku Toward Better
Educational Management, yaitu :
a. Pendidikan baca tulis fungsional
b. Pendidikan vokasional
c. Pendidikan Professional
d. Pendidikan kearah perubahan dan pembangunan
e. Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan
politik
f. Pendidikan kultural dan pengisian waktu
senggang
Adapun contoh lain dari implikasi belajar
sepanjang hayat yaitu :
a. Program Pendidikan dan Pemberdayaan Perempuan
yang Rentan Masalah Sosial dan Ekonomi.
b. Program Kursus Wirausaha Desa dan Kursus
Wirausaha Kota (KWD & KWK).
B. SARAN
Dalam
Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu,
kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan
pembuatan makalah ini.
Dalam
penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah
ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini.
DAFTAR PUSTAKA
Nanonganongfa.
2014. Belajar Sepanjang Hayat. https://nanonganongfa.wordpress.com/2014/12/02/belajar-sepanjang-hayat/ (di akses 28 Februari 2021).
Ilmu
Baru. 2008. Konsep Belajar Sepanjang Hayat. https://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/10/01/konsep-belajar-sepanjang-hayat/ (di akses 28 Februari 2021)
Suci
Ayu Farida. 2015. Pembelajaran Sepanjang Hayat. http://suciayufarida.blogspot.com/2015/04/pembelajaran-sepanjang-hayat.html (di akses pada 28 Februari 2021)
Achmad
Hufad, Jhoni R Pramudia, Sardien Supariatna. 2010. Studi Tentang Implementasi
Program Belajar Sepanjang Hayat Di Indonesia. http://file.upi.edu/Direktori/PROCEEDING/Seminar_Internas.NFE/STUDI_TENTANG_IMPLEMENTASI_PROGRAM_BELAJAR_SEPANJANG_HAYAT_DI_INDONESIA.pdf
(di akses 28 Februari 2021)
Rizky
Meilynda. 2015. Makalah Long Life Education. http://rizkymeilynda.blogspot.com/2015/01/makalah-long-life-education.html
(di akses pada 1 Maret 2021)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar